Mereka berdua makan malam dikamar Atkin. Suasana yang tenang membuat keduanya larut dalam kenyamanan. Selesai makan malam Biya pun segera kembali ke dalam kamarnya.
"Kamu mau kemana?"
"Ke kamar,tidur. Terima kasih makan malamnya"
"Sama-sama" ucap Atkin sambil tersenyum,
"Kamu juga istirahatlah"
"Iya nanti aku istirahat"
Biya sudah tidak kuat karena badannya terasa capek semua. Rasanya ingin segera istirahat dan tidur. Atkin sebenarnya masih ingin bersama Biya malam ini tetapi terlihat Biya sudah memasang wajah kantuknya, Atkin pun tidak tega.
***
Malam semakin larut, Atkin masih belum terpejam. Dia berdiri menatap malam di balkon kamarnya. Atkin tidak percaya dirinya bisa menahan perasaan sampai saat ini. Tiba-tiba Atkin berjalan menuju ke kamar Biya. Atkin membuka pintu kamar Biya dan memanggilnya.
"Bi.. sudah tidur?"
Namun tidak ada jawaban. Atkin melihat Biya yang sedang tertidur pulas. Wajah teduhnya meluluhkan hati Atkin. Dia tidak tega untuk membangunkannya. Lama sekali Atkin memandang Biya yang tertidur dari depan pintu kamar. Tiba-tiba Biya bergerak karena merasa tidak nyaman. Biya membuka matanya sedikit dan terkejut melihat Atkin berdiri didepan pintu kamar.
"Kamu sedang apa disitu?!"
"Aku tidak bisa tidur Bi"
"Aduh.. lalu apa aku yang menina bobokkanmu Lin?"
"Iya Bi.."
"Kamu ini, ya sudah ayo pergi ke kamarmu" Biya mengikuti Atkin menuju kedalam kamar Atkin. Biya pun membaringkan Atkin diatas kasur. Biya memeriksa keadaan Atkin yang setengah demam. "Kamu masih demam, sudah minum obat?"
"Sudah"
"Ya sudah aku temani sampai kamu tidur ya" Biya pun membelai lembut rambut pendek Atkin. "Kamu sepertinya butuh seorang kekasih untuk merawatmu saat sakit begini hoamm" ucap Biya sambil menguap, "Atkin aku mengantuk.." tiba-tiba Biya pun memposisikan duduknya agar bisa tidur, Atkin yang sudah setengah mengantuk pun langsung membelalak ketika mendengar ucapan Biya, Atkin pun menoleh kearah Biya yang sudah tidur.
"Kamu sudah tidur?" Tanya Atkin, "Bi.." panggilnya kembali, Biya sudah tidur. Biya tidur dalam posisi duduk. Atkin pun langsung bangun. Atkin mengangkat Biya keatas kasurnya dan menyelimuti Biya.
"Selamat malam Bi" ucap Atkin sambil menyentuh pipi Biya lembut, Atkin pun langsung memposisikan dirinya tidur disebelah Biya, Atkin menaruh sebuah guling ditengah-tengah mereka. Atkin pun memejamkan mata dan tidur.
***
Pagi harinya mereka pun bangun. Biya bangun sambil merenggangkan otot-otot kakunya.
"Hah... Segar sekali bangun tidur seperti ini" namun tiba-tiba mata Biya membelalak ketika melihat Atkin sedang tertidur disampingnya. Biya pun mengedarkan pandangan dan dia sadar jika dirinya sedang berada di dalam kamar Atkin. "Astaga.. semalam aku ketiduran disini"
"Bi.. sudah bangun?" Tanya Atkin dengan suara bangun tidurnya, tiba-tiba Biya terkejut mendengar suara Atkin,
"Eh iya hehe. Selamat pagi"
"Pagi.." Atkin pun langsung duduk disamping Biya, "Kamu kalau tidur seperti orang mati Bi hehe"
"Hehehe maaf aku tidur dikamarmu"
"Tak apa"
"Gimana keadaanmu?" Biya memeriksa kembali keadaan Atkin, "Sudah dingin. Bagus sekali"
"Terima kasih sudah merawatmu semalam"
"Iya sama-sama. Tapi semalam kamu tidak melakukan apa-apa kan?"
"Hahaha semalam aku menciummu"
"Apa! Kau?"
"Hahaha bercanda, aku tidak berani melakukan apapun kepadamu Bi kalau tidak kamu yang mengijinkannya sendiri" ucap Atkin dengan tatapan tajamnya,
"Awas kamu kalau macam-macam ya!"
"Hahaha tidak Bi percaya padaku"
"Hmmm"
"Ayo turun kita sarapan dulu" ajak Atkin, mereka berdua pun turun ke lantai bawah untuk sarapan. Biya membelalak ketika melihat banyak makanan sudah disajikan dimeja makan. Biya pun tidak bisa bergerak dan justru mengangga melihat semua yang ada didepan matanya.
"Bi, ayo duduk" ucap Atkin,
"I,ini sarapan atau jamuan makan? Banyak sekali, kita tidak bisa menghabiskan dalam satu kali makan"
"Hehehe nanti makanan ini akan habis kok tenang saja"
"Hah?"
Biya pun sarapan dengan perasaan terheran-heran. "Apa Atkin yang menghabiskan semua ini, wah dia suka sekali makan" batin Biya,
Biya dan Atkin pun sarapan bersama.
"Bi, hari ini kamu masuk kerja?"
"Ya, aku harus masuk"
"Setelah ini aku antar ke cafe"
"Terima kasih"
Selesai sarapan mereka pun bersiap untuk segera pergi. Biya kembali kedalam kamar untuk mandi begitu juga dengan Atkin. 15 menit berlalu, mereka pun sudah siap.
"Ganti pakaianmu Bi, itu sudah kamu pakai kemarin"
"Tapi aku tidak membawa baju ganti"
"Nek.." panggil Atkin tiba-tiba kepada nenek pembantu itu, "Nek tolong ambilkan sepasang baju untuk nona ini berangkat kerja"
"Eh tapi Kin?"
"Tak apa. Terima kasih nek"
"Nek yang biasa saja jangan terlalu formal" pinta Biya,
"Memang kenapa kalau formal?" Tanya Atkin,
"Rasanya kurang cocok jika aku memakai baju formal ke cafe"
"Baiklah"
Nenek pembantu itu pun langsung pergi mengambil baju untuk Biya. Nenek pembantu itu melihat sekilas penampilan Biya. Nenek itu pun langsung paham dengan selera Biya. Nenek itu pun langsung mengambil sebuah kemeja polos dengan celana jeans. Setelah mengambil baju itu nenek pembantu itu pun langsung kembali ke tempat Biya dan Atkin berada.
"Ini Non silahkan"
"Wah, kamu hebat nek ini sepertinya cocok denganku. Aku pakai dulu. Terima kasih nek"
"Sama-sama Non"
Biya pun langsung ganti pakaian. Selesai ganti pakaian Biya melihat dirinya didepan cermin.
"Ini cocok sekali, ukurannya pas dengan badanku. Nenek itu memang hebat"
"Bi.. sudah ganti baju?" Panggil Atkin dari balik pintu kamar,
"Sudah.."
Biya pun langsung keluar dari kamar,
"Hmmm pas sekali dengan badanmu" ucap Atkin,
"Nenek itu hebat sekali" ucap Biya senang,
"Hehehe ya sudah ayo berangkat"
Mereka berdua pun berangkat. Atkin mengantarkan Biya ke cafe setelah mengantar Biya dirinya pun juga menuju ke kantornya. Biya bekerja seperti biasanya. Biya bertemu Sifa yang sedang rapat dengan Anastasya hari ini.
***
"Bi tolong bawakan Shortcake whipp ke ruang kerjaku ya" pinta Sifa,
"Oke Fa"
Biya pun pergi ke dapur untuk memesan kue tersebut. Sekitar 15 menit kue itu pun sudah jadi dan Biya segera membawa kue tersebut ke ruang kerja Biya. Biya mengetuk pintu lalu membukanya.
"Permisi.."
"Taruh sini saja Bi"
Biya pun langsung menaruh kue tersebut diatas meja didepan Sifa dan Anastasya. Anastasya pun tersenyum kepada Biya.
"Terima kasih" ucap Anastasya,
"Silahkan dinikmati, saya permisi" ucap Biya,
Biya pun langsung meninggalkan ruang kerja Sifa setelah mengantar kue tersebut. Kemudian Biya kembali bekerja. Biya kembali melayani pengunjung cafe yang terus menerus datang. Semenjak ada edaran brosur itu cafe Sifa banyak dikenal orang dan mereka pun suka. Setiap harinya cafe Sifa mendapatkan pelanggan dan banyak juga yang memesan dalam jumlah yang banyak. Namun sampai sekarang Biya dan Sifa belum menemukan siapa orang yang menyebarkan brosur itu.
"Bi tolong antarkan ini ke kantor Custon ya. Aku sedang tidak enak badan. Terima kasih ya" salah satu pegawai cafe meminta bantuan kepada Biya untuk mengantarkan pesanan itu karena dirinya tengah tidak enak badan.
"Oh oke. Sebaiknya kau ijin saja hari ini"
"Aku akan jaga disini"
"Tidak usah. Kau segera ijin saja oke?"
"Baiklah terima kasih banyak Bi"
"Um. Aku berangkat dulu. Tadi kemana katamu?"
"Kantor Custon. Biar aku catat dulu alamatnya"
Pegawai itu pun langsung mencatat alamat kantor tersebut. Setelah itu alamat itu diberikan kepada Biya dan Biya pun berangkat.
"Sepertinya kantor ini tidak jauh dari sini" batin Biya, "Oke aku pergi dulu"
"Hati-hati Bi"
"Ya, dah.."
Biya pun langsung mencari taksi untuk mengantarnya ke alamat itu. Biya sedikit ragu dengan dugaannya karena dia tidak pernah ke daerah alamat itu. Biya menunjukkan alamat itu kepada supir taksi dan taksi pun langsung berangkat ke alamat tersebut.
Sekitar 15 menit taksi pun tiba didepan kantor tersebut. Biya langsung turun dari taksi dan masuk kedalam kantor tersebut. Biya menuju meja resepsionis untuk memberitahu bahwa ada yang memesan makanan dari cafe. Ketika Biya menerangkan tujuannya, nampak resepsionis itu sudah paham lalu resepsionis itu pun menghubungi seseorang.
"Nona silahkan langsung diantar saja ke ruangannya. Beliau sudah menunggu disana. Ruangannya ada di lantai 5"
"Oh begitu, baiklah terima kasih"
"Iya sama-sama"
Biya pun langsung naik lift dan menuju ke lantai 5. Sesampainya dilantai 5 Biya pun keluar dari dalam lift. Dilantai 5 hanya ada satu ruangan dan berada didepan lift tersebut. Biya pun berjalan ke ruangan itu.
"Hanya ada satu ruangan dilantai ini. Mungkin yang memesan ada didalam ruangan itu" batin Biya sambil berjalan menuju ke ruangan itu.
Sesampainya didepan pintu, Biya pun mengetuk pintu itu. Terdengar suara seorang wanita dari dalam ruangan dan memintanya untuk masuk saja. Akhirnya Biya pun membuka pintu dan masuk kedalam.
"Permisi. Pesanan anda.." Biya terkejut ketika melihat siapa yang memesan. Terlihat wanita itu sudah tahu siapa yang akan datang. Shaki pun sudah tajam menatap Biya yang tertegun ditengah-tengah pintu ruangan.
"Kau.."
"Ya aku w************n. Selamat datang di kantor Hafin"
"Hafin?"
"Ya! Kau terkejut. Dasar murahan!"
"Tolong jaga bicaramu nona. Cepat bayar pesananmu !"
"Kenapa kau terburu-buru, kita akan bersenang-senang dulu disini" tatapan Shaki semakin tajam kepada Biya. Tiba-tiba Shaki berlari menuju ke tempat Biya berada dan berusaha mencekik leher Biya.
"Apa yang kau lakukan!"
"Aku akan membunuhmu w************n!"
"Kau sudah merencanakan semua ini?" Biya berbicara sambil terbata-bata karena cekikan tangan Shaki dilehernya,
"Hahaha tentu saja. Dan kau akan mati kali ini!"
"Kau tidak akan bisa membunuhku!"
"Kenapa tidak? Saat ini pun kau sedang terbatuk-batuk karena aku mencekikmu!"
Biya berusaha menyingkirkan tangan Shaki yang mencekik lehernya. Biya pun langsung mendorong perut Shaki. Shaki pun terjatuh. Namun dia kembali berdiri dan menjambak rambut Biya. Biya pun juga menarik rambut Shaki.
"Argh apa yang kau lakukan!" Teriak Shaki,
"Sakit kan? Ini yang aku rasakan" ucap Biya,
Mereka pun saling menjambak rambut keduanya.
"Ada apa ini?!"
Seorang pria pun berteriak ke arah Shaki dan Biya.