Love is, composed of single soul inhabiting, two bodies "CHERRY COOKIES CAKE
Hafin mendapat laporan dari rekan kerjanya bahwa Shaki sehabis dari kantor Hafin kembali lagi ke cafe itu. Hafin pun semakin geram dengan sikap Shaki. Namun kata rekan kerjanya Hafin saat ini Shaki sudah tidak disana lagi dari beberapa menit yang lalu. Kemudian Hafin pun menelepon Shaki. Dia ingin bertanya keberadaan Shaki saat ini dimana, namun Shaki tidak menjawab teleponnya. Hafin pun beranjak dari kantornya dan menuju ke cafe tempat Biya bekerja.
Sesampainya dicafe, Hafin langsung menemui Biya yang sedang bekerja. Biya pun terkejut melihat Hafin sedang berjalan menuju ke tempat dia berada.
"Bi" panggil Hafin,
"Kau kenapa kemari Fin?"
"Kekasihku kembali lagi kesini, maafkan dia. Dia memang seperti itu"
"Tuan kekasih anda yang cantik itu dan baik hati itu tadi hampir saja membuat pelanggan-pelanggan saya pergi!" Sahut Sifa yang tiba-tiba datang menghampiri Biya dan Hafin,
"Astaga.. maaf nona saya akan menegurnya nanti"
"Tolong ajari dia menghormati orang lain tuan. Dan jangan biarkan dia kembali lagi kesini"
"Oke nona tenang saja itu urusan saya"
"Umm" Sifa pun pergi meninggalkan Biya dan Hafin, dia kembali masuk kedalam ruang kerjanya.
"Kau dengar, sebaiknya jangan sampai dia datang kemari jika tidak ingin dihabisi oleh bosku"
"Nanti aku sampaikan padanya. Aku tidak enak kepadamu Bi. Ini semua bukan salahmu tapi kamu yang menanggung semua ini"
"Tak apa semua sudah terjadi"
"Kita masih berteman kan?" Tanya Hafin,
"Ummm ya?" Jawab Biya ragu, ingin rasanya dia bilang ke Hafin jika dirinya saat ini hatinya sakit,
"Terima kasih"
Tiba-tiba terdengar suara pintu cafe yang dibuka secara paksa. Terlihat sosok Shaki didepan pintu cafe itu. Hafin dan Biya terkejut karena suara pintu sangat nyaring terdengar. Sifa pun langsung berlari keluar ruang kerjanya karena suara itu.
"Hafin!" Panggil Shaki dengan lantang,
"Jaga sikapmu Shaki ini tempat orang!" Ucap Hafin sambil berjalan menuju ke tempat Shaki berdiri,
"Kenapa dia datang lagi?"batin Biya, tidak salah lagi Sifa tiba-tiba keluar dari ruang kerjanya dan langsung menghampiri dimana Shaki berada. Biya yang melihat itu pun langsung menyusul Sifa dibelakangnya. Semua pandangan pengunjung cafe tertuju kepada mereka berlima.
"Tidak bisakah kau sopan sedikit nona?!" Ucap Sifa kepada Shaki,
"Kau diam saja" ucap Shaki,
"Diam katamu, keluar dari sini sebelum aku memanggil polisi kemari!"
"Panggil saja aku tidak takut!"
"Shaki jaga bicaramu!"
"Kau diam Hafin ini semua gara-gara ulahmu!"
"Keluar tidak?! Keluar kataku!" Ucap Sifa,
"Sabar Fa.."ucap Biya menenangkan Sifa yang emosinya semakin memuncak,
"Minta maaf!" Perintah Hafin kepada Shaki yang membuat Shaki semakin geram,
"Tidak, aku tidak salah. Seharusnya dia yang minta maaf padaku!" Ucap Shaki sambil menunjuk Biya,
"Shaki! Minta maaf sekarang!" Namun Hafin terus menyudutkan Shaki agar Shaki mau meminta maaf kepada Sifa,
"Shit.." Shaki pun mengumpat lalu memilih pergi meninggalkan cafe tanpa meminta maaf.
"Shaki kau mau kemana?! Minta maaf sekarang Shaki?!" Teriak Hafin kepada Shaki yang sedang berjalan meninggalkan cafe itu, Hafin pun segera menyusul Shaki yang tiba-tiba pergi itu, "Nona maafkan dia nona aku berjanji akan membawanya kesini untuk meminta maaf kepadamu"
"Dengar tuan kalau sampai dia datang lagi kemari dan membuat keributan saya akan membawa masalah ini ke ranah hukum!"
"Saya berjanji nona. Sekali lagi maaf. Saya permisi" Hafin pun meninggalkan cafe itu dan berlari menyusul Shaki yang terus berjalan disisi jalan raya.
"Sabar Fa, maaf ya Fa gara-gara masalahku cafemu yang menjadi korbannya"
"Sudahlah Bi, sebenarnya jika wanita itu bersikap baik walaupun masalahnya seberat apapun tidak akan terjadi seperti ini. Memang dasarnya wanita itu ular. Astaga.. aku mengumpat lagi"
"Terima kasih Fa"
"Ya. Yakin saja kebenaran pasti akan menang Bi"
"Ya Fa"
"Aku mau kembali lagi atau tidak aku pulang cepat saja hari ini. Hari sudah sore nanti kita jajan lagi Bi sebelum aku pulang"
"Oke"
"Kau atur situasi didalam cafe, aku mau kedalam dulu"
Sifa pun kembali masuk kedalam ruang kerjanya, sedangkan Biya meminta maaf kepada pengunjung cafe serta mengembalikan situasi menjadi normal kembali.
***
Sudah sekitar 2 jam berlalu, satu persatu pengunjung cafe pun pulang. Setelah cafe tutup, Biya dan Sifa pun pergi untuk membeli jajanan kaki lima langganan mereka. Namun ketika mereka berdua sedang membeli, tiba-tiba Atkin datang, mereka berdua pun terkejut.
"Hai gadis-gadis hehehe"
"Astaga kau mengagetkan saja" ucap Sifa,
"Iya, kau mengagetkan saja"tambah Biya,
"Kalian sedang membeli apa?"
"Jajanan ini. Kau mau?" Ucap Biya,
"Itu apa?"
"Ini dimsum"
"Tidak seperti dimsum?"
"Tetapi ini enak, cobalah satu" ucap Biya sambil menyuapi Atkin dimsum tersebut. Biya tidak sadar jika sikapnya membuat hati Atkin berdebar dan senang. Sontak Atkin pun langsung membuka meulutnya dan menerima suapan pertama dari gadis kesukaannya."Bagaimana? Enak?" Tanya Biya, Atkin pun menguyah dimsum tersebut dengan tatapan langsung kepada Biya."Coba pakai sausnya" Biya kembali menyuapi Atkin dan membuat Atkin semakin gemas kepada Biya, Atkin pun masih terus menatap Biya sambil mengunyah dimsum itu.
"Aduh kita jadi nyamuk pak, bagaimana nih?" Ucap Sifa yang tengah menggoda Biya yang terlihat mesra didepannya, namun Biya belum menyadari akan sikap manisnya kepada Atkin,
"Nyamuk apa sih Fa, berlebihan kamu.." namun tiba-tiba Biya pun tersadar akan sikapnya kepada Atkin, Biya pun memandang Atkin yang memang tengah tajam menatapnya sambil tersenyum. Hati Biya pun ikut berdebar karena tatapan Atkin. "Kenapa kau tidak memberitahuku jika ini berlebihan Fa.."Bisik Biya kepada Sifa, namun dibalas Sifa dengan kikikan. Hatinya saat ini pun sedang berdebar. Biya mencoba bersikap normal kepada Atkin, "Ba, Bagaimana enak kan jika ditambah sausnya?" Tanya Biya dengan rasa gugupnya,
"Ummm, sepertinya belum. Coba satu lagi Bi" jawab Atkin,
"Sa,satu lagi?"
"Ya. Suapi aku dimsum itu satu kali lagi" ucap Atkin sambil terus menatap Biya tajam,
"Aduh bapak, bapak sama saya mau biar saya tidak jadi nyamuk" goda Sifa kepada Biya dan Atkin,
"Hahaha ayo neng saya mau kalau sama neng yang cantik ini" ucap bapak penjual dimsum itu,
"Apa sih Fa, jangan bercanda.." ucap Biya yang semakin salah tingkah, namun Atkin hanya tersenyum dan tidak sabar untuk menerima suapan dari Biya kembali,
"Hehehe"
"Mana Bi dimsumnya?" Tanya Atkin,
"Eh iya ini" Biya pun kembali menyuapi Atkin, mereka berdua pun saling berpandangan ketika Biya sedang menyuapi Atkin, namun tiba-tiba Sifa terbatuk-batuk dengan sengaja, keduanya pun langsung berhenti berpandangan,
"Kau sengaja batuk kan Fa?" Tanya Biya yang masih salah tingkah,
"Hahaha"
"Ummm. Enak, aku mau dong Bi. Aku beli juga" ucap Atkin sambil mengambil satu dimsum,
"Benar kan ini dimsum enak dan murah meriah" ucap Biya,
"Kau juga makan ya.." ucap Atkin sambil menyuapi Biya, sontak Biya pun terkejut melihat Atkin sudah menyodorkan dimsum kearah mulutnya,"Aaa buka mulutmu Bi"
"Eh i,iya.." Biya pun membuka mulutnya dan memakan dimsum suapan dari Atkin, Sifa pun kembali terbatuk-batuk dengan sengaja. Biya langsung menyenggol bahu Sifa agar menyuruhnya diam. Namun Sifa semakin tertawa terbahak dan membuat Biya semakin salah tingkah.
***
Setelah membeli dimsum, mereka bertiga pun kembali berjalan menuju cafe. Sesampainya dicafe Sifa langsung pulang.
"Bi aku pulang dulu ya"
"Oke Fa hati-hati ya"
"Oke.. bye"
Sifa pun pergi meninggalkan cafe bersama mobil kesayangannya. Biya pun melanjutkan bersih-bersih didalam cafe bersama beberapa pegawai cafe yang bertugas bersih-bersih.
"Bi, aku bantu ya?" Tanya Atkin,
"Eh tidak usah, kau duduk saja"
"Tidak apa. Aku bantu ya"
Atkin pun membantu Biya membersihkan cafe.
***
Malam pun tiba, Biya dan Atkin bersiap untuk pulang. Semua pegawai cafe sudah pulang. Saat mereka berdua masuk kedalam mobil Atkin, tiba-tiba seorang wanita berdiri didepan mobil Atkin,
"Siapa Bi?"
"Entahlah, aku tidak mengenalnya"
"Sebentar biar aku periksa dulu"
Atkin pun turun dari mobil lalu menghampiri wanita yang berdiri didepan mobilnya. Terlihat seorang wanita paruh baya. Atkin pun bertanya kepada wanita itu dan wanita itu bilang jika dia adalah saudara Biya. Atkin pun langsung membawa wanita itu berjalan menuju ke tempat Biya berada. Biya terus memperhatikan wanita itu. Wanita itu memakai tudung sehingga wajahnya tidak terlihat. Biya melihat Atkin ssedang mengantar wanita itu berjalan kearah mobilnya. Namun ketika badan wanita itu tersorot oleh lampu mobil Atkin, Biya pun menyipitkan mata.
"Sepertinya aku mengenal wanita itu" batin Biya, dan ketika wanita itu semakin mendekat kearah Biya bersama Atkin, tiba-tiba wanita itu menodongkan pisau kearah Biya, Biya pun terkejut dan berteriak. Atkin yang berada disamping wanita itu pun ikut terkejut. Sontak Atkin pun langsung menepis pisau yang dipegang wanita itu.
"Kau kan?" Ucap Biya terkejut ketika melihat wanita yang dibalik tudung itu adalah Shaki. Saat ini Shaki sedang dipegang oleh Atkin dan. Atkin tengah menyeret Shaki untuk dibawa ke kantor polisi. Namun tiba-tiba seorang laki-laki bertudung keluar dari balik kegelapan lalu memukul punggung Atkin dari belakang, Biya pun terkejut dan berteriak. Pria itu pun langsung berlari bersama Shaki. Biya pun keluar dari mobil dan menghampiri Atkin yang terkapar dijalan.
"Kau tak apa?" Tanya Biya panik,
"Tak apa Bi.." Biya pun membantu Atkin masuk kedalam mobil,
Biya pun langsung mencari kunci mobil Atkin,
"Kau mau apa Bi?"
"Kuncimu dimana, biar aku yang mengemudi"
Atkin pun memberikan kunci mobilnya kepada Biya. Biya pun langsung melesatkan mobil Atkin dijalan.
"Kita ke rumah sakit ya" ucap Biya,
"Tidak usah Bi. Aku tidak apa. Kita langsung pulang saja"
"Kalau begitu aku antar kau pulang"
Biya pun mengemudi dengan kecepatan diatas rata-rata. Biya melajukan mobil dengan cepat. Dia khawatir kepada Atkin. 30 menit berlalu, sampailah mereka berdua dirumah Atkin. Untuk pertama kalinya Biya masuk kedalam rumah Atkin. Biya pun membopong Atkin kedalam rumah.
"Dimana kamarmu?"
"Disana" Atkin menunjukkan satu ruang kamar yang berada dilantai 2. Mereka berdua pun naik dan masuk kedalam kamar Atkin.
Sesampainya didalam kamar Atkin, Biya pun membaringkan Atkin diatas ranjang kasur Atkin.
"Kau mau kemana?" Tanya Atkin,
"Mengambil kotak obat"
"Didalam lemari pakaian"
Biya pun berjalan menuju lemari pakaian Atkin dan mengambil kotak obat disana. Setelah itu Biya mengobati Atkin. Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu kamar,
"Permisi tuan" terdengar suara wanita renta dari balik pintu, Biya pun langsung berjalan menuju pintu kamar Atkin,
"Iya" jawab Biya,
"Nona saya membawakan teh hangat untuk tuan Atkin" dia adalah pembantu dirumah Atkin, seorang wanita berusia 60 tahun namun beliau masih terlihat segar dan sehat,
"Oh silahkan masuk"
Pembantu Atkin pun masuk kemudian menaruh teh hangat itu dinakas milik Atkin,
"Tuan diminum teh hangatnya"
"Makasih nek"
"Sama-sama, saya permisi dulu tuan nona"
"Saya antar nek" ucap Biya sambil mengantar pembantu Atkin menuju pintu kamar Atkin.
"Kau tidak apa mempekerjakan yang sudah renta, kasihan Kin"
"Dia yang mengurusku dari kecil Bi. Aku sudah menganggapnya seperti nenekku sendiri. Pernah aku coba minta berhenti tetapi dia bilang dia tidak punya keluarga lagi selain ornag yang berada dirumah ini jadi aku biarkan saja"
"Ya sudah. Buka kemejamu aku akan mengobati memar di punggungmu"
"Tidak. Kau nanti melihat badanku Bi"
"Astaga.. maaf aku tidak bermaksud. Aku hanya khawatir dan ingin membantumu"
"Hehehe tak apa Bi. Ya sudah sini obati"
"Kau yakin?"
"Iya. Terima kasih Bi"
Atkin pun membuka setengah kemejanya dan menundukkan badannya. Biya pun mengoleskan obat dipunggung Atkin yang memar itu. Selesai mengoleskan obat, Atkin pun berbaring kembali.
"Sekarang istirahatlah" ucap Biya sambil beranjak dari tempat duduknya,
"Kamu mau kemana Bi?"
"Pulang Kin sudah malam"
"Ini tengah malam. Kamu menginap saja malam ini. Ada kamar kosong disebelah kamarku kamu bisa memakainya" Akhirnya Biya pun setuju dan menginap dirumah Atkin.
"Terima kasih"
"Selamat malam Bi"
"Iya selamat malam, istirahatlah"
Biya pun beranjak dari kamar Atkin dan berjalan menuju ke kamar disamping kamar Atkin. Biya pun masuk kedalam lalu menutup pintu. Biya segera mengabari kakaknya jika dirinya malam ini menginap dirumah Atkin. Biya juga menjelaskan bahwa Atkin baru saja diserang oleh orang asing sehingga dirinya harus membantu Atkin pulang ke rumah Atkin.
Setelah itu, Biya pun masuk ke kamar mandi. Biya mandi sambil menyegarkan badannya kembali. Tiba-tiba terlintas kejadian tadi selama di cafe. Biya menghela nafas panjang dan mencoba menenangkan pikiran dan hatinya.
"Hah... Hari ini melelahkan sekali"batin Biya,
***
Selesai mandi Biya pun membuka lemari pakaian. Ada banyak pakaian tidur wanita disana. Biya pun mengangkat sebelah alisnya karena heran.
"Kenapa ada banyak baju tidur wanita disini. Apa ini punya kekasihnya? Tapi bolehlah aku pinjam satu untuk malam ini"
Biya pun memakai salah satu baju tidur itu. Biya berjalan menuju pintu kamar dan berniat akan meminta ijin kepada Atkin untuk memakai salah satu baju tidur yang ada didalam lemari pakaian, namun tidak jadi.
"Mungkin Atkin sudah istirahat. Aku tidak mungkin membangunkannya. Ya sudah langsung pakai sajalah. Besok saja aku bilang kepada Atkin"
Namun tiba-tiba terdengar suara pintu kamar diketuk. Biya pun langsung membuka pintu itu.
"Atkin? Kau tidak istirahat?"
"Kau memakai baju tidur?"
"Eh iya, aku pinjam satu ya hehe"
"Tak apa pakai saja semaumu"
"Terima kasih. Tetapi kenapa ada banyak sekali baju tidur wanita didalam?"
"Hehehe untuk berjaga saja jika ada tamu wanita sepertimu"
"Oh. Ku kira milik kekasihmu"
"Aku tidak punya kekasih Bi" tiba-tiba Atkin mendekat kepada Biya, Biya pun bergidik."Kamu mau jadi.." tiba-tiba pembantu Atkin datang membawa makan malam. Biya pun terkejut namun Atkin biasa saja.
"Terima kasih nek. Taruh saja didalam"
"Baik tuan"
Pembantu itu pun menaruh makan malam itu kedalam kamar Atkin.
"Kita makan dulu Bi. Kita belum makan dari tadi"
"Eh iya"
"Ayo masuklah"
Mereka berdua pun makan malam didalam kamar Atkin. Didalam kamar Atkin ada meja untuk bersantai. Mereka berdua makan malam disana sambil menonton televisi.