Pagi harinya Biya pun berangkat kerja bersama kakaknya. Sesampainya di cafe Biya bertemu dengan Sifa. Sifa langsung menghampirinya yang sedang bekerja.
"Bi jelaskan padaku kenapa Atkin bisa menginap dirumahmu?" Sifa bertanya dengan suara yang lantang dan menggebu, semua pegawai sampai terdiam saat mendengar pertanyaan yang Sifa lontarkan.
"Fa, jangan keras-keras. Lihat semua orang terdiam"
"Maaf aku penasaran Bi hehehe"
"Atkin datang ke rumahku sewaktu aku berkencan dengan Hafin. Saat aku pulang tiba-tiba dia sudah dirumahku"
"Astaga. Apa yang dia lakukan dirumahmu?"
"Dia menonton film bersama mas Hasan semalaman"
"Astaga. Mereka sepertinya sudah akrab sekali"
"Begitulah. Mereka berdua membuatku kesal seharian huft"
"Hahaha sudahlah namanya juga pria. Tapi sepertinya kakakmu juga tidak masalah dengan Atkin"
"Apa maksudmu?"
"Kenapa kau tidak jadian saja dengannya hehehe"
"Siapa? Atkin?"
"Hahaha"
"Kau bilang apa sih Fa. Sudah jangan dibahas lagi"
"Tapi Bi lihat bagaimana Atkin mengambil hati kakakmu. Dia pandai sekali"
"Ngga tau deh. Sudah ayo kerja-kerja Fa"
"Hahaha"
Sifa pun langsung melenggangkan langkahnya menuju ke ruang kerjanya. Biya kembali melanjutkan pekerjaannya. Setiap harinya Biya melayani pengunjung cafe dari pagi sampai malam. Dia melayani pengunjung cafe dengan sepenuh hati. Sudah hampir 3 tahun Biya bekerja dicafe milik Sifa. Dan selama itu itu cafe Sifa berdiri. Dan sampai sekarang cafe mengalami perkembangan yang pesat. Cafe Sifa banyak memiliki pelanggan tetap karena mereka suka dengan menu-menu yang disajikan dicafe. Tempatnya yang nyaman dan santai. Berbagai minuman dan makanan dessert yang cocok untuk teman bersantai dan berkegiatan apapun.
Saat ini Sifa sedang mengerjakan proyek bersama perusahaan milik Anastasya. Sudah berjalan satu minggu. Sifa sering bolak balik ke perusahaan Anastasya untuk menyelesaikan beberapa hal yang berkaitan dengan kerjasamanya. Begitu juga Anastasya, dia juga sering berkunjung ke cafe dan mengadakan pertemuan dengan Sifa. Biya sering bertemu dengan Anastasya. Namun pertemuannya tidak seperti sesama teman. Mereka hanya saling senyum dan menyapa karena sedang dalam waktu bekerja dan Anastasya adalah rekan kerja Sifa yang Biya juga harus menghormati selayaknya rekan kerja atasannya.
Namun ketika diluar jam kerja Anastasya dan Biya tampak seperti teman biasa. Mereka berusaha bersikap profesional dan mengikuti prosedur etos kerja yang berlaku dikedua perusahaan.
Jam sudah masuk jam makan siang. Biya sedang membuka bekalnya dari dalam kantong makannya. Namun tiba-tiba namanya dipanggil. Sontak Biya langsung menoleh kearah suara itu.
"It,itu kan?" Biya pun terkejut ketika melihat siapa yang memanggilnya,
"Duh, siapa sih Bi teriak-teriak manggil namamu. Bikin telingaku sakit" ucap Sifa sambil memegang telinganya dan berjalan menghampiri Biya,
"Tu,tunangannya Hafin" ucap Biya sambil menunjuk ke arah pintu cafe,
"Hah. Mak Lampir itu lagi? Kenapa dia kemari, jangan-jangan" ucap Sifa sambil gelagapan, begitu juga dengan Biya,
"Gimana Fa?"
"Ada yang bernama Biya disini?!" Teriak Shaki dari pintu, "Hei, panggilkan aku pegawai disini yang bernama Biya" ucap Shaki kepada salah satu pegawai cafe yang sedang makan siang disamping pintu cafe. Pegawai itu pun menunjuk kearah Biya dan Sifa berada. Shaki pun langsung menoleh kearah yang dituju pegawai cafe itu. Ketika melihat kearah mereka berdua, Shaki pun menajamkan pandangannya. Shaki pun langsung berjalan menuju ke tempat Biya dan Sifa berada. Biya pun merasa tegang, sedangkan Sifa memasang tampang judesnya.
"Oh ternyata kau yang bernama Biya" ucap Shaki sambil berjalan mengelilingi Biya, Shaki berjalan sambil memperhatikan penampilan Biya dari ujung kepala sampai ujung kaki. "Kau lihat dirimu, kau pun tidak sebanding denganku. Jangan bermimpi merebut Hafin dariku"
"Hei, jaga ucapanmu!" Tukas Sifa,
"Kau diam, kau jangan ikut campur!"
"Dengar, kau salah paham" jelas Biya,
"Kau tidak berhak bicara nona. Kau diam saja dan terima saja hinaan yang aku katakan karena kenyataannya kau memang w************n!"
"Astaga mulut anak ini tidak pernah dididik atau bagaimana?!" Ucap Sifa semakin geram,
"Kau diam-diam berkencan dengan kekasih orang. Astaga apa yang ada didalam kepalamu nona?!"
"Dengarkan aku, ini semua salah paham. Aku dan Hafin hanya pergi sebentar. Kami pun berbicara tentang.. " disaat Biya menjelaskan tiba-tiba Hafin datang dan menengahi pertengkaran mereka bertiga.
"Maaf Bi sudah membuat keributan. Ayo kita pulang!"
"Hafin aku mau memberi wanita ini pelajaran"
"Ayo pulang sekarang!"
"Shit.."umpat Shaki,
Shaki dan Hafin pun meninggalkan cafe. Sedangkan Biya masih terdiam. Sifa pun menenangkan Biya dan meyakinkan Biya semua akan baik-baik saja.
"Dengar, kau bukan wanita seperti yang wanita itu bilang Bi. Kau bukan wanita seperti itu" Biya pun masih terpaku dan kembali memakan makan siangnya. Sifa menemani Biya makan siang.
"Fa, apa ada yang perlu aku luruskan?"
"Nggak ada. Kau tidak salah Bi. Biar itu jadi masalah mereka berdua. Kau tau, wanita itu bukan wanita yang benar. Dia pun berselingkuh dari Hafin. Kau jangan merasa lebih buruk dari dia. Kenyataan dia yang lebih murahan darimu. Astaga.. aku mengumpat lagi-lagi gara-gara wanita itu"
"Iya Fa" ucap Biya lemah,
Mereka pun melanjutkan makan siang mereka.
***
"Hafin apa yang kau lakukan. Kenapa kau menyusul ku?!"
"Kau duduk dulu"
"Tidak. Aku marah padamu!"
"Duduk ku bilang!"
Shaki pun bergidik mendengar bentakan Hafin. Selama berpacaran Shaki belum pernah melihat Hafin semarah ini kepada Shaki. Shaki pun menurut dan duduk disofa didalam ruang kerja Hafin.
"Dengar, kau salah paham. Aku hanya bertemu dan berteman dengannya. Aku mengajaknya makan malam karena dia wanita yang baik. Dia yang membantuku waktu aku sedang memerlukan bantuan"
"Membantu apa?"
"Dia rela pulang malam untuk meluangkan waktu melayani pengunjung cafe"
"Just it! Itu bukan alasan yang bagus. Kau berselingkuh Fin. Terserah kau aku pergi dulu!" Shaki pun melenggangkan langkahnya meninggalkan ruang kerja Hafin. Hafin pun hanya diam dan bersikap layaknya dia diposisi yang benar. Dia sudah menjelaskan. Shaki menerima atau tidak itu bukanlah urusannya. Kenyataan Hafin tidak berselingkuh dengan Biya. Hafin pun melanjutkan pekerjaannya dan kembali fokus mengerjakannya.
Sedangkan Shaki masih menggebu. Dia masih marah dan kembali ke cafe tersebut. Dengan langkah lebar dia pun berjalan menuju kesana.
"Aku belum selesai mengumpat didepan wajahmu" ucap Shaki,
***
"Siang Bi.." ucap Leon,
"Eh Leon"
"Aku bawa butter ya hari ini"
"Oke makasih Leon"
"Bosmu mana beb?"
"Kenapa mencarimu?" Ucap Sifa,
"Eh aku kira kau ditelan bumi Fa hahaha"
"Kau bicara jangan sembarangan"
"Hahaha"
Tiba-tiba pintu cafe terbanting dengan keras. Biya, Sifa dan Leon yang sedang berbincang pun langsung membelalak karena terkejut.
"Astaga apa tuh?" Ucap Leon,
"Hei kau w************n!" Panggil Shaki dengan keras dan lantang tepat didepan seluruh pengunjung cafe. Sontak mereka semua langsung melihat kearah Shaki yang mengamuk didalam cafe.
"Astaga wanita itu datang lagi" ucap Sifa sambil berjalan menuju kearah Shaki. Sifa sudah tidak bisa menahan umpatannya. Sifa pun meminta maaf kepada pengunjung cafe atas keadaan yang tidak nyaman.
Kemudian setelah keadaan cafe menjadi stabil Sifa pun langsung menuju ke arah pintu kemudian membuka pintu cafe. Sifa pun memegang tangan Shaki dan mengajaknya keluar dari dalam cafe. Biya dan Leon pun langsung menghampiri Sifa dan Shaki keluar dari cafe. Sifa menyeret Shaki menjauh dari cafe.
"Hei pelan-pelan. Kau menyakiti tanganku!" Ucap Shaki, Sifa pun langsung berhenti menyeret Shaki dan melepaskan genggaman tangannya,
"Apa kau tidak tahu etika berkunjung ke tempat orang, kau seperti binatang yang tidak tahu aturan!"
"Hei jaga biacaramu! Aku bisa menuntutmu"
"Silahkan saja. Aku tidak takut!"
"Fa sudah Fa" ucap Biya melerai Sifa dan Shaki, dibantu Leon yang berada disamping Biya,
"Nona, kau minta maaf kepadanya. Kau sudah membuat keributan ditempat orang"
"Kau siapa? Jangan menyuruhku, kau tidak berhak!"
"Eh nona, dia sudah berbaik hati karena tidak menyuruh Anda meminta maaf didepan umum. Seharusnya anda tau diri!"
"Kau bicara lagi ku tutup mulutmu selamanya!"
"Astaga wanita ini. Cantik-cantik ular juga. Ih serem.."
"Diam kau!" Bentak Shaki kepada Leon, "Hei kau w************n kau itu harusnya minta maaf padaku!" Ucap Shaki kepada Biya,
"Kau salah paham. Kenapa kau tidak mau mendengarku. Jangan menjadi wanita egois nona" ucap Biya,
"Kau berani berbicara seperti itu padaku!"
"Ya. Karena sikapmu sudah keterlaluan!" Bentak Biya,
"Oh oke. Kau bukan hanya murahan tetapi juga tidak tahu diri!"
"Semakin lama mulutmu semakin parah! Diam kau nona!" Ucap Sifa, sedikit saja Sifa hampir menjambak rambut Shaki, namun Biya menahan Sifa. "Pergi kau dari hadapanku!"Bentak Sifa,
"Dengar. Urusan kita belum selesai w************n!" Ucap Shaki sambil berjalan menjauh dari Biya,Sifa dan Leon,
"Kau tinggal pergi saja masih bicara!" Teriak Leon kesal,
"Diam kau banci!"Teriak Shaki dari kejauhan,
"Hei awas kau kalau bertemu denganku lagi! Kalau kau bukan wanita sudah ku tutup mulutmu!" Tiba-tiba suara Leon dari sisi pria pun keluar, sontak Biya dan Sifa pun langsung bergidik mendengarnya,
"Suaramu seram juga" ucap Sifa,
"Iya dong. Leon sih tetap pria tulen"
Mereka bertiga pun kembali berjalan ke cafe. Leon pun berpamitan pulang. Biya dan Sifa pun masuk kedalam cafe. Didalam cafe tampak pengunjung cafe seperti biasanya. Tampak wajah lega pada Sifa. Biya pun ikut merasa lega karena pengunjung cafe tidak begitu terpengaruh dengan kejadian tadi.
"Bi. Lanjutkan bekerja. Huft kepalaku rasanya pening karena bertemu dengan wanita itu"
"Oke Fa. Kau sudah berusaha Fa terima kasih"
"Kau juga tadi sudah bagus Bi. Pertahankan"
"Hahaha siap bos"
Sifa pun berjalan masuk ke dalam ruang kerjanya. Sifa memesan segelas minuman coklat untuk meredam pikiran dan hatinya yang sedari siang naik turun.