Aku akan menjadikanmu milikku saat kamu tidak melihatku "LOVELAND~BIANGLALA"
Pagi harinya mereka pun bangun. Biya dan Hasan melakukan aktivitas minggunya yaitu lari pagi bersama ke taman kota. Atkin pun ikut Biya dan Hasan lari pagi disana. Mereka bertiga pun lari pagi bersama sampai siang hari. Mereka sarapan disalah satu rumah makan disudut kota. Mereka bertiga menikmati sarapan bersama. Selesai sarapan mereka pun pulang ke rumah. Dirumah mereka bersih-bersih diri.
"Kin, sepertinya kau betah disini" ucap Hasan,
"Hahaha iya dong mas kan ada dia"
"Awas kau kalau macam-macam"
"Hahaha nggak akan mas tenang saja"
"Ngomong apain sih?" Tanya Biya yang tiba-tiba datang,
"Ngga ada Bi" ucap Hasan sambil mengusap-usap rambut Biya lembut,
"Apa kok mas, apa Kin?"
"Nggak ada" Atkin pun ikut pergi mengikuti Hasan dibelakangnya.
"Ih, pria dirumah ini aneh semua" Biya pun langsung masuk ke dapur untuk mengambil beberapa camilan. Setelah mengambil camilan Biya pun menonton televisi.
"Bi, mas mau belanja dengan Atkin. Jaga rumah ya"
"Eh. Kok dengan dia. Aku yang adikmu mas"
"Emang kenapa. Kau dirumah saja jaga rumah. Jadi wanita baik-baik dirumah"
"Alasan saja. Ya sudah cepat pergi"
Tidak disangka kedua pria itu langsung pergi tanpa berbicara atau berpamitan kepadanya. Biya dibuat kesal kedua pria itu. Biya pun tidak peduli nanti jika mereka sudah pulang.
"Lihat saja pulang nanti tidak akan aku sapa kalian" Biya pun kembali melihat televisi dan memakan camilannya. Tiba-tiba panggilan masuk ke ponsel Biya. Itu panggilan dari Sifa. Biya pun langsung mengangkat panggilan itu.
"Bi, bagaimana?"
"Hmmm biasa saja Fa"
"Maksudmu?"
"Hafin tidak menunjukkan kalau dia tertarik padaku"
"Hmmm ya sudah memang Hafin tidak akan berpaling"
"Umm. Kau sedang apa Fa?"
"Sedang menonton televisi"
"Eh sama dong"
"Sudah ya. Aku kira ada hal yang menarik Bi. Ya sudahlah biarkan saja Hafin"
"Iya Fa" Biya dan Sifa pun mengobrol ringan dalam sambungan telepon hampir 1 jam. Dan tidak terasa kedua pria itu pun sudah pulang. Hasan menyapa Biya begitu juga dengan Atkin namun Biya tidak menghiraukan kedua pria itu dan sibuk dengan teleponnya dengan Sifa.
Hasan pun langsung masuk ke dapur dan Atkin duduk disamping Biya.
"Bi, kau sedang berbicara dengan siapa?" Namun Sifa yang berada diujung telepon pun mengenali suara itu. Sontak Sifa pun bertanya siapa yang berada disamping Biya.
"Bi, kok seperti suara Atkin?"
"Ya. Kau benar"
"Bi. Aku bertanya kau bicara dengan siapa?" Tanya Atkin kembali,
"Apa sih Kin. Dengan Sifa kenapa?" Sifa yang berada di ujung telepon pun membelalak mendengar apa yang Biya bilang.
"Bi, Bi halo?"
"Iya Fa. Maaf ya pria ini mengganggu ya maaf ya"
"Eh Bi. Beneran Atkin disitu. Ngapain dia disitu?"
"Iya. Nggak tau kenapa Fa"
"Kin. Kau ngapain dirumahku?" Tanya Biya kepada Atkin,
"Ya rindu kamu Bi" mendengar perkataan Atkin Sifa pun terkejut lalu tertawa,
"Fa. Ketawamu pelan-pelan gitu. Nggak ada yang lucu ya"
"Hahaha maaf Bi. Aku terkejut ternyata kau sudah seakrab itu dengan Atkin"
"Apa maksudmu? Nggak kok dia dari semalam membuatku darah tinggi terus"
"Hah semalam? Semalam dia menginap dirumahmu?"
"Ya. Dia menginap. Dia tiba-tiba muncul dirumahku"
"Hahaha aduh Bi tidak berhenti ketawa aku"
"Kau ini ketawa terus Fa"
"Bi. Boleh aku berbicara dengan Sifa?"
"Ini. Bicaralah"
"Sifa.. Hai"
"Oh Hai Atkin hehehe maaf aku menertawakanmu dari tadi"
"Oh hehehe tidak apa"
"Kau kenapa menginap dirumah Biya?"
"Biya yang menyuruhku menginap dirumahnya"
"Eh eh nggak gitu ya" ucap Biya,
"Kan Benar kamu yang minta aku menginap Bi"
"Wah wah kalian ada apa nih?"
"Sudah ya Fa lain kali cerita lagi. Bye" Biya pun memutuskan telepon Sifa. Diujung teleySifa masih terus tertawa. Sedangkan Biya dan Atkin saling berpandangan dan Biya mengalihkan pandangannya ke arah televisi karena kesal dengan Atkin.
"Bi.."
"Hmm?"
"Minta camilannya dong"
"Dasar.. nih makan"
Tiba-tiba Hasan memanggil Biya ke dapur. Biya pun segera pergi ke dapur untuk menemui kakaknya. Kakaknya meminta Biya untuk membantunya memasak didapur. Satu jam berlalu. Hasan dan Biya pun sudah selesai memasak. Selesai memasak Hasan pun istirahat didalam kamarnya. Sedangkan Biya kembali masuk ke ruangan televisi. Namun terlihat Atkin sedang tertidur disana. Biya pun mendekat lalu mengambil remote televisi yang sedang Atkin genggam.
"Dia ketiduran" ucap Biya lirih,
Biya pun mengambil sebuah selimut dan satu bantal untuk Atkin. Biya mengangkat sedikit kepala Atkin dan meletakkan bantal dibawahnya. Kemudian Biya menyelimuti Atkin. Ketika Biya akan beranjak tiba-tiba tangan Atkin menariknya lalu tidak sengaja Biya terjatuh dipelukan Atkin. Biya pun terkejut ketika matanya tidak sengaja menatap mata sendu Atkin yang baru saja bangun tidur. Mereka berdua bertatapan lama sampai Biya tersadar jika Atkin sedang memeluknya.
"Bi. Berat nih"
"Ih aku nggak berat tahu" Biya pun langsung bangun dan beranjak dari tempatnya terjatuh. Namun lagi-lagi Atkin menahan Biya untuk pergi.
"Kamu mau kemana?"
"Ke kamar"
"Lalu aku kamu tinggal disini?"
"Kamu tidurlah lagi"
"Sudah nggak ngantuk Bi. Kamu ngapain dikamar?"
"Baca buku"
"Ikut dong baca buku"
"Ya sudah cepat"
Mereka berdua pun naik ke kamar Biya dan membaca buku bersama. Sampai 30 menit berlalu Biya pun tertidur. Atkin melihat Biya tertidur pun menghentikan kegiatan membacanya dan membiarkan Biya tidur dikamarnya. Atkin pun keluar dari kamarnya dan menutup pintu kamar Biya. Atkin pun turun ke bawah. Dibawah Hasan sedang duduk diteras. Atkin pun ikut bergabung dengan Hasan disana. Mereka mengobrol banyak tentang hobi dan pekerjaan. Semakin hari kedua pria itu semakin dekat.
***
Sore pun tiba. Atkin sudah siap dengan pakaian bagusnya untuk keluar dengan Biya. Atkin sudah menunggu Biya sambil menonton televisi bersama Hasan. Tiba-tiba Biya pun turun sambil menguap karena baru bangun tidur. Biya menghampiri kedua pria itu yang sedang berada di ruang televisi.
"Bi.. kau belum siap-siap?" Tanya Hasan,
"Sebentar lagi mas. Biya masih agak mengantuk. Kau sudah rapi dari kapan?"
"Dari jaman nenek moyang dek. Cepat mandi bau tahu" jawab Hasan ketua karena adiknya tidak kunjung bersiap untuk pergi,
"Wangi mas.. aku itu wangi dari lahir"
"Alasan. Cepat mandi dek"
"Ya.ya aku mandi"
Biya pun langsung naik kembali ke kamarnya untuk mandi. Biya pun bergegas mandi dan ganti baju. Malam ini Biya memakai pakaian santai. Biya mengenakan dress kesukaannya dengan sweater. Pakai sandal santainya juga riasan tipis namun manis. Selesai bersiap Biya pun turun ke bawah. Kedua pria itu pun terpanah melihat Biya yang turun dari tangga.
"Kalian kenapa melihatku seperti itu?"
"Dek kamu tumben dandan cantik"
"Hahaha mas meledekku. Aku berangkat dulu mas"
"Iya hati-hati"
"Mas kami berangkat"
"Jaga adikku jangan macam-macam"
"Siap mas"
Biya dan Atkin pun berangkat. Mereka naik mobil Atkin yang sedari kemarin terparkir dihalaman rumah Biya. Tetangga-tetangga Biya tidak berhenti memperhatikan Atkin yang memang penampilan menarik perhatian. Terutama ibu-ibu yang matanya jelalatan tidak berhenti memandang Atkin. Mereka berdua pun langsung pergi. Atkin melesatkan mobilnya memecah keramaian jalan raya. Mereka akan menuju ke Loveland dimana itu adalah taman bermain yang terkenal dengan bianglala terbanyak. Namun mereka berdua akan naik bianglala tertinggi disana. Bianglala itu selain terkenal dengan ketinggiannya juga terkenal dengan bentuknya yang indah.
Sesampainya di Loveland mereka berdua pun membeli tiket masuk. Setelah membeli mereka dapat menikmati setiap wahana yang ada didalamnya. Pertama yang mereka tuju adalah bianglala itu. Sesampainya di bianglala itu, mereka berdua pun langsung dipersilahkan masuk ke bianglala itu. Setelah mesin menyala, bianglala pun mulai berputar. Biya takjub dengan pemandangan yang disajikan dari atas bianglala itu. Biya tidak berhenti memandang keindahan yang terlihat didepan matanya.
"Indah ya Bi"
"Iya Kin. Baru pertama melihat kota sekecil itu"
"Itu rumahmu terlihat dari sini"
"Hahaha iya. Itu rumahku"
Mereka berdua menikmati pemandangan dari atas bianglala itu. Biya tidak berhenti tersenyum melihat pemandangan yang ada. Atkin ikut senang karena Biya seperti menikmati perjalanan dengannya. Tidak ada raut muka terterkan di wajah Biya. Justru Biya terlihat lepas dengan perasaannya sekarang. Atkin tahu jika Biya masih menganggap dirinya teman dekatnya tidak lebih. Namun Atkin tidak pernah berhenti dan terus mengejar cinta Biya sampai Biya pun jatuh cinta kepadanya. Selesai naik bianglala mereka berdua pun berkeliling dan mencoba berbagai wahana lain di Loveland. Mereka berdua tertawa dan menikmati perjalanan itu.
Tidak terasa malam pun sudah larut. Mereka berdua pun pulang. Atkin mengantarkan Biya pulang. Sesampainya dirumah Biya. Biya pun turun dari mobil Atkin.
"Bi terima kasih"
"Tidak. Aku yang terima kasih"
"Sama-sama"
"Aku masuk dulu ya"
"Sebentar Bi" Atkin mengambil kotak kecil yang sedari kemarin dia bawa dikantonginya. Atkin pun membuka kotak kecil itu lalu mengambil isinya. Sebuah kalung berwarna putih dengan liontin bermata putih juga. Kalung itu tampak cantik ketika diambil oleh Atkin. "Bi, kemarilah" Atkin pun memakaikan kalung itu dileher Biya.
"Eh ini apa Kin"
"Kalung untukmu"
"Ta,tapi ini.."
"Sudah. Ini untukmu. Lihat kau semakin cantik memakai kalung itu"
"Terima kasih. Kalung ini memang cantik"
"Kau mau kedalam kan?"
"Ya. Ya sudah aku kedalam dulu. Hati-hati"
Atkin pun langsung melesatkan mobilnya dari halaman rumah Biya. Biya segera masuk kedalam rumahnya. Tampak rumah sudah sepi. Hasan sudah tidur dikamar. Biya membuka pintu kamar Hasan dan dia mendapati kakaknya sudah tidur. Biya pun menutup kembali pintu kamar kakaknya dan pergi ke kamarnya sendiri. Sesampainya dikamar, Biya langsung pergi mandi dan bersiap untuk tidur. Biya merendam badannya dalam bathup kesayangannya. Dia menghujam sabun mawar kesukaannya. Biya merelekskan badannya yang sedari tadi berjalan-jalan bersama Atkin. Biya memijat kedua kakinya yang hampir terluka karena berjalan lama mengelilingi Loveland yang luas itu.
Biya dan Atkin mencoba hampir semua wahana yang ada karena itu kaki Biya terasa sedikit sakit dan badan Biya terasa pegal. Namun dengan berendam seperti ini badan Biya sedikit terasa lebih baik. Selesai mandi Biya pun bersiap untuk tidur. Sebelum tidur Biya pun membaca buku yang belum terselesaikan tadi malam. Namun dalam kegiatan membacanya Biya pun tertidur kembali.