Sifa dan Biya makan siang bersama diruang kerja Sifa.
"Bi, habis ini kita keluar yuk. Kamu ngga siap-siap buat nanti malam hahaha"
"Tapi ini masih jam kerja Fa"
"Kau lupa aku yang punya cafe huh!"
"Hahaha maaf bos. Oke deh habis ini ya"
"Hahaha bagus"
Selesai makan siang mereka berdua pun pergi keluar. Sifa menyarankan agar Biya membeli baju baru untuk acara nanti malam. Biya pun setuju. Mereka berdua berkeliling untuk mencari baju yang cocok dengan Biya. Sampai disalah satu toko mereka pun menemukan baju itu. Dress selutut berwarna hitam dengan sedikit pernik pada lingkar perutnya membuat gaun itu terlihat manis saat dipakai oleh Biya.
"Lihat Bi kau cocok dengan gaun ini"
Akhirnya mereka pun membeli gaun itu. Selesai membeli gaun mereka menuju ke toko sepatu. Disana mereka memilih-milih. Selesai memilih semua keperluan yang dibutuhkan, akhirnya mereka pun pergi ke salon untuk mendandani Biya .
"Tapi aku belum mandi Fa"
"Astaga aku lupa Bi"
Sifa pun meminta ijin di tempat salon tersebut agar Biya mandi disana karena waktunya sudah dekat. Terpaksa Biya pun mandi disalon tersebut. Selesai mandi Biya pun siap untuk didandani. Sifa menunggu Biya didandani. 1 jam berlalu akhirnya. Biya pun selesai. Sifa pun terkejut dengan penampilan Biya.
"Bi, kalau aku laki-laki aku pasti sudah jatuh cinta padamu"
"Hahaha kau biilang apa sih Fa jangan suka ngelantur"
"Benar Bi. Hafin pasti langsung terpanah saat melihatmu hahaha"
"Kau bisa saja hahaha"
"Ya sudah cepat lihat ponselmu siapa tahu Hafin sudah mengabarimu"
"Oke" Biya pun memeriksa ponselnya dan benar baru saja satu pesan masuk dari Hafin. Hafin bilang dia sudah berada ditempat bertemu. Sifa dan Biya pun langsung menuju ke tempat tersebut. Sesampainya disana mereka berrdua melihat Hafin sedang duduk disalah satu meja dari dalam mobil. Tempat pertemuannya memang ditempat outdoor jadi bisa terlihat dari jalanan.
"Kau siap?"
"Fiuh.. siap Fa"
"Hahaha jangan salting kamu suka salting Bi"
"Nggak akan lagi deh Fa"
"Hahaha bagus deh"
Biya pun turun dari mobil Sifa dan berjalan perahan menuju ke tempat Hafin berada. Sifa memperhatikan Biya sampai Biya sampai ditempat Hafin. Setelah Biya sampai Sifa pun langsung pergi meninggalkan Biya dan Hafin berdua.
***
"Hai.."
"Oh hai Bi duduklah"
"Kamu sudah menunggu lama?"
"Ah tidak baru saja aku sampai. Kamu terlihat berbeda malam ini Bi" ucap Hafin sambil tersenyum kepada Biya,
"Berbeda bagaimana Fin?"
"Kamu terlihat cantik"
"Eh ka,kamu bisa bercanda juga Fin"
"Hahaha aku tidak bercanda Bi. Setiap pengakuan yang diucapkan seorang pria itu adalah kejujuran" ucap Hafin sambil menatap lurus Biya, Biya pun kembali bersikap salah tingkah.
"Eh. Sudah pesan makanan? Aku sudah lapar" ucap Biya gugup, "Astaga apa yang kau katakan Bi, kau tidak serakus itu dengan makanan" batin Biya,
"Oh kau mau pesan" Hafin memanggil salah satu pelayan, "Ini Bi pesan saja" ucap Hafin sambil menyodorkan menu makanan kepada Biya,
Biya pun tertegun karena Hafin benar-benar menanggapi perkataannya. Biya raanya ingin berteriak karena kebodohannya saat ini. Akhirnya Biya pun memilih menu makanan disusul Hafin juga memesan makanan. Selesai memilih mereka berdua pun menunggu makanan datang.
"Ummm Fin kau tidak bertemu dengan kekasihmu?"
"Oh sudah tadi Bi. Kenapa?"
"Dia tidak cemburu melihatmu denganku"
"Hahaha kenapa cemburu, kita hanya bertemu dan berteman Bi, tidak ada yang perlu dicemburui olehnya"
Mendengar ucapan Hafin membuat Biya sedikit sakit hati. Biya pun berusaha bersikap biasa saja didepan Hafin karena Biya merasa Hafin tidak akan pernah jatuh cinta padanya karena dia sudah mempunyai kekasih yang sempurna baginya. Tidak terasa makanan pun sudah tiba. Akhirnya mereka pun makan malam bersama. Sambil berbincang santai seputar pekerjaan dan karir mereka terbawa suasana nyaman satu sama lain. Saat ini Biya sedang mengesampingkan perasaannya sendiri demi kenyamanan bersama Hafin.
Malam pun sudah menyelimuti rembulan. Mereka pun telah selesai makan malam. Selesai makan malam mereka pun pulang. Hafin mengantarkan Biya ke rumahnya. Sesampainya dirumah Biya Hafin pun menghentikan mobilnya. Hafin mengucapkan terima kasih kepada Biya karena sudah bersedia makan malam bersamanya. Biya membalas dengan senyuman lalu keluar dari mobil Hafin. Mobil Hafin pun melesat meninggalkan rumah Biya. Biya berdiri kaku di halamannya. Kaki Biya rasanya sudah lemas dan tidak ingin beranjak dari sana. Tidak terasa air matanya pun menetes. Biya terisak ditepi jalan. Namun tiba-tiba. Sebuah tangan mengangkat badannya. Biya pun terkejut.
"A,Atkin!" Atkin mengangkat badan Biya masuk ke rumah Biya,
"Atkin turunkan aku!" Biya memukul-mukul d**a bidang Atkin,
"Oke-oke baiklah" ucap Atkin, Atkin pun menurunkan Biya dihalaman rumahnya,
"Kau kenapa bisa ada disini?"
"Umm itu.. " Tiba-tiba pintu rumah Biya terbuka,
"Cepat masuk kalian berdua" pinta Hasan,
Biya dan Atkin pun masuk ke dalam rumah. Didalam rumah Biya terkejut karena melihat isi ruangan televisi penuh dengan makanan dan minuman.
"Astaga ini apa-apaan?" Hasan dan Atkin dengan santainya duduk didepan televisi dan menonton film bersama. Biya membelalak melihat kedua pria itu begitu akrab dan kompak membuat rumah berantakan. "Hei, apa yang kalian lakukan dengan rumahku!" Bentak Biya,
"Bi, ini juga rumahku kau lupa" ucap Hasan sambil tertawa,
"Hash.. nggak tau lah mas. Nanti bereskan sendiri. Eh kalian berdua yang harus bereskan!"
Perkataan Biya seolah tidak diindahkan oleh kedua pria itu. Kedua pria itu justru mengobrol sendiri tentang film yang sedang mereka tonton. Biya yang kesal pun membanting badannya diatas sofa. Tiba-tiba muncul ide licik ketika Biya melihat remote televisi yang menganggur diatas sofa. Sontak Biya langsung memencet tombol off.
"Hahaha" Biya tertawa puas karena kedua pria itu tiba-tiba terdiam karena televisi yang sedang mereka lihat mati. Tidak di sangka kedua pria itu pun melirik kearah Biya. Kedua pria itu menatap tajam kearah Biya. Biya langsung diam tidak tertawa.
"Apa!! Bukan aku pelakunya" ucap Biya,
"Bi, berikan remotenya sekarang!" Ucap Hasan,
"Nggak!! Maksudku aku nggak tahu remote apa yang mas maksud"
"Bi... Berikan"
"Nggak.." Biya langsung beranjak dari sofa dan akan pergi kedalam kamarnya namun tiba-tiba satu tangan menghentikannya.
"Bi. Berikan remotenya dulu"
"Nggak mas.. maksudku aku nggak tahu remotenya"
"Itu apa yang kau pegang. Cepat berikan"
"Ngga ada mas, lihat nggak ada kan" tanpa basa-basi Hasan pun langsung memeluk adiknya untuk merebut remote televisinya. Namun sepertinya Hasan kuwalahan. Akhirnya Hasan meminta bantuan kepada Atkin untuk membantunya mengambil remote itu. Atkin memegang salah satu tangan Biya dan Hasan memegang tangan Biya yang satunya.
"Ngga ada mas.."
"Bi.. cepat berikan dek"
"Nggak.."
"Atkin pegang tangannya" pinta Hasan, Hasan pun mengambil tas yang dibawa Biya dan benar remote televisinya berada didalam tas Biya. Hasan pun langsung mengambilnya. Mereka bertiga seperti anak kecil yang sedang berebut makanan. Setelah remote sudah ditemukan Biya kembali cemberut.
"Kamu terlihat cantik kalau marah Bi" ucap Atkin sambil mengusap bibir Biya lembut dengan jemarinya, Biya pun seketika terdiam karena terkejut dengan sikap Atkin.
"Kalian berdua sama saja" pungkas Biya karena merasa dirinya dikunci oleh perkataan Atkin, Biya pun naik ke lantai atas dan masuk kedalam kamarnya. Biya pun memutuskan untuk berendam sebentar sebelum mandi. Ketika Biya berendam Biya menikmati kesendirian. Namun tiba-tiba suara teriakan kedua pria itu mengagetkannya. Sontak Biya pun langsung berteriak.
"Jangan berisik!!"
Namun yang Biya dapat hanya tawa kedua pria itu. Biya pun menghembuskan nafas kesal dan segera mandi. Selesai mandi Biya pun turun ke bawah. Dan yang terlihat ruangan televisi dalam keadaan gelap dan hanya televisi yang menyala. Kedua pria itu fokus melihat acara yang tidak Biya sukai. Biya pun kembali duduk di sofa. Namun sepertinya kedua pria itu tidak sadar jika Biya sedang duduk di sofa. Kembali ide licik Biya muncul di kepala. Biya tiba-tiba mengagetkan kedua pria itu. Tidak diduga kedua pria itu langsung melompat ke atas sofa karena terkejut. Biya pun tertawa puas kembali. Kedua pria itu meringkuk dipundak Biya. Tiba-tiba film pun selesai. Biya semakin bersorak kegirangan.
"Hahaha akhirnya selesai" ucap Biya,
"Oke sudah selesai filmnya. Waktunya tidur. Dek kau awas saja. Lain kali aku akan membalasmu" Hasan pun masuk kedalam kamarnya untuk tidur.
"Loh mas ini siapa yang bereskan!"
"Tuh orang disampingmu yang bereskan. Mas ngantuk mau tidur" pintu kamar Hasan pun sudah tertutup dan dikunci tinggal Biya dan Atkin berdua diruang televisi.
"Hai Bi.." sapa Atkin sambil tersenyum,
"Apa! Cepat bersihkan ini semua. Aku mau tidur juga" Biya beranjak dari sofa namun dicegah oleh Atkin,
"Sebentar Bi. Temani aku dulu selagi aku membereskan ini" Biya merasa iba karena banyak sekali sampah yang harus Atkin bereskan. Akhirnya Biya pun duduk kembali disofa dan menunggu Atkin membereskan. Atkin pun membereskan ruangan televisi. Melihat Atkin mengerjakannya sendiri membuat Biya ingin membantunya. Biya pun membantu Atkin.
Akhirnya ruangan pun bersih kembali. Keduanya tampak lelah dan bersandar diatas sofa.
"Terimakasih sudah membantu"
"Umm"
"Kau lelah Bi. Keringatmu banyak sekali" Atkin pun mengambil selembar tisu dan membersihkan keringat yang ada di pelipis Biya. Biya merasa nyaman dengan sikap Atkin saat ini. Biya memjamkan mata saat Atkin mengusap keringat dipelipisnya. Atkin ingin sekali memeluk Biya saat ini namun dia tahu Biya akan membencinya jika dia melakukan itu.
"Kau menginap disini?"
"Tidak. Habis ini aku pulang Bi" Biya melihat jam dinding menunjukkan pukul 1 pagi.
"Menginap saja. Sudah tengah malam Kim. Sebentar ku ambilkan selimut dan bantal ke atas"
"Baiklah terima kasih" Biya pun beranjak dan mengambil selimut dan bantal kedalam kamarnya. Selesai mengambil Biya kembali turun dan memberikan selimut dan bantal itu kepada Atkin.
"Bi.. "
"Ya?"
"Kau tidurlah disini temani aku, aku takut dibawah sendiri" Benar juga apa kata Atkin. Jika ada kamar tamu mungkin Atkin tidak akan ketakutan karena kamarnya dan kamar Hasan berada diatas. Akhirnya Biya pun setuju. Biya kembali naik untuk mengambil selimut dan bantal untuknya.
"Aku tidur disofa, kau tidur di atas kasur itu"
"Siap"
Mereka berdua pun segera tidur. Namun Atkin belum bisa tidur. Dia masih tidak percaya jika saat ini dia sedang bersama Biya. Dia berharap suatu hari nanti Biya selamanya berada disampingnya. Atkin pun bangun dan melihat kearah Biya yang sedang tertidur pulas. Untuk pertama kalinya Atkin melihat Biya tertidur pulas. Atkin tidak sengaja mengecup dahi Biya. Biya sedikit gelisah dalam tidurnya. Atkin langsung berpura-pura tidur. Namun ternyata Biya hanya bergerak dan tidak bangun. Atkin kembali bangun dan melihat Biya. Malam semakin larut Atkin masih tetap memperhatikan wajah Biya yang sedang tertidur. Sampai kedua kalinya Atkin mengecup dahi Biya. Kembali Biya gelisah dan tidurnya. Namun kali ini Atkin diam memperhatikan Biya yangs sedang gelisah dalam tidurnya.
"Selamat malam Bi" ucap Atkin lirih, kemudian bibir Atkin mengarah ke salah satu telinga Biya "I love you" bisik Atkin ditelinga Biya.
Setelah membisikkan itu Biya kembali tenang dalam tidurnya. Atkin pun tersenyum lalu membelai pipi Biya lembut. Atkin pun segera pergi tidur. Atkin memejamkan mata dan tidur.