Siang harinya Atkin pun menepati janjinya makan siang bersama Biya di cafe. Mereka berdua makan siang bersama sambil membahas masalah orang yang menyebarkan brosur cafe. Biya tampak kesal sekaligus kecewa karena pekerjaannya hari ini tidak membuahkan hasil.
"Kamu sudah bertemu orang yang menyebarkan brosur itu Bi?"
"Hmmm. Belum, aku dan Sifa kehilangan jejaknya"
"Kamu harus lebih cepat lagi dalam menanganinya"
"Ya. Kamu benar Kin. Mungkin besok aku akan mencari tahu lagi?"
"Mungkin? Kamu harus yakin Bi"
"Ya. Besok akan aku cari lagi"
"Bagus sekali" ucap Atkin sambil mengusap-usap rambut Biya lembut, Biya pun dibuat tidak nyaman lagi dengan perlakuan Atkin padanya. Semua orang di cafe tertuju kepada mereka berdua. Semua orang berbisik sambil memandangi mereka berdua. Biya pun menjadi tidak nyaman dengan suasana yang sedang terjadi.
"Kin, jangan seperti itu nanti orang-orang jadi salah paham"
"Hehehe kamu memperdulikan apa yang orang anggap? Sudahlah abaikan saja mereka" ucap Atkin semakin gemas dengan Biya dan kini Atkin memegang kedua pipi Biya. Biya pun semakin merasa malu. Rona pipinya tiba-tiba menjadi merah dan semu. Semua orang yang berada dicafe semakin memperhatikan mereka berdua." Lihatlah pipimu tiba-tiba memerah hehehe" imbuh Atkin,
"Ah benarkah?" Biya langsung melepaskan kedua tangan Atkin yang memgang kedua pipinya.
"Kenapa dilepas Bi hehehe" Atkin kembali meraih pipi Biya yang merah itu,
"Sudah Kin malu" Biya menepis tangan Atkin yang hendak menyentuh pipinya kembali,
"Hehehe"
Mereka pun kembali melanjutkan makan siang mereka. Ketika mereka sedang makan siang tiba-tiba Sifa datang bersama Anastasya. Terlihat Sifa dan Anastasya berjalan menuju kearah Biya dan Atkin berada.
"Hai Atkin, Bi makan yang banyak hehehe" goda Sifa kepada Biya,
"Kau ini.."
Namun disisi Biya dan Sifa sedang bercanda, Anastasya terlihat tidak senang dengan keberadaan Atkin yang sedang menemani Biya makan siang. Anastasya terlihat diam semenjak sampai dihadapan Biya dan Atkin.
"Ayo nyonya kita langsung saja kedalam ruangan saya" ajak Sifa kepada Anastasya,
"Baiklah" Sifa dan Anastasya pun berjalan menuju ke ruang kerja Sifa. Biya dan Atkin kembali melanjutkan makan siang mereka.
Selesai makan siang Atkin pun kembali lagi ke kantornya dan Biya kembali bekerja dicafe. Tidak terasa malam pun tiba. Satu persatu pegawai cafe mulai pulang ke rumah masing-masing. Besok sudah akhir pekan dan Biya akan bertemu Hafin malam harinya. Biya pun melamun sambil membersihkan sisa-sisa piring dan gelas yang masih kotor. Seketika lamunan Biya terhenti karena Sifa tiba-tiba datang dan mengagetkannya.
"Bi.. kau melamun saja hehehe"
"Eh. Kaget tau"
"Hehehe maaf. Oh iya besok aku temani ke salon ya Bi"
"Kau masih ingat juga hahaha"
"Iyalah jangan bilang kau lupa. Dasar.."
"Hahaha"
"Ya sudah kau ikut aku pulang atau tidak ini?"
"Aku sendiri saja Fa kau pulanglah dulu"
"Oke hati-hati Bi. Aku tinggal dulu"
"Oke"
Sifa pun pulang dan meninggalkan Biya didalam cafe. Biya pun melanjutkan bersih-bersih. Selesai bersih-bersih Biya pun pulang ke rumah. Dalam perjalanan Biya melihat seorang muda mudi yang sedang berjalan bersama. Mereka bergandengan tangan dan saling melemparkan senyuman. Mereka tampak bahagia dan serasi. Biya teringat Hafin dan jadi membayangkan hal yang tidak-tidak.
"Astaga Bi apa yang kau pikirkan. Jangan jadi b***k cinta" batin Biya,
Biya pun langsung memotong jalan ke arah rumahnya agar tidak bertemu dengan pasangan muda mudi yang lain. Memang akhir pekan akan banyak pasangan yang memadu kasih. Menjelang akhir pekan semua akan keluar bersama orang terkasih. Biya pun segera mempercepat langkah kakinya. Namun tiba-tiba badannya sersa dihantam oleh benda yang keras. Biya sampai terlempar ke belakang karena badannya bertabrakan dengan seorang pria yang berbadan kekar. Biya berusaha berdiri dan merapikan pakaiannya yang sedikit berantakan karena terjatuh.
"Anda tidak apa nona, maaf aku sedang buru-buru tadi"
"Tidak apa-apa"
"Mari saya bantu berdiri"
Pria itu pun membantu Biya berdiri. Ketika Biya melihat wajah pria itu Biya terkejut ternyata pria tersebut Hafin. Tetapi Biya masih tidak percaya. Biya mengusap-usap kedua matanya untuk memastikan pandangannya. Dan benar wajhnya mirip sekali dengan Hafin namun bukan Hafin.
"Anda siapa?"tanya Biya,
"Saya Aries. Saya tinggal disekitar sini"
"Anda baru pulang sekolah?" Tanya Biya karena saat ini pria itu sedang memaki seragam sekola tetapi wajahnya tidak terlihat seperti wajah seusia remaja pada umumnya. Namun pikiran curiga itu dia tepis jauh-jauh.
"Iya nona. Saya buru-buru pulang karena takut ibu dirumah sudah menunggu"
"Ah ya sudah cepatlah pulang"
"Tapi anda tidak apa-apa?"
"Tak apa"
Aries pun segera bergegas pulang meninggalkan Biya dipinggir jalan.
"Kenapa wajahnya mirip sekali. Arg.. aku sudah mulai gila gara-gara besok" ucap Biya kesal sembari mengacak-acak rambut panjangnya. Biya pun akhirnya pulang sambil berlari. Dia berharap segera sampai dirumah dan mandi dengan air hangat. Dia ingin menghangatkan pikirannya yang sudah kacau hari ini.
***
Sesampainya dirumah tidak diduga, Hasan pun belum pulang. Rumah masih tampak gelap. Biya pun menghubungi Hasan lewat handphonenya.
"Halo mas, mas kapan pulang?"
"Sebentar lagi Bi. Mas lembur hari ini"
"Oh. Ya sudah aku saja yang masak"
"Tidak usah. Mas sudah pesankan makanan. Sebentar lagi juga sampai dirumah"
"Oh oke mas. Hati-hati pulangnya"
Biya pun langsung mematikan sambungan teleponnya. Terdengar suara bel pintu berbunyi. Biya pun langsung berjalan dan membuka pintu rumahnya. Dan benar makanannya sudah datang. Biya pun menerima makanan itu dan kembali masuk kedalam rumah. Biya mengirimkan pesan singkat kepada Hasan jika makanan sudah datang. Selesai mengirim pesan singkat Biya tidak langsung makan namun dia ingin segera mandi. Dia sudah tidak kuat dengan badannya yang lelah karena pekerjaan dan pikiran yang menguras begitu banyak tenaganya hari ini. Biya pun berendam dengan air hangat sambil menuangkan sabun aroma mawar kedalam bathupnya. Biya pun tenggelam dalam kehangatan air mandinya. Aroma mawar membuat Biya rileks dalam mandinya.
Tidak terasa Biya sudah setengah jam berendam. Dia pun segera bergegas untuk makan malam. Biya melihat jam sudah memasuki jam larut malam namun kakaknya belum juga pulang. Biya pun menunggu Hasan sambil menonton televisi. Televisi pun dinyalakan. Biya tertawa sendiri melihat siaran televisi yang sedang dia tonton. Tiba-tiba bel pintu pun berbunyi. Biya langsung membukanya dan Hasan pun tiba dirumah.
"Kau terlihat kacau sekali mas. Hehehe"
"Kamu meledekku Bi? Awas kau"
"Hahaha"
"Mas sini makan dulu. Mandinya nanti saja"
"Kau belum makan dari tadi?"
"Belum. Aku menunggumu lah mas"
"Hahaha baguslah kebetulan tadi aku pesan kesukaanku. Aku kira sudah kamu habiskan"
"Nggak dong. Aku nunggu mas lah"
"Hahaha. Ya sudah ambil piring kita makan dulu. Mas juga sudah lapar"
Biya pun mengambil piring dan peralatan makan lainnya. Mereka pun makan malam bersama didepan televisi. Sambil makan malam mereka juga menikmati siaran televisi. Selsai makan malam Hasan pun pergi mandi. Sedangkan Biya mencuci peralatan makan yang kotor. Namun tiba-tiba handphone Biya berbunyi. Satu pesan masuk dari Atkin.
(Hai Bi, sudah tidur?)
Biya pun hendak membalas pesan Atkin, namun tiba-tiba terdapat notifikasi tidak terkirim. Biya pun memeriksa ternyata handphonenya tiba-tiba baterainya habis. Biya pun mengisi baterai handphonenya sambil melanjutkan mencuci kembali. Selesai mencuci Biya pun kembali menonton televisi. Hasan pun turun dan ikut bergabung dengan Biya. Malam pun semakin larut, Biya pun pergi tidur ke kamarnya. Karena sudah mengantuk Biya pun langsung tertidur dengan pulas.
***
Pagi harinya Biya pun bangun. Dia bangun seperti biasanya. Kemudian mandi dan bersiap untuk pergi bekerja. Selesai bersiap Biya pun turun ke bawah untuk sarapan bersama kakaknya. Terlihat Hasan sudah selesai memasak dan sedang menata makanan diatas meja makan. Biya pun duduk di kursi makan yang biasanya Biya gunakan. Mereka pun sarapan bersama. Namun ketika Biya hendak mengambil nasi, tiba-tiba Hasan bilang jika handphone Biya semalam tertinggal dimeja dapur dalam keadaan mengisi baterai. Biya pun teringat dengan pesan Atkin yang belum dibalas dari tadi malam. Biya pun langsung mengambil handphonenya.
"Mana mas tidak ada handphoneku?"
"Bi, mas belum selesai bicara. Mangkanya dengerin dulu sampai selesai"
"Apa sih mas. Terus dimana?"
"Tuh sudah mas lepas. Mas taruh diatas kulkas"
"Hehehe" Biya pun langsung mengambil handphonenya diatas kulkas dan membawanya ke meja makan.
"Dasar.. sabar dikit gitu Bi"
"Hahaha"
Biya pun langsung membalas pesan Atkin tadi malam. Namun tiba-tiba terdengar suara klakson mobil dari halaman rumah Biya. Sontak Biya dan Hasan langsung membuka tirai jendela dan melihat kehalaman rumah.
"A,Atkin?" Ucap Biya,
"Lihat, dia sudah datang"
"Sebentar mas"
"Ajak sarapan Bi siapa tau dia mau"
"Iya mas"
Biya pun berjalan menuju ke halaman rumahnya untuk menemui Atkin. Atkin melambaikan tangannya dari dalam mobilnya. Biya pun menghampirinya dengan sedikit berlari.
"Pagi Bi.."
"Pagi Kin. Masuk yuk kita sarapan"
"Aku sudah sarapan Bi"
"Kapan, ini masih pagi. Ayo tak apa"
"Hehehe nanti saja Bi dikantor. Aku sudah pesan disana"
"Oh ya sudah"
"Kamu masih sarapan? Aku akan menunggumu disini"
"Iya. Aku masih sarapan. Ya sudah 10 menit lagi. Sabar ya"
"Oke Bi"
Biya pun bergegas kembali masuk kedalam rumah untuk sarapan. Selesai sarapan Biya langsung berangkat. Hari masih sangat pagi. Biasanya Biya dan Hasan berangkat 10 menit dari sekarang namun saat ini Biya sudah akan berangkat. Biya pun berpamitan kepada Hasan. Namun saat Biya membuka pintu rumah tampak Atkin sudah berada didepan pintu. Biya pun sontak berteriak karena terkejut.
"Atkin kau mengagetkanku saja"
"Hahaha maaf Bi aku tidak bermaksud mengagetkanmu. Kakakmu dimana aku mau berpamitan juga"
"Mas.. mas.. " panggil Biya, Hasan pun keluar dari balik pintu dapur.
"Mas saya pamit berangkat sama Biya"
"Iya hati-hati. Kau tidak ikut sarapan tadi"
"Ah tidak aku sarapan dikantor saja"
"Ya sudah"
"Aku berangkat mas" ucap Biya,
Biya dan Atkin pun berangkat. Hasan kembali masuk ke dalam dapur untuk bersih-bersih dapur. Setelah selesai Hasan pun berangkat kerja. Hari ini Hasan akan lembur kembali. Hasan akan memberitahu Biya saat makan siang nanti.
***
Sesampainya dicafe Biya pun turun dari dalam mobil Atkin. Terlihat Sifa juga sedang memarkirkan mobilnya di garasi cafe. Melihat Biya sedang berdiri didepan cafe, Sifa pun langsung menyapanya dan menghampiri Biya.
"Bi.."
"Loh Sifa.."
"Kau pagi juga datangnya hehehe. Oh Atkin, hai.."
"Hai Sifa"
"Ya sudah kita masuk dulu" ucap Biya kepada Atkin,
"Ya Bi" Atkin pun pergi meninggalkan Biya dan Sifa. Biya dan Sifa masuk kedalam cafe. Mereka bersiap kembali mencari orang yang menyebarkan brosur-brosur cafe. Sifa dan Biya pun berpencar untuk lebih memperluas jangkauan pencarian hari ini.
***
Namun di kantor Atkin dia hari ini tidak akan melakukan aksinya membagikan brosur karena dia yakin Biya dan Sifa akan terus mencari tahu sampai mereka mendapatkannya. Atkin pun menghentikan rencana itu dan akan mencari rencana lain.
Biya berjaga di taman sedangkan Sifa berjaga didepan cafe. Sampai tengah hari mereka berjaga sambil saling memberikan kabar lewat handphone. Namun hasilnya sama sampai siang ini tidak ada tanda-tanda kedatangan orang itu ataupun tanda-tanda adanya orang yang menyebarkan brosur-brosur. Akhirnya Sifa pun menyuruh Biya untuk kembali ke cafe untuk istirahat. Biya pun kembali ke cafe. Sesampainya di cafe Biya disuruh Sifa untuk masuk ke dalam ruang kerjanya.
"Bi temani aku makan siang ya, aku sudah pesankan makanan"
"Oke"
Tiba-tiba suara ketukan pintu ruang kerja Sifa terdengar.
"Masuk.." ucap Sifa,
"Siang semua.."
"Leon.. kau selalu kesini dalam keaddan moodku hancur. Kau memang ditakdirkan untuk jadi pelampiasanku"
"Wah wah.. datang-datang aku sudah disuguhi pernyataan begitu. Sadar Fa.. sadar"
"Hahaha kau siap Leon, kemarilah biar aku makan kepalamu"
"Ih serem amat kamu Fa. Ngga mau lah"
"Hahaha. Kau ada apa kemari?" Tanya Sifa,
"Biasa hehehe tapi gula sama mentega ya Ga. Oh iya yang kamu persen kemarin juga aku bawa loh"
"Oh oke makasih ya"
"Sip Fa. Baby kok diem aja, kenapa?"
"Lapar dia hahaha" ucap Sifa,
"Eh makan lah beb.. sini makan sama aku"
"Ngga! Biya makan sama aku!"
"Eh kamu hari ini galak kayak macan Fa.."
"Hahaha"
"Ya sudah aku tinggal. Beb jangan lupa makan"
"Iya Leon hehehe"
"Ya sudah cepat pergi hahaha" ucap Sifa,
"Sabar Bu.. Sabar.. astaga Sifa macan.." Leon pun pergi meninggalkan ruangan kerja Sifa. Sifa tertawa lepas karena tingkah Leon. Tidak terasa makanan pun tiba. Sifa dan Biya pun makan siang bersama.