Step by step to catch you. Step by step to love you
"FRUITIES WHIPPCAKE"
Cafe sudah mulai ramai dengan pengunjung. Satu persatu pengunjung masuk dan memesan makan dan minum. Biya terlihat sibuk dari tadi pagi. Hari ini diperkirakan pengunjung lebih banyak dari biasanya. Sifa sampai membantu pekerjanya mengantar pesanan ke meja pengunjung.
"Fa, kenapa kamu ikut membantu?" Tanya Biya,
"Dibelakang semua pekerja sibuk. Dan kita kekurangan pelayan. Jadinya aku turun tangan membantu. Ini menyenangkan Bi"
"Semangat Fa, hari ini pengunjung membeludak seperti dipasar"
"Kau benar Bi. Hari ini kita beruntung"
"Em. Semoga bisa seramai ini setiap hari"
"Ya sudah lanjutkan pekerjaanmu Bi"
"Siap bos"
"Hahaha"
Sifa kembali masuk ke dapur dan kembali mengantarkan pesanan ke meja pengunjung. Terlihat Leon masuk kedalam cafe, dia membawa sekarung tepung terigu diatas bahunya. Biya pun menghampiri Leon dan mengantarnya masuk kedalam dapur.
"Whoa.. bahumu hebat juga Leon. Aku takjub tadi sewaktu melihatnya" Biya menepuk-nepuk bahu Leon santai,
"Iya dong baby, aku kuat kan"
"Hahaha. Ya ya kau hebat sekali"
"Leon.."
"Fa, hari ini aku bawa tepung terigu ya"
"Terima kasih. Nanti ku kirim kue dan kopi ke kantormu"
"Aku mau Fruities whippcake dengan kopi dingin"
"Kau seharusnya menerima saja yang akan aku berikan. Tidak perlu request. Request tidak berlaku untukmu Leon"
"Ayolah. Aku mau makan cake itu Fa"
"Hmmm. Ya!"
"Ahahaha. Thank you"
"Kau sudah selesai kan! Cepat pergi"
"Hahaha oke. Daa baby"
Leon pun meninggalkan cafe itu. Sifa dan Biya hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah Leon. Dan mereka pun tertawa.
"Kau tidak akan bisa membuat Leon marah. Sepertinya anak itu tidak ditakdirkan untuk mempunyai sifat pemarah"
"Hahaha. Entahlah Bi. Aku seperti ingin terus menggodanya"
"Bi, bisa belikan kantong plastik ditoko sebelah?" Ucap salah satu pekerja,
"Bisa. Sebentar lagi aku kembali"
"Terima kasih"
Sifa kembali dengan pekerjaannya. Sedangkan Biya keluar sebentar ke toko sebelah cafe. Ketika Biya berjalan, dia melihat seseorang diseberang jalan. Orang itu terlihat tidak asing dimata Biya. Namun orang itu memakai hoodie sehingga wajahnya tidak terlihat. Hanya postur tubuhnya saja yang dapat Biya kenali. Terlihat disebelah orang itu ada satu orang lagi. Dia membagikan selembaran kertas ke setiap orang yang lalu lalang didepan mereka. Biya pun semakin heran ketika ada seorang yang diberi selembaran kertas itu lalu orang itu masuk kedalam cafe tempat Biya bekerja. Biya pun segera membeli kantong plastik dan segera kembali ke cafe. Biya merasa ada yang tidak beres pun segera mencari orang yang membawa selembar kertas tadi didalam cafe. Dan diujung ruang orang itu duduk. Biya pun langsung menghampirinya.
"Permisi Nyonya, bolehkah saya melihat selembaran kertas yang tadi anda terima dari seseorang diujung jalan sana"
"Oh kertas itu. Ini, aku kesini karena kertas itu. Menu-menunya sangat unik. Aku penggemar dessert cake, aku ingin mencoba banyak dessert cake dikota ini"
"Terima kasih Nyonya. Selamat menikmati"
Biya pun segera membawa selembar kertas itu kedalam dapur. Dia membaca satu persatu kata yang ditulis di selembar kertas itu.
"Orang yang membuat ini benar-benar hebat. Apa dia pelanggan setia cafe ini? Aku harus segera memberitahu Sifa" Biya pun segera masuk ke ruang kerja Sifa. Biya menunjukkan selembar itu kepada Sifa. Sifa pun terkejut tidak percaya.
"Ka,kau dapat ini darimana Bi?"
"Aku dapat dari salah satu pengunjung cafe disini. Diluar aku melihat ada yang membagikan selembaran kertas itu. Jadi aku ingin melihat satu"
"Ayo temani aku keluar"
Mereka berdua pun pergi keluar cafe. Biya menunjukkan tempat orang yang membagikan selembaran kertas itu. Namun disana sudah tidak terlihat siapapun. Sifa dan Biya pun sedikit kecewa. Akhirnya mereka pun kembali kedalam cafe.
"Pantas saja hari ini cafe begitu ramai, Bi. Besok kau pantau lagi orang yang membagikan selembaran kertas ini. Siapa tahu mereka kembali lagi"
"Fa, aku sepertinya mengenali salah satu dari orang itu. Tetapi aku ragu karena aku hanya mengenali postur tubuhnya saja.. Wajahnya ditutupi tudung hoodie"
"Jangan menebak-nebak Bi. Ini hal yang serius"
"Kamu benar. Baiklah besok akan aku pantau"
***
Dikantornya Atkin sangat gelisah. Dia sekarang berada jauh dari Biya. Dia tidak ingin Biya dekat dengan pria lain. Dia menyukai Biya. Dan Biya harus menjadi miliknya. Atkin memikirkan cara agar dia selalu ada dipikiran Biya. Muncul satu ide dipikirannya. Dia pun memanggil asistennya untuk membuat brosur yang menarik. Atkin yakin kali ini caranya akan berjalan baik.
10 menit asisten Atkin sudah membawa ribuan lembar brosur itu. Brosur itu berisi tentang informasi cafe tempat Biya bekerja. Atkin bermaksud menarik orang sebanyak mungkin untuk membeli dicafe itu.
"Kau ikut denganku. Kita bagikan ini didekat cafe yang ada dijalan Kenanga"
"Baik pak"
Mobil pun melaju. Sesampainya disana, asistennya mulai membagikan brosur-brosur itu. Tampak wajah semua orang tertarik dengan brosur itu. Terlihat banyak orang langsung masuk kedalam cafe. Atkin pun tersenyum puas.
***
Jam makan siang pun tiba. Biya pun membuka bekalnya dan mulai makan. Dia bekerja keras sedari pagi. Sama dengan pekerja-pekerja lain termasuk Sifa juga sudah bekerja keras. Namun tiba-tiba terdengar suara bel pintu cafe berbunyi.
"Bi.."
"A,Atkin?ada apa kemari? Duduklah"
"Kau sedang makan?"
"Em. Kau mau?"
"Tidak. Aku sengaja membawa ini untukmu"
"A,apa ini?"
Biya membuka sebuah kotak kecil berwarna biru.
"Li,liontin? Untukku?"
"Ya. Sini aku pakaikan"
"Eh. Baiklah"
"Sudah"
"Te, terima kasih. Tapi kau kenapa memberiku liontin?"
"Tidak apa-apa. Hanya ingin saja. Hari Minggu kau ada acara?" Biya menggelengkan kepalanya.
"Ayo jalan-jalan ke Loveland. Kita naik bianglala yang tertinggi disana"
"A,aku takut tinggi"
"Hehehe. Disana aman Bi. Ada aku juga kau akan baik-baik saja" ucap Atkin dengan sedikit menggoda Biya,
"Umm baiklah"
"Kau yakin tidak ikut makan?" Imbuh Biya,
"Tidak. Aku sudah makan tadi"
Atkin pun mengobrol dengan Biya sambil menemani Biya makan siang. Waktu cepat berlalu. Jam makan siang pun sudah habis. Atkin pun pergi dan kembali ke kantornya. Sedangkan Biya kembali bekerja.
***
Malam sudah larut. Biya baru saja selesai bekerja. Semua pekerja pulang larut malam ini, termasuk Sifa.
"Bi, aku antar kau pulang"
"Hehehe kamu tahu kalau aku butuh tumpangan"
"Dasar.."
Namun diseberang jalan terlihat mobil Atkin terparkir. Dia melihat Biya masuk kedalam mobil bersama Sifa. Atkin pun membiarkan Biya pulang bersama temannya itu. Dia mengurungkan niatnya menjemput Biya.
"Besok aku masih bisa menjemputnya"
Mobil Sifa pun melaju di jalanan. Mereka berdua bercanda sepanjang jalan. Sesampainya di depan rumah Biya, Sifa pun dibuat terpanah. Sifa melihat kakaknya Biya sedang mencuci mobil dihalaman rumah Biya.
"Hei. Jaga pandanganmu dari kakakku ya"
"Hehehe. Rasanya ingin berlari lalu memeluknya Bi"
"Dasar.."
"Hehehe. Aku pulang Bi"
"Hahaha ya hati-hati Fa, terima kasih"
Mobil Sifa pun melaju diatas jalanan. Biya menghampiri kakaknya yang sedang mencuci mobil.
"Itu Sifa?"
"Ya"
"Ya sudah masuklah kita makan malam"
Mereka pun masuk ke dalam rumah lalu makan malam bersama.
***
Selesai makan malam Biya langsung masuk kedalam kamar. Biya ingin segera istirahat karena hari ini dirinya merasa lebih lelah dari biasanya. Biya masih berpikir dengan kejadian di cafe tadi. Biya memikirkan siapa orang dibalik brosur-brosur itu. Besok pagi Sifa memberinya ijin untuk mengusut masalah brosur itu tanpa bekerja. Biya sudah memikirkan bagaimana dia akan melaksanakan pekerjaan barunya memata-matai seseorang. Namun tiba-tiba handphone Biya berbunyi. Satu pesan masuk berasal dari Hafin. Biya pun sontak berteriak kegirangan.
"Bi.. kau kenapa!?" Teriak Hasan dari ruang televisi,
"Ngga apa-apa mas!" Ucap Biya sambil tersenyum,
"Cepat tidur jangan teriak malam-malam.."
"Ya.."
Biya pun langsung membuka pesan itu. (Selamat malam bi, kau sedang sibuk atau sudah tidur. Oh ya akhir pekan jangan lupa ya). Isi pesan Hafin mengingatkan Biya akan satu hal. Dia lupa hati Minggu dia tidak sengaja membuat janji dengan Atkin. Namun tiba-tiba ada pesan masuk kembali (Sabtu malam ya bi). Biya membaca pesan itu pun menjadi lega. Jadwal pertemuannya tidak jadi bertabrakan. Biya pun langsung membalas pesan Hafin dan bersedia untuk pergi Sabtu malam. Selesai membalas pesan, Biya pun langsung pergi istirahat. Biya langsung tertidur karena kecapekan.
***
Pagi harinya Biya sudah berjaga didepan cafe. Dia berjaga bersama dengan Sifa. Namun tiba-tiba Atkin datang dengan mobil hitamnya.
"Kalian sedang apa?" Tanya Atkin dari dalam mobilnya,
"Hei kalau mau bicara turun dulu, itu baru sopan"
"Fa.. jangan galak-galak"
"Moodku sedang tidak bagus Bi, aku sudah tidak sabar bertemu dengan orangnya"
"Maafkan Sifa Kin.."
"Tak apa Bi, memang apa yang terjadi?"
"Kami sedang menunggu seseorang yang mengedarkan brosur tentang cafe"
"Memangnya kenapa?"
"Tak apa hanya ingin bertemu saja"
"Juga menghajarnya" ucap Sifa,
"Sifa.. sudah"
"Kalian mengenal orang itu?"
"Tidak. Maka dari itu kami menunggunya disini" dalam hati Atkin mengatakan jika hari ini dia tidak akan membagikan brosur itu ditempat yang sama dengan yang kemarin. Dia akan mencari tempat yang lain.
"Ya sudah aku berangkat dulu ya Bi. Semoga berhasil. Nanti siang aku kesini lagi untuk makan siang"
"Eh makan siang? Umm baiklah. Selamat bekerja" Atkin tersenyum lalu berpamitan dengan Sifa.
Biya dan Sifa terus menunggu kedatangan orang yang membagikan brosur-brosur itu.
***
Sesampainya dikantor, Atkin memanggil asisten yang kemarin menemaninya membagikan brosur-brosur cafe. Kali ini Atkin tidak ikut membagikan karena sedang ada pertemuan dengan client perusahaannya. Dia hanya menyuruh asistennya untuk membagikan brosur itu. Atkin juga memberitahu untuk membagikan brosur di taman dekat cafe itu.
"Tetapi ingat, kau harus hati-hati jika sudah selesai langsung kembali ke kantor. Oh ya hari ini ada orang dari cafe itu yang mencari tahu tentang brosur ini jadi kau harus memperhatikan sekeliling dan terus waspada. Mengerti?"
"Baik pak saya mengerti"
"Ya sudah kau bisa berangkat sekarang"
"Saya permisi"
Asisten Atkin pun langsung berangkat dan menuju ke taman dimana Atkin menyuruh untuk membagikan brosur-brosur itu disana tanpa ada Sifa dan Biya yang sedang mencari tahu tentang siapa yang menyebarkan brosur-brosur itu.
"Hehehe. Semakin hari kau semakin menggemaskan Bi. Sampai kapanpun kau tidak akan bisa menemukan orang yang membagikan brosur-brosur itu. Karena setiap hari aku akan terus datang ke cafemu untuk mencari tahu" batin Atkin.
***
Sesampainya di taman asisten Atkin pun langsung bergerak membagikan brosur-brosur itu ke setiap orang yang berada di taman tersebut. Kali ini orang-orang yang menerima brosur-brosur itu lebih banyak dari kemarin karena banyak orang yang sedang berada di taman. Termasuk orang-orang yang selesai berolah raga pagi. Asisten Atkin terus memberikan brosur itu kepada orang-orang yang berada di taman itu.
5 menit kemudian tampak satu persatu orang-orang yang diberikan brosur oleh asisten Atkin pun berjalan menuju cafe milik Sifa. Asisten Atkin melihat jika misinya kembali berhasil hari ini. Orang-orang itu mulai berdatangan ke cafe Sifa. Cafe Sifa dapat terlihat dari taman tempat asisten itu berada. Selesai membagikan brosur itu Asisten Atkin memperhatikan sekeliling. Tidak ada yang mencurigakan ataupun mengincarnya sejauh ini. Segera asisten Atkin pun langsung kembali ke kantor.
Sifa dan Biya masih menunggu seseorang itu. Namun pandangan mereka menjadi mencurigakan karena terlihat orang-orang berbondong-bondong datang ke arah cafe. Mereka berdua juga melihat ada selembaran brosur yang sedang mereka bawa. Sifa pun langsung menemui salah satu orang yang membawa brosur itu dan hendak masuk kedalam cafe. Mereka berdua melihat satu persatu orang-orang itu masuk kedalam cafe. Cafe pun menjadi ramai kembali.
"Nyonya permisi sebentar" ucap Sifa,
"Ya? Ada apa?"
"Darimana anda mendapatkan brosur ini?"
"Oh dari taman sana" Sifa langsung melirik kearah Biya pertanda mereka harus segera ke taman itu.
"Baiklah terima kasih"
Orang itu pun langsung masuk kedalam cafe. Biya dan Sifa langsung berlari menuju ke taman itu. Mereka berdua terus berlari cepat dan bertanya kepada setiap orang yang membawa brosur itu. Mereka menanyakan dimana mereka mendapatkan brosur itu. Salah seorang pun menunjukkan tempat dimana asisten Atkin tadi membagikan brosur itu. Orang itu mengantarkan Sifa dan Biya ke tempat itu. Namun saat sampai disana mereka tidak menjumpai orang tadi.
"Oh sepertinya orangnya sudah pergi nona"
"Begitu ya. Baiklah terima kasih sudah mengantar tuan"
"Sama-sama" orang itu pun pergi dan berlalu ditengah keramaian taman.
"Bi.. bagaimana ini, kita kehilangan dia?"
"Ya sudah Fa, besok kita cari lagi"
"Hmmm ya sudah, kita kembali ke cafe Bi"
Mereka berdua pun kembali menuju ke cafe. Mereka berdua kembali bekerja untuk melayani pelanggan yang semakin membeludak. Sebenarnya Sifa senang jika banyak orang yang datang ke cafenya namun dia juga khawatir ada seseorang yang sedang berusaha merencanakan sesuatu untuknya.