Not cold like ice cream. But smooth like snow
" Snow Ice Cream"
"Hai Bi, kita kehilangan kesempatan"
"Kesempatan? Maksudmu?"
"Iya kesempatan membuat wanita itu lebih malu, kita tidak memotret kedua sejoli tadi dan mengirimnya ke kantor Hafin" Jelas Sifa senang, "Haha membayangkannya saja aku sudah tertawa apalagi kalau benar - benar terjadi" Tambah Sifa,
"Benar juga kamu Fa, kasihan Hafin sudah dibohongi, aku tidak tega dengannya"
Sifa mendekat ke Biya dan memeluknya sekilas.
"Aku juga menjadi kasihan kepadanya. Nanti kita buat rencana lain yang lebih menyenangkan pastinya haha"
"Jangan berlebihan, setidaknya dia tidak akan mengulangi perbuatannya kembali"
"Haha, kita lihat saja nanti"
"Membayangkan wajah wanita itu saja membuatku mual berkali - kali" Tambah Sifa,
"Ya sudah kita lanjutkan saja pekerjaan kita ini" Biya menunjuk laptop Sifa yang masih menyala.
"Siap bos"
"Haha, kau yang bosku"
"Haha, ya sudah ayo lanjutkan pekerjaanmu Bi"
"Oke.."
Biya dan Sifa kembali ke pekerjaan mereka. Tampak cafe mulai ramai pengunjung, satu per satu mereka memesan menu makanan dan minuman. Biya menuju dapur untuk membuat cherry cookies cake. Tangannya lihai menakar dan mengaduk adonan kue diatas wadah, tidak lupa menambahkan topping diatasnya. Kemudian dia mengambil sepotong untuk ditaruh di etalase dekat kasir. Namun ketika berjalan ke tempat kasir, tiba - tiba Hafin datang. Biya menatap lurus ketika Hafin hendak memesan ke kasir. Dipukul - pukulnya kedua pipi merahnya agar segera sadar dari pengaruh hipnotis kedatangan Hafin.
"Aku merindukanmu" Batin Biya,
Hafin menuju kasir sambil mengangkat panggilan dari seseorang. Kemudian menutup panggilannya setelah sampai didepan meja kasir.
"Hai, kita bertemu lagi Bi" Ucap Hafin sambil tersenyum ramah, "Bagaimana kabarmu? Sudah lama aku tidak kesini. Malam itu, aku sangat berterima kasih padamu" Imbuh Hafin,
"Hai juga Fin. Emm, aku baik. Soal malam itu aku sudah lupa" Ucap Biya ramah, "Kenapa kau tidak mengatakan selalu mengingatnya Bi" Batin Biya,
"Kau baik sekali" Hafin tersenyum riang,
"Emm, dan juga manis" Hafin menatap kedua manik bola mata Biya sambil tersenyum.
Sontak Biya gelagapan di dalam hatinya. Tangan Biya mulai berkeringat dan gemetar. Tiba - tiba seorang pengunjung dibelakang Hafin membentak karena terlalu lama memesan.
"Hei bisakah cepat sedikit, waktu makan siangku akan terbuang sia - sia karena menunggumu berbincang dengannya"
"Ah maafkan kami Nyonya" Ucap Biya,
"Maaf Nyonya" Ucap Hafin, "Aku pesan kue ini dengan segelas coffe latte dingin" Ucap Hafin lirih sambil tersenyum, Biya menganggukkan kepalanya dan mempersilahkan Hafin untuk duduk di salah satu meja.
Biya melanjutkan melayani pengunjung yang memesan. Sekitar 5 menit, pesanan Hafin sudah selesai. Biya mengantarkannya ke meja Hafin.
"Silahkan, selamat menikmati"
"Terima kasih, akhir pekan kamu ada acara? Emm, apa kamu suka menonton? Kita bisa menonton akhir pekan ini" Biya kaget dan menatap tajam kedua mata Hafin. Sejenak dia langsung tersadar.
"Su, suka. Baiklah akhir pekan"
"Oke, boleh minta nomor teleponmu? Aku akan menghubungimu nanti"
Hafin menyodorkan handphonenya kepada Biya. Biya mengetik nomor teleponnya dan menyerahkan kembali kepada Hafin.
"Biya" Eja Hafin memberikan nama kontak nomor Biya di handphonenya, "Terima kasih, selamat bekerja kembali Bi"
"Iya sama - sama, aku kesana dulu"
Biya setengah berlari ke dalam. Dia harus segera masuk kedalam ruangan Sifa. Semakin dekat ke ruangan Sifa, Biya semakin tidak sabar bertemu Sifa. Dia berlari di lorong sambil mengacak - acak rambutnya. Dia menggedor - gedor pintu ruangan Sifa, membuat beberapa pegawai memperhatikannya.
"Kau kenapa ?"
Biya semakin tertawa dan melengos. Membuat pegawai itu takut dan pergi meninggalkan Biya. Biya kembali menggedor - gedor kembali pintu ruangan Biya. Terdengar suara Sifa yang menyuruhnya masuk. Biya pun masuk kedalam.
"Sifaa!" Teriak Biya memenuhi ruangan Sifa,
"Astaga.. Kau kesetanan? Astaga rambutmu? Teriakanmu? kencang sekali Bi. Untung gendang telingaku dari lapisan baja. Kau kenapa? Ada apa?"
"Hafin.. " Biya kembali teriak menyebut nama Hafin.
"Apa maksudmu? Duduklah jangan jingkrak - jingkrak seperti cacing kepanasan"
Biya membanting badannya disofa, Sifa hanya menggelengkan kepalanya heran.
"Sekarang ceritakan apa maksudmu Hafin Hafin? Huh?"
Biya menarik dan membuang nafasnya berkali - kali, dia seperti orang sesak nafas karena terlalu banyak luapan kebahagiaan dihati dan keseluruh paru - parunya. Sifa memperhatikan Biya seperti itu jadi khawatir kepadanya.
"Kau tak apa? Apa kau sakit Bi?" Sifa meletakkan punggung tangannya di kening dan leher Sifa.
"Tidak Fa" Biya meletakkan tangan Sifa kepangkuannya. Biya menggenggam erat kedua tangan Sifa.
"Fa, Hafin mengajakku keluar akhir pekan. Kami akan menonton bersama" Tampak sumringah wajah Biya. Dia tersenyum sangat lebar.
"Ka, kau serius?" Biya menganggukkan kepalanya.
"Hahaha" Sifa tertawa kencang. Tiba - tiba suara ketukan pintu menghentikan tawanya. Seorang pegawai laki - laki membuka pintu.
"Ada apa bos? Apa ada masalah?" Tanya pegawai itu panik, Biya dan Sifa saling pandang dan heran.
"Tidak ada, terima kasih sudah menyayangiku" Ucap Biya tersenyum,
"I, iya sama - sama bos" Ucap pegawai itu gugup dan heran, dia kembali menutup pintu ruangan Sifa. Sifa dan Biya kembali berpandangan dan tertawa bersama.
"Jadi, kau akan berkencan dengannya?" Biya mengangguk.
"Berarti kau sudah bertukar nomor telepon dengannya?" Biya mengangguk.
Tiba - tiba terdengar nada pesan masuk dari handphone Biya.
"Ini aku Hafin, Simpan ya :-) "
"Hafin" bisik Biya kepada Sifa,
Sifa pun ikut melihat pesan yang dikirim Hafin. Mereka berdua bertatapan sambil tersenyum.
"Iya Fin" Jawab Biya dipesan singkatnya,
"Kau jangan terlalu jual mahal Bi. Sini biar aku yang balas"
"Nggak Fa, ini sudah cukup"
"Oke - oke, selamat ya.. Berita ini mengejutkanku Bi haha"
"Aku sendiri juga tidak percaya Fa, apalagi kamu"
"Kau harus ke salon sebelum berangkat. Ingat kau harus terlihat manis di kencan pertamamu"
"Haha" Biya menganggukkan kepalanya senang.
***
Biya kembali menuju meja kasir. Dia melihat ke meja Hafin namun dia sudah kembali ke kantornya. Biya kembali melanjutkan pekerjaannya. Satu panggilan masuk terdengar. Nama Atkin tertulis di layar handphonenya.
"Hallo"
"Hallo Bi, kamu sedang sibuk?"
"Lumayan, ada beberapa pengunjung yang memesan. Ada apa?"
"Emm, akhir pekan kamu ada acara? Keluargaku mengadakan acara makan malam. Aku ingin mengajakmu. Kamu mau kan?"
"Ah, aku.. " Tiba - tiba seorang pengunjung datang dan ingin memesan.
"Nanti ku hubungi lagi. Aku sedang sibuk dengan pengujung cafe. Maaf ya" Biya mematikan teleponnya dan segera melayani pengunjung cafe.
"Ah dia sedang sibuk. t***l sekali kau Atkin" Gumam Atkin,
Sore hari pun tiba. Biya dan Sifa sedang mengobrol di depan cafe sebelum pulang. Mereka sedang menikmati ice cream yang mereka beli di pedagang kaki lima. Tidak lupa juga jajanannya yang menjadi favorit mereka berdua.Tampak sore ini masih begitu terang dari biasanya. Sambil menikmati makanan mereka, mereka juga memandangi orang-orang yang lalu lalang di depan cafe.
"Fa, minta sedikit dong.. punyaku habis nih"
"Nggak ah. Beli lagi sana"
"Pelit.."
Pedagang kaki lima itu biasa berjualan di ujung jalan dekat dengan cafe. Sekitar 100 meter dari cafe, mereka sudah bisa menikmati ice cream yang murah meriah. Biya pun berdiri dan beranjak akan pergi. Namun tiba-tiba Sifa memanggilnya.
"Bi, aku juga mau lagi. Nitip ya"
"Kalau begitu kamu ikut saja. Ayo" Biya menarik sebelah lengan Sifa.
"Ta,tapi Bi.."
"Nggak.. ayo ikut"
"Oke pelan-pelan Bi nanti ini jatuh aku nggak makan. Kan sayang.."
"Haha baiklah-baiklah"
Mereka pun pergi membeli ice cream. Setelah membeli mereka kemabli ke cafe. Namun terlihat ada seseorang yang sedang duduk didepan . Mereka berdua pun bergegas menuju kesana.
"Ada yang bisa kami bantu Tuan? Ucap Sifa, seketika pria itu pun menoleh kearah mereka berdua.
"Eh, Atkin"
"Oh hai. Kalian masih disini kan. Dugaanku benar"
"Lalu? Ada apa kau kemari?"
"Aku mencari Biya"
"A,aku? Ada apa?"
"Ah baiklah aku pulang saja kalau begitu. Kalian teruskan saja mengobrolnya. Santai saja"
"Fa, kenapa buru-buru?"
"Sudahlah.." mata Sifa berkedip-kedip kepada Biya.
"Aku pergi dulu ya Kin. Bye"
"Hati-hati Fa" ucap Atkin,
"Hati-hati" ucap Biya sambil memeluk Sifa,
Sifa pun pergi meninggalkan cafe dan mengendarai mobilnya pulang. Biya dan Atkin melanjutkan pembicaraan mereka didepan cafe.
"Emm, ada keperluan apa denganku?"
"Emm, pembicaraan kita tadi terputus ditelepon. Aku kesini bermaksud memberitahumu secara langsung"
"Oh astaga.. aku lupa tidak mengabarimu lagi selesai bekerja. Maafkan aku.."
"Tak apa Bi, aku yang mengganggumu tadi sewaktu kerja"
"Bagaimana apa kau bisa datang akhir pekan nanti?" Tambah Atkin,
Biya tampak bingung. Dia sudah memiliki janji terlebih dahulu dengan Hafin. Tetapi dia juga tidak enak menolak ajakan Atkin.
"Maaf aku sudah ada janji lain"
"Janji lain?"
"Emmm. aku sudah lebih dulu berjanji dengan seseorang sebelum kau menawarkan ajakan itu. Maafkan aku"
"Ah tak apa Bi. Lain kali kita bisa keluar berdua"
"Mau ku antar pulang?" Tambah Atkin,
"Terima kasih"
Atkin mengantar Biya pulang ke rumah. Atkin memang kecewa karena Biya tidak bisa datang ke acara keluarganya. Namun yang menjadi pertanyaannya sekarang. Siapa yang sudah membuat janji dengan Biya diakhir pekan. Banyak pertanyaan yang ingin ia ketahui jawabannya. Kali ini Atkin merasa ada seseorang yang sedang mendekati Biya. Melihat sifatnya yang arogan itu, Atkin tidak akan membiarkan siapapun mendekati Biya. Karena Biya akan menjadi miliknya sebentar lagi. Satu jam berlalu, sampailah mereka didepan rumah Biya. Tampak lampu halaman Biya sudah menyala. Tanda kakaknya sudah berada dirumah.
"Kau tak mampir dulu ke dalam?"
"Lain kali saja Bi"
"Baiklah, hati-hati"
Mobil Atkin melesat cepat meninggalkan rumah Biya. Biya yang melihatnya sedikit merinding. Namun pada saat dia bersama Atkin, Atkin tidak berkendara seperti itu.
"Pria aneh.. seaneh pertama kali aku bertemu" gumam Biya,
Biya pun berjalan masuk ke rumahnya. Samar-samar tercium bau dari dapur. Biya pun segera menghampirinya.
"Mas..!"
"Akh..!"
"Haha.. kenapa berteriak mas"
"Kau mengagetkanku Bi"
"Hihi. Mas masak apa? Baunya sampai halaman depan. Aku jadi lapar"
"Kau bisa saja" Hasan mengusap-usap lembut rambut Biya. "Ya sudah cepat mandi lalu turun ke bawah. Kita makan malam bersama"
"Oke mas.."
Biya pun masuk ke dalam kamarnya dan segera mandi. Namun tiba-tiba teleponnya berbunyi. Ada satu pesan masuk.
"Ha, Hafin? Astaga Hafin.." teriak Biya, Biya langsung membanting badannya ke atas kasur sampai menimbulkan suara keras ke lantai bawah.
"Bi.. kau kenapa!" Teriak Hasan,
"Nggak ada mas.. ada tikus lewat!" Balas Biya,
"Nggak. Nanti malam saja. Aku mau mandi dulu. Dia pasti tidak masalah menunggu balasanku" Biya pun segera mandi dan makan malam bersama kakaknya.
***
Malam pun semakin larut, Biya yang sedang menonton televisi bersama kakaknya mulai merasa mengantuk.
"Mas aku tidur dulu ya"
"Emmm."
Biya pun naik ke atas. Dia pun segera membersihkan diri dan pergi tidur. Namun ketika akan menarik selimut. Tiba-tiba dia teringat pesan Hafin beberapa jam yang lalu. Biya pun segera membuka handphonenya. Tampak masih sama hanya satu pesan saja dari Hafin. Dia tidak mengiriminya banyak pesan seperti orang yang ingin pesannya segera dibalas. Tetapi Biya tidak mengapa. Namun Biya juga sedikit kecewa.
(Hai Bi.. selamat sore. Kau sudah pulang atau belum)
Satu pesan itu yang Hafin kirimkan kepadanya. Biya pun membalasnya segera. Namun sudah 15 menit Hafin tidak membalasnya. Biya melirik jam dindingnya. Sudah pukul 12 malam.
"Mungkin dia sudah istirahat. Ah kau bodoh sekali Bi. Sekarang baru menyesal" ucapnya kepada diri Biya sendiri, Biya masih menunggu sampai pukul setengah satu. Namun tidak juga ada balasan pesan dari Hafin. Biya pun tidak sengaja tertidur. Sampai pada pukul satu, ada pesan masuk dari Hafin. Namun Biya sudah terlelap dalam tidurnya, dia tidak bisa langsung membalasnya.
(Kau belum tidur? Tidurlah, sudah larut sekarang. Selamat malam Bi)
***
Pagi pun menyapa. Biya menggeliat diatas kasurnya. Dia menguap dan melirik jam dinding. Tepat saat ini dia tepat bangun pagi. Tiba-tiba Biya teringat pesannya semalam. Dia pun segera membuka handphonenya. Satu pesan masuk dari Hafin. Biya pun langsung membukanya. Tampak senyum di bibirnya. Dia senang Hafin tidak marah kepadanya. Terlebih dia perhatian dan manis kepadanya. Biya pun segera membalas pesannya. Dan tidak dia kira, Hafin langsung membalas pesannya. Akhirnya mereka pun berkomunikasi lewat pesan. Selesai bersiap, Biya dan kakaknya pun berangkat kerja. Mereka berjalan dihalaman rumah.
"Bi.." seseorang memanggil sambil melambaikan tangan didepan rumahnya.
"A,Atkin?"
"Siapa Bi?" Tanya Hasan,
"Temanku mas"
Atkin dengan gaya kasualnya berjalan menghampiri Biya dan Hasan. Hasan melihat Atkin dari atas sampai bawah. Atkin berjalan seperti orang yang berkharisma. Dia tampan dan ramah.
"Selamat pagi Kak"
"Pagi.."
"Hai Bi selamat pagi"
"Ka,kau kenapa pagi-pagi kemari?"
"Aku ingin menjemputmu"
"Emm. Ikutlah dengannya Dik. Jaga dia ya. Aku pergi dulu"
"Siap Kak"
"Ka,kau yakin mas?"
"Cepatlah kau nanti bisa terlambat"
"Baiklah. Hati-hati mas" Biya memeluk Hasan.
"Kau juga hati-hati" Hasan pun langsung pergi meninggalkan mereka berdua. Tampak mobil Hasan sudah menghilang diujung jalan.
"Baiklah. Sekarang giliran kita berangkat"
"Hehe. Terima kasih. Aku masuk ya" Mereka pun berangkat bersama.
"Kenapa tiba-tiba menjemputku. Aku bisa berangkat dengan kakakku"
"Tidak tahu. Aku hanya ingin melihatmu pagi ini"
"Kau bisa saja kalau menjawab"
"Hehe. Memang tidak boleh?"
"Bo,boleh saja hehe"
Atkin kembali mengendarai mobilnya. Sesampainya di cafe, Atkin langsung berpamitan kepada Biya dan berangkat ke tempat kerjanya.
"Semakin hari semakin aneh saja" gumam Biya,