"Love is like war : easy to begin but very hard to stop : RASBERRY CHEESECAKE"
Hari adalah hari sabtu, Biya libur kerja pada hari itu. Dia bermaksud untuk mengunjungi perusahaan Anastasya hari ini. Namun rasa ragu masih terngiang dihatinya. Padahal dia sudah bersiap dari tadi pagi. Dan dia sekarang sedang bercermin di sudut kamarnya. Dia lama memperhatikan wajahnya yang seperti orang kebingungan. Dia berpakaian sedikit formal kali ini karena tempat kerja Anastasya adalah kantor besar, tidak sopan kalau berpakaian santai seperti akan pergi bermain.
"Ah.. Sedikit tidak nyaman memakainya, aku pun hampir tidak pernah memakai pakaian bagus.. " Ucapnya dengan menggeleng - geleng kan kepala, Jam menunjukkan pukul 9 pagi. Tiba - tiba handphone Biya berbunyi.
"Ah hallo.. "
"... "
"Apa anda yakin nona?"
"... "
"Ah baiklah, saya akan segera kesana.. " Perkataan Anastasya seakan menarik Biya untuk segera pergi.
"Aku sudah menunggumu Bi, datanglah kita mengobrol diruangan ku.. " Begitulah perkataan Anastasya yang tidak akan di tolak oleh Biya.
***
Perjalanan ke kantor Anastasya memakan waktu sekitar 40 menit. Biya memutuskan naik taksi agar dia tidak terlalu susah payah karena ini pengalaman pertamanya bertemu dengan Anastasya. Biya sibuk membaca pesan dari Anastasya, dia mengatakan sudah berada di loby. Anastasya meminta Biya menanyakan ke resepsionis.
"Maaf bisakah saya bertemu dengan Anastasya Yafky?"
"Apa anda sudah membuat janji dengan beliau?"
"Sudah"
"Baiklah tunggu sebentar, saya akan menghubunginya kembali"
"... "
"Nona, anda dipersilahkan ke ruangannya"
"Mari saya antar.. " Ucap salah satu satpam disana.
Biya pun mengikuti satpam itu dibelakang. Mereka menaiki lift, perusahaan ini memiliki 30 lantai. Dan ruangan Anastasya Yafky berada di lantai 30.
"Tok tok tok"
"Masuk.. "
Satpam itu membukakan pintu, tampak Anastasya sedang duduk di meja kerjanya sambil membaca sebuah dokumen. Satpam itu mempersilahkan Biya untuk masuk.
"Permisi.. " Ucap satpam menutup pintu, aku pun berjalan perlahan menuju meja kerja Anastasya sambil melihat - lihat ruangannya.
"Apa yang kau lakukan.. " Ucap Anastasya mengagetkan Biya.
"Ah.. Aku hanya melihat - lihat isi ruangan ini"
"Siapa yang menyuruhmu melihat ruanganku.. "
"Tak ada.. "
"Hehe.. Sini Bi duduklah"
Anastasya berpindah ke sebuah sofa empuk di dekat jendela. Nampak pemandangan kota dari sini. Biya tidak lepas melihat pemandangan yang memukau ini. Biya pun duduk disamping Anastasya, di atas meja sudah dihidangkan 2 cangkir kopi dan beberapa raspberry chesecake dengan toping berbeda.
"Minum dulu Bi.. "
"Ah baiklah.. Apa anda yang menyiapkan ini semua, kelihatan lezat nona"
"Pfft.. Ini khusus menyambut kedatanganmu Bi, nikmati saja hidanganku sambil kita mengobrol, oke?"
"Baiklah.. Haha"
***
"Bi.. Aku ingin cerita padamu tentang kekasih adikku.. "
Biya menyemburkan kopinya karena terkejut dengan perkataan Ana.
"Ah maaf Ana aku hanya terkejut.. "
"Tak apa.. Aku mengerti, kau pasti tidak menyangka aku akan bercerita masalah pribadi seperti ini"
"Memangnya ada apa dengan dia.. "
"Aku baru tahu beberapa bulan lalu kalau dia mempunyai hubungan dengan laki - laki lain"
"Astaga.. "
"Ya, tapi aku masih belum punya bukti"
"Apa sekarang dia masih berhubungan dengan laki - laki itu?"
"Minggu lalu aku melihat mereka sedang berada di taman kota malam - malam"
"Astaga.. Lalu Hafin bagaimana?"
"Entahlah.. Aku kasihan dengannya"
"Anda harus memberitahukannya segera"
"Mau ku seperti itu Bi, apa kau mau membantuku?"
"Eh, apa yang bisa saya lakukan?"
"Nanti akan kita lakukan bersama, kau mau kan membantuku?"
"Baiklah"
"Terima kasih Bi"
***
Jam menunjukkan pukul 12 siang. Mereka berencana makan siang diluar, namun wajah Biya nampak gelisah karena dia bukanlah orang yang punya uang lebih untuk makan siang yang mewah. Melihat gelagat Biya seperti itu, Anastasya pun menyadari penyebab kegelisahan Biya.
"Aku traktir makan siang ya.. "
"Eh, aku bisa makan siang nanti dirumah"
"Kau yakin, apa kau tidak lapar?"
"Aku masih bisa menahannya.. " Namun suara perut itu tidak bisa berbohong.
"Pfft.. Kau tidak bisa membohongi perutmu Bi, ayolah tak apa, temani aku makan, oke"
Wajah Biya tampak merah sekali. Dia hanya bisa menunduk malu. Anastasya melajukan mobilnya ke sebuah restoran keluarga. Interiornya masih klasik khas rumahan. Lauk yang dihidangkan juga lauk rumahan.
Selesai memesan makanan mereka pun duduk di salah satu meja. Sekitar 30 menit mereka selesai makan siang. Mereka berbincang kembali ketika didalam mobil. 15 menit berlalu sampailah mereka dirumah Biya.
"Apa anda mau mampir sebentar?"
"Ah lain kali saja aku akan kesini untuk bermain dan mengobrol, pekerjaanku masih menumpuk dikantor, Terima kasih Bi sudah mau berkunjung ke kantorku"
"Aku akan menunggu, Sama-sama Ana"
Mobil Anastasya pun melaju meninggalkan Biya, Biya pun masih tidak percaya bisa secepat ini akrab dengan Ana, ternyata dia orang yang menyenangkan. Namun dia tidak menyangka dengan apa yang sebenarnya terjadi didalam hubungan Hafin dan kekasihnya.
***
Matahari tampak masih setengah memancarkan sinarnya. Biya sudah bersiap dari tadi, dengan pakaian kasualnya dan jaket kesayangannya. Hasan sedang berkutat didapur, dia sedang menyiapkan sarapan dan bekal makan siang. Biya sedang menunggu di meja makan. Tampak Biya sedang melamun, dia memandang ke arah luar jendela yang dekat dengan tempat dia duduk. Sekejab terlintas bayangan Hafin di pikirannya.
"Hmmm" Biya menghembuskan nafas kasar dan menggeleng - geleng kepala frustasi.
"Ada apa Bi?" Tanya Hasan, Suara Hasan mengagetkan Biya dari lamunannya. Sontak Biya langsung menjawab dengan gelengan kepala.
"Bilang saja, ada apa? Huh?"
Hasan meletakkan satu per satu piring sambil menghidangkan sarapan mereka. Biya hanya diam tidak menanggapinya. Hasan duduk di kursi dengan kasar.
"Baiklah kalau tidak mau bilang, makanlah sekarang, nanti kita terlambat"
"Mengapa cinta itu rumit mas?"
"Hmm?" Makanan yang sedang dikunyah Hasan sempat tertahan, dia mengangkat sebelah alisnya.
"Ya mas. Rumit." Nampak wajah Biya cemberut seperti anak berumur 5 tahun yang merengek. Hasan pun memperhatikan Biya namun tidak menanggapinya, malah tersenyum tanpa beban.
"Ah sudah jam segini, cepat Bi selesaikan sarapanmu atau kita akan terlambat."
"Mas tidak mendengarkanku?"
"Tidak sekarang Bi"
Biya hanya bisa menghela nafas kesal. Tidak mungkin juga dia curhat sekarang, bisa - bisa dia terlambat masuk kerja. Biya pun segera menghabiskan sarapan dan segera bersiap.
***
"Pagi.." Sapa Biya,
Tampak pegawai sedang sibuk dengan pekerjaan masing - masing. Biya pun segera berganti pakaian.
"Sifa sudah datang?"
"Sepertinya sudah, lihat saja ke ruangannya"
"Makasih"
Biya berjalan ke ruangan Sifa. Biya ingin menyapa sahabatnya pagi ini, entah mengapa Biya ingin menghibur dirinya bersama orang - orang di dekatnya. Sekedar melepas pikiran penat tentang Hafin yang pagi ini menguras perasaannya. Suara pintu diketuk. Biya menyapa Sifa dari balik pintu. Pintu pun dibuka. Nampak Sifa sedang sibuk dengan pekerjaannya.
"Hai Bi" Sapa Sifa, Biya langsung menghempaskan badannya di atas sofa.
"Hei kau kenapa? Pagi - pagi sudah begitu."
"Kau itu pagi - pagi sudah sibuk, apa ada proyek baru?"
"Iya, Anastasya yang kemarin menawarkan bisnis"
"Ah dia.. "
Lagi - lagi Biya mendengar nama - nama yang berhubungan dengan Hafin. Biya mengusap wajahnya frustasi. Sifa melihat itu hanya terheran heran.
"Kau aneh Bi"
"Apa? Aku tak mendengar ucapanmu"
"Lagi - lagi tidak fokus"
"Sepertinya pikiranku sedang tidak sehat pagi ini"
"Kenapa?"
"Hafin, dia membuatku gila"
"Astaga.." Ucap Sifa sambil tersenyum, Biya menggeryitkan dahinya.
"Memangnya kenapa?" Tanya Biya,
"Kau memikirkan orang lain dan kau pun tidak tahu dia masih mengingatmu atau tidak, astaga Bi.. Sadarlah"
Biya mengacak rambutnya kali ini. Sifa semakin heran dengan sahabatnya itu. Sifa pun berjalan menuju sofa tempat Biya duduk sambil membawa secangkir coklat hangat miliknya.
"Ini minumlah selagi hangat" Sifa menyodorkan minumannya kepada Biya. Biya pun meminumnya.
***
"Akh sakit!" Teriak wanita itu,
Seorang wanita tidak sengaja ditabrak oleh seorang lelaki ketika hendak masuk ke dalam cafe, lelaki itu adalah Leon, dia baru saja mengantarkan tepung terigu pagi ini, Namun dia tidak sengaja menabrak seorang wanita karena sedang terburu - buru.
"Kau tidak apa - apa nona? Maaf, saya tidak sengaja, saya sedang buru - buru" Tanya Leon panik,
"Apa kau tidak lihat! aku sedang berjalan masuk kedalam!"
"Saya memang tidak sengaja nona"
"Hei lenganku sakit, kau harus tanggung jawab!"
"Tanggung jawab? Anda tidak terluka parah nona, itu hanya sebentar sakitnya, nanti juga akan sembuh dalam beberapa menit, aku juga sudah meminta maaf padamu nona, kenapa kau melebih - lebihkan masalah"
"Apa kau mengajakku ribut? Huh?"
"Hei nona justru anda yang mengajak saya ribut!"
Terdengar suara ribut diluar, Biya dan Sifa langsung menuju kesana, terlihat Leon sedang berdebat dengan seorang wanita, Sifa dan Biya pun segera melerai mereka. Untung belum ada pengunjung yang datang, hanya pegawai saja yang sedang bekerja, namun pegawai - pegawai tidak berani ikut campur dan memilih mengabaikan keributan itu.
"Hei hei ada apa ini, pagi - pagi sudah ribut di cafe orang?! Huh?!"
"Fa.. " Leon menoleh ke arah suara itu. Leon memasang wajah memelas kepada Sifa dan Biya.
"Sifa,Biya baby lihat, dia yang mengajak ribut, yang benar saja aku disuruh tanggung jawab padahal dia tidak terluka parah, ini hanya ketidaksengajaanku saja menabraknya, karena aku sedang buru - buru" Imbuh Leon,
"Diam kau, kau tidak ikut merasakan lenganku bukan! Ini sakit, dan ini ulahmu!"
"Sakitnya hanya akan sebentar, tidak perlu dilebih - lebihkan nona!"
"Coba ku lihat" Sifa dan Biya melihat lengan perempuan itu.
"Tidak masalah nona, ini tidak ada luka, sebentar lagi juga sembuh" Jelas Biya,
"Yah, benar" Tambah Sifa,
"Kalian sekongkol ya!"
"Tidak nona, memang begitu faktanya" Tukas Sifa,
"Shitt.. Aku tak sudi masuk ke cafe ini lagi! Memuakkan" Ucap perempuan itu emosi, dia menekan kata memuakkan dan mengucapkannya di telinga Sifa. Sontak Sifa langsung menggeryitkan alisnya.
"Maaf nona, kami juga muak dengan pengunjung yang membuat onar, silahkan angkat kaki dari sini"
"Hassh shit.. " Ucap perempuan itu kesal, dia pun pergi meninggalkan cafe itu.
Tidak terlalu menyimak perdebatan Sifa dan wanita itu, Biya hanya fokus memperhatikan wanita itu. Dia mengingat - ingat wajah wanita itu. Seperti tidak asing bagi Biya. Ya, tidak salah lagi, dia Shaki, tunangan Hafin.
"Leon kau pergilah, mengganggu tahu kalau kau lama - lama disini" Ucap Sifa ketus, dia memarahi Leon karena membuat pengunjungnya tidak jadi ke cafenya.
"Eits.. Oke, sabar dong Fa.. "
"Cepat.. " Tukas Sifa sambil berjalan kedalam cafe,
"Hehe.. Aku pergi"
"Ya.. Hati - hati" Ucap Biya sambil melambaikan tangan,
Biya pun menyusul Sifa masuk ke dalam cafe, Biya hanya bisa menghela nafas frustasi, benar - benar pagi yang mengejutkan, sangat menguras pikiran dan perasaannya. Biya duduk di tempat biasa ia bekerja. Tampak Sifa sedang menikmati coklat hangatnya kembali di sudut meja pengunjung. Dia sedang berkutat dengan laptopnya, dia sedang sibuk dengan proyek barunya.
"Fa.. " Panggil Biya,
Biya duduk dihadapan Sifa. Dia memperhatikan Sifa yang sepertinya tidak bisa diganggu, melihat itu Biya pun tidak tega mengganggunya. Akhirnya Biya hanya duduk sambil memainkan handphonenya.
"Kenapa Bi, kenapa tidak bicara?"
"Kau sedang sibuk, aku tidak mau mengganggumu"
"Katakan" Perintah Sifa, dia menghentikan pekerjaannya dan ingin fokus kepada Biya.
Biya hanya terkekeh melihat tingkah Sifa. Sifa adalah seseorang yang tidak akan membiarkan sahabatnya sendiri.
"Kau terkekeh seperti tidak tahu sikap menghargai"
"Hei hei itu ungkapan sayangku padamu Fa.. " Ucap Biya sambil mengenggam tangan Sifa, Sifa pun tersenyum paham.
"Cepat katakan, dari tadi pagi kepalamu sudah mengepul karena Hafin, sekarang katakan apa yang sedang mengganjal lagi dipikiranmu?"
"Alright, hanya kamu yang mengerti aku Fa.. " Ucap Biya sambil memasang wajah memelas kepada Sifa,
"Tentu saja" Tukas Sifa,
"Apa kau tidak menyadari siapa wanita tadi?" Tanya Biya, dia berusaha menemukan jawaban dibalik tatapan Sifa, namun sepertinya Sifa memang lupa siapa wanita itu, dan benar saja, Sifa menggelengkan kepalanya. Melihat itu Biya hanya bisa menghela nafasnya.
"Dia tunangannya Haf.. " Belum sempat Biya melanjutkan berbicara, tiba - tiba wanita itu muncul kembali bersama seorang pria namun pria kali ini bukan Hafin. Melihat itu Biya menggeryitkan sebelah alisnya. Sedangkan Sifa langsung menoleh ke arah pintu, memperhatikan wanita dan pria yang berdiri disana. Wanita itu mengedarkan pandangan ke segala ruang cafe, seperti sedang mencari seseorang.
"Hei kau.. " Panggil wanita itu lantang,
Wanita itu memanggil ke arah Biya dan Sifa, namun yang sedang ditatap wanita itu adalah Sifa. Sifa pun langsung menyadari bahwa dirinya lah yang dicari wanita itu.
"Fa, dia wanita yang tadi bukan? Dia itu tunangannya Hafin" Sifa nampak mengingat lagi wajah wanita itu.
"Kau benar, aku ingat sekarang"
"Dia tidak sedang bersama Hafin, siapa lelaki yang bersamanya?" Tanya Sifa heran, Biya hanya bisa menjawab dengan mimik tidak tahu.
"Hei apa kau tidak dengar nona!" Ucap wanita itu tidak sabar,
"Mau cari gara - gara lagi rupanya" Sifa mulai terbakar emosi. Dengan cepat Sifa berjalan menuju wanita itu ditemani Biya yang berada dibelakangnya.
Dengan ekspresi ketus dan meletakkan kedua tangannya dipinggang, Sifa seperti siap berdebat lagi dengan wanita itu.
"Kenapa kau kesini lagi, mau membuat keributan apa lagi?! Huh!"
"Kau harus membayar atas penghinaan ini!"
"Maksudmu penghinaan apa wahai nona"
"Kau sudah memaki - makiku di depan umum, kau akan ku tuntut beserta cafe menyebalkanmu ini atas nama penghinaan harga diriku!"
"Uwo.. silahkan nona, kau pun tidak punya dasar untuk menuntutku, seperti kau lihat tidak ada saksi disini"
Mendengar itu Shaki semakin geram, dia pun meminta tolong kepada lelaki yang berada disebelahnya.
"Sayang kau akan memenjarakannya bukan?" Rengek Shaki kepada lelaki disebelahnya,
"Hei kau tidak tahu kekasihku ini polisi, dia bisa memenjarakanmu sekarang juga" Ucap Shaki penuh keyakinan,
"Oh.. Anda kekasihnya tuan? Lebih baik periksa kembali otak anda karena memilih wanita seperti dia sebagai kekasih anda, sungguh bodoh sekali" Ucap Sifa santai,
"Kamu tidak memiliki bukti bahkan saksi dear" Lelaki itu menambah gelengan kepala yang berarti tidak bisa.
"Haha see kau kalah telak nona, sebaiknya kau pergi dari sini, kau sudah sangat mengganggu pekerjaanku" Tukas Sifa tegas,
Mendengar itu Shaki semakin geram bahkan marah kepada Sifa, dia tidak akan melepaskan Sifa begitu saja, dia akan kembali suatu hari nanti untuk menebus kemarahannya. Lelaki itu pun segera membawa Shaki keluar dari cafe, Shaki tampak semakin kecewa dengan kekasihnya itu.
"Oh ya" Ucapan Sifa menghentikan langkah kaki mereka berdua. Mereka pun menoleh kembali ke arah Sifa.
"Nona, bukankah kau wanita yang sudah bertunangan? Mana tunanganmu? Mengapa kau malah mengajak pria lain, dan.. " Tampak Sifa memperhatikan lelaki itu dari atas sampai bawah,
"Katamu dia kekasihmu?" Tanya Sifa kepada Shaki,
"Astaga tuan kau sedang ditipu, sayang sekali.. Bertindaklah tuan sebelum lebih dalam masuk kedalam pelukan wanita bodoh ini"
"Sayang ayo kita pulang saja, lama - lama cafe ini seperti neraka" Tukas Shaki kesal,
Tampak lelaki itu berpikir keras tentang perkataan yang diucapkan Sifa, Shaki menggandeng lelaki itu keluar dari cafe, namun lelaki itu terdiam.
"Sayang! Ayo!"
"Ah iya"
"Ya sudah sana pergilah!" Ucap Sifa tegas,
"Ingat perkataanku tadi tuan.. " Sifa mengatakan itu dengan mendekat mulutnya ditelinga lelaki itu. Sontak Shaki langsung menepis jarak antara kekasihnya dan Sifa.
"Kau jangan macam-macam, menyingkirlah dari kekasihku" Ancam Shaki sambil mengacungkan jari telunjuk ke depan wajah Sifa. Sifa hanya tersenyum mengejek.
"Shitt.. " Umpat Shaki kesal,
Mereka pun segera pergi meninggalkan cafe. Sifa tersenyum puas karena berhasil mengusir wanita itu dari cafenya. Biya hanya bisa melongo melihat sahabatnya berdebat tadi.
"Bi?" Panggil Sifa,
"Kau mengusirnya dengan sangat sempurna Fa.. " Ucap Biya kagum,
"Haha.. "
Mereka pun segera melanjutkan kembali pekerjaan mereka yang sempat tertunda.