Biya pun berjalan ke depan pintu rumahnya. Dia membuka pintu rumahnya perlahan agar kakaknya tidak terbangun. Terdengar suara kunci pintu sedang diputar oleh Biya, Biya terkejut ketika mendapati kakaknya masih menonton televisi. Dari luar rumah sudah tampak gelap Biya kira kakaknya sudah tidur.
"Astaga.. Ku kira mas sudah tidur. Dari luar rumah terlihat rumah sudah gelap.jafi aku masuk pelan-pelan, ternyata mas belum tidur.. kenapa lampunya tidak dinyalakan sih kalau belum tidur? Biya kan jadi terlihat seperti maling masuk mengendap-endap"
"Sudah pulang?" Ucap Hasan sambil memperhatikan siaran televisi yang sedang ia lihat,
Hasan sedang duduk didepan televisi, dia menonton acara favoritnya, tidak lupa disampingnya ada camilan yang selalu menemaninya. Hasan sengaja tidak menggubris omongan adiknya karena ingin fokus menonton saja. Biya langsung merebahkan tubuhnya diatas sofa.
"Gelap mas" Biya pun kembali beranjak dan segera menyalakan lampu ruangan. Namun Hasan tiba-tiba meminta Biya untuk mematikan lampunya kembali.
"Bi matikan saja lampunya"
"Gelap mas.. kau lihat acara seram begitu lagi"
"Matikan Bi.."
"Nggak.. begini saja" Hasan pun mengalah dan ikut membaringkan tubuhnya disamping Biya.
"Darimana saja baru pulang"
"Aku habis makan malam sama teman mas"
"Tumben tidak mengabarimu Bi"
"Aku lupa mas, maaf ya"
"Makan malam dimana?"
"Ummm, Carving Grill"
"Sungguh? Kau baru saja gajian hum?"
"Tidak mas. Aku ditraktir temanku"
"Teman? Siapa?"
"Atkin, kau ingat?"
"Oh pemuda itu. Beruntung sekali kau makan ditempat itu"
"Hehehe iya dong"
Biya menyodorkan kedua kakinya kepada Hasan. Hasan pun menghela nafas panjang, tahu apa yang adiknya inginkan.
"Baiklah tuan putri" Hasan pun memulai memijit kedua kaki Biya.
"Hehehe terima kasih mas.. Yang enak ya aku capek sekali hari ini" Hasan mengusap-usap rambut Biya lembut.
***
Hafin masih sibuk didepan laptopnya. Banyak pekerjaan yang harus segera ia selesaikan malam ini. Namun saat ini jam sudah mulai larut. Hafin pun terus fokus dengan pekerjaannya agar cepat selesai malam ini sambil ditemani secangkir kopi untuk menghilangkan rasa kantuknya yang mulai merasuk. Di sofa tampak seorang wanita tengah tertidur. Dia sudah tertidur dari beberapa menit yang lalu. Wanita itu adalah Shaki. Dia tertidur karena terlalu lama menunggu Hafin menyelesaikan pekerjaannya. Tadinya Shaki ingin mengajak Hafin makan malam diluar namun Hafin tidak bisa memenuhinya karena pekerjaannya yang masih menumpuk. Akhirnya mereka pun makan malam dikantor Hafin. Selesai makan malam Shaki mulai mengantuk dan akhirnya tertidur di sofa. Hafin yang sedari tadi fokus dengan pekerjaannya tidak sadar jika Shaki tengah tertidur karena menunggunya. Saat ini pekerjaan Hafin sudah selesai. Hampir tengah malam Hafin sudah menyelesaikan semua pekerjaannya.
"Astaga.. Shaki.. Maafkan aku sayang" Ucap Hafin sambil beranjak menuju ke tempat Shaki berada,
Tampak Shaki sudah terlelap dalam tidurnya. Hafin yang kasihan jadi tidak tega membangunkannya. Hafin hanya membelai lembut rambut Shaki.
"Maafkan aku.. " Ucapnya lirih, tidak sengaja Shaki tampak menggeliat dan dia pun terbangun.
"Kau sudah selesai?" Tanya Shaki yang masih setengah sadar itu mencoba bangun dari tidurnya,
"Maafkan aku, kamu jadi ketiduran karena menungguku" Hafin memposisikan dirinya duduk disamping Shaki. Shaki meletakkan kepalanya didada Hafin sambil memeluknya.
"Ummm tak apa, Kita bisa keluar lain kali, iya kan?" Hafin tersenyum,
"Besok kita keluar setelah kamu pulang kuliah"
"Ummm janji?" Hafin menganggukkan kepala sambil tersenyum kepada Shaki lalu mengecup dahi Shaki, Shaki pun membalas dengan pelukan hangatnya.
Hafin pun segera membereskan pekerjaannya yang berada di atas meja, terlihat banyak panggilan di handphonenya, panggilan itu dari Anastasya yang memintanya untuk segera pulang.
"Kenapa Fin?"
"Kakakku menghubungiku dari tadi"
"Kalau sudah urusan pekerjaan kau selalu lupa waktu Gin"
"Hehehe, mau bagaimana lagi aku menyukai pekerjaanku" Senyum Hafin mengembang.
"Ya ya tidak masalah"
Mereka meninggalkan kantor Hafin. Hafin melesatkan mobilnya menuju rumah Shaki sebelum ia pulang ke rumahnya.
***
Dikamar Biya membolak balikkan kartu nama milik Anastasya. Dia berpikir apa yang akan dia lakukan setelah ini, apa dia akan berteman dengan kakaknya Hafin. Sungguh diluar dugaan Biya. Banyak sekali dugaan-dugaan yang muncul didalam pikiran Biya. Namun Biya berusaha menepis dugaan terburuknya, dia tidak ingin hal buruk benar - benar terjadi. Dia berharap hanya dugaan-dugaan baik yang terjadi. Dan semoga ini awal yang baik untuk menjalin hubungan dengan Anastasya.Biya memantapkan hatinya agar tidak mudah goyah. Butuh kesabaran dan keteguhan yang tinggi jika nanti dia benar-benar berteman dengan Anastasya karena dia akan semakin sering melihat Hafin dengan tunangannya didepan matanya.
"Baiklah tak apa Bi. Kau pasti bisa" ucapnya lirih kepada dirinya sendiri,
Tiba-tiba terdengar suara Hasan memanggil dirinya.
"Bi?! Kau sudah makan belum?!" Teriak Hasan.
"Belum! Sebentar lagi aku makan!" Jawabnya teriak.
"Cepatlah sudah tengah malam!"
"Ya.." Biya pun segera menuju ke dapur untuk makan malam kembali. Meskipun dirinya sudah makan tadi namun perutnya masih terasa lapar. Menu yang dipilih oleh Atkin tadi hanya sepotong daging yang lezat, Biya tidak kenyang hanya dengan makan sepotong daging. Biya terbiasa makan nasi ketika makan.
Biya pun berpindah ke ruang televisi dan bergabung dengan kakaknya. Biya makan malam disana sambil ditemani kakaknya.
"Kau sudah makan?"
"Sudah. Kau makan banyak sekali, bukannya tadi sudah makan?"
"Hehe tadi hanya makan sepotong daging aku tidak kenyang"
"Hahaha ya sudah lanjutkan makannya"
Biya pun melanjutkan makan malamnya sambil menonton televisi bersama Hasan.
***
"Bi, tenang saja, aku akan membantumu mendekati adikku, lama - lama adikku pasti akan menyukaimu, dan kekasihnya itu, sebentar lagi akan menyesal telah menghianati adikku, aku akan mengungkap segera membongkar perselingkuhannya didepan Hafin"
Tampak Anastasya yang sedang duduk dimeja kerjanya sambil melihat data diri milik Biya. Anastasya mendapatkannya dari Sifa, Anastasya meminta data itu ke Sifa dengan alasan untuk lebih dekat dengan karyawan - karyawan Sifa. Sifa pun dengan senang hati memberikannya kepada Anastasya.
Diruang kerjanya Anastasya memikirkan bagaimana mengungkap perselingkuhan yang Shaki tutupi dari adiknya. Sebagai kakak, Anastasya ikut merasa sakit hati bahkan lebih sakit hati karena dia tahu sebesar apa adiknya itu mencintai Shaki. Selama ini adiknya tidak tahu kalau dirinya tengah dihianati oleh wanita yang dia cintai. Anastasya berjanji akan mengungkap semua didepan adiknya. Dan membuat Shaki menyesal telah mempermainkan perasaan adiknya.
Flasback :
Disebuah restoran tampak Anastasya sedang mengadakan rapat pertemuan dengan klien luar negerinya. Berbagai makanan khas dari restoran itu dihidangkan diatas meja makan. Selain makanan, Anastasya juga memesan beberapa pencuci mulut untuk dinikmati ketika sedang berbincang-bincang tentang pekerjaan. Namun ketika Anastasya sedang menikmati makan bersama kliennya, Anastasya terkejut karena dia seseorang yang tidak asing baginya sedang berjalan begandengan bersama seorang laki-laki melewati meja makannya. Anastasya pun berpamitan sebentar kepada kliennya untuk pergi ke toilet, namun Anastasya sebenarnya ingin memastikan wanita yang ia lihat tadi.
Terlihat wanita dan laki-laki itu berjalan menuju ke salah satu ruangan yang ada didalam restoran. Anastasya pun terus mengikuti kedua orang itu. Ketika sudah sampai didalam ruangan itu Anastasya terkejut karena begitu banyak orang didalamnya. Anastasya sempat kehilangan kedua orang itu, namun akhirnya Anastasya pun kembali melihat kedua orang itu diatas panggung. Sontak Anastasya pun terkejut karena memang wanita yang dia lihat tadi tidak asing baginya karena wanita yang dia lihat tadi adalah Shaki, calon adik iparnya. Anastasya mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan. Terlihat seperti acara ulang tahun namun Anastasya masih penasaran sebenarnya apa yang Shaki lakukan diacara ulang tahun ini. Dan Anastasya juga tidak pernah melihat laki-laki itu sebelumnya. Anastasya mulai heran ketika Shaki dan laki-laki itu bersikap mesra diatas panggung layaknya sepasang kekasih. Anastasya pun penasaran akhirnya Anastasya memutuskan untuk melihat sebentar apa yang akan terjadi diacara ulang tahun ini.
"Ayo berikan potongan kue itu kepada kekasihmu yang cantik ini.. " Ucap MC dari balik microphone yang dibawa.
"Apa?!" Anastasya masih tidak percaya pada perkataan MC itu. Namun tidak disangka laki-laki itu pun menyuapkan sepotong kue itu kepada Shaki kemudian Shaki mengecup pipi laki-laki itu. Anastasya yang melihat itu pun mulai geram. Tidak banyak pikir Anastasya pun ingin menggertak Shaki agar dia tidak semakin berulah. Anastasya yang banyak akal pun mencoba untuk membuat Shaki tidak berkutik didepan dirinya. Anastasya melebur diantara tamu-tamu yang hadir dan berusaha terlihat menjadi tamu di acara ulang tahun itu. Dia membaur dengan semua tamu yang hadir. Dan disitulah Anastasya melontarkan pertanyaan yang membuat Shaki terdiam dan terkejut ditempatnya berdiri.
"Hei.. Apa kau sungguh mencintai kekasihmu?" Ucap Anastasya memancing laki - laki itu,
Tampak Shaki terkejut dengan kehadiran kakak iparnya. Shaki yang tertangkap basah sedang bersama laki - laki lain mencoba menyembunyikan dirinya. Anastasya pun menatap tajam kearah Shaki.
"Tentu saja nona.. Aku sangat mencintainya" Ucap laki - laki itu sambil memandang wajah Shaki yang mulai kikuk karena tertangkap basah oleh kakak iparnya sedang bersama laki-laki lain selain Hafin,
"Sayang aku boleh ke toilet sebentar"
"Tunggu sebentar Shaki"
"Kiss her kiss her" Sorakan tamu ulang tahun mendorong laki - laki itu untuk menuruti keinginan mereka.
Laki - laki itu pun mencium Shaki. Melihat itu Anastasya semakin geram kepada Shaki. Anastasya terus menatap tajam kearah Shaki. Shaki semakin gelagapan karena kakanya menyaksikan dirinya tengah dicium oleh laki-laki lain. Dalam hati Anastasya akan memberitahukan perselingkuhan Shaki kepada adiknya. Setelah adegan diatas panggung itu Shaki pun buru - buru turun dan pergi ke toilet. Melihat Shaki tengah turun dari panggung Anastasya pun langsung beranjak menyusul Shaki.
"Sial sial kenapa Anastasya ada disitu"
"Hei kau terkejut" ucap Anastasya ketika melihat Shaki tengah berjalan dilorong menuju toilet. Shaki pun berhenti dan menoleh kearah Anastasya. Anastasya pun menunjukkan senyum miringnya dengan tatapan tajam yang siap menerkam.
"Ah kakak ipar.. " ucap Shaki pura-pura terkejut, "Sial awas kau Anastasya" Batin Shaki,
"Apa kau kurang jika hanya mencintai satu laki-laki? Aku akan adukan semua kepada Hafin"
"Tolong kak jangan beritahu dia"
"Enak saja kau sudah menghianati adikku"
"Tapi ini tidak seperti yang kakak pikirkan"
"Ah omong kosong, tunggu saja hari dimana Hafin akan meninggalkanmu"
"Kak..!" Anastasya meninggalkan Shaki dengan perasaan marah. Dia akan menyeret kedua sejoli itu kedepan adiknya nanti.
"Argh.. Aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi" Shaki mengacak - acak rambut panjangnya. "Lihat saja Hafin tidak akan pernah tahu sampai kapanpun" batin Shaki,
Sejak saat itu Shaki selalu berada disamping Hafin. Shaki membatasi komunikasi Hafin dengan kakaknya dan lebih mendekatkan Hafin kepadanya. Pekerjaan Hafin yang banyak juga membuat rencana Shaki terasa lancar karena dengan menyibukkan Hafin terus menerus maka celah untuk berbicara serius dengannya menjadi terhambat.