Elio sedang duduk di kursi dalam kelas seraya membaca sebuah buku. Jam menunjukan pukul 06.45, sekitar 15 menit lagi waktu belajar dimulai. Saat sedang serius membaca, sebuah kotak bekal berwarna hitam dengan satu note tiba tiba berada di atas meja Elio.
Elio menatap bekal kemudian mendongak menatap seseorang yang berada di depannya. Garu, Garu Andara Prima. Salah satu sahabatnya berdiri di depan Elio seraya menaik-turunkan alisnya.
"Bekal, dari penggemar rahasia." Elio terdiam sejenak lalu tersenyum, tangannya meraih note terlebih dahulu.
Dear kak Elio
Jangan lupa makan bekalnya. Bekal buatan si manis dengan bumbu cinta dan kasih sayang. Bekalnya jangan dibuang ya kak, harus dimakan pokoknya, titik!
Penggemar rahasia mu, si manis dari kelas sebelah.
Elio tertawa kecil setelah membaca note itu. Dimasukannya ke dalam kolong meja, dan diambilnya bekal itu. Kebetulan Elio sangat laper saat ini.
"Enak El?" Elio mengangguk, "bagi dong, kayaknya enak banget tuh. Gue juga laper belum sarapan tadi." Elio mengangguk seraya menyimpan kotak bekal di atas meja serta dua sendok plastik yang kebetulan berada di dalam kotak bekal.
"Makan," ujar Elio.
Garu pun ikut makan menemani Elio. Tidak lama setelah bekal itu habis, guru tiba di kelas bersamaan dengan kedua teman Elio, Dana Lembayung Anggara dan Kris Biantoro Saputra. Setelah dua jam otak bekerja, akhirnya kelas telah selesai. Guru pun ke luar dari kelas dan siswa-siswi bersiap ke kantin. Dana dan Kris mendekati meja Elio dan Garu.
"Ke kantin yuk, laper banget gue," ajak Kris seraya memegang perutnya yang terasa melilit karena laper.
"Kalian duluan aja. Gue mau ke perpus," balas Elio seraya meraih buku dari dalam tas.
"Ya elah, ke perpus nanti aja napa, kita ke kantin aja dulu. Lo nggak pernah pergi ke kantin ya Elio. Pergi sih pernah, tapi cuman sekali-kali. Lo nggak laper apa?"
"Gue makan bekal bikinan Bunda, terus bekal yang dikasih orang juga," ujar Elio santai.
"Bekal yang sering dikasih setiap pagi itu?" Elio mengangguk, "yang suka nitipin di ketua kelas kita?" Elio kembali mengangguk.
"Jangan suka makan bekal yang di kasih orang asing deh, El. Siapa tau itu dikasih guna-guna," ujar Dana sembari menatap kotak bekal berwarna hitam di atas meja.
"Tadi gue ikutan makan kok, tapi nggak terjadi apa-apa," kata Garu.
"Cuman kali ini kok gue makan. Lagian tadi gue memang benar benar laper."
"Tapi makanannya enak banget loh," timpal Garu seraya tersenyum.
"Masa?"
"Iya, enak banget. Yang masaknya udah cocok jadi istri." Dana dan Kris bergumam dengan malas, sedangkan Elio hanya tersenyum tipis.
Setelah itu, Elio dan ketiga temannya pergi ke kantin. Elio hanya memesan satu jus alpukat. Elio masih merasa kenyang setelah tadi pagi makan bekal dari seseorang.
Entahlah siapa orang itu, tapi yang jelas Elio benar benar berterimakasih.
Tak terasa waktu pulang sekolah telah tiba, Elio langsung pergi ke tempat parkir di mana sepeda miliknya berada. Ia memperbaiki letak sepeda dan bersiap untuk menaikinya. Tapi sebelum itu, seorang siswi datang dan memanggil namanya.
"Kak Elio." Siswi itu berhenti tepat di depan Elio.
"Iya?"
"Aku mau kasih coklat buat kakak. Diterima ya." Siswi itu mengulurkan coklat ke Elio. Elio menatap coklat itu terlebih dahulu. Mungkin ia akan memberikan coklat itu untuk adik bungsunya yang memang sangat menyukai coklat.
Diterimanya coklat itu sembari tersenyum "Makasih."
Siswi itu tentu saja merasa sangat senang karena coklat miliknya diterima oleh Elio. Sampai-sampai siswi itu berteriak kegirangan dan berlari menjauh.
Elio menggeleng gelengkan kepala seraya tersenyum. Lalu ia mengayuh sepedanya meninggalkan halaman sekolah.
*****
Iris hitam seorang gadis menatap sesosok laki-laki idaman sekolah dengan satu tangan memegang sebuah ponsel. Ia tidak sendiri, di sampingnya ada 3 sahabat yang ikut menatap sesosok laki-laki yang berada di tempat parkir itu.
"Gimana lagi sih cara ngedetekin tuh cowok. Hampir setiap hari gue deketin dia, hampir setiap hari juga gue kasih bekal dia. Tapi dia nggak pernah lihat gue," ujar gadis itu seraya mengerucutkan bibirnya. Ia menatap teman temannya yang berada di samping, "apa kecantikan gue udah memudar sampai cowok yang bernama Elio nggak bisa gue dapatin? Atau cara gue deketin dia salah atau bagaimana?"
"Kan gue udah bilang, cara lo ngedeketin Elio itu salah, salah banget Gemini. Kalau mau ngedeketin, deketin orangnya langsung, jangan pakek online. Kalau kayak gitu gimana Elio bisa suka sama lo. Malah Elio ilfil sama lo tau nggak," timpal Anjani, salah satu sahabat Gemi.
Gemini Aquarius Leoni, nama gadis itu. Nama yang diambil dari nama rasi bintang. Entahlah, orang tua Gemi sangat suka dengan nama-nama rasi bintang, hingga nama anaknya pun diberi nama rasi bintang. Untuk arti nama Gemi, entahlah susah untuk mendeskripsikan.
"Dan bekal yang lo kasih ke kak Elio. Lo cuman suruh orang buat kasih tuh bekal. Ya mana kak Elio bisa tau lo, Gemini," timpal Tiara kesal.
"Terus gue harus gimana dong?" Tanya Gemi sudah pasrah.
"Ya deketin secara langsung lah," kata Melati.
"Tapi gue malu deketin kak Elio. Lo semua kan tau kalau kak Elio itu pendiam banget, nggak banyak bicara, nggak terlalu ke luar kelas, apalagi pergi ke kantin, terus ngademnya di perpustakaan mulu. Lo semua kan tau kalau gue nggak suka pergi ke perpus."
"Yaudah, mulai sekarang lo biasain nongkrong di perpus. Sekalian caper ke doi."
"Ya, bener tuh yang dibilang Melati. Gue setuju banget."
Mereka berempat sama-sama terdiam, tidak ada yang ingin bicara. Gemini mengerucutkan bibirnya dengan kesal. Matanya tak henti-hentinya menatap Elio yang berada di tempat parkir. Hingga mata Gemini memicing. Menatap dengan raut tak suka ketika seorang siswi tiba tiba datang di tempat Elio sembari memberikan Elio sesuatu. Elio tentu saja menatap siswi itu sekaligus menerima pemberiannya.
Dilihatnya Elio tersenyum setelah menerima pemberian si siswi, hal itu malah membuat Gemini semakin kesal dan menghentak-hentakkan kakinya saat melihat siswi itu berteriak kegirangan.
"Coba lo deketin Elio kayak gitu Gem sesekali."
"Nggak lah, malu gue."
"Lah, kalau malu terus Elio nggak bakal natap lo barang seujung kuku pun Gemi ku sayang." Gemini terdiam sembari mengerutkan keningnya.
"Atau lo coba deketin keluarga Elio. Gue dengar-dengar Elio punya Bunda yang baik banget. Terus punya dua adik, cowok semua. Lo mulai deketin bundanya Elio, terus kedua adik Elio, lalu ayahnya Elio dan terakhir si pangeran berkuda, Elio sendiri. Gue yakin cara ini bisa benar benar bikin Elio mandang lo dan mungkin bisa suka sama lo, dan itu poin plusnya."
****
Sesampainya Elio di rumah, ia masuk ke dalam rumah dan melihat adik bungsunya sedang menonton televisi. Ia mendekati adiknya yang sedang serius menonton dan duduk di samping Elgan.
Elgan yang merasa ada seseorang yang duduk di sampingnya menoleh ke samping.
"Abang udah pulang, yeee," seru Elgan antusias.
Elgan memang paling senang jika kakak pertamanya sudah pulang. Beda lagi kalau kakak keduanya. Ia akan mengeluarkan wajah garangnya jika melihat Eslen ada di sampingnya.
"Itu apa?" Tanya Elgan saat melihat sesuatu yang Elio pegang. Elio menaikan coklat di tangannya dan memberikannya kepada Elgen.
"Asik, coklat." Baru saja Elgan akan meraih coklat itu, coklat di tangan Elio sudah lebih dulu diambil Eslen dan segera membukanya. Tanpa meminta kepada pemiliknya Eslen langsung memasukan potongan coklat kedalam mulutnya.
"Ih kok coklat punya adek di makan?!" Protes Elgan kesal. Tanpa rasa bersalah, Eslen meledek Elgan dengan menjulurkan lidah dan memberikan goyangan p****t yang membuat Elgan tambah kesal.
Setelah itu, Eslen berjalan menjauh sebelum Elgan menangis.
Dan tepat saat Eslen sudah berada di tangga, anak berusia 7 tahun itu menatap Elio dengan mata berkaca kaca.
"Abang, hiks… Coklatnya di ambil hiks.." Ia memeluk tubuh Elio sembari menangis. Elio menatap Eslen yang sudah menjauh sekaligus menghela nafas panjang.
"Sudah jangan nangis, nanti kita beli lagi, yang banyak malah."
"Yang benar?" Elio mengangguk "Tapi jangan dikasih kakak ya, Bang."
"Iya, kita beli es krim sama cemilan juga."