Elio duduk di meja belajar seraya mengerjakan PR yang seharusnya dikumpulkan satu minggu lagi. Elio tidak suka menunggu hari-H untuk mengerjakan PR, karena akan kepepet rasanya. Saat sedang serius menulis, getaran pada ponselnya terasa di meja. Mata Elio yang tadinya serius menatap kertas teralihkan ke ponsel miliknya.
Ia meraih ponsel itu dan membuka pesan yang masuk.
+068345xxxxxx
Hai kak Elio.
Kakak sedang apa?
Aku suka loh sama kakak, kakak suka nggak sama aku?
Elio membaca pesan itu sedikit tak minat, sampai tak sadar ada seseorang di belakangnya yang ikut membaca pesan itu.
"Jadi dia yang sering gangguin anak Bunda?" Elio yang mendengar itu langsung menyimpan ponselnya dan menutup layar ponsel. Menatap ke belakang di mana sang ibu berada.
"Bunda mah ngagetin," ujar Elio seraya membalikan tubuhnya dan memeluk tubuh ibunya.
Sarena Anastasya, ibu tiri Elio yang sangat Elio sayangi. Saat ini Sarena sedang hamil usia 32 minggu. Sebenarnya Nana tidak ingin hamil lagi, karena 3 anak sudah cukup menurutnya. Namun Tiar masih ingin mempunyai anak. Apalagi, Tiar sangat menginginkan seorang putri ada di keluarga mereka.
Sudah sedari umur Elgan 5 tahun Tiar terus saja meminta seorang anak perempuan. Tapi, Nana yang sudah tidak ingin hamil lagi menolak. Dan kehamilan di tahun ini benar-benar tidak direncanakan. Tiar yang tau bahwa Nana hamil merasa sangat bahagia. Ia sampai membelikan istrinya beberapa baju ibu hamil.
Wanita itu tertawa kecil seraya mengelus kepala anak pertamanya.
"Bunda ngapain sih naik ke atas. Bunda lagi hamil loh, kalau terjadi sesuatu bagimana. Kena marah Daddy nanti nangis."
Wanita berumur 33 tahun itu memang sedang hamil saat ini. Usia kandungannya memasuki 8 bulan.
Nana yang sudah tidak bisa melakukan apa pun hanya bisa pasrah. Semoga saja, kehamilan yang terakhir kalinya ini adalah seorang perempuan, seperti keinginan sang suami. Jika yang ke luar laki laki kembali, mungkin Tiar akan meminta Nana hamil lagi, dan ia sudah tidak ingin hamil kembali.
"Makanya jangan kasih tau Daddy. Kalau nggak dikasih tau Daddy mana bisa marah," ujar Nana seraya menatap buku-buku milik putra pertamanya. "Lagian Bunda kangen banget sama Abang. Ngadem terus sih di kamar." Nana mengerucutkan bibirnya sedikit kesal.
"Kalau kangen kenapa nggak panggil? Suruh Adek atau kakak panggil Abang di atas. Soalnya Abang lagi belajar bund."
"Kamu mah jangan belajar terus ih. Cari pacar kek, kakak aja udah ada pacar tuh. Banyak malah," protes Nana, "lagian ya, Bunda pengen banget lihat Abang bawa perempuan ke rumah. Siapa tau dia cocok untuk kandidat calon mantu Bunda." Elio hanya tersenyum mendengar ucapan Nana. Ibunya ini memang akhir-akhir ini suka sekali meminta ia untuk membawa seorang perempuan ke rumah.
Mau bawa perempuan bagaimana, dekat sama perempuan saja tidak pernah. Kecuali dengan Jessy, dan Anita sepupunya.
"Nanti Abang bawa cewek kok ke rumah."
"Beneran bang?!" Tanya Nana antusias.
"Iya, saat umur Abang sudah pas untuk menikah. Abang bawa calon istri ke rumah buat ketemu sama Bunda." Seketika rasa antusias Nana berubah jadi kesal.
"Itu masih lama abang ih. Bunda maunya sekarang, turutin dong. Bunda lagi ngidam nih, ini kemauan Adek loh. Kalau nggak di turutin adeknya ileran, emang mau?" Ancam Nana membawa adik di dalam kandungannya.
"Iddih Bunda, malah bawa bawa Adek."
"Ya Lagian abang sih. Nggak mau turutin permintaan Bunda." Wajah Nana sudah terlihat masam karena keinginannya tidak dituruti oleh Elio.
Elio menghela nafas panjang.
"Nanti Abang usahain bawa teman perempuan Abang ke rumah. Terus kenalan sama Bunda."
"Abang beneran?!" Elio mengangguk kemudian tersenyum.
"Iya, Bunda." Nana langsung memeluk tubuh anaknya dengan senang. Elio tidak pernah membantah apa pun keinginan Nana. Elio sangat menyayangi ibunya itu, dan apa pun keinginan Nana, Insya Allah, Elio akan penuhi sebisa mungkin.
*****
Pagi harinya. Elio sudah berada di sekolah. Duduk di bangku paling depan seraya mendengarkan penjelasan guru. Sesekali tangannya akan menulis beberapa point penting yang ia dengarkan. Garu yang berada di sebelah Elio terlihat sangat malas mendengarkan penjelasan guru.
Tangannya menggaruk kepala berkali-kali, menguap dengan sangat lebar membuat Bu Neska menatap Garu dengan sangat tajam. Tangannya memukul meja menggunakan penggaris kayu hingga murid-murid yang mengantuk tiba-tiba terkejut dan tak mengantuk lagi.
"Perhatikan penjelasan saya. Jika kalian kembali menguap dan tertidur di kelas saya, saya tidak bisa tolerin. Kalian akan saya beri nilai merah." Seketika, murid yang mengantuk tadi langsung terduduk dengan sangat tegap.
Bu Neska kembali menerangkan hingga waktu pelajaran Bu Neska berakhir. Bu Neska ke luar membuat siswa-siswi yang berada di kelas berteriak kegirangan.
Elio yang baru saja selesai menulis. Menutup buku miliknya dan menyimpannya ke dalam tas, karena waktu istrahat telah tiba. Setelah istrahat, kelasnya ada pelajaran olahraga. Sebelum olahraga dimulai, ia dan ketiga temannya memilih untuk ke kantin.
Elio diam mendengarkan cerita teman-temannya. Sesekali ia ikut tertawa kecil mendengar lelucon mereka.
Jika di tanya ia akan mengangguk dan berkata iya atau tidak. Karena Elio memang seperti itu. Ia tidak banyak bicara seperti teman-temannya. Lain halnya jika ia presentasi di depan kelas, semua yang ia tau akan ia ke luarkan membuat sifat pendiamnya akan berubah 180 derajat.
Dan di depan orang tuanya beserta kedua adiknya, ia akan sedikit cerewet. Apalagi jika kedua adiknya berantem dan saling menyakiti, Elio akan menjadi seorang kakak yang tegas kepada adik-adiknya.
Elio orang yang lembut dan mudah tersenyum. Karena sifatnya itu lah banyak siswi-siswi di sekolahnya yang sangat mengidolakan Elio. Apalagi Elio adalah siswa yang paling pintar di sekolahnya.
Begitu pun dengan Gemini, sejak pertama kali melihat Elio saat sedang jalan di lapangan untuk upacara, ia tiba-tiba merasa sudah menyukai seorang Elio Fernandes Chio. Sampai sekarang pun, Gemini masih sangat menyukainya.
"El, Bunda Nana udah hamil berapa bulan?" Tanya Dana penasaran. Ibu Elio itu sangat cantik walau usianya sudah terlihat matang.
"Udah masuk 8 bulan," balas Elio seraya meminum jus alpukatnya.
"Eh adik lo si Eslen nakal banget tau nggak sih. Masa kemarin gue lihat Eslen mukul temannya sampai bonyok. Untung ada gue, kalau nggak, mungkin anak yang dipukul Eslen bisa mati," kata Kris dengan kepala menggeleng tak percaya.
"Lo lihat di mana Eslen pukul temannya?"
"Di depan minimarket depan itu loh. Adek lo jago banget bela dirinya. Dia belajar dimana sih? Padahal baru kelas 6 SD sudah bisa bela diri aja," kata Kris dengan kepala menggeleng.
"Gue juga nggak tau dia belajar di mana. Dia memang nakal banget, Elgan aja sering di jailin Eslen sampai nangis." Ketiga teman Elio menggelengkan kepala mereka.
"Mau jadi apa coba tuh anak kalau besar nanti," gumam Dana.
"Kayaknya dia mau jadi ketua gangster gitu deh, atau jadi mafia? Bisa jadi kan? Jadi mafia cocok tuh buat Eslen yang anaknya nakal terus jago bela diri. Tinggal belajar mainin s*****a tajam aja."
*****
"Sok cantik banget sih jadi cewek. Baru ditembak aja udah sok cantik dan sombong gitu. Gimana kalau di tembak Elio."
Gemini yang berdiri tidak jauh dari mereka mengepalkan kedua tangannya. Ketiga siswi itu menggosipkan seseorang yang berada tepat di depan mereka. Seakan tidak takut dengan wajah garang Gemini.
Tadi, Gemini memang baru saja di tembak. Tapi Gemini tidak menerimanya, karena Gemini masih sangat menyukai Elio.
Ketiga siswi yang melihat wajah Gemini sudah sangat memerah, memilih pergi dari tempatnya meninggalkan Gemini yang berdiri bersiap untuk berteriak memarahi.
Kaki Gemini mundur sedikit demi sedikit seraya berteriak dengan marah "EH LO BERTIGA YANG BILANG GUE SOK CANTIK! GUE NGGAK PERNAH SOK CANTIK DAN SONBONG YA SELAMA INI!" Kaki Gemini semakin mundur sembari berteriak marah dengan tangan yang menunjuk nunjuk ketiga siswi yang sudah menjauh itu "GUE NGGAK PERLU SOK CANTIK, WAJAH GUE UDAH CANTIK DARI SONONYA! HUUU DASAR TUKANG IR---"
Brukkk.....
Belum sempat Gemini selesai berkata, ia langsung terjatuh saat merasa menabrak seseorang dari belakang.
"Lo nggak papa?" Tanya seseorang yang Gemini tabrak.
Gemini yang sedari tadi mengumpat kesal karena merasa sakit langsung terdiam dengan mata melotot. Sepertinya ia kenal suara itu. Gemini mendongak menatap seseorang yang ternyata adalah Elio yang sudah memakai seragam olahraga miliknya. Mulut Gemini menganga.
"Ka..Kak Elio," guman Gemini sedikit gugup. Ia langsung bangun dengan cepat, dan berdiri di depan Elio.
"Hmm, kak Elio maaf banget ya, tadi Gemi nggak sengaja. Maafin banget ya kak," ujar Gemini memohon maaf.
Elio hanya mengangguk dan tersenyum.
"Iya. Tapi lo nggak papa kan? Nggak ada yang sakit? Kalau sakit gue bawa ke UKS, mau?" Gemini menggelengkan kepalanya dengan cepat sembari menggigit bibir dengan sangat kencang.
Terlihat sekali jika gadis cantik itu merasa sangat senang karena ia bisa berbicara dengan laki-laki yang disukainya untuk pertama kali dalam 2 tahun ini.
"Gemi nggak papa kok kak. Tadi cuman jatuh sedikit, jadinya nggak sakit banget." Elio mengangguk.
"Oh, ya udah kalau gitu---" Mata Elio menatap name tag di d**a Gemini. "Gemini Aquarius Leoni, gue pergi dulu ya." Elio langsung pergi meninggalkan Gemini yang terlihat terdiam.
Gemini langsung kegirangan karena Elio sudah mengetahui nama panjangnya walau mereka belum berkenalan.
"Aish, apa gue harus berterimakasih sama ketiga siswi tadi? Kalau bukan gara-gara mereka pasti gue nggak bakal bisa bicara dengan kak Elio secara langsung."