Elio turun ke bawah dan berjalan menuju ruang keluarga. Sesampainya di sana, Elio bisa mendengar kedua adiknya yang sedang berbicara dengan adik di dalam perut ibu mereka.
"Adek lagi ngapain di dalam?" Tanya Elgan sembari menyimpan tangannya di perut sang ibu "Adek lagi main petak umpet ya?" Tanya Elgan polos.
"Eleh, masa main petak umpet di dalam perut. Pasti Adek lagi berenang ya di dalam?" Kening Elgan mengerut ketika mendengar Eslen berkata berenang.
Elio sudah duduk di dekat Tiar sembari menatap kedua adik beserta ibunya. Ia tersenyum seraya memakan kue yang berada di atas meja.
"Masa berenang di dalam perut, mana bisa. Kan perut bunda kecil, nggak ada kolamnya juga. Pasti Adek lagi main petak umpet di dalam." Eslen memutar matanya malas. Dari pada berbicara dengan Elgan, mending ia makan kue saja.
"Wahhh, perut bunda bergerak." Elgan yang merasakan gerakan di perut Nana langsung membuka baju Nana memperlihatkan perut Nana yang menonjol "Tadi bergerak loh. Kok bisa?" Eslen yang mendengar itu langsung mendekati Nana dan melihat perut Nana yang kata Elgan bergerak.
"Mana? Nggak ada yang gerak. Bohong banget."
"Tadi ada." Elgan terdiam dengan kening mengkerut. "Tuh tuh gerak lagi."
"Awas tangannya jangan ditutup," protes Eslen membuat Elgan melepas tangannya dari perut Nana.
"Wah, itu bergerak, kok bisa gitu?" Tanya Eslen antusias.
"Mungkin adeknya lagi cari jalan ke luar, atau apa bang?" tanya Nana ikut bingung juga.
"Itu karena ukuran janin yang semakin besar menjadi salah satu faktor pemicu pergerakannya semakin aktif, Bunda. Ketika ukuran janin bertambah, maka ruang di dalam perut akan semakin sempit dan menyebabkan janin aktif bergerak. Nggak jarang ibu hamil akan merasakan tendangan, pukulan, dan rasa geli pada bagian perut." Nana dan Tiar mendengar penjelasan Elio dengan serius, "p,ergerakan janin ini mengartikan kalau kondisi janinnya sehat Bund. Ada juga beberapa penyebab kenapa janin bergerak."
"Pintar ya anak Bunda."
"Baca buku." Nana dan Tiar tertawa mendengar jawaban Elio. Anak pertama mereka ini benar benar sangat suka membaca buku.
"Tuh dengarin, dek, kak. Kalau mau pintar, baca buku. Jangan main game aja bisanya," ujar Tiar.
"Adek suka baca buku kok. Tapi nggak terlalu kayak Abang. Kalau baca buku cuman bisa 30 menit aja. Kalau Abang kan bisa ber jam-jam. Kalau ngikutin cara Abang, bisa-bisa otak Adek pecah," ujar Elgan polos.
"Abang juga bukunya banyak banget di kamar. Ihhh bikin kepala sakit kalau masuk kamar Abang. Cuman buku aja yang jadi koleksi. Contohin dong kakak, koleksinya sepatu, topi sama gelang couple. Nanti bisa kasih pacar kalau udah gede," ujar Eslen bangga.
"Daddy dengar, kakak ada pacar ya?" Tanya Tiar penasaran. Eslen yang di Tanya pun langsung menatap Tiar bangga.
"Lah, ya iya, Dad. Anak Daddy kan ganteng, gimana nggak banyak pacar? Masih kecil gini aja udah punya banyak pacar. Gimana kalau besar kayak Abang nanti? Mungkin pacar kakak ada 10 tiap minggunya," ujar Eslen semakin bangga.
"Masih kecil kak, jangan pacaran," tegur Elio.
"Iya, jangan suka pacaran. Apalagi mainin perempuan. Kualat baru tahu rasa."
"Tau apa sih kamu anak keci."
"Pacarnya ada berapa sekarang?" Tanya Tiar.
Eslen seketika menghitung pacar-pacarnya menggunakan jari. Keningnya mengkerut seperti orang yang sedang berpikir.
"1, 2, 3, hmm, ada 8 Dad." Tiar menghela nafas panjang.
"Besok putusin semua pacar kamu."
"Ih, kok gitu?"
"Nggak diputusin semua, uang jajan akan Daddy potong. Kamu bawa uang 5 ribu aja di sekolah."
"Mana bisa gitu Dad," protes Eslen.
"Putusin atau?"
"Ok, putusin," pasrah Eslen dengan wajah kesal.
*****
"Awas loh, tidur sendiri bisa digangguin hantu. Huuuuuu, ada hantu di depan. Awas loh dek, ada hantu tuh yang tidur di samping," ujar Eslen menakuti Elgan yang ingin tidur. Tapi tidak jadi karena Eslen yang menakutinya.
Elgan yang anaknya terlalu takut meraih selimut hingga menutup sampai kepala.
"Huuu, han---" ucapan Eslen langsung terpotong ketika melihat Elio yang sudah berdiri di sampingnya dengan alis terangkat. Eslen langsung tertawa cengengesan, lalu menatap adiknya dari pintu.
Elio masuk ke dalam kamar Elgan dan baring di sampingnya "Adek nggak tidur?"Tanya Elio.
Elgan yang mendengar suara kakak pertamanya langsung membuka selimut dan menatap Elio "Adek nggak bisa tidur."
"Kenapa nggak bisa tidur?"
"Kakak nakutin. Katanya ada hantu di samping Adek."
"Nggak ada hantu kok. Ayo tidur lagi."
"Abang jangan pergi ya. Tidur bareng Adek."
"Iya, Ya udah tidur. Kita tidur berdua." Elgan langsung memeluk tubuh Elio dengan sangat kencang sembari menutup kedua matanya dan mulai tidur setelah membaca do’a.
Eslen yang melihat kedua saudaranya tidur bersama sambil berpelukan membuat Eslen merasa iri. Dengan segera Eslen menutup pintu kamar Elgan dan masuk ke dalam. Berbaring di samping Elio dan memeluk tubuh kakaknya.
Elio yang merasa sang adik memeluk tubuhnya. Dengan segera meraih tubuh Eslen semakin mendekat padanya. Karena sudah mengantuk, Elio menutup matanya dan mulai tidur.
Tidak lama, pintu kamar Elgan terbuka, dan terlihat Tiar masuk ke dalam. Tiar mencari kedua anaknya di kamar mereka, namun ternyata mereka tidur bersama di kamar si bungsu.
Tiar mendekati anak-anaknya seraya mencium mereka satu-persatu. Udah kebiasaan seperti ini. Sebenarnya Nana juga akan mencium anak-anaknya saat tengah tidur begini. Tapi karena wanita itu sedang hamil besar, jadinya Tiar melarang. Apalagi kamar anak-anaknya berada di lantai 2.
"Selamat tidur anak-anak Daddy. Daddy sayang kalian bertiga," gumam Tiar seraya menaikan selimut anak-anaknya. Setelah itu, ia ke luar dari kamar dan menutup pintu.
*****
Di rumah Gemini, gadis itu sedang menulis resume yang di tugaskan Pak Rijal untuknya. Resume yang ia tulis baru 13 lembar, tinggal 37 lembar lagi yang harus ia tulis. Gadis itu menguap dengan sangat lebar beberapa kali. Menatap jam yang berada di atas dinding. Waktu menunjukan pukul 02.00. Seharusnya, jam segini Gemini sudah tidur. Namun karena tugas resume dari pak Rijal membuat Gemini harus menahan kantuknya.
Tangan rasanya sudah mati rasa, dan punggung sudah benar-benar sakit. Tadi saat di perpustakaan Gemini hanya menulis 4 lembar di bantu ketiga temannya. Karena waktu istrahat hanya sedikit, jadinya mereka tidak bisa mengerjakan tugas itu kembali. Gemini harus mengerjakannya sendiri di rumah. Waktu untuk mengumpulkan tugas ini tinggal 6 hari lagi. Mungkin waktu sebanyak itu, Gemini bisa mengerjakan resume-nya dengan cepat.
Gemini menyimpan pulpen di atas meja seraya merentangkan kedua tangannya untuk meregangkan tubuh yang tegang. Matanya menatap ponsel, tidak ada jawaban dari Elio. Hmm, seperti biasa. Mungkin Gemini harus mendekati Elio secara langsung. Bukan diam-diam seperti ini.
Matanya menatap foto Elio yang diambilnya secara diam-diam selama kurang lebih 2 tahun ini. Ada banyak koleksi foto Elio di ponsel Gemini. Bahkan, di leptopnya pun sangat banyak. Apa menyukai seseorang harus seperti ini?
Karena mata sudah sangat berat, Gemini langsung melangkah ke arah kasur dan menidurkan tubuhnya di sana. Menguap dengan sangat lebar, lalu tidur.
Pagi harinya Gemini langsung terbangun ketika suara seseorang dari depan kamarnya terdengar.
"Gemini buka pintunya. Kamu udah bangun belum?" Tanya seseorang dari depan pintu.
Gemini berjalan mendekati pintu dan membuka pintu kamarnya. Dilihatnya seorang wanita setengah baya yang sedang menatapnya dari atas sampai bawah.
"Kamu baru bangun jam segini?" Wanita itu bertanya dengan wajah bingung.
"Tadi malam Gemi begadang, Ma," jawab Gemi seraya mengusap matanya yang terasa masih mengantuk.
"Begadang? Kamu nonton Drakor lagi?" Tanya Sarah dengan kesal.
"Nggak, Ma. Gemi ngerjain tugas."
"Eh, masa?" Tanya Sarah tidak percaya.
"Mama sama aja kayak papa, nggak pernah percaya kalau Gemi sedang belajar atau ngerjain tugas."
"Ya lagian kamu kan nggak suka baca buku. Kalau nonton baru Mama percaya. Apalagi kamu nggak suka ke perpus. Anak bungsu Mama ini kan orangnya bodoh."
"Ih Mama," protes Gemini. Sarah tertawa.
"Ya udah sana, masuk lagi. Mandi terus pakai seragamnya. Ini udah mau jam 7 loh. Marah Abang kamu nanti gara-gara kamu lama."
"Iya." Gemini langsung masuk kedalam dan bersiap untuk mandi.