Dua minggu telah berlalu, dan tugas dari pak Rijal sudah Gemini kumpulkan tepat waktu. Yah, walau pun kepepet karena Gemini mengulurkan waktu selama lima hari untuk bersantai. Hingga pas H-1, Gemini kembali begadang dan tidur hanya satu jam. Waktu itu benar-benar menguras emosi Gemini. Hingga gadis cantik itu, sakit dua hari kemudian karena kecapean.
Dan saat ini, Gemini berdiri di dalam kelas dengan kedua tangan mengepal. Hari ini begitu membuat emosi Gemini kumpul menjadi satu dan bersiap untuk kel uar. Menatap ke empat siswi yang berdiri di depannya. Tatapan tajam yang menghunus ke depan tidak membuat ke empat siswi itu takut dengannya.
"Heh, lo itu nggak usah sok cantik ya di sekolah ini. Udah bodoh tapi sok cantik banget. Kalau pintar sih nggak papa, eh tapi ini bodoh. Orang bodoh mau jerat semua laki laki di sekolah?! Oh my god. Bisa-bisa semua cowok di sekolah ini bodoh semua," kata salah satu siswi sambil menatap Gemini menantang. Di sampingnya ada ketiga temannya yang ikut menatap Gemini kesal.
Gemini tersenyum miring "Gue? Ngedeketin cowok di sekolah? Hello, sejak kapan gue ngedekin cowokcowok di sekolah? Ya kecuali kak Elio, itu mah fakta! Dan lo bilang gue sok cantik? Hahaha, emang gue cantik b*****t. Gue nggak pernah sok cantik selama ini. Cowok-cowok sekolah aja yang terlalu kepincut sama kecantikan gue, dan asal lo tau?! Mau mereka bodoh kek, itu bukan urusan gue, ngerti!" ujar Gemini ikut menantang.
Keempat siswi itu terdiam seraya mengepalkan kedua tangan mereka menahan emosi. Gemini dan ketiga temannya tersenyum dengan bangga. Lalu, mereka berempat pun keluar dari kelas dan pergi ke kantin.
"b*****t banget itu orang. Mereka pikir gue nggak bisa ngelawan mereka?! Haha, mereka nggak tau aja gimana gue sebenarnya. Mau adu cekcok? Ya ayo, gue mah fine fine aja."
"Suka gue gaya lo tadi Gem. Gue paling suka lihat lo adu cekcok gitu. Hahaha, lucu aja gitu lihat wajah mereka yang memerah, udah nggak berkutip,” ujar Anjani ikut kesal.
"Eh, gue mau nanya nih. Kak Elio itu anak orang kaya atau orang biasa aja sih?" Tanya Gemini penasaran.
"Kayaknya orang biasa deh. Datang ke sekolah aja pakai sepeda, kan?" Jawab Tiara ikut bingung juga.
"Tapi sepedanya kelihatan mahal banget loh," kata Melati.
"Lihat aja nama terakhirnya. Nama terakhir kak Elio apa?" Tanya Anjani.
"Nama panjang kak Elio itu. Elio Fernandes C. Entah, C itu apa. Mungkin marga?"
"Tapi marganya apa?" Mereka bertiga pun menaikan bahu mereka yang artinya tidak tau.
"Hmm, Elio benar benar-misterius banget. Jadi suka gue."
"Apa lo bilang?!"
"Eh, bukan suka yang kayak lo itu Gem. Jangan salah paham."
"Awas aja lo bertiga ikut suka sama kak El. Gue nggak bakal maafin kalian."
"Nggak Gem, tenang aja. Gue juga nggak mau pertemanan kita terancam gara-gara laki-laki."
"Gue juga Gem."
"Gue juga."
"Janji ya. Jangan suka sama cowok yang teman kita suka."
"Janji!"
*****
Waktu pulang sekolah tiba. Elio langsung pulang ke rumahnya dengan mengendarai sepeda seperti biasa. Tiba di rumah, ia tidak melihat adanya kedua adik beserta ibunya. Sedangkan ayahnya pasti jam segini masih bekerja.
Elio berjalan ke arah meja makan, dan melihat adik bungsunya sedang duduk di sana sembari makan. Kening Elio mengkerut dengan bingung "Dek, Bunda sama kakak mana?"
Elgan yang baru saja selesai makan langsung menoleh ke arah Elio "Tadi katanya Bunda mau jemput kakak di sekolah," jawab Elgan dengan wajah polos. Kening Elio semakin mengkerut.
"Loh, kok bisa?" Tanya Elio kaget, "Bunda kan lagi hamil besar, apalagi sebentar lagi mau melahirkan. Daddy kalau tau bunda ke luar pasti marah banget. Bunda nggak bilang apa-apa pas pergi?"
"Bunda bilang, cuman mau jemput kakak di sekolah, gitu doing," kata Elgan polos.
"Tapi kok bisa sih dek. Bunda lagi hamil loh." Elio terlihat frustasi ketika tau bahwa ibunya ke luar dalam keadaan hamil besar. Elio terlihat mondar-mandir, lalu berjalan ke luar ke tempat para supir dan satpam istrahat. Di belakangnya ada Elgan yang mengikuti.
"Pak, Bunda ke luar di antar siapa?"Tanya Elio. Para supir dan satpam yang duduk sambil nonton TV di pos satpam langsung menoleh.
"Eh, itu den. Ibu keluar bawa mobil sendiri."
"Hah?! Kok bisa?"
"Nggak tau juga den. Ibu marah-marah pas para supir mau antar. Sepertinya ibu frustasi banget den. Nggak tau kenapa." Elio terlihat semakin berjalan mondar-mandir karena takut sesuatu terjadi dengan ibunya.
"Aduh gimana ini pak. Elio kok takut sesuatu terjadi sama Bunda." Semua para pekerja ikut takut juga. Seharusnya mereka tidak membiarkan Nana ke luar sendirian dalam keadaan hamil. Jika Tiar tau, mampus lah mereka.
Elio langsung masuk ke dalam rumah setelah berpamitan untuk masuk ke dalam, dan tentu saja, Elgan yang mengikutinya dari belakang.
"Tadi Bunda ke luar dari jam berapa, dek?"Elgan terlihat sedang memikir.
"Hm, sekitar jam 11 gitu bang." Mendengar itu Elio menghela nafas kasar. Ia duduk di sofa sembari menelpon ibunya, tetapi tak ada jawaban. Entah ke mana perginya sang ibu dan adik pertamanya itu.
*****
Gemini berdiri di dekat halte sembari menunggu kakaknya menjemput. Tetapi, sedari tadi kakaknya tersebut tidak datang-datang. Gemini yang sudah sangat kesal memilih jalan kaki. Kakinya menendang apa pun yang di lihatnya di depan. Uangnya telah habis tak tersisa, hingga Gemii tidak bisa memesan taksi. Apalagi, ponselnya telah mati kehabisan daya.
Berbeda dengan Gemini yang sedang berjalan kaki. Nana dan Eslen berada di dalam mobil yang di kendarai Nana. Sesekali Nana akan memarahi anak keduanya itu.
"Kamu itu masih kecil kak. Tidak seharusnya kamu pukul teman sekelas kamu. Bunda pikir kamu tadi di keroyok sama teman-teman kamu. Tapi, nyatanya kamu lah yang mengeroyok. Kok bisa sih kamu bela diri gitu. Belajar dimana coba? Ayo jawab Bunda?!" Kata Nana dengan nada kesal.
Tadi, ketika wanita hamil berumur 33 tahun itu sedang tiduran di kamarnya. Tiba tiba ia di telpon oleh seseorang, dan ternyata yang menelponnya adalah guru Eslen di sekolah. Ia pikir anaknya telah di keroyok oleh teman-teman sekelasnya. Tapi nyatanya, Eslen, anaknya lah yang mengeroyok mereka bersama beberapa temannya. Hingga guru-guru di sekolah menghubunginya untuk datang ke sekolah Eslen.
Nana yang terlalu khawatir dengan sang anak memilih pergi sendiri tanpa menghubungi suami atau pun menyuruh supir di rumahnya untuk mengantar.
"Kakak nggak belajar sama siapa-siapa kok bund."
"Terus kenapa bisa bela diri?"
"Belajar sendiri Bunda, di kamar."
"Ya ampun kamu ini. Bikin Bunda takut aja deh. Please dong kak jangan bikin Bunda khawatir."
"Maaf bunda. Nggak lagi-lagi setelah ini."
Nana terdiam dan Eslen juga ikut terdiam. Nana lebih memilih fokus menyetir mobil. Tetapi, beberapa saat kemudian, tiba-tiba Nana merasa sakit pada bagian perutnya. Ia menahannya saat rasa sakit itu sedikit terasa. Tapi lama-kelamaan, perutnya semakin terasa sakit. Nana menepikan mobilnya di tepi jalan.
Mencengkram stir mobil dengan sangat kencang. Eslen yang merasakan mobil berhenti seketika merasa bingung. Hingga ia melihat Nana yang terlihat kesakitan.
"Bun, Bunda kenapa?" Tanya Eslen takut.
"Nghh, kak, perut bunda sakit."
"Sakit kenapa Bund?" Tanya Eslen semakin takut dan khawatir, "debaynya nyakitin Bunda ya?" Tanya Eslen.
"Minta tolong sama siapa pun kak. Perut bunda benar-benar sakit. Kita harus ke rumah sakit sekarang. Tapi Bunda nggak kuat buat nyetir lagi." Eslen yang mendengar itu pun langsung ke luar mobil untuk mencari bantuan.
"Bunda tunggu bentar dulu ya."