Aku tak pernah percaya dengan hal kekanak kanakan seperti cinta. Yah, bagiku itu hanya fantasi anak anak yang tumbuh karena terlalu banyak menonton film dan terlalu sering berimajinasi.
Aku lebih suka menyebutnya gairah. Bagian dalam gairah kehidupan yang akan membuat keseimbangan. Hanya Untuk bersenang senang.
Tak hanya aku, banyak orang sudah tahu tentang pandanganku tentang cinta ini. termasuk para penggemar yang sering mendengarkan laguku.
Aku tak pernah menulis tentang cinta secara melodramatik. Pandangan cinta bagiku cukup realistis.
“Hei Nick.. “
“Hmm.. “ jawabku hanya bergumam sambil merebahkan diriku di atas sofa.
“Rapat dimulai 10 menit lagi, oke?”
“Hmm, oke.” Jawabku singkat.
Aku masih nyaman dengan posisiku. Merebahkan diri di sofa, memejamkan mata dan menunggu inspirasi datang padaku.
Atau bahkan jatuh tertidur sesaat, itu yang paling sering terjadi.
Studio tempatku bekerja di design nyaman dan cozy. Dari semua jenis perabotan sofa, karpet, meja, kursi, warna cat dinding, pintu dan jendela hingga alat musik dan peralatannya semuanya atas keinginanku.
Perfeksionis, begitulah mereka menyebutku. Mereka, seluruh kru studio produksi disini.
“Nick..”
“Okay okay, coming..” Kataku yang akan beranjak dari sofa favoritku saat kudengar pintu studioku untuk kesekian kalinya hari ini dibuka.
“Tunggu sebentar nick, ada yang ingin kubicarakan. Ini serius..”
“Grace, ada apa?” tanyaku dengan enggannya duduk malas menghadap Grace yang terlihat gelisah.
Grace menyeret kursi terdekat darinya lalu menghadapkannya padaku. “Nick, dengar.. ini serius.” Grace memulainya sambil membenarkan kacamata burung hantunya. “Kau harus melupakan apa yang aku katakan kemarin lusa.”
Baiklah, ini mulai seru. Aku tersenyum jahil pada Grace. “Semuanya? kau yakin?”
“Nick!”
Aku tertawa, Grace dan semua celotehannya saat mabuk. “Memangnya kenapa? Apa yang salah dengan kata katamu kemarin?”
“Nick, Anna perempuan baik baik.”
“Lalu?”
“Jangan coba coba mendekatinya, walaupun dalam imajinasimu?”
“Menurutmu aku akan mendekatinya? Setelah apa yang kau katakan saat mabuk?”
“Yaah, aku tau Anna bukan gadis tipemu. Hanya untuk berjaga jaga, oke.”
Aku tak menghiraukan Grace dan mulai beranjak dari sofaku, meraih gelas kopiku dan mulai berjalan keluar ke arah pintu. “Ayo, meeting akan segera mulai.”
“Nick!!”
“What?!”
“Promise me!” Grace masih menahanku. Kali ini dia memegang pergelangan tanganku putus asa. “Aku sudah berjanji pada Anna tidak akan berkata apapun soal ini. Ayolah Nick, anggap saja kau tidak pernah dengar, Lupakan semua kata kataku oke.”
“Okay Grace.” Aku menyerah, walaupun akan sangat seru untuk menggoda Grace yang kelepasan bicara sesuatu yang penting padaku kemarin lusa. “I Promise. You have my word. Done?”
“Okay Nick. Walaupun aku tidak sepenuhnya percaya padamu, tapi oke lah.” Grace sedikit lega dengan sedikit melonggarkan cengkramannya padaku.
Tak berapa lama kemudian Grace berjalan mendahuluiku keluar dari studio.
Grace adalah salah satu kru yang bertanggung jawab atas fashion dalam perusahaan ini. Semua divisi fashion bekerja dibawah pengawasannya. Walaupun terkenal dengan kecerewetannya, Grace adalah orang yang mempunyai dedikasi tinggi pada pekerjaannya. Semua orang selalu puas dengan hasil kerja Grace.
Ruangan besar itu sudah cukup penuh untuk memulai meeting sore ini. Setelah saling sapa beberapa kru disana aku memilih kursi yang menghadap ke arah layar. Kursi favoriku karena bersebelahan dengan jendela besar di ruangan itu.
Jendela ini menghadap langsung ke hamparan pemandangan kota dari atas. Bangunan bangunan itu terlihat kecil dari tempatku berdiri. Tidak ada yang menarik memang kalau melihat riuhnya jalanan kota dibawah sana.
Tapi aku suka memandang gunung yang selalu di selimuti kabut yang menjadi latarnya. Saat terik matahari siang gunung itu terlihat sejuk dan terkesan dingin. Tetapi saat malam gunung itu hilang dan digantikan hamparan bintang di langit dan hamparan lampu perkotaan.
Sambil meminum gelas kopiku yang tinggal setengah, aku masih tertawa membayangkan Grace yang mabuk dua hari yang lalu.
Malam itu kami berkumpul untuk bersenang senang. Hampir semua kru datang di apartemen Luke, salah satu produser yang juga teman baikku. Luke mengundang semua kru untuk bersantai malam itu sebelum sibuk gila gilaan untuk project selanjutnya.
Aku juga tak seberapa mengingat detail yang kulakukan malam itu, aku juga sedikit mabuk bersama yang lain. Aku hanya ingat adegan Grace yang menghampiriku di balkon dengan sebotol bir. Grace terus meracau di sampingku, aku tak banyak berfikir saat itu. Hanya mendengarkan ocehan Grace dan sesekali menghisap rokok.
Sampai akhirnya Grace berkata.
“Nick, kau tahu. Ada seseorang yang sangat menyukaimu di perusahaan.”
“Oh yaa..” Jawabku saat itu. Tak terlalu memperdulikannya. Bagiku hal itu tidak istimewa, menjadi seorang artist kata kata seperti itu adalah hal yang biasa kudengar.
“No.. no.. no.. Nick, Ini berbeda. Aku juga baru tahu dan ini cukup unik.”
“Unik?”
“Yah, caranya menyukaimu. Buka unik, tapi special.” Kata Grace yang kemudian meneguk kembali botol bir nya.
“Tell me..” kataku masih acuh dengan bersandar pada tiang pembatas balkon.
Grace terhuyung berjalan mendekatiku dan berdiri tepat disampingku. “Kau tahu gadis berkacamata bernama Anna. Dia ada di bagian manajemen.”
Aku berfikir sebentar, “Hmm, kurasa aku tahu. Dia gadis yang sering berada di kantor Luke.”
“Iya, mereka sering membahas tentang anggaran. Gadis itu pintar, hanya saja penampilannya terlalu sederhana.. Tapi, bukan itu fokusnya.”
“Memangnya kenapa? Dia bilang menyukaiku? Ingin foto atau tanda tangan?” Kataku sambil menghembuskan asap rokokku keatas balkon.
“Lihat kan, kau bahkan tidak pernah menyadarinya Nick. Kulihat dia sering mengamatimu, memandangimu dari jauh. Tapi anehnya, aku tak pernah melihatnya menghampirimu atau mengajakmu bicara. Apa Anna pernah mendekatimu?”
“Beberapa kali, kami bertemu di ruangan Luke saat membahas beberapa masalah anggaran project ku.. yaah, kami pernah mengobrol beberapa kali.” Jawabku.
“Bukan, Bukan seperti itu Nick. Maksudku diluar urusan pekerjaan. Apa pernah dia mendekatimu secara personal?”
Kuraih kaleng bir disampingku, meneguknya sekali. “Kurasa tidak. Memangnya kenapa Grace? apa yang istimewa darinya.”
“Apa kau tak merasa aneh? Aku mendengar kalau Anna sudah menyukaimu sejak lama sebelum bergabung di perusahaan ini. Berarti itu sudah sejak kau melakukan debut pertamamu. Anna punya semua koleksi albummu, bahkan kalau kau lihat playlist di handphone-nya akan penuh dengan lagumu. Kurasa galeri fotonya juga banyak fotomu. Tapi kenapa dia tak pernah sekalipun menghampirimu selama hampir 3 tahun bekerja bersama satu perusahaan?”
“Memangnya informasi itu kau dapat dari mana?”
Pertanyaan yang salah, karena sumber informasi Grace sudah terkenal banyak dan valid. Kalau soal bergosip Grace tak terkalahkan di perusahaan ini.
“Menurutku Anna sangat manis. Aku baru bertemu gadis semanis itu. Kau harus bersyukur punya penggemar seperti Anna.”
Kubiarkan Grace berbicara sendiri dan aku hanya mendengarkannya malam itu.
“Aku pernah memergokinya diam diam mengganti minumanmu saat meeting. Dia tahu kau alergi kacang, sedangkan menu kopi hari itu adalah Hazelnut Coffee. Anna sendiri yang meminta untuk menggatikan menu kopi di mejamu, dan juga menu makanan untukmu. Itu adalah tahun pertamanya bekerja, aku ingat.”
Aku terdiam. Oke, ini adalah fakta baru. Tak semua orang tahu tentang alergiku satu ini. Aku tak pernah memberi tahu semua orang, mungkin beberapa tapi tak semuanya.
Cerita tentang Anna mulai menyita perhatianku.
“Oh ya, lalu?” aku bertanya dengan menyembunyikan sedikit rasa ketertarikanku.
“Hmm, lalu.. ada lagi. Anna pernah tak sengaja bertemu denganmu di sebuah café di dekat apartemenmu, saat Anna pulang dari toko swalayan.” Grace berhenti sebentar untuk duduk di kursi balkon yang menghadap keluar, sambil tetap meneguk botol birnya yang tinggal setengah.
“Dan kau tahu apa yang dilakukannya? Dia menghardik beberapa penggemarmu yang mengambil fotomu saat itu, kurasa saat itu kau sedang bersama seorang perempuan. Anna malam itu berjaga di halte di depan café, dan menunggumu pulang.”
“Wajar saja, mungkin dia tidak mau terjadi sesuatu padaku yang akan mengakibatkan skandal untuk perusahaan. Mudah saja.” Jawabku masih acuh.
Tak ada yang istimewa. Batinku.
“Tapi aku bisa merasakan ketulusannya padamu Nick. Mencintai dalam diam, bukankah itu lebih romantis?” Grace meracau.
“Kau mabuk Grace.” Kataku.
Cinta?
Penggemarku hanya menyukai berimajinasi tentangku.
Bukan tentang siapa sebenarnya aku. Tetapi bagaimana aku dalam inajinasi mereka.
Itu tidak salah, memang seperti itu konsepnya.
Hubungan antara Artist dan penggemarnya.
Tetapi, mau tak mau apa yang dikatakan Grace malam itu mengusik pikiranku. Gadis bernama Anna ini memang hanya sesekali kami bertemu. Itupun membahas masalah pekerjaan, dan selalu tak pernah berdua saja. Kami selalu bertemu satu team untuk membahas sebuah project.
“Kau pikir siapa yang meletakkan kursi di dekat jendela di ruang meeting? Anna tahu kau menyukai spot itu saat meeting. Anna selalu meletakkan kursi itu disana setiap dia mempersiapkan ruangan sebelum yang lainnya datang, kau tahu?”
Kata kata Grace di balkon saat itu mengusikku perlahan.
Aku tak lagi melihat Anna dengan cara yang sama sejak malam itu.
*****