Anggap saja aku bodoh karena hampir percaya apa yang dikatakan Grace padaku.
Hampir. Iya hampir.
Aku terlalu sibuk untuk memikirkan hal yang tidak begitu penting. Aku dan teamku sudah memulai project terbaru. Menggarap sebuah film pendek tentang musisi jalanan. Project ini harus selesai dalam waktu satu bulan maksimal.
Aku memang tak hanya seorang penyanyi atau musisi, aku lebih suka disebut artist. Aku lebih punya tanggung jawab menjadi videografer dalam perusahaan. Sutradara dan videografer untuk iklan, film atau video klip.
Aku lebih suka berdiri di belakang layar sebenarnya. Dari pada harus muncul dalam video klip yang aku buat sendiri.
Tetapi Luke berhasil membujukku melakukannya tahun lalu.
“Nick, kau punya potensi. Suaramu menarik, tampang dan body-mu juga oke. Selera musikmu lumayan. Kenapa tak mau mencobanya? Kau bisa membuat video klip-mu sendiri kalau kau mau.” Begitulah Luke mencoba membujukku dengan ‘pujian’-nya.
Dan dia akhirnya berhasil.
Aku tak menyesalinya, aku juga suka membuat musik dan bernyanyi. Membuat lirik lagu yang terlintas dalam kepalaku dan sedikit memberinya aransemen dengan gitar atau pianoku sendiri. Well, itu hal yang menyenangkan dan menenangkanku.
Kembali pada Grace.
Aku harus mencari wanita itu hari ini. Grace harus membayar kata katanya. Dia sudah membuatku bertingkah konyol kemarin.
Meskipun secara tak langsung, tapi kata kata Grace lah yang menjadi pemicunya.
Aku masih tak habis pikir dengan apa yang aku lakukan kemarin.
Flashback
Tok.. Tok.. Tok..
Setelah mengetuk pintu tiga kali, aku langsung masuk tanpa permisi ke dalam ruangan Luke. Produser sekaligus sahabatku. “Luke.. Oh, kau sibuk?”
“Hei Nick, masuklah. Tunggu sebentar kami akan segera selesai.” Kata Luke yang masih berkutat dengan tumpukan berkas di mejanya.
Ku langkahkan kakiku masuk ke ruangan besar milik Luke dan melihat siapa orang yang berdiri di samping Luke.
Anna.
Gadis yang diceritakan Grace beberapa waktu lalu.
Kubiarkan mereka berdua menyelesaikan urusannya. Sepertinya urusan laporan keuangan perusahaan dan sebagainya. Aku sedikit mendengarkan pembicaraan mereka sambil berjalan kearah rak buku di salah satu sisi ruangan.
Aku mendengarnya bicara. Suara gadis itu. Anna. Suaranya cukup tegas dan menarik. Kuarahkan pandanganku ke meja Luke. Dengan masih menggenggam buku yang kutarik asal dari rak. Aku melihatnya sekarang.
Aku tak pernah memperhatikan gadis ini sebelumnya. Tapi mau tak mau kata kata Grace membuatku sedikit penasaran. Sialan Grace.
Anna memang berdandan sederhana seperti penilaian Grace. Kemeja polos putih bercorak garis yang digulung selengan, dengan celana jeans. Sepatu sneakers-nya berwarna putih dengan garis biru melintang. Rambut panjang bergelombangnya yang diikat kuncir kuda ke belakang. Jangan lupakan kacamatanya.
Baiklah, kuakui Grace benar. Penampilannya membosankan.
Aku mengamati Anna tanpa sadar. Sampai akhirnya mata kami bertemu. Tiba-tiba Anna juga mendongak menatapku.
Dengan refleks, aku membuang arah pandanganku kembali pada buku yang aku pegang.
Yang sialnya dalam posisi terbalik.
Aku mengembalikan buku sialan itu kembali ke tumpukan rak. Lalu berjalan kearah jendela besar di sampingnya. Kuputuskan berdiri membelakangi meja Luke. Membelakangi Anna yang mungkin sedang menertawakanku saat ini.
Setelah menunggu beberapa saat, akhirnya aku dan Luke bisa bicara berdua. Bukan membicarakan masalah pekerjaan. Hanya makan siang bersama sambil minum kopi dan mengobrol sebentar.
Luke tak bisa keluar kantor siang itu, dan akupun sedang malas berjalan keluar sendiri untuk makan siang. Jadi kuputuskan makan bersama Luke di ruangannya. Hal yang sering kita lakukan sebenarnya.
Sekitar hampir satu jam, aku memutuskan kembali ke ruangan studio ku. Saat melewati ruangan pantry dekat ruangan Luke, aku kembali bertemu dengannya.
Anna sedang sibuk mengaduk kopi dalam gelasnya, sambil berbicara di handphone yang di selipkan di apitan kepala dan bahu kanannya. Setelah berdebat dengan pikiranku sendiri, aku memutuskan untuk tinggal sebentar dan berdiri di pintu pantry.
Anna masih tidak menyadari kehadiranku di belakangnya.
“Aku akan mendengarkanmu kali ini. Iya.. aku janji. Jangan mengomel lagi, oke? Bye, aku masih banyak pekerjaan hari ini. Hmm.. oke oke. Love you.”
Anna mengakhiri panggilannya. Dari tempatku berdiri aku masih bisa melihat Anna tersenyum mematikan hanphone-nya. Anna sudah melepas kacamatanya sekarang.
Yang membuatnya sedikit berbeda.
“Punya kopi lagi?” kataku yang sontak saja mengagetkannya. Aku memang sengaja.
Anna terlonjak sampai handphone ditangannya hampir tergelincir. Dan dengan refleks aku mengulurkan tanganku untuk meraih handphone-nya. Anna kembali terkaget mundur saat melihatku, orang yang menyapanya dari belakang pantry.
Masih dengan santainya aku menghampiri Anna yang sedikit tersudut di meja pantry. Aku hanya ingin mengembalikan handphone-nya saja. Walaupun kuakui, aku ingin sedikit menggoda Anna.
Sorry, Grace.
“Awas handphone-mu, Anna.” kataku sambil menyodorkan handphone itu pada Anna. Sekilas aku melihat layarnya yang masih menyala sebelum Anna meraihnya dari tanganku.
“Kalian serasi, pacarmu?” Tanyaku sedikit usil melihat foto yang menjadi wallpaper handphone Anna.
“Oh, thanks.” Hanya itu jawaban Anna. Dia tidak menjawab pertanyaan keduaku.
“Kopi? Kau punya kopi lagi?” Tanyaku kembali dan memutuskan tidak akan mengejar jawaban Anna tentang wallpaper di handphonenya.
“Hmm, kurasa masih ada lagi.” Anna kemudian berbalik ke arah lemari gantung diatas pantry. Membukanya dan mengeluarkan sebuah keranjang kecil berisi banyak sachet kopi. “Ini..” Anna menyodorkan keranjang itu padaku.
Aku tahu Anna kikuk dan tidak nyaman. Gerak geriknya mengatakan Anna ingin keluar dari pantry ini segera. Tapi aku masih ingin mendorongnya lebih jauh. Aku ingin menggodanya sedikit lagi.
Aku meraih keranjang kopi yang Anna sodorkan padaku.Aku memilih kopi yang aku suka, aku mengaduk isinya sebentar. Sedikit mengulur waktu. Masih tidak beranjak dari pintu pantry. Sehingga Anna tak akan bisa kabur tanpa harus mendorongku.
“Vanilla Coffee taste better..” kata Anna lirih melihatku tak bisa menentukan rasa kopiku.
Sambil tersenyum aku menyodorkan kopi sachet pilihan Anna. “Kau bisa membantuku menyeduhnya? Maaf merepotkan.”
“Oh, baiklah. Tunggu sebentar.” Anna tak punya pililihan lain selain menuruti kemauanku.
Anna tak banyak memandangku. Anna hanya tertunduk dan fokus pada kegiatan menyeduh kopiku.
Walaupun reaksinya sedikit kaget saat melihatku. Tapi kurasa hal itu masih wajar, karena aku berdiri tiba tiba dibelakangnya. Tidak ada yang tidak biasa dari Anna. Bahkan Anna terlalu bersikap biasa saja, kalau memang apa yang dikatakan Grace benar tentangnya.
Aku tak ingin minum kopi. Ini hanya alasanku saja. Harus kuakui itu. Aku sudah meminum kopiku dengan Luke saat makan siang tadi.
“Kau sudah selesai dengan Luke?” Anna bertanya basa basi sambil mengaduk kopi membelakangiku.
“Yeah, kami hanya makan siang dan mengobrol sebentar. Tidak ada pembahasan khusus.” Jawabku sambil bersandar di pintu pantry.
“Ini kopimu, Nick.” Kata Anna kemudian dan menyodorkan segelas kopi yang mengepul panas. Aroma kopi yang wangi merebak di dalam pantry.
“Thanks, Anna.” aku menerima gelas kopi darinya. Sekilas kulihat ekspresi Anna sudah kembali tenang. Tak terbaca apapun dalam raut wajahnya yang menatapku. Aku mulai berfikir Grace berbohong padaku. Hanya untuk menggodaku.
“Boleh aku lewat?”
“Silahkan.” Aku tak bisa lagi menahan Anna. Jadi akhirnya kuberi senyum terbaikku dan sedikit bergeser untuk memberi jalan untuknya keluar.
“Nick..”
“Hmm?”
“Good luck untuk project barumu.”
“Oke..” aku mengangguk dan tersenyum. “Anna..”
“Iya?”
“Kau lebih cantik tanpa kacamata.”
Dan begitulah aku akhirnya berjalan kembali ke studio ku. Sambil membawa segelas kopi yang tak kuminum. Hari itu aku sepertinya bisa mendengar teriakan Grace dalam kepalaku.
*****