Telah ditemukan mayat seorang siswi berinisial ST tergelatak di belakang bangunan kantin lama SMIHS. Kondisinya mengenaskan dengan bibir terjahit, beberapa luka di sekitar tubuh, sayatan, serta beberapa tusukan benda tajam dan juga lebam pukulan benda tumpul. Mayat ditemukan sekitar pukul 11.45 menit. Oleh bantuan keterangan para saksi, mayat tersebut sengaja dipindahkan ke TKP untuk menyembunyikan TKP sebenarnya.
Elka mendesah ketika menyelesaikan bacaannya di koran pagi tentang mayat yang mereka temukan kemarin. Berita itu begitu cepat menyebar hingga sampai termuat dalam koran pagi ini.
Tidak lagi seperti sebelumnya, SMIHS lebih terbuka dengan kasus seperti sekarang. Para penyidik dari tim kepolisian diberikan kebebasan untuk menyelidiki dan memecahkan kasus yang tak biasa itu.
Tentu saja Elka senang. Dengan begitu rasanya kasus akan terpecahkan secara resmi dan mungkin cepat? Seharusnya tidak ada yang perlu ia khawatirkan. Ya, seharusnya begitu kalau saja bukan mereka yang menemukan mayat. Aneh saja, mengapa si pembunuh mengubah TKP-nya ke tempat lain? Dan apakah sebuah kebetulan si pembunuh meletakan mayat di markas mereka? Sungguh tanda tanya yang besar.
"Tiba-tiba saja gue ngerasa mendapat undangan teka-teki." Suara Vano yang berceletuk itu memecah lamunan Elka. Mereka sedang berada di markas utama-rumah pohon di pekarangan belakang rumah Elka-sekadar berkumpul dan berbincang santai.
Annisa menoleh. "Apa mungkin hanya kebetulan, si pembunuh meletakan mayat di sana?"
"Kebetulan yang terlalu kebetulan," sambung Sam meneguk minuman soda di tangannya.
Lea menekan tombol pause pada leptopnya, menghentikan acara solo fangirlingnya karena merasa terusik dengan obrolan teman-temannya seputar mayat itu. "Gue lagi nonton konser EXO malah keusik sama obrolan kalian. Bisa kita tenang? Ada polisi yang menangani, kan?"
"Tetap saja. Kita tidak ada yang tahu kalau kasus ini punya hubungan dengan kasus sebelumnya," kata Vano.
"Lalu? Harus banget kita ikut campur urusan polisi? No, thanks!" balas Lea.
"Begini lho, Lea. Kalau toh memang kasus ini berhubungan dengan kasus sebelumnya, itu artinya kita harus waspada. Jelas saja ada orang yang tidak senang dengan kita. Lalu untuk apa dia meletakan mayat di sana? Di saat kita sedang berkumpul, lengkap dan bersuka cita atas selesainya kasus? Well, itu sebuah peringatan, maybe?"
Lea termenung, diam-diam memikirkan penjelasan Vano itu. Rumah pohon minimalis itu mendadak hening. Elka, Rimba dan Andra menjadi orang yang belum mengeluarkan suara sepanjang obrolan mereka.
"Perasaan aku nggak enak." Annisa tersenyum kecut.
Elka mendesah panjang. "Gue takut yang dibilang sama Vano itu benar."
"Lantas, apa kita harus ikut andil?" lanjut Andra bertanya.
"Kita nggak bisa sebebas dulu. Harus lebih ekstra hati-hati karena kasus kali ini berhubungan dengan polisi. Kalian tahu maksud gue, kan? Kesalahan sedikit akan membuat petaka ke kita," peringat Sam.
"Gue rasa di sini kita punya Annisa yang ngerti banget etika penyelidikan polisi." Annisa menoleh ke arah Rimba. "Nyokap lo detektif," lanjut Rimba, memperjelas ucapannya.
Annisa mengangguk mengerti. "Iya. Seperti yang dikatakan Sam, kita harus ekstra hati-hati. Ditambah lagi, cara si pembunuh kali ini lebih sadis. Jelas sekali dia menyiksa korban lebih dulu."
"Lagi-lagi psikopat!" umpat Vano. Pemuda itu mendesah, menyandarkan tubuhnya ke lemari mini berisi buku-buku bacaan.
"Dari obrolan kalian, gue rasa kalian berniat ikut andil?" Suara Elka menginterupsi seluruh pasang mata yang ada di rumah pohon itu. "Karena sudah tahu ini nggak akan mudah, maka gue tanya, yakin kita akan ikut campur?"
Lama mereka terdiam, sebelum akhirnya mengangguk, pelan tapi mantap.
"Well." Elka menatap teman-temannya. "New case and mission!"
***
Cerita ini merupakan sequel dari cerita sebelumnya yang berjudul About Our School, rilis on w*****d.