Brakk!
Elka termundur hingga beberapa langkah ke belakang. Hampir saja ia mengeluarkan umpatan kasar, di lorong yang sudah sepi ini kenapa juga ada orang berjalan tergesah tanpa indera yang lengkap.
"Maaf. Saya buru-buru."
Elka mendongkak begitu suara berat dan maskulin itu terdengar. Di depannya, lelaki berperawakan tinggi tegap itu berdiri dengan raut yang tak sesuai dengan ucapannya meminta maaf. Terlalu tenang untuk seorang yang baru saja melakukan kesalahan.
"Kebetulan sekali. Apakah kamu bisa mengantar saya ke ruang kepala sekolah?" Elka masih diam. Memperhatikan gestur lelaki di depannya. "Saya murid baru."
"Di lantai 4." Elka menjawab singkat, tanpa ingin berlama-lama lagi dia segera menyigkir.
"Nama kamu siapa?" Langkah Elka terhenti. "Saya Arial Yovandar."
Sebenarnya Elka paling malas berhubungan dengan siswa baru. Bukan sombong, tapi memang dia bukan orang yang tepat untuk acara ramah tamah. Maksudnya, dia tidak pandai berteman akrab dengan orang baru, khususnya laki-laki. Elka alergi dengan cerita picisan. Dan pertemuan mereka ini, pernah beberapa kali dia temukan di novel-novel teenlit milik sepupunya, Mifa. Percayalah Elka tak suka hal seperti itu.
"Gue nggak peduli siapa nama lo. Dan lo nggak perlu tahu nama gue, karena mungkin ini pertemuan terakhir kita." Elka mengatakannya tanpa menoleh dan tanpa menyembunyikan nada sinisnya. Well, itulah Elka.
Arial menatap bingung punggung gadis yang tanpa sengaja ditabraknya tadi. Apa gadis itu marah? Tapi dia sudah minta maaf bukan? Ah, benar juga. Dia tidak mendengar kata memaafkan dari gadis itu tadi.
Lelaki itu mengangkat bahu, tersenyum perlahan. "Sepertinya aku harus memastikan sesuatu," gumamnya seraya berbalik dan menuju ke koridor yang akan membawanya ke lantai 4.
Elka mengayuhkan langkahnya lebar-lebar menuju markas—kantin lama—kedua mereka. Di sana sudah ada anggota tim yang lainnya. Sepanjang perjalanan ia berpikir tentang kasus pembunuhan yang baru-baru ini terjadi di sekolahnya. Seperti tak ingin berlama dalam keadaan aman, pembunuhan kembali terjadi dua bulan setelah kasus pertama yang berhasil mereka pecahkan.
Sebenarnya mereka ini apa? Elka saja bingung menyebutnya apa. Dia hanya merasa kebetulan terseret dalam kasus ini. Dalam hati Elka kesal, tentu saja. Memangnya siapa yang akan senang jika di dalam sekolah tercinta malah dijadikan tempat pembunuhan? Gila saja. Terlebih lagi yang terbunuh merupakan anggota sekolah itu sendiri.
"Sorry, lama." Elka masuk ke ruangan itu dengan suara lantang hingga membuat semua pasang mata di dalamnya melotot kaget.
Lea mendengus. "Suara lo pelanin dikit napa, El?" katanya setengah kesal.
"Lagian kamu dari mana?" tanya Annisa.
Elka tak langsung menjawab, dia mengambil duduk di sofa usang tepatnya di samping Rimba. "Gue haus, Rim."
Sebelah alis Rimba terangkat. "Terus?"
"Ambilin gue minum dulu, napa!" lanjut Elka. Rimba berdecak, namun tidak menolak. Cowok itu beranjak mengambilkan minuman soda di kulkas mini yang sengaja mereka bawa ke ruangan itu.
"Thanks," ucap Elka setelah menerima sodoran minuman dari Rimba.
"Untung markas kita elit punya. Idenya siapa dulu dong!" celetuk Vano. Memang, dialah yang mengusulkan adanya kulkas mini, meja bundar, sofa dan beberapa bangku di sana. Alhasil, ruangan itu jauh lebih nyaman dari sebelum pertama kali mereka tempati.
"Iya, deh yang jenius." Annisa memuji dengan wajah datar, namun Vano tambah berbangga diri.
"Kita ngumpul bukan buat bahas perubahan markas elit ini yah." Elka meremas kaleng minuman sodanya. "Soal pembunuhan. Apa nggak ada petunjuk lain yang bisa kita dapat selain pola pembunuhan sadis dan bibir yang dijahit?"
Semua yang mendengar itu mulai mendekatkan diri ke meja bundar, hanya Elka dan Rimba yang duduk di sofa karena ukuran sofa itu memang hanya untuk dua orang saja.
"Lo berdua enak banget duduknya di sofa njirr," celetuk Vano.
"Vano!" peringat Sam. Pasalnya wajah Elka mulai bete. "Lihat situasi dan kondisi dulu napa."
Vano menyengir. "Abisan enak banget mereka. Kita kayak nontonin mereka nih."
"Vano! Serius oke? Jangan sampe sofa ini melayang ke wajah standar lo itu." Vano cengengesan, mengangkat jari membentuk peace. "Pertanyaan gue tadi belum dijawab."
Andar menjauhkan punggungnya dari sandaran kursi. "Nggak ada petunjuk lain. Benar-benar minim, kecuali kalau kita bisa dapat laporan forensik atau mungkin ada sidik jari yang tertinggal? Selain dari pada itu, kita memang belum mengecek data siswi. Belum lagi ini adalah korban pertama, jadi kita belum bisa memastikan motif si pembunuh, masih terlalu gelap."
Elka mengangguk-angguk. "Kalau gitu, Nis, lo cek data siswi yang menjadi korban. Berharap aja ini bukan korban pertama, melainkan satu-satunya."
"Andra, soal kemampuan lo apa nggak bisa? Maksud gue—"
"Dengan cara menyentuh mayat? Are you kidding me? No, thanks," potong Andra.
"Apa nggak ada cara lain agar kemampuan lo bekerja?" tanya Rimba lagi.
Andra mengangkat bahu. "Selama ini nggak pernah mencoba. Selain dari pada menyentuh seseorang, atau sesekali mimpi."
Rimba menegak. "Bagaimana kalau ternyata ada cara lain yang bisa membuat kemampuan lo bekerja?"
"Seperti misalnya menyentu TKP?" tebak Annisa.
"Tepat!" lanjut Rimba.
"Sebenarnya kemampuan Andra lebih dari cukup untuk memprediksi kemungkinan pelaku, hanya saja saat ini masih terlalu dini untuk mendapatkan kemungkinan itu. Kita belum mendapat gambaran tentang si pelaku. So, gue pikir apa yang dibilang sama Rimba itu patut dicoba, Ndra." Elka menatap Andra sebentar, beralih menatap teman-temannya.
Hening sesaat. Berbicara soal TKP, tentu saja itu artinya adalah belakang bangunan yang mereka tempati saat ini. Dengan kompak mereka mengalihkan pandangan ke belakang bangunan itu.
Sekali lagi mereka saling bertukar pandangan. "Sekarang?" Andra bertanya ragu.
"Masih ada garis polisi di sana," kata Lea.
"Makanya jangan sampai ada yang lihat. TKP juga sudah selesai diperiksa, terlalu bersih untuk dijadikan TKP sebenarnya, apalagi kondisi mayat itu parah. Nggak mungkin TKP sebersih itu. Nah, tapi karena kita punya Andra, akan ada kemungkinan kita dapet petunjuk lain," terang Elka.
Mereka mengangguk setuju, lantas bergegas pergi ke bagian belakang bangunan itu. Garis polisi masih terlihat di sana. Bercak-bercak darah pun masih mengeluarkan aroma pekatnya, tidak ada sesuatu yang berarti.
Bekas darah itu hanya semata yang mengalir dari tubuh korban, bukan bercak saat pembunuhan terjadi. TKP terlalu bersih, belum lagi tidak ada apa pun yang bisa dijadikan bukti.
"Apa yang harus gue sentuh?" tanya Andra sesampainya mereka di depan garis polisi itu.
Elka mengamati lekat-lekat di sekitar TKP. "Mungkin darah?"
Andra menatap bercak darah yang menempel pada dinding, juga ada sebagian yang tertinggal di tanah. "Gue sentuh yang di dinding." Dia mendekat, mulai menyentuhkan tangannya pada bercak itu.
Tidak terjadi apa-apa. Tidak ada sengatan listrik yang seperti biasa ketika kemampuannya bekerja, tidak ada gambaran apa pun yang bisa ia lihat. Selang beberapa menit, tetap sama. Kemampuannya tidak dapat bekerja.
"Sesuai dugaan gue. Nggak bisa," sesal Andra, berdiri dari posisi berjongkoknya.
"Mungkin darah memang nggak bekerja. Masih inget waktu Lea diculik?" kata Sam, "waktu di WC, Andra sempat menyentuh darah Lea tapi nggak mendapat gambaran apa-apa," lanjutnya lagi.
"Benar juga," gumam Elka. Dia menghela napas panjang. "Ya, sudah. Mau bagaimana lagi? Ayo balik."
"Mungkin kita akan dapat sesuatu ketika memeriksa data siswi itu." Rimba berjalan masih dengan memerhatikan sekitar. Cukup sepi memang.
Annisa mengangguk. "Benar. Berharap saja ada yang bisa membantu di sana."
Beberapa langkah mereka meninggalkan TKP. Tak ada yang aneh, hanya halaman belakang yang sepi, memang sangat cocok dijadikan tempat pembunuhan. Pantas saja si pelaku berani membawa korbannya kesana kemari, seenak undel memindahkan TKP.
Secara tiba-tiba sengatan kecil membuat langkah Andra terhenti. Seketika gambaran mengejutkan terputar jelas di matanya.
Seorang gadis berjalan dengan sebelah kaki yang dipaksakan untuk berlari, cukup parah karena beberapa memar serius di sana-sini. Sesekali ia menoleh kebelakang, sosok berjubah hitam terlihat santai mengikutinya di sana. Bilah pisau dapur menjadi mainannya sembari terus mengikuti langkah gadis itu.
"Jangan ikuti aku, b******k!" Tak ada jawaban dari si jubah hitam. Dia masih terus berjalan, kali ini lebih cepat bahkan nyaris berlari.
"Arrrrrggghhhhh!" Gadis itu berteriak memilukan saat bilah pisau menyayat lengannya, darah segar perlahan guyur dari sana. Kepalanya berputar-putar, pandangannya memburam, tubuhnya lemah hingga dengan mudah diseret si jubah hitam itu.
Tubuh gadis itu dengan mudah diempaskan ke lantai sebuah ruangan dengan meja dan bangku bekas. Isak tangis memilukan tak lagi dihiraukan si jubah hitam.
Brak
Brak
Brak
Beberapa pukulan bangku kayu mengenai tubuh gadis itu, sangat kuat hingga dia kehilangan kesadaran. Si jubah hitam berjongkok, mengeluarkan sesuatu dari saku jubah besarnya. Jarum dan benang. Selanjutnya, ia menjahit bibir gadis itu, menikmati setiap tetesan darah yang keluar. Terakhir, pisau cantiknya ia tanmkan tepat di d**a sang gadis.
Andra tersadar. Teman-temannya sudah berjarak beberapa langkah di depannya. "Guys!" teriaknya.
"Lo ngapian di sana, Andra?" Andra tak memedulikan pertanyaan itu, dia malah berjongkok mencari sesuatu yang mungkin saja tak sengaja diinjaknya.
"Lo ngapain, sih?" Elka bertanya sembari mendekat pada Andra. Begitu pun yang lainnya.
Andra mengangkat sebuah pulpen berwarna gold dengan inisial S di ujung pulpen itu. "Ikut gue!" Dia berlari dengan kencang, mau tak mau teman-temannya pun mengikuti tanpa harus repot bertanya lagi.
Langkah lebar Andra menyusuri halaman belakang yang luas, berbelok ke samping yang membawa ke lokasi bangunan lain. Andra mengedarkan pandangannya, berusaha mencari tempat yang seperti gambarannya.
Andra kembali berlari ketika melihat bangunan yang ia yakini seperti di gambaran kemampuannya itu dari kejauhan. Sebuah gudang. Bangunan itu cukup jauh dari bangunan yang lainnya, sama seperti markas mereka namun bangunan itu jauh lebih tersendiri.
Pintu gudang itu tertutup rapat namun Andra tak peduli dan langsung menendangnya kuat-kuat.
Pintu terbuka dengan pemandangan banjir darah yang mengerikan.
"Oh, s**t!" umpat Sam ketika melihat darah yang masih kental tercecer di lantai putih itu.
Lea sudah meringkuk di pelukan Vano, dia tidak akan tahan melihat itu. Sementara Elka dan Annisa masih membisu dengan mata terbelalak lebar, Rimba berekspresi tenang namun matanya menyorot tajam.
Napas Andra memburu. Dengan sekali helaan napas dia berkata, "Ini TKP yang sebenarnya."
***
Jangan lupa dukungannya ya, teman-teman.