"Are you kidding me? Gue nggak setuju! Kita harus melaporkan TKP sebenarnya ke polisi!" tegas Elka.
"I know that, Elka. Tapi dengerin gue dulu." Rimba menarik napas dalam-dalam. Mereka sedang berada di luar bangunan yang merupakan TKP sebenarnya itu. "Kita belum dapat apa-apa dari sana. Lo tahu sendiri kalau tempat ini sudah ditangai polisi, kita nggak bakal dapat petunjuk apa-apa."
Elka menatapnya ragu, sebagian dari dirinya merasakan ketakutan. "Terus kita haru apa? Ngerusak TKP? Malah makin parah! Kita juga nggak mendapatkan sesuatu, selain darah yang membanjir itu!"
"Pasti ada sesuatu!" sambar Andra, "sebaiknya kita kembali ke dalam. Kita bisa memperhatikan dari jauh, cukup jangan merusak TKP."
"Andra, kita juga berpotensi menjadi tersangka jika ada jejak mencurigakan," peringat Annisa.
"Jangan terlalu parno. Sebaiknya kita coba masuk lebih dulu," saran Sam.
"Oke-oke! Kita masuk!" putus Elka akhirnya. "Vano, lo temenin Lea tetap di sini, sisanya semua masuk ke dalam." Vano mengangguk, masih sambil menenagkan Lea yang gemetar.
Bau anyir darah langsung menyambut kedatangan lima remaja yang baru saja membuka pintu gudang itu. Elka menutup mulutnya sembari mengaktifkan aplikasi perekam video di ponselnya.
Mereka mulai berjalan ke setiap sudut ruangan, serta memperhatikan titik yang paling mencolok dengan simbahan darah, tepat berada di bagian tengah, dengan sebuah bangku yang reyot.
"Nggak ada apa-apa," kata Annisa pelan.
"Well, berharap aja polisi bakal dapet sidik jari di bangku yang patah itu," sambung Sam, menunjuk bangku reyot dengan simbahan darah.
Elka masih terus merekam. Dia menoleh sejenak. "Udah?" Kepalanya menoleh ke Andra. "Ndra, lo lihat pelaku? Gimana perawakannya?"
Andra berdiam sebentar, tangannya berada di pinggang. "Jubah hitam. Hanya itu yang identik banget sama dia." Andra sedikit mengeryit. "Gue bingung, tiba-tiba bisa melihat masa lalu. Ini kali pertama buat gue, karena biasanya gue akan ngelihat masa depan."
Elka menatapnya sebentar. "Kita cari tahu itu nanti, Ndra." Andra hanya mengangguk kecil.
"Berarti cowok?" tebak Rimba, kembali pada topik pembicaraan awal.
Andra menggeleng ragu. "Nggak tahu. Gue nggak bisa mastiin, wajahnya nggak kelihatan."
"Sekarang gimana?" tanya Elka, memasukan ponselnya ke saku kemeja.
"Kita balik. Ohiya, Nisa lo boleh hubungin polisi sekarang," kata Rimba. Annisa mengangguk lalu mengeluarkan ponselnya untuk melaksanakan titah pemuda itu.
Selanjutnya mereka keluar, kembali menuju markas sambil menunggu kedatangan para polisi yang menyelidiki kasus itu.
Selama di perjalanan menuju markas, Elka kembali memutat video yang diambilnya di TKP. Matanya jeli melihat setiap detik yang terekam di sana. Elka membulatkan matanya saat mengamati rekaman videonya sekilas memperlihatkan sebuah benda yang berkilauan.
"SIAL!" Elka mengumpat dan langsung mendapat perhatian temannya yang lain. "Sial! Sialan! Kita harus balik!" katanya langsung memutar arah.
"Elka! Lo mau apa?" teriak Rimba tak mendapat jawaban. "Haissshh, tuh anak beraninya kebangetan!"
"Udah! Kita ikutin dia," putus Sam langsung menyusul Elka.
Elka lebih dulu sampai di sana, dibukannya lagi pintu itu. Teman-temannya menyusul dengan masih bertahan pada sikap bungkam Elka. Gadis itu terus menerus mencari sesuatu yang terekam pada kamera ponselnya.
"SIAL!"
"Elka, sebenarnya ada apa?" tanya Andra tak sabar.
"Ponsel gue sempat merekam sesuatu di sini! Tepat di sini!" tunjuk Elka ke lantai yang pekat akan darah itu.
Rimba mengeryit. "Sesuatu? Apa?"
Elka mengeluarkan ponselnya dan langsung mengarahkan ponsel itu kepada yang lainnya. "Ini. Kenapa langsung hilang? Gue yakin di sini. Iya 'kan?"
"Ini ... leontin?" gumam Annisa agak ragu.
"Ya, i think so, Annisa." Elka kembali memasukan ponselnya ke dalam saku.
"Kenapa kita nggak lihat itu tadi?" Sam menggerang frustasi.
"Memang agak susah, ketutup sama darah. Bentuknya aja nggak terlalu jelas di gambar," kata Andra.
Annisa mengusap wajahnya pelan. "Dari pada itu, aku rasa poin pentingnya hari ini adalah." Gadis berhijab itu menelan ludah, menatap satu persatu wajah temannya. "Si pelaku sedang berada di sini, bersama kita tadi."
"SIAL!" umpat Rimba, mengusap rambutnya kasar. "Gila! Bisa-bisanya dia gerak secepat itu."
"Well, you know, kan, orang yang terburu-buru pasti akan meninggalkan jejak tanpa dia sadari." Sam menyeringai sembari tangannya menunjuk ke arah jejak kaki yang samar mengarah ke jendela.
Elka membelalak, dengan cepat bergerak mendekati jejak itu. Dia segera mengambil gambar, kemudian berjongkok untuk memperkirakan ukuran jejak itu. "Kira-kira ini seukuran kaki gue?" Elka menyamakan kakinya ke jejak itu.
"Aku rasa ukuran kaki kamu agak kecilan dikit, Elka," komentar Annisa.
Sam mengangguk membenarkan. "Kemungilan."
Elka mendelik, agak tersinggung dengan kata kemungilan dari Sam itu. "Kakinya aja yang besar! Bukan kaki gue yang mungil," bantahnya tak terima.
"Kenapa lo harus marah?" Sam menatapnya bingung.
Elka mendengus, menjauhkan kakinya dari jejak. "Bodo ah! Sekarang mending pikirin gimana caranya biar dapat ukuran jejak ini."
"Well, kenapa tidak pakai sepatu salah satu dari kalian saja?" Annisa menolehkan wajahnya ke arah Rimba, Sam dan Andra. "Kaki kalian pasti lebih besar, nanti kita tandai sampai di mana ukuran jejak ini di swpatu kalian," lanjutnya.
Elka menyeringai lebar, merangkul gadis itu dengan ekspresi bangga. "Temen gue!"
Rimba memutar matanya, mendekatkan kaki ke samping jejak. "Biar sepatu gue aja. Ukur gih!"
Andra berjongkok, mengekuarkan pulpen yang didapatnya sebagai petunjuk ke TKP itu. Dia menggoreskan tinta sesuai dengan ukuran jejak ke sepatu Rimba. "Sepertinya hanya berbeda beberapa cm saja," katanya sembari kembali berdiri.
"Nomer sepatu lo berapa?" tanya Sam.
"42," jawab Rimba.
"Kalau lo?" Sam beralih ke Elka.
"36."
"Maybe, jejak ini 38, 39?"
"Sepertinya, yes." Andra dan Annisa menyahut kompak.
"Udah, sebaiknya kita cepat keluar sebelum polisi datang. Vano sama Lea juga di luar mulu dari tadi," ujar Elka, melangkahkan kakinya keluar bangunan itu.
"Apa yang kalian dapat? Ada petunjuk?" cecar Lea saat Elka dan lainnya keluar.
"Yah, sempat kehilangan. Tapi untungnya kita balik nggak kosong-kosong amat," kata Elka.
Vano mendesah. "Setidaknya kita nggak bergantung pada polisi, akan sedikit rumit. Sekarang saja pasti kita akan diminatai keterangan."
Tak lama saat kalimat itu dilontarkan, suara langkah kaki tergesah terdengar mendekat ke arah mereka. Dari lorong lab bahasa, muncul beberapa orang dengan seragam polisi dan beberapa lagi hanya memakai jaket hitam berserta celana jeans abu-abu, mereka pasti para detektif kepolisian.
"Kalian yang melaporkan TKP asli?" tanya salah satu polisi itu ketika melihat Elka dan kawan-kawan.
"Iya, Pak. Di dalam sini," jawab Elka menunjuk gudang. Dengan isyarat tangan saja, beberapa polisi yang berdiri di belakang pria itu langsung bergerak.
"Kalian bisa memberikan keterangan lebih lanjut? Ah, sebelumnya perkenalkan nama saya Tomi Aregra, kapten tim yang akan menyelidiki kasus ini."
Elka mengangguk lalu menyambut sopan uluran tangan di depannya itu. "Saya Melka." Lalu satu persatu dari teman Elka, memperkenalkan diri.
"Sepertinya nanti saya akan banyak membutuhkan bantuan kamu, Melka. Ah, maksud saya tentu saja kamu dan teman-teman kamu, jadi apa kalian tidak keberatan?"
Elka mengedarkan pandangannye ke arah teman-temannya yang lain. "Tentu saja, kami akan membantu. Selama hal itu diperlukan, dengan senang hati."
Tomi tersenyum sembari menatap Elka lamat-lamat. "Entah kenapa saya merasa kita pernah bertemu, Melka." Pria itu berdehem, agak salah tingkah. "Jangan salah paham. Maksud saya, wajah kamu tampak familier."
Elka mengeryit. "Emm ... mungkin Anda salah. Rasanya saya baru bertemu Anda sekarang untuk kali pertama."
"Ah, b-begitu," gumam Tomi.
"Kapten!" panggil seseorang dari ambang pintu. "Terdapat banyak darah di dalam sini, ada juga bangku reyot yang kemungkinan merupakan alat yang digunakan pelaku. Kita butuh tim forensik untuk membantu."
Tomi mengangguk paham. "Lanjutkan penyelidikan. Aku sudah menghubungi tim forensik, mereka sudah dalam perjalanan." Setelah itu, anak buahnya mengangguk dan kembali ke dalam sana untuk meneruskan penyelidikan.
"Jadi, apa bisa kami tahu kapan Bapak akan-"
"Ah, sebelumnya mungkin kita tidak perlu seformal itu. Kita bisa bicara santai," kata Tomi.
Annisa mengerjap, menoleh pada Elka. "Tap-tapi biar bagaimanapun juga, kami ini masih anak-anak dan Anda sendiri."
Tomi lantas memotong. "Umur saya belum sampai ke 26 tahun dan saya masih belum menikah. Mendengar remaja seumuran kalian memanggil Bapak, agak sedikit terdengar asing di telinga saya."
Lea berdehem-dehem tak jelas, sementara Annisa melarikan matanya ke segala arah, mendadak keduanya merasa canggung. Bukan apa-apa, polisi yang berhadapan dengan mereka itu masuk dalam hitungan tampan.
Elka mengangkat sebelah keningnya, bingung dengan gelagat Lea dan Annisa yang mendadak aneh. "Lo berdua kenapa?" Kepalanya teralih ke Tomi. "Oke, ngomong santai? Kalau begitu, kami harus bicara seperti apa? Aku-kamu, saya-kamu atau lo-gue. Terus kami manggilnya apa? Bapak, detektif, Anda atau kamu, atau nama?" oceh Elka panjang lebar. Mendadak Rimba berdehem keras, menyenggol pelan lengan gadis itu.
"Kamu maunya memanggil seperti apa? Terserah."
Elka menghela napas. "Asal Anda tahu, saya tidak seperti teman-teman saya ini. Kalau Anda berkata demikian, yang ada saya tidak akan menahan diri. Bisa dibilang saya akan seenaknya."
Tomi tertawa. "Oke, silakan."
Elka menyeringai. "Oke, Kak. Jadi, kapan gue sama temen-temen bisa memberi keterangan?"
Tomi tersentak kecil, begitupun teman-temannya. Annisa meringis, mencubit pelan lengan gadis itu, namun Elka sih santai. Dia bahkan bersidekap d**a dengan santai, menatap Tomi tanpa canggung.
Tomi berdehem-dehem, lalu mengulum bibirnya menahan senyum. "Ahh, soal itu apa kamu bisa datang, maksud aku kamu sama temen-temen kamu bisa ke kantor polisi besok?"
"Bisa. Baiklah besok sepulang sekolah." Tomi mengangguk setuju, tersenyum kecil memperhatikan langkah tujuh remaja itu yang perlahan menjauh dari pandangannya.
Sekali lagi dia tersenyum. "Jadi namanya Melka?"
***
Lanjut lagiiiiiii.....