"Ah, gara-gara kasus ini kita malah nggak sempat masuk kelas," kata Lea.
"Nggak papa, ntar lagi masuk jam kedua." Elka melirik arlojinya. "Udah, sih, kita pisah di sini," katanya lagi.
Rimba dan lainnya berhenti. "Nggak perlu dianter ke kelas?" tanya Vano.
"Emang selama ini kita minta dianter?" tanya Annisa, sedikit bingung. Vano berdehem, kemudian menggeleng kaku.
"Ahh, y-yaudah. Kita duluan," kata Andra.
"Iya, kalian silakan terus ke kelas aja." Rimba menimpali.
Elka hanya mengangguk, kemudian menjauh dari tempat itu. Kelas mereka memang berbeda lorong, tepat di belokan lorong itu, kelas Elka berada di lorong depan sementara kelas Rimba melewati belokan sebelah kanan.
"Anak-anak itu kagak bisa dikasih perhatian dikit kali yah," kata Vano kesal.
Andra tertawa kecil. "Ya, emang pada dasarnya kita berteman dengan cewek mandiri, bro."
"Anyway, soal polisi tadi. Kok gue ngerasa dia—"
"Kenal sama Elka?" sambar Rimba. Sam mengangguk membenarkan.
"Entah. Elka aja katanya nggak kenal," kata Andra.
"Ya udin! Polisi itu salah orang?"
Rimba berdecak. "Nggak penting. Udah, bel bentar lagi mau bunyi," katanya seraya meneruskan langkah ke belokan lorong menuju kelas.
Sementara itu, di kelas Elka suasananya sedang heboh. Entah karena apa, Elka sendiri belum tahu. Ketiganya hanya mengerjap lalu duduk di bangku masing-masing dengan menatap kerumun di samping bangku Elka.
"Mereka sedang apa, sih?" bisik Lea. Elka mengerut kening, memperhatikan kerumun para siswi itu.
Annisa yang duduk di depannya langsung berbalik. "Ada siswa baru, El." Elka refleks memutar mata, agak jengkel.
"Hai!" Suara itu menyentak Elka yang hendak meletakan kepalanya di meja. Suasana kelas mendadak hening, bahkan Elka merasa kerumun tadi langsung berbisik-bisik tertahan.
Rasanya Elka mengenal suara itu. Dia lebih dulu menoleh pada Lea, gadis itu menganga dengan pandangan terfokus ke sebelah Elka. Elka menegakan punggungnya, menoleh ke samping dan well, mimik wajahnya seketika mendatar.
"Lo nyapa siapa?" tanya Elka datar.
Lelaki itu tersenyum singkat dan sukses mendapat pekikan para siswi di sekitar mereka. "Kenal saya?"
"Nggak." Lea langsung mendorongnya kesal, sementara Annisa berdehem seakan peringatan.
Bukannya tersinggung, lelaki itu malah mengulurkan tangannya ke hadapan Elka. "Kita ketemu di koridor sebelah. Saya Arial Yovandar."
"Penting banget buat gue kenalan sama lo?" Elka memutar matanya malas, sementara semua pasang mata yang memperhatikan mereka mendadak gemas.
"Ah." Arial mengusap tekuknya, agak malu. "S-saya ingin tahu nama—"
"Melka. Nama gue Melka. Udah 'kan?"
Arial tersenyum kecil. "Kita bisa berteman?"
Dengan mata memincing, Elka memerhatikan Arial. Tubuh lelaki itu tinggi, tegap, rahangnya kokoh, hidungnya mancung, kulit putih, bulu mata lentik, rambut kecokelatan dan bibir penuh. Pantas saja para siswa langsung terpesona. Apa lelaki ini berasal dafi luar negeri? Tapi tidak mungkin. Caranya berbicara benar-benar tidak beraksen kaku sama sekali.
"Elka, itu ditanyain. Jawab dong," bisik Annisa gemas.
Elka menyikut tangannya di atas meja, menghadapkan kepalanya ke samping dengan mata yang masih memincing penuh intimidasi. "Kenapa lo mau temenan sama gue?" katanya sambil mengangkat sebelah keningnya.
"Karena kamu cantik."
Elka langsung tersedak kecil, sementara yang lainnya langsung memekik. Elka mengontrol dirinya dengan berdehem-dehem, mendadak tenggorokannya terasa kering.
Dia menatap Arial, kemudian berdecak. "Lo emang seterus terang gini?" katanya kesal.
Arial mengangkat bahu. "Kesan pertama saat saya bertemu kamu, memang cantik. Kemudian kamu cuek, bahkan dingin. Itu artinya kamu tidak terlalu peduli dengan penampi—"
"Gue emang bodoh amat sama orang-orang kek lo. Bukan cuek sama penampilan, tapi gue kurang suka sama pusat perhatian," potong Elka.
Arial mengangguk singkat. "Jadi, mau berte—"
"Selamat siang anak-anak."
Suara itu menginterupsi Arial dan semua orang yang ada di sana. Mereka bergegas ke bangku masing-masing, walau mata mereka masih sesekali melirik. Sementara Elka, dia langsung cuek saja, kembali mengalihkan perhatiannya ke guru. Arial tersenyum singkat melihat gadis di sampingnya itu.
Saat matanya menatap ke depan, gumaman pelan keluar dari bibirnya yang menyeringai penuh misteri.
"Ternyata benar kamu."
***
"Gue barusan ditelepon sama abang, katanya kalau mau pindah dia dukung. Dari dulu gue kepengen dapet dukungan ini, tapi entah kenapa malah sekarang gue enggan buat pindah," kata Lea. Gadis itu baru saja memutuskan panggilan dari kakak laki-lakinya di Malang, ia menyandarkan kepalanya di bahu Vano, keduanya memang kian dekat.
Annisa yang sedang berkutat dengan leptop itu, mengangkat kepalanya. "Aku malah nggak ditawarin pindah sama sekali."
"Gue malah disuruh nggak usah pindah, soalnya SMIHS emang lulusannya berpotensi bisa diterima di unive yang bagus," lanjut Elka.
Para cowok masih belum menimpali. Mereka asik dengan dunia masing-masing, melamunkan entah apa yang terlintas dipikiran mereka. Rumah pohon itu sekarang sudah menjadi tempat tongkrongan wajib untuk tujuh remaja ini, membicarakan kasus atau pun tidak, mereka hampir setiap malam berkumpul di sana.
"Tumben banget kalian diam?" Annisa mengeluarkan suaranya lagi, bermaksud menegur para cowok.
Sam yang kali pertama terinterupsi. "Ya, abisnya harus gimana?"
"Jangan melamun juga dong," kata Annisa, "oiya, ini info korban. Dia ternyata salah satu siswi yang tinggal di asrama."
"Asrama?" Rimba membeo. "Dia bukan siswi dari jalur beasiswa, kan?"
"Iya, bukan. Tapi ini namanya ada kok di daftar nama penghuni kamar asrama."
Rimba buru-buru mengubah posisi berbaringnya menjadi duduk, Elka yang disampingnya bahkan tersentak kecil dengan gerakan tiba-tiba itu. "Lain kali jangan duduk di deket gue, Rim. Jantungan gue lama-lama," sungut Elka.
"Ya, maap, El." Rimba beralih ke Annisa. "Nis, coba lo cek nama-nama siswi yang tinggal di asrama tapi bukan dari jalur beasiswa." Annisa mengangguk kemudian beralih ke leptopnya lagi.
"Kenapa lo berpikir mengecek anak-anak asrama?" tanya Andra.
"Apa mungkin kali ini pembunuhnya punya pola tertentu lagi?" Elka mengira-ngira. "Seperti kasus sebelumnya, polanya adalah para siswi dari kalangan bawah dan jalur beasiswa, belum lagi dia mengeksekusi di tanggal yang sama sebelum ketahuan sama kita dan mengubah abstrak pola pembunuhannya."
Rimba menjentikkan jarinya. "Itu dia! Bisa saja si pembunuh mengincar korbannya sesuai pola. Dalam hal ini, Sifa Temari siswi yang tinggal di asrama, masuk dalam siswi populer, anak orang kaya pula. Berbalikan dengan kasus sebelumnya."
"Apa gue belum bilang ke kalian, kalau gue sedikitnya kenal dengan Sifa ini. Dia atlete renang," sahut Vano yang sejak tadi terdiam.
"Apa yang lo tahu? Maksud gue mungkin ada sesuatu yang bisa bikin kita memperoleh petunjuk?" tanya Andra.
Vano terlihat mengerut kening seakan berpikir. Lea yang sedang bersandar di bahunya itu, mendongkak memperhatikan wajah pemuda itu. Semua mata sedang mengamatinya dan menunggu penjelasan darinya.
"Yang gue tahu, dia punya tiga orang teman. Well, mereka dari eskul yang beda-beda. Kalau gue nggak salah ingat, mereka semua tinggal di asrama."
"Binggo!" seru Elka, "kita bisa dapat keterangan dari teman-temannya, seperti gelagat Sifa sebelum jadi korban atau hal apa saja yang mereka tahu. You know semacam interogasi."
"Wait." Sam menyahut. "Mereka pastinya sudah diinterogasi polisi, right?"
Andra mengibaskan tangannya. "Lo tahu kadang mereka tertekan dan menjawab seadanya, terlalu takut memberi penjelasan banyak atau mengeluarkan dugaan-dugaan, padahal bisa saja itu penting buat penyelidikan."
"Gue setuju. Kadang saksi terlalu takut memberi penjelasan, apalagi itu hanya dugaan mereka. Terlalu takut berurusan dengan polisi," timpal Rimba.
Lea menjauhkan kepalanya dari bahu Vano. "Lo tahu nama-nama temennya, Van?"
Vano meringis. "Takut salah. Tapi kalau wajahnya sih, gue tahu."
"Aku dapat!" Annisa berseru, seraya membalik leptopnya yang menunjukan informasi beberapa siswa yang menggunakan kamar asrama.
Elka mengulum kecil bibirnya. "Pas banget ada empat orang, termasuk korban."
"Apa mungkin yang lainnya target?" gumam Lea.
"Mungkin saja," kata Rimba, "hanya mereka yang mempunyai latar belakang hampir sama dengan korban. Untuk sekarang kita nggak tahu apakah pelaku akan meneruskan rencananya dengan menambah korban atau memang hanya punya motif pembunuhan kepada Sifa."
Sam mengangguk, kemudian bersidekap. "Gue sebenarnya nggak mau bilang ini, tapi informasi kita terbilang minim, gue yakin tim kepolisian juga agak kesusahan. Untuk itu kita harus waspada, kita bisa mencegah rencana si pembunuh dengan mengawasi kemungkinan target."
"Gue tahu maksud lo, Sam." Elka tersenyum singkat. "Terlalu jahat banget kalau kita bilang, menunggu korban selanjutnya," sambung Elka.
Rimba mengembuskan napas panjangnya, kembali mendaratkan punggung ke karpet tebal di lantai kayu rumah pohon itu. "Ini akan menjadi kasus yang panjang."
***
Gimana menurut kalian? Sudah dapat gambaran kasusnya akan seperti apa? Hehehe ....