"Bukan Rina pelakunya," kata Andra dengan nada suara yang membingungkan. Mantap namun bergetar. "G-gue ngelihat sesuatu yang aneh."
Dari duduknya, Rimba langsung menegak. "Coba lo jelasin dulu, Ndra. Selama ini kita nggak punya dugaan lain."
Andra menatapnya sebentar, kemudian mengedarkan pandangannya ke teman setimnya. "Gue ngelihat ... seseorang mengejar Rina. Dia terlihat ketakutan, dan orang itu memakai jubah yang sama persis seperti penglihatanku pada kasus Sifa. Gue nggak tahu itu bakal terjadi kapan, yang jelas gue rasa itu terjadi di koridor asrama putri."
Mereka tertegun mendengar pernyataan Andra tersebut. Jelas saja, selama kasus ini berjalan mereka belum menemukan satu pun dugaan yang mendekat pada si pembunuh, selain Rina.
"Dalam artian, Rina adalah target selanjutnya? Jadi, ini benar-benar pembunuhan berantai?" kata Elka dengan nada seakan menebak.
Andra mengangguk, walau agak ragu. "Ya, gue berpikir begitu."
"Pembunuhan berantai, dengan motif yang belum jelas. Dan apa dugaan awal.kita benar, mengenai empat anak yang menempati kamar asrama itu?" kata Sam.
"Seharusnya, iya." Annisa menambahkan. "Latar belakang mereka nyaris sama. Dari keluarga kaya, cantik dan yah, populer. Bisa dibilang mereka anak-anak yang terkenal karena kekuasaan mereka."
Elka mengembuskan napas panjang. "Malam ini, apa kita bisa menyusup ke asrama? Yah, menempatkan beberapa cctv, di tempat-tempat tertentu."
"Sepertinya itu ide yang bagus." Vano meneguk minumannya hingga tandas. "Tapi, apa iya kita harus pergi malam-malam?"
"Kenapa? Lo takut?" tanya Lea dengan nada yang lebih mirip ledekan.
Vano langsung meliriknya dengan tajam. "Nggak usah sok ngeledek, deh. Ngelihat darah aja langsung pingsan, malah ngeledek orang."
"Setidaknya gue nggak takut hantu!" balas gadis berkacamata itu berteriak.
"Gue nggak takut hantu, Lea!" Vano balas berteriak.
"Lo berdua bisa diem?" desis Sam, kesal. "Apa kita perlu memberi informasi ke Pak Tomi?" tanyanya, beralih pada Elka.
"Apa harus?" tambah Rimba, wajahnya menunjukkan sedikit ketidaksukaan. "Maksud gue yah, jujur aja gue nggak terlalu suka.
"Lho, kenapa?" Annisa menyahut polos. "Bukannya bagus, Pak Tomi bisa menjadi alibi yang sempurna, biar kita juga tidak harus menyelinap untuk memasang cctv."
"Itu dia!" Rimba berseru. "Kalau ada yang tahu kita memasang cctv, nanti pelaku akan semakin pintar menghindari titik-titik yang sudah terpasang kamera cctv."
"Benar juga," lirih Annisa.
"Sepertinya alasan lo nggak setuju Pak Tomi ikut campur, bukan hanya itu deh, Rimba." Lea menatapnya sebentar, sebelum melanjutkan, "lo cemburu," lanjutnya tanpa suara.
Rimba mendesis, mengumpat pelan. "Diem lo!"
"Jadi, soal peringatan. Apa kita perlu memperingati sahabat Sita yang lainnya?" sahut Sam, tak memedulikan Rimba dan Lea yang saling menghunus tatapan.
"Sebaiknya tidak perlu. Itu hanya akan menambah rasa takut mereka," kata Annisa berpendapat.
"Gue setuju. Lagi pula, dalam kasus ini siapapun bisa jadi tersangkanya." Elka menambahkan. "Malam ini, seperti rencana kita akan menyelinap ke asrama. Asrama punya jam malam, tepatnya pukul sepuluh malam. Untuk mempermudah, emm ...." Elka menatap Annisa. "Lo bisa meretas data kamar asrama? Buat seolah-olah salah satu kamar di sana, sudah terdaftar atas nama gue. Biar mempermudah keberadaan kita."
Annisa menjentikkan jari. "Benar juga! Setiap kamar asrama, punya dua tempat tidur yang punya dua tingkatan kasur. Jadi itu cukup buat aku sama Lea juga. Yah, sisanya, kalian tentu saja harus menyelinap."
Memang, kadang sistem sekolah yang mengandalkan database terorganisir dalam suatu sistem internet, sangat memudahkan hal-hal seperti ini. Tidak ada catatan yang perlu mereka ubah, atau mereka harus mencari catatan merepotkan lebih dulu. Cukup mengandalkan seseorang seperti Annisa, data itu bisa mereka dapatkan, san bisa mereka ubah sesuai keinginan.
Siapa yang curiga? Karena pengertian sistem yang sangat terorganisir sudah lebih dulu mengakar di setiap ingatan orang.
"Kalau gitu, pilih kamar yang punya balkon dan paling ujung. Cih, menyusahkan!" kata Rimba sebelum mengakhiri diskusi mereka.
***
Semua sudah berkumpul di satu kamar asrama yang sudah berhasil dimanipulasi oleh Annisa. Nama Elka sudah tertulis di database kamar asrama, tentu saja. Itu adalah hal mudah untuknya.
Sebentar lagi sudah masuk jam malam, itu artinya para pengawas asrama akan berkeliling, memeriksa satu-persatu penghuni kamar berada di kamarnya masing-masing.
"Ya, ampun! Badan gue sakit banget, gara-gara tadi nih! Kenapa pake acara manjat lagi, sih? Padahal bisa pake tangga!" gerutu Vano.
Ya, lelaki itu masih terus mendumel, soal cara mereka menyelinap ke kamar asrama. Para gadis tentu saja dengan mudah masuk, karena asrama putri bebas dimasuki siapa saja—selama itu perempuan—tapi untuk Vano dan lainnya, tentu saja tidak boleh.
Hal itu mengharuskan mereka untuk menyelinap. Sesuai pesan Rimba, kamara srama yang dipilih Annisa, terletak di paling ujung dan berbalkon. Sebuah kebetulan yang sangat kebetulan, kamar itu kosong. Awalnya Elka bingung karena Sam memberinya tali tambang yang panjang, namun ketika pemuda itu menjelaskan tentang tujuan menyelinap.mereka, barulah Elka paham.
"Kalau pakai tangga, nanti lo tanggung jawab kalau tangganya kelihatan?" sentak Sam jengah.
"Ya, tapi badan gue pegel anjir!"
"Jadi cowok letoy banget," cibir Lea. "Yang lain, biasa aja kok. Malah lo lebay."
"Lo nggak tahu aja rasanya manjat tembok hanya mengandalkan tali tambang!" kesal Vano.
"Bisa tenang? Pengawas asrama bentar lagi patroli. Sebaiknya kalian mulai sembunyi," kata Elka melerai acara saling gerutu Vano dan Lea.
"Ada WC yang bisa jadi tempat persembunyian. Tenang aja."
Tak lama dari kalimat Vano itu terlontar, pintu kamar asrama Elka diketuk. Sedetik kemudian mereka langsung beranjak. Sementara teman-temannya memasuki WC dengan mulus, Elka beranjak mendekat pada pintu dengan rambut yang sengaja dibuat berantakan, lalu mata disayukan dengan sesekali menguap seakan baru tersadar dari kantuk.
"Selamat malam, Elka. Ternyata benar kamu menyewa kamar asrama," sapa wanita di depannya begitu Elka membuka pintu kamar itu.
Entah mengapa Elka merasakan hal aneh ketika melihat tatapan wanita di depannya itu. Ia hanya mampu tersenyum, agak dipaksakan. "Iya. Ada hal tertentu yang mengharuskan saya menetap di sini."
Wanita itu tersenyum. "Saya Resti, pengawas asrama putri. Kamu menginap hanya sendiri?" tanyanya agak memanjangkan leher, mengintip ke dalam.
Dengan santai, Elka memiringkan tubuhnya memberi wanita itu akses untuk melihat kamarnya yang kosong. "Iya. Tapi mungkin besok, saya akan membawa teman-teman saya ikut menginap."
"Oh, begitu." Wanita itu menganggukan kepalanya. "Peraturan asrama sangat ketat, terutama untuk jam malam. Tidak ada yang boleh keluar kamar, ketika jam malam. Apa pun itu aalsannya. Maka, jika ada urusan penting haruslah kamu selesaikan sebelum jam malam tiba."
Elka tidak menjawab, ia sibuk membaca gerak tubuh wanita yang berumur sekitar awal tiga puluhan itu. Seakan ada sesuatu yang ingin disampaikan dari air wajahnya menatap Elka.
"Saya dengar, kamu siswi berprestasi. Kamu dan teman-teman kamu juga yang berhasil mengungkap kasus kelam sekolah kita dua bulan yang lalu." Resti tersenyum kecil. "Tapi, Elka. Kadang, dalam hidup kita mendapati sebuah keberuntungan. Walaupun kita berharap kebertuntungan selalu menyertai, namun pada kenyataannya keberuntungan hanya datang sekali, setidaknya itu yang harus kita percayai agar tidak mendapati kecewa berlebih."
Setelahnya, Resti tersenyum lagi, kali ini sedikit mirip dengan seringai hingga Elka tak dapat membalas. Tubuhnya membeku dan hanya mampu mengamati langkah Resti yang berbalik, meninggalkannya.
Suara high heels yang bergemeletuk di sepanjang lorong luas asrama itu, perlahan memelan. Sembari mendorong pintu agar tertutup, Elka merenung.
Mengapa perkataan Resti sangat jauh dari kalimat nasihat?
Kenapa Elka merasa kalimat itu lebih mirip sebuah ... ancaman?
***