Wahh, wah ... tampaknya ada konspirasi besar-besaran di sini. Hasil stalkingan Annisa semalam sungguh membuat semua mata terbelalak kaget. Mereka semakin penasaran, kira-kira Rina ini tipe seperti apa, sih sampai-sampai tega berhubungan tak wajar dengan PACAR dari SAHABATNYA yang bernama Talia.
Cowok itu bernama Erik Shaputra kelas XI Bahasa 3, pacar dari Talia sejak tiga tahun lalu. Rupanya Erik dan Rina sudah berhubungan lumayan lama, dan hubungan mereka ini terbilang hanya sebatas kebutuhan seks masing-masing.
Ini gila! Sungguhkah ada yang seperti itu? Benar-benar sulit dipercaya. Kenapa harus Erik? Yah, maksudnya hei! Itu pacar dari sahabatmu!
"Elka, Siap-siap! Target sudah terlihat." Suara itu membuat Elka tersentak dari gerutuannya, ia menoleh ke samping lalu kembali menatap ke depan, Rina terlihat berjalan ke arah mereka.
"Ndra, siap?" tanya Elka, pemuda itu hanya mengangguk.
Selanjutnya, kedua remaja itu bertingkah senatural mungkin. Elka berlari-lari kecil dengan Andra yang sedang mengejarnya, Elka tertawa keras sementara Andra pun tak kalah heboh hingga keduanya menjadi pusat perhatian.
Ketika jarak Elka tinggal beberapa langkah lagi sampai menyentuh Rina, gadis itu bertambah girang tertawa, dia sengaja menoleh ke belakang saat merasa bisa menabraknya, kemudian ....
Brakk
Sempurna! Gadis itu jatuh. Yang tadi Elka melakukannya dengan sungguh-sungguh, menabrak dengan keras. Hah, rasakan kau!
"ELKA!" Andra berteriak, sembari menyusulnya dengan cepat. "Astaga! Lo bikin orang celaka," omelnya sembari melotot, ia mengalihkan tatapannya ke gadis yang tersungkur itu. "Eh, lo nggak apa-apa?"
Elka menyeringai samar. "Aduhhh ... astaga, maaf gue nggak sengaja. Andra nih ngejar gue!" kata Elka.
Andra melotot. "LO YANG GATEL!" bentaknya kesal. Ia menoleh pada gadis yang masih terduduk sembari meringis. "Gara-gara lo, gadis cantik ini jadi jatoh. Sini, gue bantu." Andra mengulurkan tangannya dan gadis itu menyambut dengan malu-malu.
Hah, Elka memutar mata. Yah, biar bagaimanapun juga Andra itu cogan. Dipuji cantik oleh cowok incaran di sekolah, tentu suatu kebanggaan untuk para gadis, minus Elka dan Annisa. Kalau Lea, masih sering ambyar.
Elka memerhatikan raut wajah Andra yang perlahan berubah, tangannya masih menggengam tangan Rina, ia jadi menebak-nebak apa yang dilihat Andra?
Selang beberapa detik kemudian, Andra tersentak lalu tersenyum kaku. "Ah, maafin temen cantik gue ini, kadang emang suka gila," katanya santai. Elka diam saja, malas merespons.
Rina tersenyum kikuk. "Ng-nggak apa-apa kok, gue juga tadi kurang hati-hati."
Elka memutar matanya. Cih, suaranya sok gemulai. Bilang saja tak ingin bermasalah dengan Elka, orang gila mana yang mau bermasalah dengannya? Hah, Rimba si brandal sekolah saja sudah pernah jadi rivalnya apalagi cuman siswi lemah sepertinya? Ck, bisa sekali tendang langsung terbang.
Dan lagi, Elka tahu tatapan Rina saat ini. Tingkahnya seakan hormat, tapi matanya sedikit mendelik tak suka. Elka langsung memasang smirik ketika Rina melirik kecil padanya, gadis itu terbelalak kecil dan kembali memalingkan wajahnya pada Andra.
"Lo nggak patah tulang, kan? Ah, i mean lo nggak perlu dibawa ke rumah sakit, kan?" tanya Elka.
Gadis itu menggeleng. "Nggak. Gue nggak papa."
"Baguslah. Ohiya." Elka menatapnya sembari menampilkan senyum miring. "Lo kenal Erik Shaputra kelas Bahasa 3? Gue denger-denger dia pacaran dengan Talia Cattleya udah 3 tahun, yah? Wahh ... lo sahabatnya Talia, kan? Sampaikan sama dia salam dari gue dan—" Elka menggantung kalimatnya, menikmati ekspresi kaget bercampur cemas di wajah Rina. "Semoga dijauhkan dari sejenis be.na.lu," lanjutnya sebelum melangkah pergi.
Andra tersenyum kecil pada Rina. "Elka emang suka gitu. Dia kadang cermat banget dalam berbagai hal, termasuk ...." Andra menatapnya dengan senyum miring. "Hal yang menjadi rahasia orang," lanjutnya seraya menyusul Elka.
Rina terpengkur di pijakannya. Otaknya mendadak gusar, rasa takut, cemas, kaget, malu dan marah bercampur menjadi satu kesatuan yang tak mengenakan.
Bagaimana Elka bisa tahu?
Ah, bukan. Bukan itu. Apa benar Elka tahu?
Apa maksud perkataan Elka? Benarkah itu dirinya? Tapi, bagaimana bisa!
Rina menggeram, mengepalkan tangan kuat-kuat sebelum meneruskan langkahnya menuju tempat Erik sudah menunggunya. Tidak seharusnya dia membuang waktu hanya untuk memusingkan kepala, dan menunda pemenuhan kebutuhannya.
***
"Melka Agustin Vender!" panggil seseorang dari arah belakang Elka. Gadis itu mengeryit sebelum akhirnya memutar tubuh menghadap ke asal suara.
"Apa?" respons Elka malas.
Pemuda itu tersenyum singkat. "Saya mau mengobrol sama kamu, apa boleh?"
"Nggak."
"Kenapa?"
"Apanya yang kenapa?"
"Kenapa nggak mau?"
"Kenapa harus mau?"
"Melka Agustin Vender."
"Arial Yovandar!"
Pemuda itu mengerjap sebelum akhirnya tersenyum. "Saya pikir kamu tidak tahu nama saya."
Elka memutar mata. "Ribet ngomong sama lo. Pergi sana!"
Arial tetap di tempat, tatapannya berubah datar. "Apa yang kamu dan teman-teman kamu lakukan, Elka?"
Elka sontak membelalak, berusaha membaca raut wajah Arial namun nihil. Dia tak bisa membaca sesuatu apa pun. "Apa maksud lo?"
"Saya pikir kalian sedang bermain-main, kan?" Arial menyeringai. "Bermain detektif."
"Ke mana arah obrolan lo ini? Gue nggak paham!"
"Oh, begitukah?" Arial terkekeh. "Padahal saya hanya ingin membantu."
"Maksud lo apa?" Elka menajamkan tatapannya.
"Saya mau membantu memperingatkan agar kalian tidak perlu mendekatkan diri pada bahaya. Biarkan saja alurnya berjalan sebagaimana mestinya."
Elka terperangah sejenak. Jantungnya mendadak tak beraturan. Ucapan Arial ini, sangat berpotensi untuk dijadikan dugaan tersangka.
"Kalau kamu berpikir saya pembunuhnya, maka kamu salah." Arial kembali menyeringai seakan bisa membaca arah pikiran Elka. "Saya hanya sudah tahu alur permainan ini. Elka, saya melakukan ini agar terbebas dari rasa bersalah."
Sekarang kening Elka mengerut, bingung. "Lo kalau ngomong nggak usah muter-muter!"
"Saya tidak ingin kamu dalam bahaya. Ya, setidaknya hanya itu yang bisa saya lakukan," kata Arial, menatap lekat manik gadis di depannya.
"Sumpah! Aneh lo!" bentak Elka kesal. Beberapa orang berlalu lalang menolehkan kepalanya, merasa tertarik dengan obrolan Elka dan si anak baru. "Lo tadi nakut-nakutin doang, terus sekarang lo sok-sokan bersalah sama gue. Jujur aja deh, lo gila yah?" omelnya sebal.
Arial tersenyum kecil. "Kamu akan tahu nanti. Bukan sekarang ... setidaknya sampai saya siap."
Elka mengendus, memijit pelipisnya yang mendadak berdenyut. "Mulai sekarang mending lo jauh-jauh deh, Ial, pusing gue!"
"Ial?" beo Arial merasa bingung.
"Iya, Ial. Kenapa nggak suka? Suka-suka gue mau panggil lo gimana!" kata Elka sewot.
Arial mengulum senyum. "Tidak apa-apa. Saya suka."
Elka berdecih, muak melihat raut tenang dan menyebalkan Arial itu. "Bodoamat. Gue pergi. Awas kalau lo manggil gue buat ngoceh yang kagak jelas lagi!" ancamnya sebelum meninggalkan pemuda itu.
Sembari menghirup udara banyak-banyak, Arial memerhatikan punggung Elka yang perlahan menghilang dari pandangannya. Ia mengusap wajah dengan kasar, jantungnya bertalu-talu antara cemas, takut dan satu perasaan yang tak bisa ia deskripsikan.
"Bagaimana kalau dia tahu?" gumamnya pelan.
***