"GILA!" Suara teriakan Elka membuat markas mereka serasa akan pecah. "Parah! Iyuhhhh! Gilaaaaaa!"
"ELKA, LO KENAPA, SIH?!" Lea balas berteriak, sedikit kesal dengan kedatangan Elka yang memekik heboh itu.
Elka tak menjawab, malah duduk di sofa markas mereka. Annisa menghentikan aktifitas mengotak-atik leptopnya dan malah memerhatikan Elka yang duduk di sampingnya itu. "Wajah kamu merah, El."
"Apa? NGGAK. NGGAK. WAJAH GUE NGGAK MERAH!"
Annisa terkejut, refleks mudur. "Kenapa kamu harus teriak?"
Elka mengerjap, mengedarkan pandangannya dan aah, teman-temannya menatap penuh tannya. "G-gue nggak teriak!"
Bersamaan dengan selesainya kalimat itu, pintu markas kembali terbuka memperlihatkan Rimba dengan wajah datarnya. Sontak saja lima remaja lainnya langsung memandang Elka dan Rimba secara bergantian, seakan menyelidik.
"Jangan bilang kalian ...." Vano sengaja menggantung kalimatnya.
Sam ikut berceletuk, "Wahh, nggak mungkin, kan?"
"Gila! Rimba, lo apain lagi si Elka?" tuding Lea melotot.
Rimba masih berdiri tak jauh dari pintu. Pemuda itu menatap Elka sebentar, lalu.memutar matanya dengan malas. "Nggak gue apa-apain, yang ada dia yang hampir pecahin gendang telinga gue. Teriak nggak jelas!"
"LO YANG BIKIN GUE TERIAK!"
"Nah, kan! Lihat? Dia teriak lagi," balas Rimba, berjalan dan mendudukan bokongnya di kursi tanpa sandaran samping Sam. "Dari pada ngurusin itu, gue punya informasi yang lebih penting."
"Soal apa?" tanya Sam.
"Rina," sergah Elka dengan cepat. Rimba mengangguk. "Dia itu—"
"Cewek m***m!" sambung Rimba santai.
Elka melotot. "Omongan lo yah!"
Sebelah kening Rimba terangkat. "Salah gue dimana? Emang disebut apa cewek yang menjajakan tubuhnya dengan pasrah, ah ralat, dengan senang hati ke cowok?"
"Ya, kan, karena cowoknya juga pasti yang rayu-rayu!" bantah Elka.
"Salah siapa malah tergoda?"
"Cih, dasar cowok! Jangan membenarkan tindakan salah kalian!"
"Dan jangan menyalahkan laki-laki hanya untuk membenarkan sikap kalian!"
Rimba dan Elka masih saling menghujam dengan tatapan, sementara yang lainnya masih terbengong, sangat bingung dengan arah pembicaraan itu.
"Bentar, bentar! Ini kalian lagi ngomongin Rina atau saling kode, sih?" celetuk Andra polos.
Delikan tajam dari Elka langsung membuatnya mengatup bibir. "Rina!" ketus Elka.
"Yaudah, coba lo perjelas apa maksudnya tadi?" tanya Vano.
Elka mensengus gusar sebelum menjawab, "Gue sama Rimba tadi mergokin pasangan m***m lagi ekhemm, you know what i mean. Di sekat antara aula satu dan lab kesenian. Ceweknya Rina dan cowoknya gue nggak tahu."
"HAH?"
"Gila kan?" Elka memijit pelipisnya, sementara teman-temannya yang baru saja mendnegar kabar itu mendadak blank.
"Anjir, seriusan kalian mergokin?" tanya Lea ngeri.
"Tepatnya, sih, ngedengerin. Mana berani ngintip? Gila aja!" jawab Elka.
"Astaga, gila! Kalau gue mah udah gue kerjain itu!" kata Vano menggebu.
Sam terkekeh. "Ternyata itu sebabnya lo berdua lama, dan saling tuding masalah nggak jelas."
"Hahaha ... gue penasaran reaksi kalian pas denger," sambung Vano.
"Sinting! Suaranya bikin gue muak," kesal Rimba.
Vano mendecih. "Paling juga sering nonton!"
Sontak saja Rimba melotot. "Ya, maskud gue nggak modal banget! Setidaknya nyewa hotel kek, malah di sekolah. Dasar amatiran."
"DASAR m***m!" teriak Elka kesal. Dan Rimba hanya mengedikkan bahu tak peduli.
"Emang lo pernah gituan, Rim?" tanya Anda mendadak penasaran.
Rimba menyeringai. "Pernah."
Jawaban Rimba membuat Andra tersentak heboh. "Serius lo? Gila! Sama siapa?"
"Sama cewek yang bego bisa ngebuka lebar paha mereka demi duit."
"Anjing! Serius lo?" sahut Andra semakin heboh.
Vano terkekeh. "Ini Rimba, Ndra. Asal lo tahu aja, dia kalau sekalinya nginjak kelab, cewek-cewek pada nempel, langsung rela ditidurin!"
"Dia nggak minta aja, cewek-cewek pada.minta," sambung Sam, meraih minuman kaleng dan meneguknya.
Lea berdecak keras. "Nggak nyangka. Kalian kayak cowok di novel-novel, iya, kan, Elka?"
Elka tak menjawab, raut wajahnya datar dan dingin. Kebungkaman Elka menarik perhatian teman-temannya hingga memusatkan perhatian ke arah gadis itu.
"El? Elka!" panggil Lea, tak ada respons. "Lo pasti shock sama kenyataan kita setim sama cowok-cowok m***m yah? Gue juga."
Elka tak menjawab, ia malah beranjak dengan tatapan dinginnya menyorot Rimba kemudian menendang kaki meja, hingga meja itu terdorong dan menjatuhkan beberapa minuman kaleng di atasnya. Untung saja Annisa meletakan leptop di pangkuannya.
"Elka, lo kenapa?" tanya Lea terkaget-kaget.
Elka tersneyum sinis. "Nggak papa. Mendadak pengen matahin kaki orang aja," katanya sembari berjalan menuju pintu. "Gue belum bisa jalanin rencana sekarang, hari ini panasa banget yah? Mending kita balik."
Annisa mengerjap. "Panas? Kan ini mendung," gumamnya polos.
Sam langsung bertukar pandang dengan Rimba. "Doi cemburu?"
Rimba terkekeh. "Nggak mungkin. Paling kesel aja sama obrolan kita yang merendahkan cewek."
"Abisnya kalian frontal banget! Lo juga, Rim. Itu dosa tahu. Iya, kan, Nis?"
Annisa menoleh dengan mata mengerjap,.kemudian beralih menatap Rimba dan lainnya. "Sebenarnya ... dari tadi aku nggak ngerti kalian bahas apa," katanya meringis dan memasang cengir yang terlihat polos.
Krikkkk kriiikkkkkk
Jawaban itu membuat mereka memasang wajah datar. Mereka lupa, kalau di tim ini ada satu manusia yang jenius dengan tingkat kepolosan astagfirullah. Semuanya langsung berdiri, bersiap pergi dari sana.
"Yaudah, mending balik." Lea berujar pasrah.
Sam menatap Annisa, yang dibalas tatapan tanya gadis itu. "Nis, karungin anak orang dosa nggak?"
Annisa mengeryit seakan berpikir. "Dosa. Dan lagi nanti anaknya mati, nggak bisa napas," katanya polos.
Sam tersenyum penuh kesabaran. "Gue gigit juga nih anak," gumamnya pelan, berjalan keluar bangunan itu diikuti yang lain.
***
"Tidak ada yang berarti dari jejak sepatu itu. Yah, selain kita tahu ukuran kaki si pelaku, itu pun kalau benar itu jejak kakinya. Pola telapak sepatunya sama seperti yang dipakai para siswa pada umumnya, jadi tidak mempersempit dugaan sama sekali." Tomi berujar sembari memperlihatkan beberapa foto jejak kaki itu, dan berkas penyelidikan.
"Hasil forensik juga demikian. Tubuh korban bersih, tanpa sidik jari sedikitpun. Penyebab kematiannya adalah kehabisan darah. Diperkirakan, korban meninggal sekitar lima belas menit setelah tusukan di dadanya. Tidak ada sesuatu yang khas kecuali jahitan pada bibir. Jahitannya juga berantakan, ini menandakan si pembunuh adalah amatir," terang Karin.
Elka dan kawan-kawannya terlihat serius, mereka menelaah informasi dari dua orang itu dengan baik. Rumah pohon yang biasanya hanya menampung tujuh orang remaja, kini bertambah personil dengan dua orang dewasa berbeda profesi itu.
"Jadi, apa ada yang bisa kalian laporkan, mungkin ada sesuatu di sekolah, petunjuk atau whatever?" tanya Tomi, tatapannya mengarah langsung pada Elka.
Gadis yang mendapat tatapan itu pun langsung mendengus. "Laporan nggak mengenakan."
"Maksud kamu?" Tomi menaikan sebelah keningnya.
"Sebenarnya begini." Rimba mengambil alih pembicaraan. "Saya dan lainnya mendapat satu petunjuk yang mengarah pada dugaan tersangka." Tomi langsung terbelalak, dan mengangguk antusias. "Kami kembali mengadakan interogasi tanpa tekanan kepada tiga orang sahabat korban, dan kami mendapatkan jawaban mengejutkan dari salah satunya."
"Apa ada hal mencurigakan?" potong Karin di sela jeda Rimba.
"Ya. Sahabat korban yang bernama, Rina, mengeluarkan pernyataan yang aneh. Dia mengatakan dengan sendu bahwa tak menyangka korban akan berakhir di gudang itu. Sementara, kita tahu bersama bahwa saat ini TKP di gudang sedang dirahasiakan. Dari mana dia bisa tahu? Tentu itu sangat mengundang rasa curiga."
"Wah, tentu saja!" seru Tomi semangat. "Kalian cerdas! Aku suka bekerjasama dengan orang-orang yang cermat," pujinya senang bukan main. "Jadi, ada lagi?"
Rimba kembali mengangguk. "Dan tadi di sekolah, kami berencana menjalankan skenario yang seakan-akan tak sengaja bertemu dengan Rena. Sewaktu interogasi, hanya Vano dan Lea yang bertugas sementara kami waktu itu di apartemen Bapak. Jadi, Elka ingin menemuinya secara langsung, membaca gestur gerak alam bawah sadar gadis itu."
Tomi dan Karin terperangah. Mereka saling bertukar pandangan. Apa benar, mereka sedang berhadapan dengan remaja SMA? Hei! Bahkan Tomi mulai minder karena kebanyakan memuji dalam hati, dia merasa canggung sendiri ketika menyadari cara kerja cepat tanggap remaja belasan tahun di depannya itu.
"Lalu." Rimba melanjutkan namun lebih dulu menoleh pada Elka. Gadis itu menatapnya datar, sepertinya masih marah. "Lalu, saya dan Elka tidak sengaja mengetahui hal yang cukup mengejutkan. Rina melakukan hubungan seks di sekolah."
"APA?" Karin langsung memekik, menutup mulutnya setelah tersadar akan pekikannya. "D-dia berhubungan seks? Dengan pacarnya? Di sekolah? Dan ... dan kalian melihatnya?" cecarnya heboh.
Suara dengusan Elka mengalihkan perhatian semua mata. "Tidak melihat. Hanya mendengar. Kami melihat setelah mereka keluar dari tempat persetubuhan mereka, lalu tanpa sengaja lagi melihat keduanya makhluk sialan itu berciuman," jelas Elka kesal.
Tomi tertawa, bukan jenis tawa kecil atau kekehan saja. Melainkan tawa yang menggelegar. Lelaki itu bahkan memegangi perutnya, menahan geli. "Jadi itu alasannya kenapa wajah kamu ditekuk dari tadi?" katanya setelah berhasil mengendalikan tawa.
Elka mencebik. "Tau deh! Mending lanjut diskusinya ini gimana? Nggak ada petunjuk. Pembunuhnya emang amatiran, tapi ... dia nggak terlalu bodoh untuk meninggalkan jejak."
"Annisa, apa kamu bisa cari informasi pribadi milik sahabat korban ini? Maksudnya yah, semacam ngestalk?" Semua mata terarah pada Sam. Temannya yang lain agak terperangah, Sam berbicara dengan sebutan aku-kamu? Heh, yang benar saja.
"Bisa. Urusan media sosial itu gampang. Informasi pribadi seperti apa?"
"Tentang pacar or something?" kata Lea agak ragu.
"Sebentar ... sebentar ... kalian mau apa? Kenapa minta dia cari tahu?" tanya Tomi menyela dengan bingung.
Annisa dan lainnya langsung menatap Tomi dan Karin secara bersamaan.
"Dia hacker," jawab Sam enteng.
Sementara Tomi dan Karin sudah menampakan wajah paling g****k yang mereka punya, dan Annisa yang mulai menunduk berkutat dengan leptopnya.
WHATTHE? Tomi hanya bisa terpekik dalam hati.