⚠[18+]
***
Rencana Elka tentang menyelidiki langsung sahabat Sifa—korban—akan dijalankan hari ini. Sebelum menjalankan skenario yang telah mereka sepakati, mereka akan berkumpul di markas guna mempermantap renacananya.
Skenario ini dibuat seakan Elka tak sengaja bertemu dengan siswi itu, Rina. Dia akan berakting seakan-akan menabrak siswi itu, lalu Andra memarahinnya karena ceroboh sambil Andra membantu gadis itu untuk berdiri atau minimal kalau gadis itu tidak jatuh, Andra punya alasan menyentuh lengan atau apalah, dengan alibi memastikan keadaan gadis tersebut.
Well, seharusnya ini mudah. Ya, mudah kalau keadaannya mendukung rencana itu. Jadi berharap saja mereka akan bertemu Rina di lorong kelas, lapangan atau di manapun yang memungkinkan untuk berpapasan.
Jam menunjukkan pukul sebelas siang, jam istirahat cukup panjang yaitu 45 menit. Elka berada di perjalanan menuju markas, menyusul teman-temannya yang sengaja ia suruh tidak menunggunya dari toilet.
Rambut sepunggung Elka yang tergerai itu disentak secara mengejutkan dari belakang. Gadis itu kontan menyetop langkahnya kemudian mendelik ketika tahu, pelakunya adalah Rimba.
"Kenapa nggak ke markas?"
"Anak-anak nyuruh gue nungguin lo tadi," jawabnya mengangkat bahu. "Gue tungguin di koridor nggak jauh dari toilet, tahunya lo nggak lewat sana, malah balik arah."
Elka memutar mata. "Suka-suka! Lagian sini jalan lebih deket."
"Tapi sepi. Bahaya!"
"Bodo!"
Rimba hanya mampu menipiskan bibirnya menahan geram. Memang, koridor yang mereka lewati sekarang ini terbilang sepi. Ah, bisa dibilang sangat sepi. Berlawanan dengan arah koridor kelas, koridor ini menuju ruang lab kesenian. Tentu saja ruangan itu tidak dipakai setiap harinya, belum lagi jalan koridor ini akan melewati lorong sempit seperti sela antar dua bangunan.
Markas mereka yang berada di belakang bangunan, memang mengharuskan mereka melewati belakang bangunan sekolah. Ya, karena itu jika ditambah melewati koridor sepi, memang agak sedikit ... menakutkan.
"Rik ... errrhhh jangan cepet-cepet!"
"Ken-apa, hah."
"Ini di sekolah, hah, gue harus jaga suara."
Suara-suara itu membuat Elka dan Rimba menghentikan langkah. Keduanya saling pandang, kompak menatap horor sela sempit antar bangunan lab kesenian dan aula satu—salah satu aula dari tiga aula yang dimiliki SMIHS—itu.
"Tenang. Eugghh ... keluarin aja, i-ni sepihhh."
Suara itu membuat Elka merinding sembari matanya membulat sempurna. Koridor ini sepi, bahkan langkah kaki orang saja mungkin akan terdengar.
"Tap-tapi, aaahhh ... Rik, err."
"Iya, bentar."
Setelahnya suara pekikan tertahan dua orang yang bercakap itu menutup obrolan absrud tersebut, disusul suara napas yang memburu tak tertahan.
Elka mengalihkan tatapannya pada Rimba, pemuda itu mematung. "Itu ... apa, Rimba?" tanya Elka berbisik.
Pemuda itu menatap Elka dengan mata mengerjap. "Ng-nggak. Itu bukan apa-apa. Mending kita pergi sekarang," katanya gugup.
Elka malah menggeleng. "Kita harus lihat, Rim. Feeling gue nggak enak, itu mereka—"
Rimba memotong kalimat Elka dengan menyentil pelan kening gadis itu. "Anak kecil dilarang lihat begituan!"
Elka melotot horor. "Jadi yang ada dipikiran gue sekarang bener?" Ia menutup mulut. "Gila! Kita tunggu mereka keluar!"
"Kenapa lo mendadak penasaran gini? Ngeres lo!"
"Gue penasaran aja, sumpah! Siapa yang berani ngambil kesempatan gini?" Elka menggeleng tak percaya, memandang asal suara dengan horor. "Feeling gue mengatakan kita harus menunggu."
"Kita?"
Elka menoleh. "Ya, iya. Gue sama lo!" katanya kesal.
Rimba mendengus. "Kurang kerjaan banget nungg—" Ia memotong kalimatnya ketika mendengar suara pergerakan dari arah obrolan panas tadi.
Dengan cepat Rimba menarik lengan Elka agar mengikutinya bersembunyi di sebuah pilar.
Tubuh Elka yang tertarik tiba-tiba itu seakan melayang, ia nyaris memekik kalau saja Rimba tak cepat membekap mulutnya. Jantung Elka berdetak dengan irama abnormal, posisinya saat ini sangat aneh. Sumpah! Elka memejam kuat-kuat, mendadak otaknya tak berfungsi.
Rimba menekan mulut Elka erat dengan tangannya, sementara tangan satunya berada di perut Elka, masih memegang lengan gadis itu di sana. Posisi mereka sangat dekat dengan Elka yang bersandar tepat di dadanya, tinggi keduanya yang berbeda membuat Rimba leluasa untuk mengintip. Dagunya tepat berada di pucuk kepala gadis itu.
"Besok, ketemu di sini lagi, oke?" Suara lelaki membuat keduanya fokus memasang telinga baik-baik.
Terdengar helaan napas dari sang gadis. "Yakin di sini lagi? Gimana kalau ada yang denger? Aku nggak bisa nahan suara aku!"
"Aku kan udah bilang, keluarin aja. Koridor ini sepi, mana ada yang lewat. Mau kemana juga? Kita aman kok. Rapiin lagi seragam kamu, maaf yah dalemannya robek."
Elka langsung membelalak. Astaga! Obrolan yang sangat frontal. Sial! Siapa sih mereka? Elka penasaran, sangat. Makanya dia memutuskan untuk sedikit menolehkan kepalanya agar bisa melihat sejoli tak tahu malu itu.
Seketika Elka melotot, ia merasa kepalanya dialihkan dengan paksa. Gila! Masih bisa juga dua orang itu berciuman. Ya Tuhan, dia baru tahu sekolahnya ini dijadikan tempat begituan.
"Jangan dilihat, bego!" desis Rimba kesal. Ia melepaskan tangannya dari mulut Elka, namun belum dengan tangan yang melingkar di perut gadis itu dan Elka pun tidak protes, sepertinya belum sadar sepenuhnya.
"Gila! Itu Rina, kan?" tanya Elka setelah mendengar langkah dua manusia gila itu menjauh.
Rimba menghela napas kemudian mengangguk. "Iya, itu Rina."
"Cowok itu pacarnya?"
"Ya, mana aku tahu."
Elka mengerutkan kening. "Aku?" ulangnya merasa aneh dengan sebutan Rimba.
Seakan tersadar, Rimba berdehem. "Kebawa sama percakapan duo m***m tadi."
Elka memutar mata, sedikit mengontrol napasnya lalu bersandar. Keduanya terlihat santai, oke fix mereka belum sadar. Rimba mendaratkan dagunya di pucuk kepala Elka, sementara gadis itu langsung tersentak.
Dengan kasar Elka menepis tangan Rimba yang ada di perutnya. "DASAR m***m!" teriaknya frontal.
Rimba meringis. "Dari tadi juga nggak masalah!"
"Tadi gue nggak sadar!" jawabnya masih dengan teriakan.
"Bisa pelanin suara lo? Astaga!" Rimba mengusap-usap telinganya.
"NGGAK BISA. NGGAK BISA! FIX RIMBA m***m!" teriaknya penuh amarah.
Elka memutar tubuhnya, berjalan dengan langkah lebar meninggalkan pemuda yang berdecih jengkel. Rimba hanya memutar mata, terbawa suasana? TIDAK. SAMA SEKALI TIDAK KOK. Hanya saja, ya ... ya ... ya gitu. Suruh siapa Elka itu galak-galak sayangeble? Kan Rimba jadi gemas. Eh?
Oke, ingatkan Rimba untuk memeriksa kesehatan otaknya setelah ini.
***