Malam hari di markas utama. Tujuh remaja itu tengah mendengarkan satu persatu hasil rekaman interogasi yang dilakukan oleh Vano dan Lea kepada tiga orang sahabat korban pembunuhan sadis di sekolah mereka itu.
"Tidak ada yang istimewa," guman Annisa.
Lea mengangguk setuju. "Iya, padahal kami sudah bertanya sespesifik mungkin. Mereka hanya menjawab seadanya dan sesekali menangis," jelas Lea.
"Coba kalian dengar bagian ini." Elka melepaskan headset dari ponselnya kemudian mengeraskan volume ponselnya.
"G-gue nggak tahu kenapa d-dia bisa jadi korban. P-padahal dia baik banget, dia juga ng-gak punya musuh, hiks ... hiks ... jujur aja gue takut, g-gue nggak nyangka dia berakhir di gudang itu, hiks ... hiks."
Elka menyeringai, mempause rekaman itu. "Ini kesaksian milik siapa?" Elka membaca inisial yang menjadi nama rekaman itu. RK.
"Rina Kinanti," kata Lea memperjelas. "Apa yang aneh dari itu?" tanyanya menatap Elka bingung, begitupun yang lainnya.
"Binggo! Beruntung banget kalian merekamnya dengan jelas." Elka tersenyum lebar-lebar.
"Elka sebaiknya lo jelaskan. Maksudnya apasih?" kata Andra gemas.
Gadis itu tersenyum lagi. "Kalian dengar sendiri, kan tadi? Dia bilang, tidak menyangka kalau korban akan berakhir di gudang itu. Well, kenapa dia tahu kalau korban terbunuh di gudang, sementara TKP yang dirilis adalah belakang gedung kantin lama? Penemuan TKP yang baru-baru ini, hanya kita dan tim penyelidik yang tahu," katanya menyeringai penuh kemenangan.
Sontak saja teman-teman Elka berseru tak jelas. Dengan wajah kelewat takjub dan bahagia mereka memekik tertahan.
"Sial! Bener juga!" seru Sam.
Rimba tersenyum miring. "Itu artinya kita dapat satu dugaan tersangka rupanya." Rimba memandang Elka. "Lo jeli banget soal ginian."
"Terbiasa. Gue sering ngikut bokap dengerin rekaman irama jantung para pengidap penyakit tertentu. Semuanya gue denger baik-baik dan gue ingat."
"Berarti lo bisa membedakan detak jantung seseorang yang sakit?" tanya Rimba lagi.
"Ya, gue masih tahap belajar. Tapi setidaknya gue mungkin bisa memprediksi dengan kemungkinan benarnya lebih besar ketimbang salah."
Rimba menganguk-angguk. "Irama jantung yang normal sama nggak normal pasti tahu dong?"
"Ya, tahu lah!" jawab Elka cepat.
"Irama jantung yang lagi jatuh cinta?"
"Ya, tahu—apa?" Elka berdehem. "Nggak pernah denger, sih."
Rimba tersenyum singkat. "Sini, dengerin punya gue, biar lo tahu."
Andra langsung tersedak ludahnya sendiri, sementara yang lainnya melongo takjub. Annisa mengulum tawa dan mengalihkan pandangannya, menadadak dia yang gugup mendengar itu.
Elka berdehem-dehem, memaksakan tawa. "Ha ha ha, garing banget lo!" katanya kemudian berdehem lagi.
Lea dan Vano saling pandang lalu kompak meringis. Dalam hati, keduanya menebak-nebak kira-kira apa yang sudah mereka lewatkan sampai Rimba seberani itu melempar kode?
Sam mendekatkan kepalanya ke telinga Annisa. "Rimba gercep. Takut diselip pak polisi." Tawa gadis berhijab itu sontak meledak, disusul Sam yang ikut tergelak geli. Bukan karena hal yang dia bisikan pada Annisa, melainkan karena suara tawa gadis itu yang unik.
"Apasih!" sentak Lea gemas sendiri. "Apa yang udah kami lewatkan? Rimba, lo kenapa mendadak aneh?"
Rimba mengangkat bahu. "Gue nggak aneh."
"Aneh!" bantah Vano.
"Takut diselip pak polisi," celetuk Annisa di sela-sela tawanya.
Rimba melotot. "Nggak! G-gue hanya ... hanya ... iseng! Ya, iseng!" elaknya sembari berekspresi aneh.
Andra berdecak. "Udah deh, bahas yang lain aja!"
"Oke, ekhemm." Elka mengerjap, mengibaskan tangan ke wajahnya yang mendadak panas. "Besok gue butuh skenario buat ngobrol langsung sama si Rina ini, tanpa dia tahu kalau itu sebagaian dari interogasi."
Lea mengangguk-angguk. "Okelah. Dia anak eskul renang, besok mau senario gimana?"
"Biar lebih cepat, gue butuh Andra."
"Maksud lo gue akan membaca gambaran masa depannya dia?" tanya Andra.
"Tepat seperti itu."
"Terus yang lo maksud skenario?" tanya Andra lagi yang hanya dijawab seringai misterius oleh Elka.