"Kenapa kami? Maksud saya, kenapa Bapak tiba-tiba saja mengkalim seakan kami ingin bekerjasama dalam penyelidikan ini?" Rimba mengeluarkan pendapatnya setelah beberapa saat terbangun dari ketertegunan.
"Karena kami tahu kalau kalian sedang menyelidiki kasus ini, kan?" kata Karin menebak tepat sasaran.
"Dan dengan kerjasama ini maka kasus akan lebih ringan," sambung Tomi.
"Namunpun demikian, itu tidak mejamin kami akan setuju dengan tawaran kalian," kata Andra.
Annisa menoleh pada Andra. "Lebih tepatnya apakah pantas jika pihak kepolisian bekerjasama dengan kami?"
Elka berdecak. "Jadi ini alasan Bapak tidak ingin bertemu kami di kantor polisi? Karena akan mengajukan kerjasama konyol ini?"
Tomi menghela napas panjang. "Saya tahu kalian adalah anak-anak yang memecahkan kasus sebelumnya." Tomi menjeda ucapaannya, menatap raut wajah lima remaja di depannya yang agak terusik. "Untuk itu saya rasa, kalian bisa membantu dalam penyelidikan ini. Karena bisa saja, kasus kali ini masih berhubungan dengan kasus sebelumnya."
"Ahh." Elka mengangkat suaranya sembari menganggukan kepala beberapa kali. "Kalian mengenal saya dari kasus sebelumya, benar?"
"Tidak." Tomi menjawab datar.
Kalau sudah seperti ini, Elka akan otomatis ke mode datarnya. Percayalah, dia tidak mudah terintimidasi. "Lantas?"
"Sepertinya kamu sudah lupa pada peristiwa 19 Maret enam tahun silam. Kecelakaan mobil di Jl. Cempaka yang mengakibatkan wanita bernama Stela Agustin Wernezt meninggal dunia. Meninggalkan putri sematawayangnya yang bernama Melka Agustin Vender."
Elka mematung. Mana mungkin dia bisa melupakan itu? Kejadiab itulah yang membuatnya sekuat sekarang, tidak akan dia biarkan trauma mengalahkannya, tidak ia biarkan ibunya khawatir di atas sana. Dia adalah gadis yang kuat, seperti yang dikatakan ibunya.
"Kemana maksud perkataan Anda?" tanya Elka penuh penekanan.
"Kamu benar-benar lupa ternyata," kata Tomi menghela napas sembari tertawa miris. "Kamu tidak ingat? Enam tahun silam ada seorang lelaki memakai seragam akademi kepolisian yang memberi permen serta balon berwarna cokelat kepada gadis kecil yang tengah menangis di lorong rumah sakit."
Elka semakin membelalak, sementara teman-temannya tetap diam. Terlalu bingung untuk berkomentar. "Gadis itu memakai gaun berwarna pink, rambutnya dikepang rapi dengan poni tipis yang menjulur lurus. Wajahnya putih, namun air mata membuatnya kusam dan sedikit kemerahan. Pada umur seperti itu, dia sangat cantik. Sampai-sampai mahasiswa akademi kepolisian itu terpaku mendengar isakan si gadis kecil."
Tomi tersenyum kecil. "Saat pemuda itu bertanya kenapa menangis? Gadis itu menggeleng dan hanya menerima permen serta balon itu. Saat ingin beranjak, gadis itu berbalik menatap pemuda itu sendu. Pelan dan lirih dia berkata boleh peluk?." Tomi mengangkat kepalanya, menatap Elka yang terpaku. "Pemuda itu mengangguk dan langsung mendapat hamburan pelukan gadis kecil itu. Tidak disangka, enam tahun kemudian keduanya bertemu. Dan gadis itu tumbuh menjadi remaja yang ... sangat cantik," katanya sembari tersenyum tulus.
Elka merasa buku kuduknya meremang. Perasaannya campur aduk. Ingatan tentang dirinya yang menangis di lorong rumah sakit saat ibunya kecelakaan langsung kembali terputar bagai film usang. Permen karamel dan boneka bergambar beruang warna cokelat itu, masih jelas diingatannya bahkan masih tersimpan di kamar Elka walau elemen balonnya sudah habis.
"Hah?" Itulah reaksi Elka pertama kali, dan langsung dijawab tawa kecil oleh Tomi.
"Nggak disangka gadis cengeng itu jadi super kuat dan tidak sefeminim dulu. Tapi, makin cantik, sih!" kata Tomi tergelak.
Elka langsung berdiri dengan heboh, kemudian berpindah duduk ke samping Tomi dan memeluk pemuda itu dari samping. Semua mata yang ada di ruangan itu hanya mampu melotot, masih gagal paham.
"KAKAK KARAMELLL!" pekik Elka heboh, dan seketika tawa Tomi terhanti. Tubuhnya mematung seiring Elka mengeratkan pelukannya. "Astaga! Dulu kakak jelek tahu! Kurus, item, dekil!"
Tomi berdecak. "Tapi sekarang tampan, kan?" katanya menggoda.
Elka cekikikan tapi langsung mengangguk juga. Tomi menelan ludah, mendadak kikuk sendiri. "Kak, kenapa nggak temuin aku lagi setelah hari itu? Aku lapor ke ayah, katanya aku cuman berhalusinasi doang!"
"M-elka, sebaiknya kamu lepaskan dulu pelukanmu."
Elka menggeleng. "Nggak. Nggak mau!" tolak Elka semakin menyandarkan kepalanya ke d**a Tomi.
Tomi berdehem. "Ada yang harus kita bahas lebih serius, Elka," katanya lembut.
Elka berdecak, melerai pelukannya. "KITA ENAM TAHUN NGGAK KETEMU LHO! Katanya aku tambah cantik. Gimana? Cantik, kan?" katanya mengangkup wajahnya sendiri kemudian mengedip-ngedip lucu.
Tomi tertawa dan mengacak rambut gadis itu dengan gemas. "Iya! Dasar gadis kecil—"
"AKU NGGAK KECIL!" bantah Elka mendesis kesal.
"Iya-iya, gadis cantik!"
Elka tersenyum penuh kemenangan, sementara Tomi masih tergelak. Keduanya tak sadar, kalau sejak tadi pandangan oteang-orang di sekitar mereka jadi melongo. Terlalu bingung dengan apa yabg sedang keduanya bicarakan. Gadis kecil? Pemuda akademi polisi? Balon cokelat? Karamel? SEBENARNYA MEREKA ITU SEDANG MEMBICARAKAN APA, SIH? Jualan balon dan karamel terus yang jadi endorsnya gadis kecil sama polisi?
Tolol!
"Ekhemmmm." Deheman Rimba seakan menyadarkan dua orang yang tenggelam pada kisah masa lalu itu.
Tomi ikut berdehem, walau bibirnya mengulum tawa melihat tingkah Elka yang tak ingin lepas bergelayut di lengannya. "Oke, kita bahas tentang kasusnya dulu."
Elka mengangguk, walau tetap merangkul lengan Tomi. "Jadi, kerjasama seperti apa yang Kakak maksud."
"Sebelumny, Elka. Bisa lo pindah dari sana?" tanya Rimba datar yang langsung disusul deheman oleh Annisa.
"Kenapa?" sahut Elka sewot. "Kalau gue nggak mau?"
"Lo—"
"Sudah deh! Kalau masih mempermasalahkan ini, lama-lama obrolan kita nggak selesai-selesai!" tegas Karin. Pasalnya dia sudah cukup geram melihat pertunjukan drama sejak tadi.
Rima mendengus, sementara Elka memeletkan lidahnya mengejek. "Dasar genit!" cibir Rimba pelan.
"Cie ... saingannya nambah," ledek Annisa berbisik pada Sam. Sam menoleh sejenak, Annisa sedang menaik turunkan alisnya, kode agar ia membisikan pada Rimba.
Sam menyengir, kemudian menoleh pada Rimba. "Cie ... saingannya nambah. Pesan dari Nisa," katanya berbisik.
Rimba melotot, menatap Annisa kesal. Andra yang berada di samping Rimba hanya menghela napas, perasaannya mengatakan, misi kali ini akan rumit dengan adanya campur tangan perihal perasaan. Andra berdecak, mendadak kesal sendiri melihat pemandangan Elka yang bermanja-manja itu.
Karin berdehem, cukup keras. "Jadi, kerjasama yang kami maksud adalah kalian akan melakukan penyelidikan di dalam sekolah, jika ada yang mencurigakan bisa kalian laporkan ke kami dan sisanya kami yang akan meneruskan penyelidikan." Jeda sejenak. "Tentu saja kalian butuh data hasil forensik, kan? Atau juga hasil sidik jari? Kalian akan kesusahan jika hanya mengharapkan petunjuk kecil yang berada di TKP."
"Memang benar. Tapi, apa maksud Kakak kalian akan menjalankan penyelidikan ilegal? Tanpa surat perintah?" tanya Andra bingung.
"Tidak. Jangan lupakan bahwa saya kapten tim yang menyelidiki kasus ini. Tentu saja sekarang ini kita dalan masa penyelidikan. Terlalu lambat jika kami mengandalkan petunjuk di TKP yang minim itu. Jika punya agen dalam sekolah, maka kemungkinan analisis mereka bisa dijadikan petunjuk tambahan. Kita belum tahu pembunuhnya siapa, untuk itu tidak menutup kemungkinan kalau pembunuhnya adalah orang-orang di sekitar kalian," terang Tomi.
Mereka termenung, saling melempar tatapan kemudian kompak bergidik. "Maksud Bapak, kemungkinan pembunuhnya itu salah satu siswa?"
"Siswa ataupun siswi. Tidak menutup kemungkinan," kata Tomi.
Annisa meneguk ludah, ngeri membayangkan si pembunuh. "Tapi, kenapa kami?"
"Karena kalian sudah pernah memecahkan kasus sebelumnya. Itu artinya kalian cukup handal. Lagipula, sampai sekarang saya bertanya-tanya, kenapa kalian bisa menemukan si pembunuh? Otak saya tidak habis pikir," kata Tomi nyaris bergumam.
Elka yang berada di sebelahnya itu menyeringai. "Ada hal yang memang tidak akan sampai ke otak orang dewasa," katanya penuh misteri. "Remaja seperti kami, memiliki pemikiran out of the box. Terkadang, hal tidak mungkin bagi orang dewasa justru menjadi yang sering kami lakukan."
Tomi merunduk, menatap Elka. "Maksud kamu?" tanyanya dengan kening terangkat sebelah.
Elka melepaskan rangkulannya. "Kami bisa bekerjasama dengan catatan kami bekerja sesuai dengan mekanisme tim kami. Seperti yang aku bilang, ada sesuatu yang mungkin tidak bisa kalian pikirkan." Elka tersenyum miring sembari bersidekap. "Kami tidak mungkin bermodalkan nekat saja untuk meringkus seorang pembunuh psikopat dua bulan yang lalu."
Lelaki di sampingnya menatap takjub sekaligus gemas. Tangannya mencubit pipi Elka. "Astaga! Gadis cengeng itu sudah keren sekali sekarang!" katanya gemas.
"Saya masih bingung sama poin yang kamu bilang tadi, Elka. Modal? Jadi, modal seperti apa yang kamu maksud?" tanya Karin.
Elka menyilangkan kakinya, bersandar dengan tangan terlipat di depan d**a. "Seperti saya yang tahu banyak tentang gerak tubuh manusia dan ilmu medis, Rimba yang jago bela diri, Vano dan Lea yang jago mengalihkan perhatian atau berkelit, Sam yang jago memanipulasi peralatan canggih dan selebihnya tidak bisa saya jelaskan, yang jelas akan membuat kombinasi baik dalam tim," katanya sembari menyeringai.
Karin dan Tomi terpaku, menatap remaja di depan mereka itu dengan pandangan yang sulit diartikan. "Kalian remaja yang luamayan mengerikan," kata Karin bergedik. "waktu seumuran kalian, aku sibuk belajar atau sesekali ngongkrong, tapi kalian? Berurusan dengan mayat dan kasus pembunuhan?" lanjutnya menggelengkan kepala tak habis pikir.
"Kamu bisa membaca gerak tubuh seseorang?" tanya Tomi, lebih tertarik pada kemampuan Elka.
Elka mengangkat bahu. "Kebetulan saja, aku suka mempelajari gerak bawah sadar manusia. Sejak SD aku banyak membaca buku-buku psikologis."
"Sekalian saja kalian buka jasa detektif swasta." Tomi berkata takjub. "Aku tidak sabar melihat cara kerja kalian."
Elka menyeringai. "Of course. Seperti permintaan aku di awal. Kami bekerja sesuai mekanisme kami, setelahnya kami melapor dan kami punya kewajiban mendapat laporan balik dari kalian."
Tomi tersenyum lebar. "Sure. So, deal?" Sembari menjulurkan tangannya.
"Deal!" Elka menyambut uluran tangan tersebut.