Kamar kos itu berukuran tiga kali tiga meter, di gang yang sempit di belakang pasar Jatinegara, tempat di mana tidak ada orang bertanya nama belakang. Maharani membayar sebulan di muka dengan uang yang ia pinjam dari satu-satunya mantan napi yang masih mau menjawab teleponnya, seorang perempuan bernama Yuli yang dulu sekamar dengannya di blok C dan kini jualan pulsa. Tiga ratus ribu. Yuli tidak bertanya untuk apa. Di antara mereka yang pernah dipenjara, pertanyaan adalah kemewahan yang membahayakan.
Lantai kamar itu dingin oleh keramik murahan. Maharani duduk bersila di atasnya, menyalakan lampu meja kecil, dan mengeluarkan benda yang ia jaga lebih dari nyawanya selama enam tahun: sebuah buku tulis tipis bersampul hitam, halamannya menguning, dijahit ulang dengan benang jagung di bagian yang nyaris lepas. Ia menyelundupkannya keluar di balik lapisan dalam tasnya. Penjaga lapas memeriksa segalanya kecuali apa yang terlihat tidak berharga, dan tidak ada yang lebih tidak berharga di mata mereka daripada buku catatan seorang perempuan yang dianggap gila karena terus menulis angka.
Di halaman pertama, dengan tulisan tangan kecil yang rapat, ada lima nama. Bukan nama lengkap semuanya; ia menulis seperti aktuaris menulis kode, cukup untuk dikenali sendiri, tidak cukup untuk dibaca sipir.
Reza Aljabar. Broker. Tanda tangan.
Tantri W. Penyidik klaim. Laporan.
Nama jaksa, ia tulis hanya dengan inisial dan nomor perkara.
Dokter forensik yang menandatangani visum kebakaran.
Dan di baris kelima, hanya tiga kata: yang di balik. Tanpa nama. Karena ia memang tidak pernah punya namanya. Hanya tahu bahwa ada tangan kelima yang tak pernah muncul di persidangan, tangan yang mengatur agar empat yang lain menari serentak.
Maharani menatap kelima baris itu dan membiarkan ingatan datang. Ia tidak menahannya lagi seperti dulu; di penjara, ingatan adalah racun yang membuat orang berteriak di malam hari. Sekarang ia membutuhkannya. Setiap detail.
Dulu, di lantai sembilan, tugasnya bukan menjual polis. Tugasnya memeriksa apakah harga sebuah polis masuk akal bagi perusahaan reasuransi yang menanggung ulang risiko. Suatu hari ia menemukan sekelompok klaim yang aneh. Tujuh polis jiwa bernilai besar, semuanya diterbitkan dalam rentang waktu berdekatan, semuanya untuk nasabah yang — di atas kertas — tidak punya kebutuhan jelas atas pertanggungan sebesar itu. Sopir, pemilik warung, pensiunan. Orang-orang yang preminya saja seharusnya tak sanggup mereka bayar. Lalu, satu per satu, dalam dua tahun, ketujuhnya meninggal. Kecelakaan tunggal. Tenggelam. Kebakaran. Tergelincir di kamar mandi. Tidak ada satu pun yang ganjil bila dilihat sendiri-sendiri. Tapi Maharani tidak melihat satu-satu. Ia melihat polanya.
Peluang tujuh orang dengan profil seperti itu mati kecelakaan dalam jendela waktu sesempit itu, lalu klaimnya cair sempurna ke penerima manfaat yang ternyata mengalir ke rekening perusahaan cangkang yang sama, adalah angka yang begitu kecil sehingga ia harus menulisnya dalam notasi ilmiah. Itu bukan nasib. Itu desain. Seseorang membeli nyawa orang lain dengan premi, lalu menagih nyawa itu kembali sebagai klaim.
Ia ingat tangannya dingin saat menyusun memo itu. Ia ingat memutuskan untuk melapor — bukan ke atasan langsung, yang tanda tangannya muncul di beberapa berkas itu, melainkan ke kepatuhan. Ia menyimpan satu salinan di rumah, di laci meja kerja kayu suaminya, Arga, di balik tumpukan tagihan listrik.
Arga. Maharani menutup mata sebentar. Arga seorang guru fisika SMA yang tertawa terlalu keras di tempat umum dan selalu kalah berdebat soal angka karena, katanya, dia mengajar konsep, bukan kalkulasi. Mereka menikah empat tahun. Tidak punya anak, belum, masih menunda. Arga yang bilang, malam sebelum semuanya runtuh, "Kalau memang busuk, lapor saja. Aku di belakangmu." Ia tidak tahu bahwa berada di belakang Maharani berarti berdiri di garis tembak.
Tiga hari setelah memo itu masuk ke kepatuhan, rumah mereka terbakar. Maharani sedang lembur — sengaja dipanggil lembur, ia baru paham belakangan. Saat ia pulang, rumah sudah jadi bara. Arga di dalam. Visum bilang ia tewas karena asap. Tapi kemudian penyidikan berbalik dengan kecepatan yang, bila Maharani jujur, mengagumkan dalam kekejamannya.
Muncul polis. Bukan polis yang ia tahu. Sebuah polis jiwa atas nama Arga, bernilai besar, diterbitkan delapan bulan sebelumnya lewat broker bernama Reza Aljabar — dengan tanda tangan pengajuan yang, kata ahli grafologi bayaran, adalah tanda tangan Maharani. Penerima manfaatnya disusun berlapis: bukan langsung Maharani, karena itu akan terlalu telanjang dan gugur oleh aturan bahwa pembunuh tak boleh menerima klaim. Mereka lebih cerdas. Penerima manfaat di atas kertas adalah sebuah badan, sebuah perusahaan cangkang — perusahaan yang sama yang muncul di tujuh klaim mencurigakan tadi — dan penyidik klaim Tantri menyusun laporan yang menyimpulkan bahwa Maharani-lah pemilik manfaat tersembunyi di balik cangkang itu. Forensik kebakaran direkayasa untuk menunjukkan titik api yang disengaja. Jaksa merangkai semuanya jadi sebuah cerita yang rapi dan keji: aktuaris cerdas membunuh suaminya, membakar rumah, demi uang yang dialirkan lewat perusahaan bayangan agar tidak terlacak.
Memo yang ia simpan di laci Arga? Ikut terbakar. Salinan di kantor? Hilang dari server, kata mereka, kerusakan sistem. Setiap bukti yang membersihkannya berubah jadi abu, dan setiap abu disusun ulang jadi tuduhan.
Maharani membuka mata. Lampu meja berkedip sekali karena listrik gang yang labil. Ia menatap lima baris di buku hitam itu, lalu mengeluarkan tabel mortalita yang ia terima pagi tadi dari saku dada. Ia letakkan bersisian. Tangan yang melingkari baris merah itu, ia yakin sekarang, tahu format lama perusahaan. Berarti orang dalam, atau seseorang yang punya akses ke arsip lama. Tantri penyidik klaim punya akses itu. Tantri, yang menyusun laporan palsu. Maharani menggarisbawahi nama itu dengan kukunya.
Kalau benar Tantri yang mengirim, berarti ada satu pelaku yang sekarang lebih takut daripada bangga. Dan rasa takut, Maharani tahu betul, adalah variabel paling bisa diramalkan dari semua perilaku manusia.
Ia menutup buku hitam itu. Ia akan mulai dari yang paling mudah dibaca, bukan yang paling bersalah. Reza dulu. Broker yang tanda tangannya jadi pisau. Orang seperti Reza meninggalkan jejak di mana-mana karena ia tidak pernah membayangkan akan ada yang membaca jejaknya. Maharani membayangkannya. Ia selalu membayangkan apa yang orang kira tak terlihat. Itulah, dulu, yang membuatnya bagus dalam pekerjaannya. Itulah, sekarang, yang akan membuatnya berbahaya.