Nyonya Gerld sedang berdiri di atas menara pengintai yang biasa dia gunakan untuk mengawasi para peserta yang telah memasuki hutan terlarang. Dan senyum yang ada di wajahnya makin cerah saat dia melihat gerbang sudah tertutup dengan sempurna. Yang itu menandakan kalau pada saat ini semua peserta telah ada dalam hutan terlarang.
Gerld tahu kalau semua peserta pasti akan mengeluarkan semua kemampuan terbaik yang dia miliki. Tanpa pernah mau menyerah sedikit pun.
Gerld justru makin tidak sabar. Dia ingin tahu siapa yang pada akhirnya akan memang lagi.
Tahun ini semua peserta punya kekuatan yang berimbang dan mengakibatkan satu sama lain akan saling jegal.
"Bagaimana Nott? Apa kamu sudah mengarahkan Aldric dan gadis dari Klan rendahan itu menuju ke tempat yang sesuai?"
Orang nomor satu di Acavalati itu menarik kursi dan langsung mendaratkan b****g dengan sempurna. Sambil menyesap teh melati yang baru dipetik para pelayanannya, Gerld bisa menikmatinya sambil menyaksikan murid Acavalati berlaga.
Ini akan jadi pertandingan yang sangat seru.
"Sesuai arahan Nyonya. Pangeran Aldric dan temannya akan langsung menghadapi ujian sulit. Selama ini tidak pernah ada yang bisa mengalahkannya Nyonya. Kali ini pun juga. Jadi... kejadian hari ini akan membuat semua orang tidak menyangka," ujar Nott sambil menahan tawa yang siap meledak.
Semua sudah dia atur. Gerld sengaja memberikan lawan yang sangat tangguh untuk Aldric. Dan berharap kalau pria itu akan langsung gugur saat itu juga.
"Jangan terlalu jujur Nott. Kamu juga tidak boleh menertawakan mereka. Bagaimana pun juga mereka ada disini adalah karena aku yang memilih. Kalau kamu menertawakan mereka. Maka sama saja kamu menertawakan ku juga," ucap Gerld dengan senyum yang lebar.
Dia sangat tidak sabar melihat pintu gerbang itu akan terbuka.
"Maafkan saya yang terlalu jujur Nyonya. Tapi itulah kenyataan," ujar Nott dengan sopan. "Saya bahkan berani untuk bertaruh Nyonya. Kalau sebentar lagi pintu akan terbuka karena Pangeran Aldric dan Arabella."
"Jangan meremehkan mereka Nott, mungkin saja mereka bisa sedikit saja menggores ekor peliharaan ku itu. Tapi sebelum menggores, pasti dia sudah lebih dulu di telan," ucap Gerld penuh dengan penyesalan.
***
Lutut Gotta lemas, tubuhnya terhuyung. Seluruh tulang rasanya tidak mampu untuk menopang daging yang masih bersemayam dalam raga. Putri Klan Irni itu shock, dia tidak pernah menyangka jika dengan mata kepala sendiri, dia harus menyaksikan makhluk berortuah milik Klan nya di tebas dengan begitu sadis.
Air mata darah, serasa tidak akan sanggup untuk mengungkapkan kesedihan dari Gotta.
"Freya... kau tidak tahu betapa berharganya naga itu untuk Klan kami. Kau tidak berhak membunuh nya!" hardik Gotta dengan kemarahan yang begitu membumbung tinggi.
Dia sudah tidak peduli lagi. Mau Freya adalah Tuan putri dari negeri sihir atau calon penerus Retori. Yang jelas gadis itu telah dengan sengaja menginjak harga diri Klan Irni.
"Bukanya kau berambisi lolos seleksi selanjutnya? Aku hanya coba mengabulkan. Dimana salahnya?" tanya Freya dengan enteng. Gadis cantik itu mengendik kan bahu tidak mengerti. Sedang tangan kanan menenteng kepala Naga yang berlumur darah.
Senyum begitu mengembang. Tidak ada perasaan bersalah sama sekali. Freya rasa tak pernah berdosa sedikit pun.
"Kalau begitu kenapa tidak kau tebas kepalamu sendiri."
Sring.
Gotta yang naik pitam langsung menghunus pedang dan mengarahkan pada leher Freya. Sungguh dia tidak mau menerima alasan apapun yang Freya katakan. Yang dia tahu. Freya telah menghilangkan nyawa naga kesayangan nya.
"Kau berbicara kasar padaku? Orang rendahan seperti mu? Apa perlu aku memenggal kepala mu sebagai ganti naga ini?" tawar Freya dengan nada meremehkan.
Putri Mahkota itu benar benar menunjukkan kalau dia adalah putri dari Retori. Rasa simpati yang dimiliki benar benar telah mati. Bahkan meski saat ini kepala nya sedang di todong dengan pedang. Tidak sedikit pun dia ketakutan. Justru yang ada dia terus menantang.
"Kau fikir aku main main? Aku tidak takut meski kau adalah putri Retori!" teriak Gotta dengan mengayunkan pedang tepat pada leher Freya.
***
"Aldric...!" teriak Arabella sangat keras, saat di hadapan nya muncul sesosok makhluk yang sangat mengerikan.
Ular berkepala tiga. Yang tingginya jauh lebih tinggi dari pada pohon raksasa yang ada di hutan, sedang panjang ular itu mencapai puluhan meter, entahlah, yang pasti Arabella tidak melihat dimana ujung ekor sang predator.
Nafas Ara hampir saja tercekat saat predator purba itu menatap dirinya tajam seakan siap untuk memangsa.
Sekali ular itu membuka mulut. Aldric dan Arabella mungkin akan tertelan hidup hidup.
"Aku hanya terbiasa mengusir ular sawah dari lahan pertanian. Tapi aku tidak yakin apa mantra ku akan mempan!" ujar Ara sambil terus mundur sambil menyeret kaki.
Nerthus sudah berulang kali mengajarkan mantra penjagaan untuk melindungi perkampungan Sigyn dan juga lahan pertanian. Tikus, belalang dan ular sawah sering Ara coba singkirkan. Itu pun tak pernah berhasil, yang ada Ara justru menambah jumlahnya.
Dan sekarang? Dia tidak yakin mantra nya akan mempan pada ular raksasa tersebut.
"Seperti dugaan ku. Kamu tidak berguna dan juga keras kepala," sindir Aldric dengan santai. Pria itu tidak takut sama sekali dan justru tersenyum remeh dalam menghadapi predator itu. Seakan saat ini yang sedang dia hadapi adalah semut kecil.
"Ap-apa aku akan selamat jika naik ke ranting pohon itu? Seperti katamu tadi?"
"Tergantung kamu. Masih mau hidup atau... sudah ingin pergi ke neraka?"
"Masih ingin hidup!" jawab Arabella secara pasti. Dia buru buru naik ke atas ranting dengan susah payah. Sambil berharap harap cemas semoga Aldric tidak menipu dirinya.
Semakin di perhatian, makhluk itu semakin menakutkan. Ia terus berderik hinga menampilkan taring runcing yang seakan siap mengoyak tubuh siapa saja. Tidak terkecuali dengan mereka berdua.
"Padahal aku fikir bisa santai santai dulu. Ternyata Gerld ingin segera kau memangsaku? Kalau memang seperti itu, harusnya dia kirim makhluk yang lebih tanggung. Sayang sekali, si orang tua itu memilihKau... yang terlalu lemah!" ujar Aldric sambil melempar satu buah ranting tepat pada bagian tengah kepala.
Jrep.
Ranting itu menempel tepat pada kepala ular tengah hingga membuat dua kepala yang lain murka dan mulai kelimpungan.
Kepala sebelah kiri ingin menyerang Aldric, sedang kepala sebelah kanan, justru sibuk berputar putar. Dan kepala tengah sedang kesakitan hingga membuat tubuh ular kejang kejang.
Pada akhirnya tiga kepala ular itu punya visi masing masing yang membuat saling serang. Dan justru mengabaikan Aldric.
Hal itu langsung di manfaatkan oleh Aldric dengan menancapkan anak panah pada tubuh ular purba itu.