"Terbang?" tanya Arabella dengan bodoh.
Dia bukan burung jadi bagaimana caranya dia bisa terbang? Lagi pula selama ini Klan Sigyn hanya mengajari Ara cara mengobati orang. Tidak pernah ada materi tentang terbang. Wajar jika dia tidak bisa. Bukankah untuk hal serumit itu seharusnya orang sehebat Pangeran Aldric bisa melakukannya? Untuk apa susah susah meminta bantuan orang klan rebahan seperti dirinya? Bukankah itu terlalu lucu?
"Iya terbang. Bisa tidak?"
Perlahan Arabella menggelengkan kepala dengan lemah. Dia memang tidak bisa untuk terbang.
"Ck... sudah aku duga. Kamu pasti tidak akan berguna. Sial. Kenapa aku harus berpatner dengan orang yang tidak punya bakat seperti mu!" umpat Pangeran Aldric dengan terus menyusuri hutan belantara itu.
Misi kali ini adalah menangkap satu binatang purba yang ada di hutan terlarang itu. Tidak peduli apapun bentuknya. Dan Aldric berencana menangkap binatang purba langka yang konon katanya hanya ada satu di hutan ini.
Binatang itu bernama Arctodus, ia punya bulu yang lebat dan bisa berlari cepat dan jangan lupakan tingginya yang mencapai lima kali lipat dari manusia pada umumnya.
Dongeng yang beredar, dia adalah saudara kembar Nyonya Gerld, dimana mereka adalah kakak beradik. Sayang, sang adik tidak pernah bisa kembali menjadi manusia setelah pelatihan di Acavalati bepuluh tahun yang lalu. Hal yang membuat Nyonya Gerld mencarinya hingga detik ini.
Sayembara macam ini sudah sering di gelar Nyonya Gerld. Sayang, tidak pernah ada yang berhasil menangkap Arthodus. Para peserta justru menemukan binatang purba yang lain. Dan Aldric sangat berambisi untuk menemukan binatang purba itu. Apapun caranya. Bukankah akan sangat menyenangkan jika ia berhasil menangkap adik Nyonya Gerld?
Mungkin dengan cara itu, kepala sekolah Acavalati itu tidak akan terus berlaku berat sebelah dengan terus membela Freya.
Arabella agak tersinggung atas ucapan Aldric, tapi dia juga tidak dapat menampik kalau ucapan Pangeran Bath itu ada benarnya.
"Kalau begitu. Kenapa tidak kamu saja yang mengeluarkan kemampuan terbang mu, Pangeran Aldric-"
"Kalau aku bisa melakukannya aku tidak akan meminta mu!" jawab Aldric dengan cepat.
Pangeran dari Bath itu mulai mematahkan ranting ranting pohon dan menumpuknya menjadi tinggi. Arabella tidak tahu apa yang hendak di lakukan Aldric, hanya saja yang cukup membuat nya heran adalah kenyataan bahwa pangeran Bath itu tidak bisa terbang.
"Ap-apa kamu tidak bisa terbang? Kalau kita sama sama tidak bisa terbang apakah itu artinya kita akan menyusuri jalan ini dengan jalan kaki? Apakah itu tidak akan menghabiskan waktu?"
Hutan tersebut sangat luas. Lebih luas dari pada Acavalati yang sangat megah. Tidak akan cukup sehari untuk mereka mengelilinginya. Apalagi waktu yang di berikan oleh Nyonya Gerld hanya tiga puluh menit. Bisa bisa saat mereka baru sampai tepian hutan, waktu habis dan mereka akan di eliminasi.
"Ya menurut mu? Mau bagaimana lagi? Kalau kau malas berjalan, silahkan merangkak. Sudahlah, dari pada kau sibuk bicara tidak penting. Lebih baik kamu bantu aku kumpulkan ranting!"
Masih dengan busur panah yang disandang, Aldric terus bergerak cepat, mengumpulkan ranting pohon dan membentuknya menjadi gunungan yang meninggi.
Aldric semakin mempercepat gerakan. Dia tidak boleh kalah dari Freya yang mungkin pada saat ini sudah berusaha menemukan binatang purba di hutan.
"Kita akan membuat api unggun di hutan?"
"Tentu saja! Kita akan membuat api unggun dan membangun tenda. Kita akan piknik disini dan bernyanyi. Itu kan jawaban bodoh yang ingin kamu dengar?" tutur Aldric dengan menyindir.
Lama lama dia kesal melihat kebodohan gadis dari Sigyn itu.
"Aku kan hanya bertanya. Sebagai partner mu kali ini. Kita seharusnya saling terbuka satu sama lain agar bisa saling melengkapi. Kalau aku tidak tahu maksud dan tujuan mu mengumpulkan ranting ini, bagaimana aku bisa membantu mu-"
"Kau dengar suara itu?" tanya Aldric sambil meletakkan jari telunjuk di bibir Arabella. Pria itu menajamkan pendengaran saat dia merasa ranting dan dahan pohon di sekitar seperti sedang di injak secara bersama oleh beberapa puluh orang.
Aldric yang terbiasa menghadapi bahaya mulai melirik sekitar dengan waspada.
"Tidak. Satu satunya yang aku dengar adalah suara perut ku yang lapar! Kenapa memangnya?" tanya Arabella dengan bodoh. Dia mengucapkan kalimat itu setengah berbisik sama persis seperti yang di lakukan oleh Aldric barusan.
"Jangan bermain main bodoh. Bahaya sedang mengancam kita! Naik ke ranting itu!" perintah Aldric dengan penuh penekanan.
Pangeran tampan dari Bath itu buru buru menarik busur panah dan mulai mengawasi sekitar. Begitu musuh datang. Dia akan langsung melepaskan busur panah.
"Naik? Untuk apa? Tunggu... kamu tidak sedang berusaha menjadi aku tunbal penunggu hutan ini kan Aldric? Kamu tampak sangat mencurigakan. Tadi kau menyuruh aku mencari ranting dan sekarang kamu justru meminta aku berdiri di tengah tengah nya? Jangan bilang kamu ingin menbakar aku disini?"
Wajar saja jika Arabella curiga. Sejak tadi Aldric terus melakukan hal yang aneh. Bisa saja saat ini Aldric berusaha untuk menjebaknya. Meski saat ini mereka berpatner, tetap saja sebenarnya mereka adalah rival.
Victori kemarin berpesan agar Arabella tidak mudah percaya dengan siapa pun. Apalagi pada orang yang lebih kuat. Karena orang yang lebih kuat biasanya punya otak licik.
"Kalau aku ingin membunuh mu. Sudah aku lakukan sejak awal! Jadi berhenti untuk bersikap bodoh! Cepat naik ke ranting itu!" perintah Aldric untuk sekali lagi.
Pangeran Bath itu mulai berputar putar sambil mengarahkan busur panah kesegala arah. Dia tidak bisa tenang sebelum menemukan sumber suara tersebut.
"Tidak. Aku tidak akan naik ke ranting itu!" tolak Arabella dengan keras. Dia bahkan berani melipat kedua tangan di depan d**a. Seakan menantang apa yang di perintah kan oleh Aldric.
"Keras kepala!" maki Aldric marah. "Jika ada apa apa jangan salahkan aku!"
Srk... Srk... Srk....
Suara dahan dahan yang tersapu lengkap dengan ranting yang patah semakin terdengar semakin dekat. Dan kali ini suara itu bukan hanya di dengar oleh Aldric tapi oleh Arabella juga.
"Su-suara apa itu?" tanya Arabella dengan berigik ngeri. Dia merasa seperti ada orang yang datang berbondong-bondong dengan berlari ke arah mereka.
Stsss... Stsss.....
Semakin dekat suara itu kini terdengar suara lain. Derikan dan desisan yang mirip ular namun suaranya sangat besar dan cukup memekik kan telinga.
Daun daun kecil di sekitar Arabella perlahan bergerak kencang dengan arah yang memutar. Arabella merasa kalau musuh sedang mengepung dirinya dari segala arah.
Krek... Stsss...
"Aldric...!" teriak Arabella ketakutan saat di depan nya muncul sebuah makhluk yang mengerikan.
***
"Princess... jadi apa yang akan kita tangkap? Dinosaurus? Piranha atau Anakonda? Kau tenang saja Princes. Aku bisa di andalkan dalam setiap hal. Kau tidak perlu khawatir aku akan melakukan hal yang menyusahkan mu!"
Gotta tidak pernah berhenti untuk mempromosikan diri supaya tampak hebat di depan Freya. Dia enggan di cap aji mumpung dan memanfaatkan kekuatan sang putri untuk lolos ke tahap yang berikut nya. Gadis dari Irni itu akan menunjukkan kalau dia punya bakat yang tidak bisa untuk dianggap sebelah mata.
Bahkan kalau Freya mau membuka sedikit saja mata. Maka dapat di ketahui kalau Gotta adalah seorang penyihir yang begitu berbakat.
Senyum di bibir Freya menyungging. Seakan meremehkan Gotta dalam urusan saat ini.
"Kamu fikir Gerld akan menerima hasil buruan remeh seperti itu? Gotta... Gotta... kamu hanya akan di tertawakan oleh seluruh penghuni Acavalati!" jawab Freya dengan terus duduk di ayunan. Gadis cantik itu tidak melakukan hal apapun sedari tadi.
Mungkin ini sudah menit ke sepuluh kedua nya tidak melakukan apapun.
Gotta mulai geram dan ingin rasanya menarik Freya dari tempat santainya itu. Putri dari Retori itu seakan tidak berniat melakukan perburuan. Atau jangan jangan dia memang sengaja melakukan itu agar Gotta tereliminasi.
"Lalu kita akan mencari binatang yang seperti apa Tuan Putri? Katakanlah. Aku akan mencari nya. Waktu kita tidak banyak."
Dengan suara yang jauh lebih nyaring. Gotta berucap pada Freya. Dia berharap kalau Freya mau sedikit berusaha.
"Binatang yang bagaimana? Emm... yang pasti harus sesuatu yang luar biasa. Yang saat Gerld melihatnya dia akan langsung senang. Contoh nya adalah beruang Arthodus! Tapi... sesuatu yang seperti itu tidak akan mudah untuk di dapatkan, kan?" tanya Freya penuh dengan arti.
"Maksud mu apa Putri Freya? Sejak tadi kamu selalu bicara berputar putar. Waktu kita tidak banyak. Jadi bisa tidak kalau kita segera mencari hewan buruan itu? Aku tidak mau di eliminasi!"
Sedari tadi. Freya hanya terus membicarakan tentang hal yang tidak penting sama sekali. Padahal mereka sedang di buru waktu.
Gotta tidak mau jika Freya hanya membuang buang waktunya. Tahu begini, Gotta tidak akan sudi untuk menjadi Partner Freya. Hanya menambah beban saja.
"Tidak perlu buru buru seperti itu Gotta. Ini hutan terlarang. Dengan kita bisa keluar hidup hidup saja sudah syukur. Tidak perlu takut akan ada yang mendahului kita menangkap buruan!" jawab Freya dengan enteng.
Freya sangat tahu karakteristik hutan terlarang yang sedang mereka singgahi.
Hutan tersebut sangat ganas. Hingga tidak jarang banyak para penyihir yang tidak akan sanggup untuk keluar hidup hidup.
Jangan kan membawa binatang purba seperti permintaan Nyonya Gerld. Dengan mereka bisa membawa nyawa saja sudah suatu anugrah.
Karena itu sejak tadi Freya hanya duduk di pinggiran hutan tanpa melakukan apapun. Karena dia faham. Maksud dari Nyonya Gerld mengatakan dua terbawah akan tereliminasi adalah akan ada dua orang yang akan jadi korban hutan terlarang. Dengan kata lain, tanpa perlu di eliminasi, akan ada yang mati.
Dan hutan akan melepaskan peserta yang lain jika sudah ada yang mati. Begitulah aturan main nya.
Itu artinya, permainan berburu binatang purba pada saat ini punya arti siapa yang kuat dia yang akan bertahan. Karena itu, Freya tidak mau buang buang waktu untuk melawan makhluk makluk terkutuk di dalam hutan. Dia lebih baik menunggu di tepian hutan.
"Maksud nya?"
"Mereka yang bisa melawan binatang purba akan bisa memenggal kepala binatang itu kemudian membawanya ke hadapan Gerld. Yang tidak? Tentu akan jadi santapan para binatang mengerikan itu. Kamu tidak mau kan jadi santapan para binatang itu?"
Gotta menggelengkan kepala, kemudian duduk di samping Freya dengan wajah pucat pasi. Dia takut dengan cerita yang di sampai kan oleh Freya namun dia juga takut di eliminasi.
"Jadi kita akan tetap disini? Lalu bagaimana jika ada yang berhasil keluar dari hutan dan membawa kepala hewan purba? Kita akan tetap di eliminasi!"
Diam salah. Bergerak juga sama saja akan salah. Meski pun mereka ketakutan dengan segala bahaya di dalam hutan terlarang. Tapi bukan berarti mereka harus diam dan tidak melakukan sesuatu.
Itu akan membuat mereka seperti pecundang.
"Kita tidak akan kalah. Aku yang menjamin nya!"
"Kenapa kamu bisa seyakin itu?"
"Aku dengar orang orang di Irni memelihara Naga terbang emas. Itu hanya bualan untuk menaikkan derajat klan kalian, kan? Hal semacam itu tidak ada lagi di dunia ini!" ejek Freya dengan mencebik kan bibir. Membuat Gotta ingin merobek mulut dari putri Retori itu.
"Jangan asal bicara Putri Freya! Kabar itu memang benar adanya. Klan Irni punya naga emas dan itu nyata!"
Gotta merasa tersinggung karena Freya telah meremehkan Klan nya.
Naga emas memang benar benar dimiliki oleh Klan Irni. Bahkan Naga emas itu adalah sumber penghasilan Klan Irni. Jelas Gotta marah saat Freya bilang jika semua itu adalah kabar bohong.
Lagi pula mereka sedang membicarakan tentang buruan binatang purba. Entah bagaimana caranya Freya justru mengalihkan pembicaraan jadi Naga emas milik Klan Irni.
"Ohh ya? Kalau begitu buktikan. Bawa Naga itu kemari. Jika tidak bisa. Maka sudah pasti kamu bohong!" tantang Freya lagi.
***
Gotta membunyikan siul dan nyanyian khas Klan Irni. Itu dia lakukan untuk memanggil Naga terbang peliharaan keluarganya.
Dengan silsilah Gotta sebagai keturunan langsung Klan Irni membuat gadis itu dapat memanggil sang Naga.
Suit.... suit... suit...
Tiga kali siulan itu berbunyi dan tak selang lama. Sebuah ular terbang dengan mahkota besar datang menghampiri Gotta.
Makhluk itu punya sisik emas dan mahkota yang penuh dengan permata.
Dan ini adalah pertama kali Freya melihat naga terbang emas di depan mata. Mahluk mitologi itu benar benar ada dan bukan isapan jempol.
"Bagaimana? Aku tidak bohong kan? Klan Irni memang punya Naga. Dan ini adalah kebanggaan kami!" ujar Gotta dengan begitu bangga. Dia sangat senang karena berhasil membuat Freya tidak bisa berkata kata dan menyesali perkataan nya.
Sedari awal tidak seharusnya Freya meremehkan Klan Irni.
"Wahh... Menakjubkan! Ini benar benar nyata!" ujar Freya, sembari mendekat dan mulai membelai leher Naga emas itu.
Senyum yang ada di bibir Freya makin lebar, apalagi saat ia menghunus pedang panjangnya dan langsung menebas kepala Naga itu hingga terputus.
"Freya... apa yang kau lakukan!" jerit Gotta dengan mata merah padam. Gadis itu Shock berat melihat Naga milik nya tewas di tangan Freya.
"Mengambil hewan buruan kita. Kau bilang tidak ingin di eliminasi?" tanya Freya tanpa rasa bersalah.