"Jangan lakukan hal gila Eric. Adikmu bisa saja didiskualifikasi jika kamu ikut campur dalam masalah ini. Lagi pula ayah tidak pernah suka kalian menjadi pengecut. Biarkan Aldric menang karena kemampuannya sendiri."
Fredrick sangat tidak setuju saat Eric mengatakan akan membantu sang adik saat nanti ada dalam keadaan yang mendesak. Karena menurut Fredrick hal itu terlalu beresiko. Lagi pula Raja Bath itu tidak mau jika sang putra menang karena hasil curang.
Sedari awal sudah Fredrick katakan jika tugas Eric hanya sebatas membantu adiknya agar bisa bertahan di Acavalati seperti dirinya dulu.
Eric berhasil mencapai peringkat dua tertinggi bersama dengan putra sulung Retori.
Saat itu semua orang tahu, jika kemampuan Eric sangat jauh di atas putra Retori. Dan Eric akan keluar sebagai raja yang baru. Sayang, kecurangan yang di lakukan Retori dan putranya membuat Eric tumbang dan berakhir mengenaskan seperti sekarang.
Meski begitu, Fredrick tidak akan membiarkan Putranya melakukan hal yang seperti itu. Menurutnya itu terlalu memalukan.
Klan Bath adalah Klan Ksatria. Bukan pengecut seperti Retori.
"Tapi Gerd juga kembali melakukan kecurangan Ayah. Dia kembali memihak pada putri Retori. Lantas kenapa aku harus diam saja saat melihat adik ku di sakiti? Lihat saja, aku akan buat Gerld dan putri manja Retori itu menyesal karena telah main main dengan ku."
Eric tidak pernah berhenti menaruh dendam pada keluarga Retori. Dia akan membuat keluarga itu menerima balasan atas apa yang pernah mereka lakukan dulu padanya.
"Sudahi dendammu Eric. Itu hanya akan membuat kamu hidup dalam kesengsaraan."
Fredrick sangat faham jika Eric sangat kecewa pada takdir yang dia jalani. Namun bukan berarti pria itu akan hidup dalam kehancuran. Fredrick sudah berjanji akan berusaha keras mengembalikan kepala Eric seperti sedia kala. Karena itu dia meminta sang putra sulung mau sabar sedikit saja.
"Untuk apa aku menyudahi dendam? Retori dan para kroninya sudah membuat hidupku hancur. Kali ini aku tidak akan membiarkan dia juga menghancurkan hidup Aldric. Sebagai ganti, aku akan membuat hidup putri Retori seperti di neraka!"
Keputusan Eric sudah sangat final. Dia tidak akan mengubah apapun. Sekali dia bilang akan hancurkan Freya maka dia akan hancurkan Freya. Mau sang ayah melarang itu tidak akan pernah jadi halangan.
Toh menurut Aldric, selamat ini orang orang tidak pernah tahu bagaimana tersiksa nya hidup dengan kepala musang. Dan semua itu terjadi atas ulah Retori.
"Kenapa kamu masih saja tetap keras kepala?"
"Aku tahu apa yang harus aku lakukan!" jawab Eric dengan datar. Dia pergi meninggalkan sang Ayah dengan begitu saja.
***
Aldric hanya bisa tersenyum remeh saat mendengar pernyataan polos dari Arabella. Gadis itu benar benar telah termakan perkataan dari Nyonya Gerld. Padahal wanita tua itu tidak lebih dari nenek sihir yang kejam.
Mungkin itu adalah salah satu alasan kenapa Klan dari keluarga rendahan sering kali tersingkir di seleksi awal. Itu semua karena mereka percaya dengan Nyonya Gerld yang sama sekali tidak bisa untuk di percaya.
Nenek tua itu hanya akan mengabdikan diri untuk Retori yang kejam.
"Aku dengar Klan mu mendapatkan makanan dan juga pakaian yang bagus? Nah... semua itu harus di ganti dengan nyawamu. Tidak ada yang gratis di dunia ini!" ungkap Aldric dengan senyuman yang miris.
"Apa?" tanya Arabella tidak percaya. Dia masih yakin kalau kedatangannya ke Acavalati adalah sungguhan untuk belajar ilmu sihir dan kemudian bisa untuk melindungi Klan nya. Tidak sangka jika semua ini adalah sebuah jebakan.
"Ya. Itu lah kenyataannya. Kita hanya tumbal disini. Kalau kau masih ingin tetap hidup... jangan pernah beranjak dari tumpukan ranting pohon. Setidaknya kita harus bertahan sampai ada yang mati!" ungkap Aldric enteng. Seakan ucapan yang baru saja keluar dari mulutnya itu tidak berarti sama sekali.
Pangeran dari Bath itu membicarakan nyawa manusia seperti sedang membicarakan barang.
"Jadi... sedari tadi kamu mengumpulkan ranting ranting pohon untuk melindungi ku?"
"Ck... tidak usah besar kepala. Aku melakukan ini untuk melindungi diri sendiri. Tapi karena kita satu team, mau tidak mau aku harus menyelamatkan manusia beban seperti mu!" sanggah Aldric kemudian.
Aldric melakukan sesuai dengan perintah Eric sang kakak. Kalau jika saat seleksi di hutan terlarang. Aldric hanya perlu menumpuk ranting pohon setinggi mungkin, kemudian memantrai dengan sihir alam bawah sadar keluarga Bath, dengan begitu ia bisa terhind dari segala pemangsa yang ada di hutan terlarang tersebut.
"Maaf karena sudah mencurigai mu," ujar Arabella dengan penuh penyesalan.
Dia merasa tidak enak. Karena sejak awal meragukao Aldric. Tapi nyatanya justru pemuda arogan itu yang melindungi dirinya.
"Hemm... aku tahu, orang seperti mu pasti sulit untuk membedakan mana benar dan mana yang salah. Ck... pasti saat ini anak manja itu sedang bersantai santai!" keluh Aldric sambil membaringkan tubuh pada tumpukan ranting. Pemuda itu memejamkan mata. Meski mulutnya tidak pernah berhenti bersuara.
"Tapi tidak apa apa. Aku sudah mengirim hadiah untuknya. Aku harap dia menyukainya!" tutur Aldric dengan senyum jahil.
"Anak manja? Hadiah? Siapa?"
"Siapa lagi jika bukan Tuan Putri Freya yang terhormat? Gerld pasti mengamankan gadis itu agar tidak lecet meski ujung kukunya!" ujar pangeran Bath itu dengan mencibir.
Aldric tentu tidak akan lupa. Bagaimana kemarin Gerld hampir saja terkena serangan jantung saat Freya di teleportasi ke lautan lepas.
Kepala sekolah Acavalati itu bahkan sampai memohon agar Aldric mengembalikan Freya.
"Kamu tidak melakukan sesuatu yang buruk kan padanya? Maksud ku kamu tidak bisa membahayakan seorang wanita!"
"Siapa yang bilang Freya itu seorang wanita? Dia itu iblis. Dan karena itu aku menghadiahkan teman iblis untuknya!" tutur Aldric penuh dengan penekanan. Dia sama sekali tidak peduli. Meski, Freya seorang perempuan.
***
Gotta sudah mengayunkan pedang dengan keras untuk bisa menebas leher Freya, sama persis seperti yang di lakukan Freya pada Naga terbangnya. Namun saat senjata tajam itu akan sampai pada kulit, tiba tiba Gotta terpental jauh.
"Ahhh...," jerit Gotta saat merasa kesakitan, setelah punggung menabrak pohon.
Sekeras mungkin Gotta menahan, tapi rasa sakit itu tidak dapat di tahan.
"Harusnya kamu bersyukur bisa menjadi partner ku. Kalau tidak, saat ini kamu sudah dimangsa penunggu hutan terlarang ini!" ungkap Freya dengan sombong.
Orang seperti Gotta tidak pernah pantas melawan Tuan Putri. Setidaknya itu menurut Freya.
Dengan gerakan angkuh. Freya berbalik badan hendak meninggalkan Gotta yang masih di penuhi amarah. Namun makhluk bertaring di depannya membuat Freya membeku.
"Aldric...!" erang Freya tertahan.