"Aku tahu kalau adikku selalu bisa untuk diandalkan!"
Eric merasa sangat bangga saat memantau keadaan di hutan terlarang dan sang adik bisa mengatasi segala predator dengan sangat baik. Bukan hanya itu, Aldric bahkan dengan sangat berani mengirimkan sihir ilmu Hitam kepada putri kesayangan Retori. Jika sampai raja bengis itu tahu, pasti pada saat ini akan murka.
Tapi bagi Eric, itu tidak akan pernah jadi masalah. Karena jika sampai Retori ikut campur. Maka Eric akan menjadi orang pertama yang akan pasang badan. Tidak akan pernah Eric biarkan, Aldric menanggung semua sendiri.
"Aku akan pastikan kamu mendapatkan kamu aman Aldric. Tapi jangan lupa balaskan dendam ku!"
Eric mulai menggumamkan mantra mantra yang akan membantu Aldric di dalam hutan terlarang. Sebagai seorang kakak, dia tidak akan pernah membiarkan adiknya dalam kesusahan.
"Dasar keras kepala. Dia masih saja terus berusaha balas dendam dan kali ini justru menggunakan adiknya sendiri."
Frederick hanya bisa melihat putra tertua nya masih saja terus tidak pernah mau untuk berhenti untuk menghancurkan orang orang yang telah merubah dirinya menjadi berkepala musang. Bahkan selama ini dia tidak keberatan untuk mengajari adiknya menjadi tangguh. Agar bisa menjadi pemenang di Acavalati nanti.
Termasuk hingga saat ini. Eric tak pernah berhenti ikut campur dalam urusan adiknya.
"Tuan maaf mengganggu... tapi ada yang perlu untuk saya katakan."
Saat Frederick sedang sibuk melihat Eric yang sedang fokus pada mantranya. Tangan kanan yang dia jadikan mata mata muncul dengan secarilk kertas yang dia genggam di tangan kanan.
"Ada apa? Apa ada hal penting yang akan kamu sampai kan?"
"Ya Tuan. Ini soal ramalan kuno kwanta!"
Pria bernama Zey itu memberikan kertas yang berisi serangkaian simbul kepada sang raja. Meski pun telah usang, namun Frederick sangat bisa membaca itu dengan jelas.
"Saya rasa klan raja masih benar benar ada di kwanta. Hanya saja mereka sedang menyembunyikan diri."
Jelas dalam ramalan yang ditulis menggunakan gambar. Ada sebuah bintang yang terus bersinar hingga kini, dan bintang itu sama persis dengan gambar bintang para raja terdahulu. Itu mengartikan jika klan raja asli tidak pernah punah seperti yang selama ini Retori katakan.
"Apa Carvati sendiri yang mengatakan ini?"
Frederick hanya akan percaya jika wanita tua yang suka bersembunyi di goa itu yang menulisnya langsung. Karena dialah satu satunya orang yang tidak punya kepentingan khusus di kwanta.
Maka apapun yang dia katakan pasti berarti kebenaran.
"Benar Tuan. Ini Carvati sendiri yang menulis. Dia bilang Klan tersebut masuk ke Acavalati pada tahun ini!" imbuh Zey kemudian.
***
"Kamu akan membahayakan Gotta juga jika mengirim sihir pada Putri Freya! Pangeran Aldric...! Kumohon berhenti main main!" pinta Arabella dengan memohon.
Arabella tidak mau korban semakin berjatuhan. Harusnya, mereka semua saling melindungi. Bukan saling membunuh seperti saat ini.
"Aku tidak ingin ada yang mati Pangeran Aldric. Apalagi orang itu adalah teman ku."
"Siapa bilang akan ada yang mati? Tenang saja. Tidak akan ada yang mati. Mungkin hanya sedikit gila saja!" jawab Aldric dengan senyum seringai.
***
Nyonya Gerld sudah mengatur semua sebaik mungkin. Nenek tua itu sengaja memasangkan Freya dengan Gotta, agar sang putri tidak perlu masuk ke dalam hutan terlarang lantas melawan para makhluk mengerikan yang bisa mengancam saja.
Tentu saja, orang nomor satu di Acavalati itu tahu jika Klan Irni memelihara makhluk mitologi itu. Dan dengan segala kelicikan nya. Nyonya Gerld menyarankan agar Freya memenggal naga terbang milik Gotta agar tidak perlu berburu hewan purba. Putri dari Retori itu cukup duduk manis di pinggiran hutan, kemudian hewan itu datang sendiri.
Tapi lihatlah apa yang ada di depan matanya pada saat ini. Sesosok makhluk mengerikan dengan taring panjang telah berdiri di depan nya menyeringai.
Tidak ada satupun orang yang kurang kerjaan yang di kenal oleh Freya selain Aldric. Di tambah, klan Bath adalah ahli ilmu hitam. Pasti Aldric lah orang yang telah memanggil mahluk mengerikan tersebut.
"Aldric rupanya kamu belum puas main main dengan ku?" ujar Freya dengan gigi yang bergemelatuk.
Kekesalan dari Freya sudah tidak bisa lagi di tahan. Pangeran dari Bath itu selalu saja mencari masalah. Lama lama Freya muak.
Dengan pedang yang masih berlumur darah. Freya menantang makhluk mengerikan itu.
"Pasti Aldric kan? Yang telah mengirimkan kamu kesini? Lain kali bilang padanya. Untuk mengirim mahluk yang jauh lebih pintar dari kamu!" hina Freya dengan seringai.
Freya melempar pedang dan mengenai mata mahluk bengis itu dengan seketika. Tidak selang lama mahluk itu ambruk dan tergeletak di lantai. Membuat Freya menyunggingkan senyum lebar.
"Freya... urusan kita belum selesai-"
"Stsss... jangan banyak bicara! Sudah bagus aku mau untuk melindungi mu!" ujar Freya dengan ponggah. Gadis itu merasa hebat karena berhasil untuk melawan makhluk kiriman Aldric hanya dengan sekali tebas. Dia sangat yakin jika pada saat ini Gotta sangat terkesan dengan kemampuan nya.
Sudah Freya katakan jika Aldric bukan lawan yang sebanding untuk dirinya. Pemuda dari Bath itu tidak lebih dari kerikil jalanan.
"Ck... siapa yang melindungi siapa? Sebenarnya kau ini bicara apa si? Sudah gila ya?" hardik Gotta dengan kesal.
" Huahaa... kau fikir aku bisa mati dengan begitu saja? Hahaha... tidak semudah itu anak manja!"
Tanpa pernah Freya duga. Makhluk bertaring yang tadi sudah mati di tanah tiba tiba bangkit dan hendak menyerang dirinya lagi.
"Sial! Ternyata mahluk itu tidak mudah mati!" umpat Sia saat melihat mahluk tersebut bangkit kembali dan seakan tidak bisa mati. Sekalipun Freya sudah berhasil melumpuhkannya. Bahkan luka luka yang di dapat makhluk tersebut hilang dengan seketika. Jelas saja Freya kaget akan hal itu.
"Kenapa Tuan Putri? Kau kaget aku bisa bangkit lagi? Asal kamu tahu, aku tidak akan bisa mati! Hahaha!"
Raksasa itu menertawakan Freya dengan lantang. Dengan semakin mendekati Freya. Raksasa itu telah berhasil membuat ketakutan di hati Freya. Putri dari Retori itu mulai kelimpungan. Mencari dimana titik kelemahan musuh.
"Tidak mungkin makhluk jelek ini tidak bisa di kalahkan. Dia pasti bisa dibunuh! Tapi bagaimana caranya?" tanya Freya dalam hati. Dia berusaha mencari cara untuk mengalahkan si raksasa dengan terus berlari kesana kemari karena si Raksasa hendak menangkap nya.
"Apa Freya sudah gila?" gumam Gotta dengan tatapan penuh cibiran.
Jujur saja dia tidak mengerti, mengapa Freya terus berlari ke sana kemari dengan membawa pedang.
Gadis itu bertindak seolah olah sedang melawan musuh. Padahal tidak ada siapapun di depan nya pada saat ini.
Freya hanya berkelahi dengan angin.