Angin berhembus sangat kencang hingga membuat daun daun bergerak kesana kemari disusul dengan awan yang mulai mengabut hingga membuat hari gelap seketika.
Semua peserta yang ada di hutan terlarang mulai saling pandang dengan patner masing masing. Saat ini sedang musim panas. Harusnya janggal bila badai datang. Tapi ini adalah Acavalati. Tempat ribuan penyihir berkumpul. Hal hal tidak masuk akal seperti ini sudah sepantasnya bisa saja terjadi.
Tidak ada yang tidak mungkin terjadi di Acavalati. Setiap individu harus mempersiapkan diri. Kalau kalau hal mengerikan seperti ini akan terjadi.
"Apa akan turun hujan? Astaga... apa kesialan kita saat ini belum juga cukup?" rutuk Freya saat merasa rintik hujan mulai turun.
Untuk melawan mahluk mengerikan kiriman Aldrich dengan penerangan benderang saja Freya tidak sanggup. Dan sekarang? Dia harus melawan mahluk itu dalam keadaan hujan dan juga gelap?
Ayolah tidak perlu bercanda. Freya benar benar sudah muak akan semua ini. Entah siapa lagi yang sedang main main dengan sihir di saat yang genting seperti saat ini.
Tidak mungkin Aldric. Pria itu tidak punya kemampuan untuk menguasai cuaca.
"Aku fikir kau hebat Putri. Tapi rasanya sekarang aku harus memikirkan kalimat itu ulang. Kurasa kemampuan kita tidak jauh beda. Kau... payah!"
Sejak tadi tidak ada yang mampu di lakukan oleh Freya selain terus berteriak dan juga memaki. Padahal itu sama sekali tidak ada gunanya.
Gotta fikir Freya akan mengeluarkan Sihir tersembunyi yang dia miliki. Siapa sangka? Freya memang tak ubahnya gadis manja seperti yang selama ini Aldric katakan. Dan untuk kesekian kali Gotta merasa menyesal karena telah berpatner dengan putri Retori itu.
Freya mendengus kesal saat mendengar cibiran dari Gotta. Gadis dari Irni itu tidak berhenti mengolok dirinya. Seakan Freya adalah orang paling lemah yang pernah dia temui. Jika tidak dalam keadaan mendesak. Mungkin putri dari Retori itu dengan senang hati merobek mulut Gotta.
"Kamu fikir apa yang bisa di lakukan semut yang sudah diinjak kaki? Menggigit? Itu tidak akan membuat si penginjak terluka. Paling paling hanya kesakitan sebentar. Jadi bisa tidak? Kamu memikirkan cara untuk kita bisa lepas. Dari pada kita harus ribut seperti ini?"
Dari pada saling menyalahkan. Freya rasa akan jauh lebih baik jika Gotta bekerja sama dengan dirinya. Memikirkan bagaimana cara lolos dari serangan mahluk kiriman Aldric.
Tenaga yang mereka miliki sudah hampir habis. Untuk apa terus bertengkar?
"Aku menyerah Freya. Mungkin memang sudah takdir nya kita mati! Kita akan di eliminasi!"
Kabut makin pekat. Pandangan Gotta bahkan mulai mengabur. Di tambah hujan yang mengguyur dengan begitu deras.
Gotta kehabisan tenaga dan tubuhnya sudah tidak berdaya. Intensitas hujan yang tinggi turut membuat Gotta sudah hampir mati tanpa perlu melawan makhluk raksasa di depan nya.
Jika Freya memaksa dirinya untuk berfikir. Gotta lebih baik angkat tangan.
"Dasar gadis pemalas! Baru begini saja kau sudah menyerah?"
Mata Freya yang mulai tidak fokus di paksa tetap menatap lurus. Meski tubuhnya sempoyongan. Freya tetap berdiri dan menantang raksasa yang entah sejak kapan menjadi sepuluh kali lipat lebih besar.
Freya tahu kalau Aldric sangat berambisi untuk membunuh dirinya. Tapi semua ini di rasa terlalu berlebihan.
"Aldric aku akan menghancurkan mu!" teriak Freya dengan berlari ke arah sang raksasa.
Raksasa itu tertawa lepas hingga suara nya terdengar hingga seantero hutan.
Jika sedari tadi raksasa itu hanya diam saja tanpa melakukan apapun kecuali ingin menangkap Freya. Kali ini raksasa itu mengambil anak panah dan siap untuk menancapkan nya kepada putri Retori.
"Kau harus mati Freya!" ujar raksasa itu dengan begitu geram. Seakan ada ribuan dendam yang ingin dia salurkan pada gadis bermata coklat itu.
"Lebih baik aku mati dalam kemuliaan karena membunuh makhluk seperti mu dari pada hanya pasrah menerima keadaan!"
Dengan gagah berani Freya berlari dan siap untuk menerjang raksasa itu.
***
"Raja? Klan yang bisa mengendalikan hewan dan juga tumbuhan hanya klan raja? Bagaimana kalau Raja memang dulu mengajari klan lain sebagai hadiah suatu pencapaian. Bisa saja kan?"
Arabella tetap tidak mempercayai apa yang baru saja di katakan oleh Aldric. Menurutnya kemampuan mengendalikan binatang dan juga hewan mungkin saja di kuasai oleh setiap penyihir di Acavalati. Tidak perlu sampai harus menunggu penyihir tersebut dari keturunan Klan Raja pertama.
"Mungkin. Tapi pasti tidak sehebat orang yang membantu Freya kemarin. Dia mampu membuat paus yang akan menelan Freya berhenti. Bahkan berhasil menggerakkan seluruh koloni semut hanya untuk membuat Freya selamat! Itu bukan kemampuan yang biasa!"
Umumnya satu Klan hanya akan menguasai satu sihir dasar. Meski seiring dengan berjalannya waktu. Klan itu bisa saja mempelajari ilmu dari klan lain. Namun tentu saja kemahiran nya sangat berbeda jauh.
Tidak mungkin akan sehebat pemilik aslinya. Dan Aldric sampai berani bertaruh jika orang yang menyelematkan Freya kemarin adalah penyihir dari Klan Raja asli.
Masalahnya semua orang tahu. Jika Klan itu telah menghilang ratusan tahun dan tidak ada yang sanggup mencarinya. Bahkan beberapa orang berpendapat kalau Klan itu sudah punah dan tidak akan dapat di temukan lagi. Karena itu Aldric sangat heran kemarin saat Freya selamat dari sihir buatan nya.
"Emm... ya mungkin ada Klan lain yang mampu melakukan nya dengan baik. Sebaik Klan asli nya?" sanggah Arabella yang tetap bersikukuh dengan keyakinan nya sendiri. Meski jauh di dalam hati, dia mulai memikirkan perkataan dari Aldric yang barusan.
"Ya mungkin saja pendapat mu benar. Tapi mungkin saja pendapat ku yang benar. Bagaimana jika Klan itu memang masih ada dan bersembunyi dalam suatu tempat yang tidak terfikir? Bukankah itu akan sangat keren? Akan ada Klan yang sangat kuat di Kwanta! Retori bukan apa apa!"
Aldric justru masih tetap percaya pada fikiran nya sendiri. Dia sangat yakin jika Klan itu masih ada. Terserah orang lain mau percaya atau tidak. Yang jelas. Semua akan makin seru, jika Klan itu masih hidup. Karena itu artinya, Retori tidak pantas duduk di tahta Raja.
"Hemm... tapi tunggu dulu? Pangeran Aldric aoa kamu tidak merasa aneh? Kenapa hari mendadak gelap? Bukankah tadi masih sangat terang?"
Arabella setuju dengan perkataan Aldric. Namun ada hal yang sejak tadi membuat nya merasa aneh. Mereka memasuki hutan saat pagi dan baru beberapa jam saja mereka ada di dalamnya. Tapi kenapa hari bertambah menjadi gelap. Tidak mungkin kan Aldric dan Arabella menghabiskan berjam jam waktu hanya untuk ngobrol?
Aldric memperhatikan keadaan sekitar. Dia juga merasa ada yang aneh dengan keadaan sekitar. Semua suara tiba tiba hening seakan tidak ada satu pun suara yang muncul. Hewan hewan bersembunyi ke tempat nya masing masing. Termasuk juga semut yang pada saat lewat langsung masuk ke dalam lubang. Keadaan sedang tidak baik baik saja. Ada kejanggalan yang terjadi.
"Aku akan mencari tahu nya!"
Ini bukan suatu hal yang perlu untuk di diamkan. Aldric mengerti jika keadaan yang pada saat ini terjadi sangat bahaya. Dan dia seakan bisa merasakan energi yang pada saat ini terserap.
Aldric sangat kenal dengan energi itu.
Dengan penuh konsentrasi. Aldric memejamkan mata dan mulai mencari tahu, sihir siapa yang pada saat ini sedang bekerja. Pangeran dari Bath itu mulai menyelami keadaan sekitar dan fikiran nya berhenti pada tempat Freya berada.
Dengan mata kepala Aldric sendiri. Dia melihat mahluk yang dia kirim telah berkembang besar menjadi sepuluh kali lipat lebih besar dan tinggi. Bukan hanya itu. Sihir yang pada awalnya di jadikan Aldric sebagai bahan menjahili Freya, rupanya telah berubah menjadi malapetaka.
Tidak. Aldric yakin, jika itu semua bukan ulah nya. Mahluk itu hanya dia mantrai untuk membuat Freya ketakutan. Bukanya berubah menjadi bengis. Bahkan pada saat ini Raksasa itu punya aura jahat dan membunuh.
Ya. Raksasa itu berniat untuk menancap kan anak panah pada perut Freya.
"Kak Eric?" gumam Aldric secara mendadak. Ia membuka mata tiba tiba dan menatap Arabella penuh dengan kekhawatiran.
"Apa yang terjadi? Apa sesuatu yang buruk terjadi?"
Arabella tidak tahu apa apa tentang penglihatan yang pada saat ini sedang di lihat oleh Aldric. Yang dia tahu. Pangeran dari Bath itu sangat panik hingga membuat nya keheranan.
"Sihir yang aku lakukan di tumpangi Kak Eric. Aku rasa dia dendam pada Freya. Ck... tapi aku tidak bisa untuk menggagalkan nya. Tempat kita terlalu jauh dari Freya berada!"
Aldric tidak benar benar ingin menghilangkan nyawa Freya. Namun sang kakak rupanya punya pemikiran lain. Dendam pada kakak kandung Freya sepertinya masih begitu membumbung tinggi. Masalahnya, Aldric tidak tahu bagaimana cara membuat sang kakak berhenti.
Kalau saja jarak antara tempat dia berada dan Freya dekat. Maka Aldric akan langsung datang. Namun masalah nya. Mereka berada dalam jarak yang jauh. Jika mereka menyusul Freya. Yang ada mereka hanya akan kehabisan waktu di jalan. Belum lagi dengan para predator yang mungkin mereka temui sepanjang jalan.
Bukan menyematkan Freya yang ada mereka hanya akan menyerahkan nyawa pada para penghuni hutan.
Alasan Aldric menumpuk ranting menggunung kemudian memantrainya adalah agar keberadaan nya dan Arabella tidak di ketahui para Predator berdarah dingin.
Aldric memang sengaja menyamarkan diri mereka sebagai tumpukan ranting tidak berarti. Tentu Aldric tidak mau mengambil resiko mengorbankan nyawa demi Freya.
Tunggu? Justru Aldric harus senang kan jika Freya mati? Tapi bukankah itu akan membuat nya di diskualifikasi? Karena dianggap mengajak pihak luar ikut dalam proses seleksi.
Ini seperti buah simalakama bagi Aldric. Menyelamatkan Freya salah. Tidak menyelamatkan juga salah. Semua serba susah.
"Kak Eric? Siapa dia? Pangeran Aldric apakah itu artinya Putri Freya dan Gotta ada dalam bahaya? Aku sudah bilang kan, jangan berbuat macam macam! Lihat sekarang akibatnya!"
Arabella tidak pernah tahu siapa itu Eric. Tapi kedengaran nya orang itu sangat berbahaya. Hingga bisa membuat sihir kuat ilmu hitam. Dendam dalam hatinya seperti berkembang dengan begitu besar.
"Ck... mana aku tahu kalau keadaan akan menjadi seperti ini? Sudahlah. Biarkan saja dua gadis tidak berguna itu mati. Akan jauh lebih begitu. Kita akan segera keluar dari sini kan artinya?"
Sebenarnya Aldric tidak mengatakan itu dari hati. Jauh di dalam hati. Pemuda itu sedang ketakutan. Namun dia tidak mau sampai Arabella tahu tentang hal itu.
"Kau keterlaluan. Gotta ada disana. Jika kamu dan Klan mu membenci Putri Freya itu terserah kamu. Tapi bagaimana dengan Gotta?"
Arabella merasa kesal pada Aldric karena pemuda itu dia nilai tidak punya tanggung jawab dan juga empati pada orang lain.
"Coba fikirkan baik baik Pangeran Aldric. Kamu yang menciptakan sihir itu. Pasti kamu juga tahu kan cara untuk menghentikan sihir itu. Tidak mungkin tidak!"
Setiap pencipta sihir pasti punya penangkal nya. Jika Aldric bilang tidak punya. Maka itu hanya alasan yang sengaja di buat buat karena Aldric tidak mau untuk menolong Freya dan Gotta.
Aldric mengacak rambut nya kasar kemudian menggeleng kan kepala dan menatap Arabella penuh dengan rasa menyesal.
"Sebenarnya Freya sendiri yang bisa menghancurkan sihir itu. Dia cukup menurunkan hujan yang sangat deras. Maka semuanya selesai. Namun Freya tidak tahu saja. Bagaimana cara memberitahu nya?"
Cara menghilangkan sihir itu sendiri sangat mudah. Dan Freya bisa melakukan nya.
"Apa? Apa yang harus di lakukan oleh Putri Freya?"
"Dia hanya perlu turunkan hujan badai. Maka monster yang aku buat dari debu hutan terlarang itu akan hilang dengan sendiri. Termasuk sihir tumpangan yang di lakukan kakak ku, Kak Eric," jelas Aldric dengan terperinci.
"Kau yakin hanya itu?"
"Ya aku sangat yakin!"
Arabella mulai menimbang keputusan yang akan dia buat. Mungkin dia harus kembali menggunakan sihir yang di larang ibunya.
"Semoga ibu tidak marah padaku!" ucap Arabella sambil melirik ke arah burung yang pada saat ini sedang bertengger di atas pohon.
Ini mungkin akan jadi keputusan yang sulit untuk Arabella ambil. Namun tidak ada pilihan lain. Dia harus menyelamatkan nyawa teman teman nya.
***
Nott mulai menata konsentrasi. Dia berniat untuk menggelapkan hutan agar monster yang pada saat ini sedang menyerang Freya tidak akan dapat melihat. Baru setelah nya Nott akan masuk ke dalam hutan dan menyelamatkan Freya.
Dia tahu kalau ini adalah tindakan keberpihakan. Namun ini juga untuk menjaga Acavalati dari amukan Retori.
"Abracada-"
Bruk.
Tubuh Nott terpental jauh hingga membentur tembok. Dia gagal membuat awan gelap dan masuk ke dalam hutan. Yang ada kekuatan gelap justru sedang membentengi hutan itu dengan sangat kuat. Kekuatan Nott bahkan seakan tersedot habis.
"Tuan Putri Freya?"
Mendadak Nott menjadi panik. Dia benar benar takut jika terjadi hal buruk pada sang Tuan putri.
Nyonya Gerld sudah memberikan tugas pada Nott untuk menyelamatkan Freya. Jika dia gagal maka Nyonya nya itu akan marah besar. Namun jika tidak memberitahu Nyonya Gerld masalah akan jadi lebih besar.
"Nyonya... keadaan genting. Putri Freya dalam bahaya besar!" teriak Nott dengan sangat keras.