Belum sampai pada hitungan tiga Freya sudah berlari sekencang mungkin. Meninggalkan Gotta yang pada saat ini masih diam di tempat.
Gadis dari Irni itu terlalu ketakutan saat harus berlari untuk menghindari kelabang raksasa hingga tubuhnya pada saat ini seperti terpaku. Otaknya tidak bisa berjalan dengan baik. Gotta benar benar merasa ada yang tidak baik dari keadaannya pada saat ini. Sayang dia tidak sanggup untuk berlari.
"Gotta... apa yang kau tunggu. Cepat lari sekarang juga!"
Suara teriakan dari Freya berhasil untuk membuatnya tersadar dan pada akhirnya lari tunggang langgang.
Gotta ikut lari bersama dengan Freya, meski pada saat ini kondisinya sangat tidak bagus.
"Hey Freya... berani beraninya kamu meninggalkan aku. Tunggu aku bodoh. Jangan sampai kamu membuatku marah!"
Setelah difikir fikir ada tidak enaknya juga terus lari seperti orang biasanya. Mereka tidak bisa terbang atau pun menghilang seperti biasanya. Yang ada mereka hanya bisa mengandalkan kedua kaki.
Gotta jarang sekali berlari. Selama ini dia lebih banyak menggunakan kemampuan sihir atau paling tidak akan diantarkan oleh naga emas miliknya. Namun sayang, atas suatu alasan yang tidak diketahui, mereka terpaksa harus berlari dengan sangat kencang. Berharap jika mereka dapat selamat dari bahaya kelabang raksasa yang pada saat ini sedang mengancam.
Karena kekuatan telah menghilang. Yang bisa mereka lakukan hanyalah berusaha menjauh.
"Freya... kau- kau gila? Kenapa meninggalkan aku?" Gotta terengah. Melihat ke belakang dimana pada saat ini kelabang raksasa sudah tidak ada lagi mengejar.
Dia dapat bernafas dengan lega. Namun entah apalagi yang akan terjadi selanjutnya.
"Aku kan sudah memberitahu mu. Kalau aku bilang lari ya lari. Tapi kau malah melamun. Siapa yang bodoh kalau sudah seperti itu?"
Rasa kesal yang ada dalam hati Freya belum usai. Dia lelah menghadapi Gotta yang cerewet sekaligus menghadapi keadaan sial yang dia terima. Entah kenapa sejak tadi dia terus menerima hal hal yang buruk. Seumur hidup. Freya tidak akan pernah melupakan tentang hari ini.
"Katamu kekuatan kita dibuat sengaja menghilang. Apa itu artinya Nyonya Gerld ingin membunuh kita semua? Ini hutan belantara Freya. Dan Nyonya Gerld justru membuat kita dalam bahaya? Bagaimana caranya aku harus melawan binatang binatang mengerikan itu jika aku tak punya kekuatan?" cerocos Gotta dengan memegangi kepalanya yang mulai berdenyut.
Dia sadar kalau dia tidak akan pernah bisa bertahan hidup di hutan belantara yang punya banyak sekali makhluk mengerikan itu. Di tambah lagi keadaan fisiknya menurun.
Saat ia mempunyai sihir saja, tidak mampu untuk menaklukkan para binatang purba. Lalu bagaimana dengan tanpa kekuatan? Apa yang bisa mereka lakukan.
"Sudah aku bilang tidak tahu. Kau ini kenapa bebal sekali. Kalau aku tahu alasanya aku sudah akan memaki si Gerld. Semua ini karena Gerld tidak memberi tahu ku."
Semua yang terjadi hari ini tidak sesuai skema yang Gerld rancang untuk membuat Freya keluar sebagai pemenang. Namun mau bagaimana lagi. Selama dia ada di dalam hutan. Satu satunya yang bisa dia lakukan adalah bertahan hidup.
Mengenai bagaimana nanti dia akan menghajar Nyonya Gerld. Itu bisa di fikirkan belakangan. Yang paling penting saat ini adalah bagaimana caranya dia bisa keluar dalam keadaan hidup.
Freya tentu tidak ingin jadi kudapan para penunggu hutan terlarang.
"Kalau begitu apa yang bisa kita lakukan? Astaga... sebenarnya ini tempat apa? Penumbalan?"
Gotta memang pernah mendengar. Jika Acavalati adalah tempat tertinggi sekaligus tempat terindah impian semua penyihir yang ada di kwanta. Tapi selama ini dia juga mendengar jiks banyak sekali penyihir yang hilang setelah masuk Acavalati.
Pada awalnya Gotta tidak percaya akan hal itu. Dia beranggapan jika rumor itu dibuat supaya persaingan di kwanta tidak akan ketat. Karena para penyihir akan ketakutan masuk Acavalati. Namun setelah ini, Gotta yakin jika semua rumor itu adalah benar.
Semua penyihir itu bukan hilang. Tapi mati di Acavalati.
"Satu satunya jalan adalah kita harus tetap berlari jika ada binatang yang mengerikan Gotta. Itu adalah cara alamiah yang biasanya digunakan manusia pada umumnya."
Freya tidak punya saran lain selain mereka harus berlari. Jika Gotta masih ingin melihat matahari terbit. Akan lebih baik mendengarkan dirinya.
"Berlari hanya membuat kita lelah Freya. Tidak akan bisa menghindarkan kita dari ancaman para binatang itu!"
"Lalu bagaimana yang kamu mau? Kita pasrah saja? Silahkan jika itu keinginan mu. Aku tidak akan memaksa!"
Freya sudah lelah jika tenaga yang baru dia pulihkan akan kembali terkuras karena meladeni Gotta berdebat.
Keadaan genting. Freya lebih baik menyelamatkan diri masing masing.
***
Sementara Freya dan Gotta sedang berjuang agar tidak dimangsa binatang buas. Di tempat lain. Pangeran Aldric masih berusaha meyakinkan Arabella, jika kekuatan yang dimiliki oleh gadis itu sangat istimewa dan tidak semua penduduk di kwanta mampu untuk melakukan nya. Sekalipun itu adalah Nyonyah Gerld.
Malah Aldric fikir akan bagus jika Arabella mau menantang Nyonya Gerld untuk adu kekuatan. Supaya semua orang yang ada di Acavalati tahu jika Nyonya Gerld tidak sehebat yang dikatakan oleh orang orang.
"Tidak- tidak... aku tidak perlu melakukan itu. Aku percaya padamu kalau kekuatan ku itu istimewa. Namun sebenarnya aku juga tidak sehebat itu."
Arabella tetap saja mengelak meski jauh di dalam hati dia selalu saja berharap kalau apa yang diucapkan oleh Pangeran Bath itu benar. Jika dia adalah keturunan raja. Tapi Arabella juga tidak ingin berharap banyak. Toh dia tahu kalau selama ini dia dan juga klan nya telah diisolasi dan tak di anggap.
Klan raja tidak akan diperlakukan seperti itu kan?
"Ck... kamu harus lebih percaya diri dengan kemampuan sendiri, jangan pernah merasa kalau kamu lebih rendah dari yang lain. Itu akan membuat mu sulit untuk berkembang."
Aldric rasa jauh lebih menyenangkan berpatner dengan Arabella. Gadis itu tidak selemah yang dia kira.
Arabella punya banyak sekali rahasia yang tidak dia ketahui juga kemampuan yang sangat luar biasa.
"Ya... aku akan berusaha membuat kemampuan ku terlihat. Terimakasih sudah memuji ku pangeran Aldric."
"Ini bukan pujian. Aku hanya tidak suka saja melihat orang yang pesimis! Dan merasa dirinya rendahan!"
Aldric kembali menarik anah panah dan kali ini mengarahkan pada seekor rusa yang punya tinggi seperti jerapah.
Sudut bibir Aldric terangkat. Jika Gerld tidak kunjung membuka pintu gerbang. Aldric akan membunuh semua hewan peliharaan Gerld dalam hutan terlarang.
Sambil menunggu agar tidak bosan. Dia harus main main kan?
Srek.
Anah panah tepat mengenai bagian leher dari rusa itu. Namun bukan Rusa yang mati. Melainkan anak panah Aldric yang teronggok di tanah.
"Ini tidak mungkin."