Selama ini tidak pernah ada yang bisa menghindar dari anak panah Aldric. Semua yang dia bidik pasti akan mati. Tembakannya tidak pernah salah sasaran. Dan kali ini, panahan yang dia lakukan sama sekali tidak berguna.
Rasanya Aldric tidak ingin percaya, tapi lihatlah apa yang terjadi. Kulit rusa itu sama sekali tidak tergores. Sedang anak panah Aldric justru melengkung dan teronggok di tanah.
"Apa rusa itu sangat tangguh? Dia bisa menghindari panahan yang kamu lakukan!"
Arabella justru mengira jika binatang tersebut sangat kuat hingga tidak mempan saat di panah oleh Aldric. Namun Aldric justru menggeleng kan kepala. Dia seakan punya pandangan lain.
"Aku rasa tidak. Sesuatu yang buruk telah terjadi. Ara... coba kau gunakan kekuatan mu. Sihir sesuatu disini. Aku harus memastikan sesuatu."
Suatu fikiran yang buruk langsung saja memenuhi fikiran Aldric. Tidak. Dia percaya jika rusa itu bukanlah rusa yang punya kehebatan. Hanya saja rusa itu punya fikiran Aldric justru tertuju pada Nyonya Gerld. Jika tebakannya tidak salah. Maka Aldric yakin, Gerld tengah melakukan kecurangan untuk kembali membantu Freya.
"Aku? Kenapa?"
"Sudahlah. Jangan banyak tanya. Ikuti saja apa yang aku inginkan. Toh sejak tadi aku tidak pernah membuat mu celaka, kan?"
Arabella terlalu cerewet. Dia suka sekali menanyakan ini dan itu. Membuat Aldric kadang emosi karena dirinya.
"Baiklah. Aku akan mencobanya,"
Tak ingin melanjutkan perdebatan dengan Aldric. Arabella akan langsung melakukan apa yang diperintahkan oleh Pangeran dari Bath itu.
"Abracadavra.... "
Arabella membaca mantra dan berusaha untuk mengobati sebuah kelinci yang pada saat ini kakinya sedang terluka. Namun sayang. Sebanyak apapun Arabella membaca mantra yang dia kuasai tidak satupun perubahan pada luka yang dipunya oleh sang kelinci. Tentu saja Arabella heran dengan hal itu dan langsung mendongakkan kepala ke arah Aldric yang masih setia terus melihatnya.
"Emm... aku tidak bisa melakukannya. Mungkin ini semua karena aku kelelahan. Tapi aku akan berusaha untuk mencoba nya lagi."
Tidak ingin putus asa. Arabella terus saja mencoba untuk menyembuhkan kelinci itu dan hasilnya sama saja. Kelinci itu sama sekali tidak bisa sembuh.
Aldric yang melihat kebingungan dalam wajah Arabella langsung buru buru menarik wanita itu dan memberinya tahu apa yang sebenarnya terjadi.
"Mulai sekarang semua kekuatan kita tidak akan pernah berfungsi."
Aldric mengatakan itu dengan enteng seakan tidak punya beban apa apa. Dan tentu saja itu berhasil untuk membuat mulut Arabella menganga. Bagaimana mungkin bisa kekuatan yang mereka miliki akan lenyap dengan begitu saja.
"Kamu pasti bercanda kan? Tidak mungkin kekuatan kita tiba tiba hilang. Jelas jelas kita baru saja menggunakannya. Pangeran Aldric. Saya rasa kita hanya perlu sedikit fokus dan kemudian kekuatan kita akan kembali!"
Enggan percaya pada pangeran Aldric. Arabella berusaha menyembuhkan luka pada kelinci. Namun sayang sekali. Semua itu sama sekali tidak berguna dan hanya membuang buang waktu saja.
"Sudahlah. Terima saja kenyataan. Si nenek tua itu telah membuat hutan ini menjadi netral. Jadi percuma saja. Tidak akan ada yang mampu kita lakukan. Ikuti saja apa yang dia inginkan. Tidak ada pilihan lain!"
Aldric sangat faham dengan apa yang terjadi sekarang. Siapa lagi dalang semua ini jika bukan Nyonya Gerld. Wanita tua itu seakan tidak pernah lelah dalam menciptakan masalah. Selalu saja ada yang berusaha dia lakukan untuk menciptakan kekacauan demi kekacauan.
Andai saat ini mereka sedang berhadapan. Tentu saja Aldric tidak akan sungkan untuk memenggal kepala dari orang nomor satu di Acavalati itu.
Nyonya Gerld terlalu menunjukkan kalau dia sangat berpihak kepada Freya. Si gadis manja yang selama ini tidak punya kemampuan apapun selain merengek pada sang Ayah.
"Jadi maksudnya... kita akan menghadapi para binatang itu dengan tangan kosong? Pangeran Aldric itu tidak mungkin. Jika begitu caranya kita bisa mati!"
Arabella sangat mempertanyakan keputusan gila yang diambil oleh Nyonya Gerld. Bukankah jika Nyonya Gerld membuat semua kekuatan peserta menghilang itu artinya akan ada banyak sekali nyawa yang jadi korban? Apa tidak sedikit pun Nyonya Gerld memikirkan itu?
Aldric justru tertawa dan menganggap ucapan dari Arabella sangat lucu.
"Kamu fikir Gerld memikirkan para peserta yang lain. Yang ada dalam otak Gerld hanya bagaimana caranya Freya akan menang! Lagipula aku tidak masalah harus melakukan pertandingan tanpa kekuatan. Itu akan sangat menarik!"
Bukan marah seperti dugaan Arabella sebelumnya. Yang ada pada saat ini Aldric justru sangat senang dan juga bersemangat.
Pria itu mengambil anak panah yang tadi melengkung kemudian berjalan dengan santai ke arah pintu gerbang.
"Pangeran... kau akan kemana?"
"Berjalan, mendekati pintu gerbang. Setelah aku fikir fikir memang tidak asyik, menunggu di tengah hutan dan bersembunyi. Itu terlalu seperti pengecut. Akan lebih baik jika kita pergi dan mulai melawan semua penghuni hutan dengan tangan kosong. Jika kamu ingin ikut, mari pergi bersamaku."
Sudah tidak ada pilihan yang lain. Nyonya Gerld sudah terlanjur membuat hidup mereka semua seperti dalam neraka. Aldric akan buktikan jika dia tidak selemah yang Gerld fikirkan.
Pangeran dari Bath itu tidak akan pernah panik dengan siasat licik yang dilakukan oleh Gerld. Justru dia akan sangat senang bisa ditantang seperti saat ini.
"Jadi maksudnya? Kita akan menuju ke tempat finis tanpa kekuatan? Bagaimana jika dijalan kita akan bertemu dengan Mahluk yang mengerikan. Bukankah kita bisa saja akan mati? Aku tidak ingin mati Pangeran Aldric!"
Arabella terus mengikuti langkah Aldric. Meski sebenarnya dia juga tidak yakin. Keputusan yang diambil oleh Aldric bisa saja salah.
"Lalu kamu ingin tetap diam di dalam hutan itu? Sihir untuk menutupi diri kita dari para mahluk itu sudah tidak ada gunanya Arabella. Jadi sekalipun kita tetap disana kita akan mati. Dari pada mati pasrah. Akan lebih baik jika kita melakukan sedikit perlawanan. Mungkin itu akan jauh lebih baik."
Kematian sedang mengancam mereka entah mereka diam atau bergerak. Namun Aldric lebih memilih untuk berjalan mengelilingi hutan dari pada mereka hanya jadi pecundang. Dengan pasrah di dalam hutan.
Aldric juga yakin jika pada saat ini Freya tengah ketakutan dengan apa yang terjadi sekarang.
Mungkin Nyonya Gerld fikir ini semua bisa membuat mentalnya jatuh. Padahal yang terjadi, Aldric makin semangat.
"Pangeran Aldric... tunggu aku!"
Arabella tidak ingin mati Sia sia. Jadi dia memutuskan untuk ikut dengan pangeran dari Bath itu.
Minimal, selama ini, pria itu tidak pernah mencelakai dirinya.
Meski Arabella faham. Setelah ini mungkin dia harus menyiapkan diri untuk menghadapi segala rintangan yang sulit.