"Jadi bagaimana apa Putri Freya sudah lepas dari segala teror yang Pangeran Aldric kirim? Astaga... lama lama Aldric akan membuat kepalaku mau pecah!"
Nyonya Gerld memegang kepalanya yang berdenyut. Pria bernama Aldric itu telah mampu membuat kepalanya pusing. Setelah berkali kali membuat masalah besar.
Bukan hanya satu dua kali Pangeran dari Bath itu membuat darah Nyonya Gerld naik karena selalu ingin mencelakai Freya. Bahkan sudah berkali kali juga Aldric berusaha untuk membunuh Freya.
Sebenarnya. Nyonya Gerld bukan ingin membela Freya. Hanya saja dia ingin semua keselamatan orang orang di Acavalati terjamin.
Semua orang juga tahu bagaimana kejamnya Retori. Jika dia tahu putri kesayangannya terus saja di celakai. Bukan tidak mungkin, raja itu akan membantai semua orang.
Permintaan Nyonya Gerld tidak banyak. Cukup biarkan saja Freya melakukan segala hal yang dia inginkan. Tidak perlu diganggu. Namun Aldric tampaknya tidak bisa menuruti hal tersebut. Hingga dia sering kali membuat masalah yang membuat Gerld ingin sekali murka.
Apa Aldric tidak tahu? Jika kegilaan yang dia lakukan bisa membahayakan nyawa semua orang?
Karena itu, Nyonya Gerld terpaksa membuat hutan terlarang menjadi area yang netral. Hingga perang kekuatan sihir tidak akan mampu untuk dilakukan. Meski resikonya, mungkin akan banyak korban yang berjatuhan.
Itu satu satunya cara yang Nyonya Gerld bisa.
"Seperti yang saya katakan tadi, Nyonya. Perintah Anda sudah saya lakukan dengan sebagai mana mustinya. Hanya saja... Tuan Putri masih harus mengalami sedikit kesulitan. Karena harus menghindari para binatang buas. Jadi... apakah saya masih perlu memberikan bantuan lagi kepadanya?"
Nott sudah menjalankan semua sesuai dengan arahan Nyonya Gerld. Area hutan terlarang telah dia buat senetral mungkin. Tidak akan mungkin ada yang bisa menggunakan sihirnya di dalam sana. Hanya saja semua itu tidak serta merta membuat Tuan Putri Freya menjadi selamat. Tetap saja Putri Retori itu dalam kesulitan yang besar. Dia masih harus menghadapi para predator dalam hutan.
"Ck... aku tahu Freya tidak akan selemah itu. Anggap saja ini semua sebagai ajang latihan untuknya. Aku juga tidak bisa terlalu banyak membantu dia. Itu akan menciptakan kecemburuan pada yang lainnya. Kau tahu sendiri kan? Bagaimana Aldric begitu benci dan merasa kalau aku ini jahat. Jadi... biarkan Freya juga sedikit berjuang. Yang paling penting awasi dia."
Sebagai orang nomor satu di Acavalati. Tentu saja Gerld masih berusaha keras untuk mencari bakat terbaik dalam dunia sihir. Penyihir yang seperti itu yang selama ini selalu dicari oleh Gerld untuk menghadapi sang penguasa kegelapan.
Tidak peduli Aldric atau Freya yang akan jadi pemenangnya. Yang pasti untuk saat ini keduanya tidak bisa saling jegal, karena jika itu terjadi. Gerld akan kehilangan dua bakat terbaiknya.
"Baik Nyonya. Saya akan pantau terus mereka. Dan melaporkan segala sesuatu yang terjadi pada anda."
Nott membungkuk setengah badan. Memberi penghormatan yang tinggi pada orang nomor satu di Acavalati itu.
"Yah... aku akan menunggu siapa pemenangnya dengan tidur siang. Semoga gerbang bisa segera terbuka."
Gerld sudah terlalu lelah hari ini. Dia butuh amunisi untuk memulihkan tenaga. Jangan sampai karena terlalu mengurus Aldric, dia akan mati cepat.
Nott menganggukan kepala dengan patuh. Dia sangat faham dengan kondisi Nyonya Gerld. Lagipula Nott tidak keberatan untuk mengawasi semua peserta dari atas mercusuar ini. Dengan begitu dia bisa tahu siapa orang yang akan memenangkan pertandingan pertama.
Selama ini semua peserta akan saling jegal untuk menentukan siapa yang terbaik menggunakan sihir mereka. Namun pada saat ini. Mereka harus menggunakan tangan kosong.
Bisa dilihat, jika penyisihan kali ini sangat menarik. Nott ingin melihat dengan mata kepalanya sendiri. Siapa orang hebat itu.
"Tuan Putri Freya? Pangeran Aldric? Atau mungkin ada yang lainnya? Ini sangat menarik untuk dinanti. Aku yakin akan ada banyak sekali kejutan yang hari ini akan terjadi. Kejutan yang mungkin membuat Nyonya Gerld jantungan!"
***
"Jadi seberapa banyak lagi kita harus berjalan. Kita sudah berjalan jauh tapi tidak sampai. Kamu yakin kita telah mengambil jalan yang benar Freya? Jangan sampai nanti kita semakin masuk ke dalam hutan, alih alih keluar."
Ini adalah kalimat sama yang dikatakan Gotta untuk kesekian ribu kali. Dia selalu bilang kalau tenaganya sudah habis dan tak mampu untuk berjalan. Namun lucunya dia seakan tidak pernah lelah untuk mengoceh. Sedang Freya lebih memilih untuk diam tanpa mau menjawab sedikit punpun setiap ocehan yang dilakukan oleh Gotta.
Menurut Freya, jauh lebih baik memperhatikan sekitar dari pada berdebat tanpa henti dengan seorang Gotta.
"Freya... kenapa kamu hanya diam saja? Jangan bilang kalau kamu memang tidak tahu jalan menuju gerbang dan sekarang ini kita sedang tersesat di hutan. Apa aku bilang. Kamu tidak sehebat yang aku fikirkan, kan?"
Cring.
Freya tiba tiba membalikkan badan dan menebas sebuah pohon hingga menjadi tumbang, hanya menggunakan pedang yang pada saat ini sedang dia pegang. Jelas saja hal itu langsung membuat Gotta membulatkan mulut.
"A-apa yang kau lakukan?"
Pohon itu punya diameter hampir seluruh meter. Dan Freya bisa menebasnya hanya dengan satu kali tebasan. Jelas saja kalau tiba tiba nafas Gotta jadi tercekat. Dia tidak ingin jika lehernya akan punya nasib yang sama dengan pohon yang pada saat ini sedang ditebas oleh Freya.
"Yang pertama. Jangan pernah memanggil ku hanya dengan sebutan nama. Kamu fikir kamu siapa? Bisa berlaku kurang ajar kepadaku? Ingat ya Gotta... sekalipun pada saat ini kita adalah patner. Namun tetap saja kasta ku jauh lebih besar dari pada kastamu. Jadi jaga mulut mu! Dan lagi jika kamu tidak percaya dengan ku. Silahkan cari jalan lain sendiri. Aku tidak sudi untuk kau ikuti. Kamu punya kemampuan dan juga pemberani kan? Maka urus saja urusan mu sendiri. Jangan libatkan aku!"
Kesabaran Freya dalam menghadapi Gotta sudah habis. Putri dari Retori itu sudah cukup lelah harus terus mendengar ucapan Freya yang seakan akan sedang mengolok-olok dirinya. Padahal sejak tadi Freya sudah berusaha melakukan yang terbaik untuk menyelamatkan nyawa mereka berdua.
Freya juga risih sejak tadi Gotta terus memanggil namanya tanpa ada embel embel "Tuan Putri." jelas itu adalah sebuah penghinaan bagi Freya. Tidak heran jika Freya tampak begitu marah dan tidak ingin bicara dengan Gotta. Namun di diamkan bukan membuat Gotta jadi mawas diri tapi justru bicara tanpa ada hentinya. Siapa yang tidak kesal jika ada orang yang seperti itu?
Jika memang Gotta tidak suka berpatner dengan dirinya. Freya tidak akan keberatan untuk menyuruh Gotta mengurus diri sendiri.
Gotta terdiam saat mendengar makian dari Freya. Saat sedang marah, putri dari Retori itu memang sangat menakutkan hingga membuat siapa saja langsung ketakutan. Gotta sadar jika dia salah dan tidak seharusnya berkata dengan begitu cerewetnya.
"Menurut ku kita harus terus bersama. Dengan begitu kita bisa melindungi satu sama lain. Yah... meski aku tidak sehebat dirimu. Tapi akan aku pastikan kalau aku ini bisa diandalkan. Jadi jangan memisahkan diri. Mari saling bersama Tuan Putri!"
Gotta tersenyum seperti orang bodoh. Dia terus mengikuti Freya kemanapun gadis itu akan pergi. Akan lebih baik bersama dengan Freya meski harus tersesat. Dari pada sendirian kemudian tidak mampu untuk melindungi diri.
"Kalau kamu ingin tetap berpatner dengan ku. Silahkan fokus dan kita hadapi segala mahluk yang datang dengan berani. Jangan bisanya menyalahkan."
Freya adalah seorang yang ambisius. Meski selama ini semua orang menjuluki dia sebagai anak yang manja. Tapi tidak pernah sekalipun Freya berpangku tangan dan menyerah dengan keadaan. Seperti saat ini, dimana Freya begitu gagah berani dalam membelah hutan.
Meski dia tahu kalau pada saat ini sihirnya hilang. Namun tetap saja Freya tidak akan mudah menyerah. Dia akan menghabisi siapa saja yang mungkin akan menghalangi jalannya.
"Hemm... tentu saja Tuan Putri. Saya akan ikut berjuang dengan Anda. Pedangku juga akan ikut menebas setiap mahluk yang datang untuk membunuh kita!"
Gotta berucap penuh dengan semangat. Dia harus berusaha keras meyakinkan Freya untuk tetap mau berpatner dengan dirinya. Karena hanya itu satu satunya cara agar Freya tidak marah lagi kepada dirinya.
Mata Freya hanya melirik dengan malas. Dia tahu kalau Gotta bicara begitu tidak dari hati. Agaknya, dia perlu sedikit main main. Agar gadis dari Irni itu bisa sedikit lebih kapok. Tidak berbicara sesuka hati hingga membuat muak orang yang mendengarnya.
"Kau yakin ingin bergabung dengan ku lagi dan melawan setiap mahluk yang akan datang?" tanya Freya penuh dengan arti.
"Ya tentu saja Tuan Putri. Saya akan membantu Anda!" jawab Gotta penuh dengan semangat. Yang tidak dia tahu, kalau pada saat ini dia sedang masuk dalam jebakan Freya.
"Bagus. Kalau begitu kali ini tugasmu untuk menyingkirkan mahluk itu!" tunjuk Freya pada seekor cacing yang pada saat ini sedang menggeliat diatas tanah.
Bibir Freya tersenyum, seakan mengejek ekpresi yang pada saat ini di keluarkan oleh Gotta. Dia ingin melihat, apakah Gotta serius dengan ucapannya. Yang berjanji akan membantu Freya dalam menghadapi setiap mahluk yang mungkin datang menyerang.
Setelah melihat cacing itu, apakah Gotta masih serius dengan ucapannya?
"Bagaimana Gotta? Kau siap?"
Freya ingin tahu sejauh mana keberanian Gotta untuk menghadapi binatang itu. Apakah sesuai dengan perkataan nya tadi? Atau justru nyali nya menciut dan tidak berani untuk melakukan perlawanan. Dan sejak tadi Gotta hanya sedang membual saja.
Gotta mulai kesusahan untuk menelan ludah sendiri. Dia tidak berani melawan binatang itu. Jika dalam ukuran normal Gotta hanya perlu menginjak nya sekali dengan sepatu. Tapi dengan ukuran sebesar lapangan. Siapa yang bisa melawan?
Tidak heran kalau pada saat ini keringat membanjiri kening Gotta dengan begitu sangat deras. Dia tidak mampu untuk membendung segala ketakutan yang dia rasakan.
"Aku harus menghadapi mahluk itu? Sekarang?"
Gotta benar benar tidak habis fikir. Kenapa dia harus melawan binatang itu sendirian.
"Tentu saja kamu harus segera melawannya sekarang, kapan lagi? Apa ingin menunggu sampai kita sampai di dalam perut hewan itu?"
Suara Freya terdengar sama mengerikannya dengan suara tanah yang beradu dengan cacing itu.
Bulu kuduk Gotta merinding. Dia tidak bisa membayangkan kalau sampai mahluk itu akan menelan dirinya.
"Haha... kenapa hewan hewan disini tumbuh dengan sangat besar ya? Apa mereka terlalu banyak makan? Haha... lihat lah. Ukuran nya puluhan kali lipat dibanding dengan binatang pada umumnya."
Tubuh Gotta sudah tremor lebih dulu. Karena jujur saja pada saat ini dia masih takut jika harus melawan para makhluk mengerikan itu.
"Jadi tidak kau ingin melawan nya? Katamu kita harus saling bersama karena supaya bisa saling bantu. Sekarang, buktikan. Musnahkan cacing itu."
Dengan Gotta tidak mau beranjak dari tempat nya. Itu cukup membuat dia tidak sabar. Tak heran jika Freya terus saja memaksa agar Gotta segera melawan cacing itu.
"Freya? Kenapa kita tidak asal lewat saja? Cacing itu tidak menganggu kita bahkan dia sedang tidur pulas. Lantas kenapa kita harus membunuh nya?"
Menurut Gotta dia tidak perlu untuk membunuh mahluk tidak berdosa itu. Meski dia adalah raksasa namun tetap saja itu adalah cacing.
Memang apa yang bisa dilakukan oleh seekor cacing? Dengan mereka membiarkan saja tidak akan menyebabkan masalah.
"Dari pada kita buang buang waktu untuk membunuh hewan yang sama sekali tidak menganggu kita. Akan lebih baik kita mengirit energi kan?"
Gotta masih berusaha mencari alasan. Dia tidak ingin jika sampai mati karena melawan cacing itu. Ya meski Gotta juga tidak yakin kalau cacing itu bisa membunuh nya. Memang apa yang bisa dilakukan oleh makluk lembek yang tidak pernah bisa untuk bergerak itu?
Bahkan dengan tubuh tambun yang seakan berisi banyak lemak itu. Cacing tersebut sedang tidur sambil mendengkur. Hingga suara dengkuran nya seperti sebuah terompet.
Namun untuk jaga jaga. Gotta tetap tidak mau ambil resiko untuk menganggu makhluk raksasa itu.
"Siapa yang bilang kita bisa melewati dia dengan begitu saja? Sejak tadi dia sudah memperhatikan kita. Menunggu waktu yang tepat untuk memakan kita berdua," ucap Freya sambil melipat tangan di depan d**a. Dia tersenyum begitu mengejek kepada Gotta. "Kamu pasti mengira kalau cacing itu tidur ya? Bahkan mengira suara keras itu adalah suara dengkuran? Tidak, kamu salah. Itu adalah suara perutnya yang lapar. Dia sudah tidak sabar untuk memangsa kita."
Freya mengatakan semua itu penuh dengan keyakinan. Dia seakan ingin mengatakan jika ucapannya bukanlah sebuah bualan melainkan sebuah kenyataan.
"Kenapa? Kamu tidak percaya. Langkahkan saja kaki mu dan kamu akan melihat dia menangkap mu."
Dengan ejekan dia kembali untuk menantang Gotta melewati hewan itu. Freya ingin Gotta berani untuk melakukannya.
Gotta tidak pernah mau menentang Freya dan dia lebih memilih untuk tidak bergerak. Seperti yang di katakan oleh Putri dari Retori itu.
"Freya-"
"Stss... jangan bicara karena cacing paling benci suara yang menganggu telinga. Jadi saranku. Tutup saja mulut mu itu jika masih ingin selamat."
"Kamu tidak sedang mengerjai ku kan Tuan Putri?"
"Mau buktinya secara langsung?"