Freya menyunggingkan senyum dengan begitu lebar. Tangannya mengambil sebuah ranting kecil kemudian melemparkan tepat ke arah cacing yang saat ini diam tak bergerak itu. Tidak perlu menunggu lama. Cacing itu tiba tiba mengeluarkan suara yang begitu keras hingga membuat Gotta terkaget.
Cacing raksasa itu menggeliat dan tak lama setelah ini memuntahkan sebuah cairan kental berwarna merah tepat pada tubuh Gotta. Dan sukses membuat gadis itu kembali berteriak dengan begitu keras.
"Freya... Freya... Putri Freya... cacing itu membunuh ku. Dia menggoreskan luka di tubuhku. Tolong... tolong aku."
Kepanikan terlihat begitu nyata di wajah Gotta. Gadis dari Klan Irni itu tidak pernah berhenti untuk berteriak hingga pita suara nyaris putus. Sementara Freya justru tertawa lepas menyaksikan itu.
"Hey... kenapa kamu sepanik ini. Ayolah. Ini hanya sisa kotoran dari cacing itu. Sama sekali tidak berbahaya. Lantas kenapa sikapmu sangat berlebihan? Haha... kamu sangat menggelikan Gotta!"
Freya sangat puas melihat ketakutan yang pada saat ini dirasakan oleh Gotta. Gadis yang sejak tadi tidak pernah berhenti mengoceh itu tidak lebih dari seorang pecundang.
Dia tidak berani melakukan apa apa tapi berlagak seperti seorang ahli. Jelas saja kalau Freya sangat muak dengan sikap yang seperti itu.
Jika kemampuan tidak sebanding dengan ucapan. Seharusnya Gotta diam saja agar tidak terlihat memalukan.
"Ini hanya kotoran? Bukan darahku yang digores? Kau yakin? Hahh? Tuan Putri...."
Entahlah, Gotta tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Freya. Semua itu terdengar seperti bualan. Freya bilang semua ini hanyalah kotoran cacing itu yang dimuntahkan. Namun entah kenapa dia merasakan perih pada seluruh tubuh hingga rasanya seperti ditusuk kaca. Belum lagi bau anyir yang pada saat ini Freya hirup dari cairan tersebut nyaris membuat dirinya ingin muntah saat ini juga.
"Ck... ini hanya serpihan daun yang di campur dengan tanah. Bukan darah. Kau ini tidak bisa membedakan mana darah mana tanah? Dasar bodoh!"
Freya mengusap tubuh Gotta menggunakan telapak tangan hingga menampilkan jika pada saat ini tidak ada satupun goresan luka yang ada pada gadis tersebut.
Wajah Gotta yang pada awalnya ketakutan perlahan menjadi agak tenang. Dia melihat ke arah tubuhnya sendiri. Benar, apa yang dikatakan oleh Freya adalah benar. Tidak ada satupun goresan luka yang dia dapat. Bahkan pada saat ini keadaannya baik baik saja. Rasa sakit yang dia alami mungkin saja hanya karena dia terlampau takut. Hingga dia berhalusinasi tubuhnya merasakan sakit.
"Hah... Hah... syukurlah. Aku kira aku akan mati!"
Gotta berulang kali menarik nafas dan melirik ke arah cacing raksasa yang masih menggeliat tidak tentu arah. Meski selesai menghamburkan banyak sekali kotoran, namun cacing itu tetap saja gendut.
"Pengecut. Padahal tadi kau bilang ingin membantu aku menghadapi makhluk makhluk di hutan terlarang. Namun mana? Kamu justru histeris sendiri. Payah!"
Freya tidak berhenti mengolok-olok dan merendahkan Gotta yang nyalinya menciut hanya karena bertemu mahluk raksasa. Padahal cacing raksasa itu tidak akan menganggu dan tidak membayakan sedikitpun. Lalu bagaimana jika datang predator buas yang menghadang. Mungkin saja Gotta akan mati berdiri.
"Ak-aku hanya terlalu kaget. Aku takut jika cacing itu bahaya. Kedepannya aku akan pastikan kalau lebih berani lagi. Lagipula kenapa kamu membohongi aku. Mengatakan jika cacing itu bahaya dan akan memangsa kita. Aku kan jadi panik."
Gotta seharusnya tahu kalau sejak awal Freya hanya ingin mengerjai dirinya. Dan tidak seharusnya dia percaya. Sekarang lihatlah Freya terus mengolok-olok dirinya.
Andai sedari awal Freya tidak menakuti dirinya mungkin pada saat ini Gotta berani untuk menumpas cacing itu hingga ke dasar tanah.
"Alasan. Kamu memang tidak pernah bisa di andalkan!"
Freya berjalan kembali, melanjutkan perjalanan. Setelah dirasa sudah puas bermain main dengan Gotta.
Meski Gotta sangat menyebalkan, namun minimal dia punya hiburan tersendiri.
"Dasar Tuan Putri sialan. Andai saja aku tidak membutuhkan mu. Sudah aku tendang kau!"
Raut kemarahan masih terlihat jelas dimata Gotta. Gadis itu begitu membenci dan marah dengan perlakuan Freya yang barusan.
***
"Ahh... Ahhh...."
Suara teriakan terdengar saling bersahutan hingga membuat Arabella dan Aldric menghentikan langkah. Suara suara itu cukup untuk menyayat hati dan membuat siapa pun yang mendengar menjadi begidik ngeri.
"Pangeran Aldric itu suara-"
"Aku rasa pintu akan segera terbuka."
Aldric tidak perlu tahu darimana asal suara suara itu. Tentu saja semua adalah suara jeritan para penyihir Acavalati yang mungkin saja tidak mampu untuk menghadapi para predator. Dan semua itu terjadi karena Nyonya Gerld.
Mungkin Aldric bisa bilang. Jika Nyonya Gerld adalah dalang dari semua.
"Maksudmu mereka semua akan mati? Astaga...Pangeran Aldric. Tidak bisakah mereka semua selamat? Apa memang harus ada yang mati?"
Rasanya Arabella ingin menolong semua jeritan itu. Namun mana dulu yang harus dia tolong. Suara itu berasal dari segala arah. Ada yang dari timur, barat, bahkan tepat di hadapan mereka.
Masalahnya, dalam satu arah ada lebih dari satu jeritan. Dan semuanya terdengar sangat miris. Hingga membuat siapa saja yang mendengar langsung takut.
Namun berbeda dengan Arabella. Dimana ia justru ingin menolong semua orang yang tersiksa itu.
"Tidak perlu ikut campur urusan orang lain. Urus saja urusanmu sendiri yang belum rampung. Dan juga... kamu ini calon penyihir. Bukan superhero. Jadi lupakan saja segala impian mulia mu itu. Oke?"
Pangeran Aldric membelai kepala Arabela persis seperti sedang membelai anak anjing. Dia seakan sedang mengatakan jika seharusnya Arabella tidak perlu ingin jadi pahlawan. Karena nyawa mereka sendiri pada saat ini sedang terancam.
"Aku bukan ingin jadi pahlawan Pangeran Aldric. Hanya saja aku tidak tega jika melihat para mayat itu akan bergelimpangan. Kamu punya hati kan?"
Ini bukan soal dirinya yang ingin jadi pahlawan. Namun memang Arabella merasa tidak tega jika membiarkan para temannya mati begitu saja.
Bagaimana jika salah satu diantara mereka adalah Becca, Valerie atau mungkin Gotta? Semua itu bisa saja terjadi dan Arabella benar benar tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi pada teman temannya itu.
"Yasudah... pergi selamatkan mereka saja. Aku akan pergi untuk melanjutkan ke gerbang."
Aldric sudah tidak peduli. Mau Arabella akan berubah menjadi ibu peri atau pahlawan super. Yang pasti Aldric akan tetap berjalan hingga menemukan pintu gerbang.
Dia harus memenangkan pertandingan. Dan membuktikan kepada semua orang kalau dirinya memang hebat.
Harga diri Klan Bath ada di tangannya. Aldric tidak ingin mengecewakan keluarganya. Sudah cukup selama ini, Klan nya selalu dianggap kasta kedua di bawah Klan Freya.