Arabella membunyikan siul sebanyak tiga kali. Untuk memanggil burung raksasa emas yang sebelumnya tadi dia sudah dia perintahkan untuk membawa Freya. Keadaan Aldric sedang terdesak dan dia harus membantu Putra dari Bath itu.
Gadis dari Sigyn itu berharap kalau sihirnya masih mempan pada burung tersebut. Mengingat biasanya sihirnya akan tahan lama.
Sambil harap harap cemas menunggu burung itu, Arabella masih tidak berhenti bersiul. Dan mengarahkan pandangan ke segala arah. Sangat berharap kalau burung itu akan datang.
Hingga harapan Arabella makin bertambah besar saat dilihatnya pada saat ini dari arah langit. Makhluk keemasan datang dari langit dan mengepak kan sayap.
"Tuanku... apa yang harus saya lakukan? Apakah saya harus menyelamatkan dua gadis cerewet itu lagi?" tanya si burung emas dengan terus mengepakkan sayap.
Arabella adalah Tuannya. Orang yang sudah membuat tubuh kecilnya membesar layaknya para binatang lain yang ada di hutan ini. Itu artinya dia berhutang budi pada gadis dari Sigyn itu dan harus menuruti apapun yang dia inginkan.
"Syukurlah jika kamu masih menjadi raksasa. Sekarang antarkan aku menyelamatkan teman ku yang lain. Ingat... kali ini tidak boleh gagal!"
Dengan cepat, Arabella naik ke punggung burung itu dan mulai dibawa terbang. Jujur saja Arabella berharap jika usahanya kali ini tidak akan gagal.
"Teman yang mana yang harus kita selamatkan Nona?"
Burung itu membawa Arabella terbang diatas seratus kaki. Sembari melihat ke arah bawah, dimana semua murid Acavalati sedang berusaha melawan mahluk mahluk mengerikan yang ada di dalam hutan.
Kalau boleh jujur, pada saat ini Arabella ingin menolong mereka semua. Tapi tidak bisa. Arabella hanya bisa menolong satu orang dan orang itu adalah Aldric.
"Dia... kita harus selamatkan dia!" tunjuk Arabella pada sesosok pemuda yang saat ini sudah terkapar di tanah sedang dari arah depan ada seekor beruang raksasa yang berlari sambil akan menancapkan anak panah.
Beruang itu sudah dekat. Sangat dekat, hingga seperkian detik sudah akan mampu untuk membuat Aldric celaka. Untung saja burung jelmaan yang Arabella sihir bisa menyambar Aldric tepat waktu. Dan membawanya pergi.
"Dasar anak anak nakal... beraninya kalian berkomplotan untuk menentang ku."
Zetty marah. Dia tidak suka ketika keinginannya untuk melenyapkan Aldric dari dunia ini terpaksa tertunda karena kehadiran seorang gadis yang tidak dia ketahui dari Klan mana.
Gadis itu punya mata biru dengan aura yang tajam. Aura yang bisa membuat Zetty jadi membeku.
Zetty berusaha mengingat dimana pernah mengingat aura itu. Dan satu satunya fikiran yang singgah adalah, aura gadis itu sama persis seperti aura para raja pendiri kwanta dulu.
"Gadis itu bukan putri Freya kan? Putri Retori tidak akan punya mata sedalam itu. Freya hanya punya tatapan mata yang kosong."
Mulut Zetty masih terus bergumam dan melihat ke arah langit. Dimana Aldric dan gadis itu terbang dengan burung raksasa.
Zetty sangat yakin ada hal yang berbeda dari gadis yang tidak dia ketahui namanya itu.
"Lagi pula hutan ini sudah dinetralkan oleh Gerld. Bagaimana bisa gadis itu masih bisa menggunakan sihirnya. Siapa sebenarnya gadis itu?" tanya Zetty makin penasaran.
Sudah jelas, Zetty mengenal seluruh penghuni hutan. Dan burung tadi bukan salah satunya. Jika tiba tiba burung itu ada di tempat itu, pasti karena sihir.
Jika kemampuan sihir gadis itu masih dapat berfungsi dengan baik. Maka itu artinya, kemampuan sihir gadis itu sangat tinggi dan tidak bisa di remehkan. Gadis itu benar-benar sangat istimewa.
***
Freya tersenyum saat mendengar suara terompet yang tertiup. Itu artinya ada yang sudah mati karena kalah dalam menaklukkan para predator hutan terlarang. Sekaligus gerbang yang dia tunggu telah terbuka dengan lebar.
Ini adalah saatnya untuk Freya segera keluar.
"Gotta... percepat langkahmu sedikit. Kalau perlu kita harus lari!"
Freya tidak akan menyiakan kesempatan pada hari ini. Dia segera berlari sekencang mungkin sambil menarik tangan Gotta.
Sementara Gotta yang mulai kehabisan tenaga hanya bisa menurut dengan Freya. Dia kapok jika harus kembali membantah Arabella dan berakhir dengan kesengsaraan. Karena itu gadis Irni itu selalu saja mengikuti Freya.
"Tuan Putri... apakah kita harus berlari seperti ini karena kita sedang dikejar oleh makhluk buas lagi? Aku sudah tidak kuat berlari Tuan putri. Seluruh tenagaku rasanya habis."
Kedua nya telah berjalan puluhan meter dan tidak bisa menggunakan sihir untuk meringankan langkah. Apalagi sepanjang perjalanan mereka harus melawan para predator. Jelas, seluruh tenaga dari yang mereka miliki telah menipis.
Gotta merasa seluruh tubuhnya telah lemas. Mungkin sebentar lagi akan pingsan.
"Ck... kita sudah semakin dekat dengan garis finish. Terlebih gerbang sudah dibuka. Kita harus cepat jika tidak ingin orang lain mendahului kita. Ayo kuatkan dirimu."
Freya berusaha keras untuk menyemangati Gotta. Dengan memberi tahu kalau hanya tinggal sedikit lagi maka mereka akan segera selamat. Setelah melewati gerbang. Maka keduanya tidak akan perlu untuk susah susah melawan makhluk mengerikan.
***
Arabella masih terus memegangi pangeran Aldric yang pada saat ini sudah memucat. Wajah dan bibir pria itu sudah memutih seakan tidak ada sedikit pun darah yang mengalir. Sebenarnya Arabella sangat khawatir dengan keadaan Aldric yang seperti itu namun setelah dia telisik, tidak ada satupun luka serius yang Aldric alami, selain cakaran yang sangat dalam pada lengan tangan.
"Minumlah dulu pangeran. Kita akan beristirahat disini sambil menunggu keadaan mu sedikit membaik."
Melihat kondisi Aldric memprihatinkan, membuat Arabella berusaha menolong pria itu sebisa yang dia mampu.
Aldric berusaha menenggak air yang disodorkan oleh Arabella. Meski kerongkongan nya tidak mampu untuk menelan. Air itu sama sekali tidak bisa melewati tenggorakan Aldric yang pada saat ini sangat kering.
Pangeran dari Bath itu merasa jika tubuhnya mulai melumpuh.
"Istirahatkan lah dirimu dulu pangeran. Setelah ini kita bisa naik burung raksasa ini untuk menghindari para predator. Dengan begitu kita tidak perlu kelelahan. Selain itu aku juga minta maaf, karena aku sudah berbuat egois tadi," ucap Arabella penuh dengan penyesalan.
Andai saja Arabella tadi tidak bertengkar dengan Aldric. Mungkin Aldric tidak akan terluka seperti saat ini. Karena itu. Sejak tadi Arabella terus menunduk sedih.
"Terimakasih karena sudah menyelamatkan aku. Tapi segera kembalilah ke Acavalati Arabella. Bawa hasil buruan kita," kata Aldric sambil memberikan sebuah buntalan yang berisi taring.
Taring itu akan berubah menjadi kepala ular raksasa yang sudah mereka kalahkan saat memasuki Acavalati.
"Kalau begitu ayo kita pergi-"
"Bukan kita Arabella. Tapi kau sendiri. Aku akan segera mati karena racun beruang tadi."