Sistem seleksi Acavalati makin di perketat, semua calon siswa mulai berguguran satu persatu. Hal itu di karenakan Nyonya Gerld menaikkan sistem penilaian, semenjak dia merasa kecolongan karna telah meloloskan murid dari klan rendahan seperti Sigyn ke Acavalati.
Nyonya Gerld berjanji. Akan membuat Arabella langsung tersingkir di minggu pertama penilaian. Dan satu satunya cara adalah dengan mendatangkan murid murid yang jauh lebih kuat.
"Pangeran Aldric?" gumam Nyonya Gerld saat melihat seorang laki laki tampan datang dengan busur panah disandang di punggungnya.
Celakalah, jika Aldric bermaksud untuk unjuk bakat dengan kemampuan memanahnya.
Semua orang tahu, Pangeran Aldric sangat gemar berburu. Dia seorang pemanah yang handal. Tapi untuk masuk Acavalati? Tentu Nyonya Gerld butuh sesuatu yang lebih hebat dari itu.
Jika sampai Pangeran Aldric, benar benar hanya akan pamer kepiawaiannya memanah. Rasanya... Nyonya Gerld harus berhenti jadi kepala sekolah saja.
Itu akan jadi buah simalakama untuk Nyonya Gerld. Jika meloloskan Pangeran Aldric, itu sama halnya dengan menunjukkan keberpihakan dirinya pada klan klan kelas atas. Namun jika dia tidak meloloskan Pangeran Aldric, maka Nyonya Gerld harus siap di teror oleh klan Bath.
Kedua itu sama buruknya.
Tinggal Nyonya Gerld, ingin neraka yang mana.
"Kau tidak akan menunjukkan kemampuan memanahmu, kan?" Nyonya Gerld bertanya, tapi nada suaranya lebih seperti melarang.
Pangeran Aldric, orang yang dia ajak berbicara justru diam saja, lantas kemudian mengambil salah satu anak panah dan menariknya dalam lengkungan busur.
"Pangeran Aldric...!" teriak Nyonya Gerld dengan marah.
Anak panah itu melesat lurus kedepan mengenai satu persatu leher para peserta dan berbelok mengikuti arah barisan.
Anehnya, setiap orang yang terkena serempetan anak panah itu. Kepalanya langsung terlepas dari tubuh kemudian melayang ke udara.
Hingga pada saat ini, kepala kepala yang terbang lengkap dengan organ dalam tubuh telah memenuhi aula Acavalati.
Tak selang lama, muncul raksasa raksasa besar yang entah datang dari mana. Berlarian mengejar kepala terbang yang ada di aula. Sontak saja bunyi jeritan makin kencang terdengar.
Para peserta berusaha menyelamatkan diri dari amukan raksasa, sekaligus mencari dimana tubuh mereka.
"Aldric.... cukup! Hentikan ini!" ujar Nyonya Gerld memperingatkan putra mahkota dari keluarga Bath itu.
"Apa saya lolos?" tanyanya santai.
"Ya!" jawab Nyonya Gerld panik. "Kendalikan sihir mu!" pinta Nyonya Gerld kemudian. Yang mulai panik, karena keadaan tidak terkendali.
"Tubuh ku... kembalikan tubuh ku!"
"Yang mana tubuhku!"
"Ahhh... raksasa merah menangkapku!"
"Jangan menarik jantungku!"
"Itu tubuh ku bodoh!"
Semua orang berteriak karna kehilangan tubuh, dan bertabrakan satu sama lain. Sementara Aldric tersenyum remeh dan bersiul memanggil anak panah miliknya agar kembali mendekat.
"Avacalansa!" ujarnya mengucap mantra dan seketika itu juga keadaan kembali normal.
Para Raksasa menghilang, kepala yang terbang kembali pada tubuh masing masing. Bahkan barisan kembali rapi.
Perlahan satu persatu mata terbuka lebar. Para peserta melihat satu sama lain. Dan ternyata semua hanya mimpi.
Semua kejadian yang barusan mereka alami tidak lebih dari ketakutan yang berada di alam bawah sadar. Yang sedang di permainan oleh Aldric melalui sihir ilmu pengendali fikiran.
"Aldric dari keluarga Bath... pemilik kursi terakhir!" ujar Nyonya Gerld dengan nafas terengah. Karna dirinya juga terpengaruh sihir yang di lakukan oleh Aldric.
Harusnya, sedari awal, Nyonya Gerld tidak meragukan kemampuan dari keluarga Bath, yang selama ini terkenal dengan sihir ilmu hitamnya.
Nyonya Bath yakin, Aldric, sebelumnya telah menyelami fikirannya, dan akhirnya sedikit bermain main.
Dasar anak nakal.
***
PEMBAGIAN ASRAMA
Arabella menatap takjub pada asrama yang saat ini akan dia tinggali.
Daripada Asrama, Arabella lebih senang menyebutnya dengan kastil.
Ia serasa seperti hidup sebagai Tuan Putri di negeri dongeng. Tembok yang menjulang tinggi hingga ke langit, warna coklat pucat yang di padu dengan warna keemasan di setiap ornamen yang penuh dengan ukiran ukiran indah, sungguh membuat Arabella tidak berhenti membelalak kan mata.
"Jadi aku hanya akan tinggal di Ilvemory? Oh God... Ayah akan membunuhku!" teriak suara dari arah belakang. Gadis dengan rambut pirang itu tengah mengeluh di depan ranjang panjang yang akan dia tempati.
Ada empat ranjang panjang dalam kamar yang juga akan di tempati oleh Arabella itu. Kamar yang menurut Arabella terlalu luas untuk hanya di tinggali oleh empat manusia.
"Kenapa ayahmu akan membunuhmu? Bukannya harusnya dia bangga? Putrinya masuk Acavalati?" tanya Arabella dengan penasaran. "Arabella....," lanjutnya kemudian.
"Victori!" jawabnya singkat tanpa mau membalas uluran tangan dari Arabella. "Kau bangga bisa masuk Acavalati? Ck... bodoh!" umpatnya sambil berjalan ke arah jendela, lalu membuka gorden warna keemasan yang kainnya menjuntai hingga ke lantai.
"Astaga.... apa itu Nirvana?" pekik Arabella saat dilihatnya dari balik tirai, sebuah kastil di hadapannya berdiri megah, dengan bunga bunga bermekaran laksanakan surga di atas awan. "Tempat apa itu?" tanya nya lagi.
"Hugvindor!" jawabnya pelan. "Tempat para Putri dan Pangeran sihir yang kemampuannya diatas rata rata!" jelas Victori runtut.
"Seperti Princess Freya dan Pangeran Aldric?"
"Benar!"
"Jadi kau ingin kesana?"
"Tidak! Disana terlalu berbahaya! Aku ingin masuk ke Verewild!" ujar Victori penuh harap.
Arabella hanya mengangguk sekilas. Dia tak pernah tahu kalau Acavalati punya banyak sekali gedung, yang... semuanya tidak dia ketahui.
"Tempat apalagi itu?"
"Kau tidak tahu apa apa tentang Acavalati? Termasuk pembagian asramanya?"
Arabella menggeleng pelan. "Bukan kah semua sama saja? Kita datang kesini untuk belajar, kan?"
Kini giliran Victori yang menggeleng. "Setelah sampai disini pun kita masih di pisahkan menurut level!" ujar Victori dengan menyibak gorden lebih lebar.
"Asrama di bagi menjadi empat. Yang pertama... kastil Hugvindor. Itu kastil termegah di Acavalati. "Yang kedua...
Verewild!" tunjuk Victori pada bangunan sebelah utara "Kastil kasta kedua, tempat para orang jenius terlahir, tapi klan mereka tidak cukup kuat di pemerintahan!"
"Sedang Kastil kasta ketiga... orang orang menyebut nya sebagai Javernic... tempat para orang licik dan ambisius. Mereka melakukan apa saja untuk bisa bertahan sampai akhir!"
"Kita tidak berada di Kastil itu kan?" tanya Arabella dengan kaget.
Ia tidak ingin jadi bagian para penyihir yang culas dan jahat. Dia ingin berada di titik yang putih. Seperti pesan ibunya.
"Kita berada di kastil yang jauh lebih buruk dari itu....." Victori menjeda kalimatnya. Menunjuk ke arah selatan, menjelaskan di mana kastil Javernic berada. "Ilvemory... kastil terendah, buangan dan tempat para penyihir payah!" jelas Victori dengan ekpresi sedih. "Kita masuk kesini karna keberuntungan. Dan orang orang bilang... keberuntungan hanya datang satu kali. Setelah ini, kita pasti akan tersingkir selama nya dari Acavalati!" ujar Victori dengan begidik ngeri.