Princess Freya melihat ada banyak sekali binatang melata di dalam kamarnya. Mereka merayap, berdesis dan juga memancarkan aura permusuhan. Seakan tidak senang dengan kehadiran sang putri.
Bibir Freya berdecih, ini seperti sihir yang di pertontonkan saat acara anak yang baru lahir menggelar acara ulang tahun. Terlalu kekanakan dan sama sekali tidak berkelas.
"Apa Aldric sedang main-main dengan ku?" tanya Freya dengan geram. Dia menginjak salah satu binatang yang melata hingga membuat kawanan yang lain tunggang langgang.
Pelayan yang secara khusus mengurus kebutuhan sang putri menunduk, dia tidak pernah tahu harus menjawab apa, ini baru hari pertama. Tapi perang antara Freya dan Aldric sudah dimulai.
"Saya akan memberitahu Pangeran Aldric-"
"Kamu melihat Aldric punya telinga? Hey...! Dia manusia tanpa otak!"
Freya membalikkan langkahnya dan berjalan tergesa menuju kamar Aldric. Ini bukan masalah serangga kecil yang pangeran Bath itu hadiahkan. Namun ini masalah harga diri. Seorang Pangeran dari keluarga rendahan, menantang seorang putri Retori? Ayolah... ini sebuah penghinaan.
"Abracadabra...!"
Jari-jari tangan Freya mulai bergerak, sosok perempuan mungil dengan kekuatan penuh itu mendatangkan hujan di sepanjang langkahnya, membuat gemercik air mengalir disetiap sela asrama dan hulunya, dia membuat badai petir di dalam kamar sang pangeran.
"Yak... siapa yang berani main-main denganku?" teriak sebuah suara dengan begitu kerasnya.
Pangeran Aldric yang tengah basah kuyup langsung saja keluar dari peristirahatannya, masih dengan busur panah yang dia sandang.
"Upss... Aldric? Kamu membangun air terjun di dalam kamar? Manis sekali! Kenapa tidak sekalian saja kamu pindahkan laut ke dalam ranjang mu? Supaya kamu bisa berenang sepanjang hari?" sahut Freya tanpa rasa bersalah. Putri dari Retori itu memang sengaja menunggu Aldric di luar. Ia ingin memastikan hasil pekerjaannya sudah sesuai harapan.
Hamparan air terjun deras berhasil singgah di kamar rivalnya itu. Freya rasa, Aldric sudah tidak butuh kamar mandi lagi setelah ini.
Sang Princess telah membiarkan itu menyatu dengan kamar Aldric.
"Kau menantang ku, Freya?" tanya Aldric dengan geram. Dia mengepalkan tangan dan siap menghancurkan apa saja yang ada di depan nya termasuk juga Putri dari Retori itu. Dia merasa di sepelekan oleh seorang wanita kecil.
"Apa kita sedang bertanding?" tanya balik Freya. Tidak ada ketakutan sama sekali, dia bahkan siap melawan Aldric kapanpun.
Freya meremehkan. Memang apa yang bisa di lakukan olen Aldric selain melakukan sihir dibawah alam sadar. Jika Freya dalam keadaan yang fokus. Pangeran dari Bath itu tidak akan mampu melakukan apa apa.
Aldric tersenyum miring. Ia semakin tertantang melihat kesombongan Freya.
"Kau baru saja melakukan kesalahan yang besar!"
Suasana Acavalati berubah menjadi mencekam. Langit menghitam disertai udara yang memgabut. Semua peserta baru saja memasuki kamar masing-masing. Jadi ini terlalu dini jika harus menyaksikan adu strategi.
"Kau lihat Arabel? Peperangan bahkan baru saja dimulai!" ungkap Victori sambil menatap kilatan api yang menjilatt hingga ke langit.
Api terlihat membumbung tinggi, hingga nyaris seperti membakar dunia seisinya.
"Apa yang terjadi? Apakah akan turun badai?" tanya Arabella menatap Hugvindor, dengan rambut yang tersapu angin yang besar. Beberapa detik yang lalu, asrama termegah itu masih nampak seperti Nirvana, namun sekarang, itu lebih seperti neraka.
Arabella justru makin bersyukur tidak masuk ke dalam asrama impian Victori.
"Sistem seleksi kedua dimulai."
***
"Nerthus... berjanjilah padaku. Apapun yang terjadi. Jangan pernah mengirim Arabella ke Acavalati."
Hexe menggenggam tangan Nerthus erat. Umurnya mungkin tidak akan lama lagi. Dan dia mempunyai pesan terakhir untuk dia sampaikan pada istrinya. Yaitu suatu amanat yang tidak boleh di langgar. Bahwasanya Arabella tidak boleh memasuki Acavalati dengan alasan apapun.
"Tapi kenapa? Bukanya semua orang tua ingin anaknya pergi ke Acavalati? Putri kita juga pasti akan hebat seperti dirimu sayang. Kenapa kita halangi dia?"
Wajah Nerthus begitu bingung. Suaminya menolak untuk menjadi pemimpin di Sigyn dan sekarang pun sang suami tidak ingin Arabella menjadi siswa di Acavalati. Di saat semua orang sangat ingin anak mereka menginjakkan kaki di gerbang sekolah sihir nomor satu itu.
Nerthus rasa Arabella mungkin bisa menjadi harapan baru untuk Sigyn untuk masuk Acavalati. Setelah puluhan tahun tidak ada satupun para penduduk Sigyn yang sampai ke tempat tertinggi.
Di umurnya yang baru enam tahun. Arabella sudah berhasil menguasai segala sihir yang sulit. Dan bukan tidak mungkin, Arabella akan makin berkembang setiap saat. Lantas apa alasan sang suami yang sangat anti melihat Ara masuk tempat paling diinginkan seluruh penyihir itu.
"Umurku sudah tidak lama lagi Nerthus. Dan aku mungkin tidak bisa menjaga kalian. Aku hanya tidak ingin kalian berada dalam kesusahan. Aku sudah menceritakan padamu tentang leluhur kita kan? Jika anak keturunan perempuan lahir. Maka jauhkan dia dari Acavalati. Kecuali kita siap untuk mengorbankannya. Dan aku tidak siap Nerthus. Biarkan saja Ara jadi orang biasa!"
Sebenarnya Hexe sendiri tidak faham dan juga tidak mengerti apa maksud dari pernyataan leluhur. Hanya satu yang dia simpulkan. Bahwa Ara tidak boleh menonjol dari yang lain.
Hexe tidak mau Arabella jadi korban. Karena itu sebelum dirinya meninggal. Hexe harus menjaganya baik baik.
"Kecuali jika kamu siap melepaskan Arabella dengan segala resiko, Sayang. Kamu boleh mengirim Arabella."
"Ya... ya... aku akan pastikan kalau Ara tidak akan pergi ke tempat itu Sayang. Tapi aku mohon jangan tinggalkan kami. Aku dan juga Ara sangat butuh kamu!" ujar Nerthus dengan air mata yang tidak dapat lagi di bendung. Dia tidak bisa lagi menghapus air mata yang kini ada di pipi. Nerthus sangat takut jika kehilangan suaminya.
Namun ketakutan hanya tinggal ketakutan. Setelah mengatakan semua pesan terakhir. Hexe akhirnya meninggal.
"Maafkan aku sayang. Aku terpaksa mengirim Arabella ke tempat itu. Putri kita dibutuhkan disana pada saat ini!" ujar Nerthus yang kembali menangis kala mengingat pesan sang suami.
***
Di sebuah kastil bawah tanah. Aura negatif terpancar dengan begitu kuat. Suara bising dan aungan terdengar dengan begitu keras. Sebuah makhluk mengerikan sedang terpasung dalam timah yang apinya masih menyala nyala.
Entah apa nama makhluk itu. Tapi siapapun yang melihat matanya bisa langsung ikut tenggelam dalam sebuah kenestapaan yang tidak berujung.
"Dia telah datang!" teriaknya dengan suara keras yang mampu membuat burung burung dan hewan lainnnya berlari tunggang langgang.
"Aku akan membunuhnya! teriaknya lagi penuh dengan dendam.
Dialah... sang penguasaa kegelepan. Musuh utama semua penyihir yang ada didunia ini.
Pyar.
Sementara di tempat lain. Seorang wanita yang semua rambutnya telah memutih tengah tersenyum lebar, saat bolam kaca yang dia pegang akhirnya pecah tidak berbentuk.
"Dia datang diwaktu yang tepat!"