"Apa kurir itu bisa dipercaya? Bisa saja dia mengarang kan? Lagi pula jangan terlalu meninggikan Arabella seperti itu. Aku tahu kalau putriku itu sangat hebat. Tapi dia juga tidak bisa jika kamu sejejarkan dengan para putri. Lihatlah Klan kita hidup dengan kemiskinan. Kerajaan apanya! Mimpimu itu terlalu tinggi Baladia!"
Nerthus paham jika mungkin Baladia berusaha semaksimal mungkin untuk membuat dirinya tenang. Dengan cara diam diam memantau keadaan Arabella selama di asrama. Namun siapa pun pasti tahu jika tidak ada yang bisa menjamin dengan pasti bahwa orang yang dibayar Baladia berkata sesungguhnya. Jika dia mengarang juga siapa yang bisa mengetahui.
"Tidak mungkin dia berbohong. Kalau dia berbohong aku akan patahkan lehernya!"
Baladia tahu, jika mungkin saja dia ditipu oleh orang tersebut. Namun entah mengapa dia justru yakin jika ucapan kurir pengantar barang itu jujur.
Arabella merupakan salah satu peserta yang di perhitung kan semua orang. Jadi tidak mungkin Arabella di perlakukan tidak adil.
"Gayamu sudah seperti bandit saja. Padahal kamu bahkan tidak tahu bagaimana dasar bela diri. Sudahlah, bawa semua permata ini. Simpan untuk mu. Aku tidak perlu itu. Aku ingin bibit bibit pohon yang ada di depan rumah mu saja."
Tidak ingin mengambil pusing. Nerthus mengumpulkan semua emas permata yang tadi dibawa oleh Baladia dalam satu kotak. Nerthus tidak pernah memakai barang barang mewah seperti itu. Lagipula menurut Nerthus dia tidak butuh.
Dari pada barang barang itu, Nerthus lebih tertarik pada bibit bibit tanaman yang selama beberapa hari ini teronggok dengan begitu saja di depan pintu rumah pria itu.
"Kau bercanda Nerthus? Bagaimana bisa kamu menolak segala kemewahan ini dan justru ingin menukar dengan pohon pohon itu. Jangan gila. Emas ini akan laku mahal jika kita menjual di pusat kota. Kita bisa kaya raya!"
Baladia tidak habis fikir dengan cara Nerthus berfikir. Bagaimana bisa ada wanita yang tidak silau dengan emas.
"Ck... kau ini benar benar ya Baladia. Pakailah sedikit otak mu itu. Desa kita ini kekurangan bahan makanan. Meski Acavalati terus mengirim makanan setiap hari. Para penduduk seakan masih kelaparan. Itu Arabella masih di Acavalati. Kalau Arabella sudah pulang? Kita akan kembali memakan rimpang?" Fikiran Nerthus jauh lebih terbuka dari pada Baladia. Wanita itu lebih memikirkan tentang kedepannya.
"Pohon pohon itulah sumber kehidupan kita nanti. Kita harus merawat nya dan berharap, Arabella bisa menguasai sihir penurun hujan. Jadi kita tidak akan kekeringan dan kelaparan. Emas itu mungkin berguna bagi Klan lain, tapi tidak dengan Klan kita Baladia."
Nerthus tidak ingin Klan nya makin tertinggal dengan Klan lain. Mereka harus bangkit dan menjadi cerdas. Agar dimasa depan tidak ada lagi kematian karena kelaparan.
***
"Waww... Pangeran Aldric sepertinya memindahkan neraka ke Hugvindor!"
Perhatian Arabella dan para teman teman nya langsung saja teralih saat melihat pada saat ini asrama nomor satu di Acavalati itu di kepung kobaran api. Dengan puing puing nya yang runtuh. Namun anehnya tidak ada satupun penghuninya yang berlari keluar dan ingin menyelamatkan diri.
Masing-masing dari penghuni Hugvindor bersikap santai. Beberapa tengah tidur siang, dan beberapa tampak sedang makan.
Semua kegiatan itu jelas dapat terlihat dari asrama yang lain. Karena semua dinding Hugvindor sudah roboh. Tinggal meninggalkan kerangka yang masih dihuni para empunya.
"Waw... tidak salah jika mereka di tempat kan di sana. Kemampuan sihir mereka menakjubkan."
Jika kegaduhan itu terjadi di asrama mereka. Maka mungkin Arabella dan teman temannya sudah lari kalang kabut. Namun karena itu terjadi di Hugvindor. Semua hanya seperti angin lalu.
"Apa lagi yang mereka ributkan? Pangeran Aldric dan Putri Freya seakan tidak pernah lelah. Padahal mereka sudah bertarung sepanjang hari saat di dalam hutan terlarang!"
Arabella menjadi saksi bagaimana dua orang itu saling adu kekuatan. Menunjukkan siapa yang paling kuat.
Jujur saja, kadang Arabella bertanya, apa mereka tidak lelah? Kedepan, pertandingan masih harus mereka lewati. Kenapa tidak menyimpan tenaga saja untuk hari hari besok?
Apa mereka akan segera mati, hingga tidak punya hari esok?
"Hemm... mereka berdua sama sama keras kepala. Cara Pangeran Aldric bercanda sama sekali tidak lucu. Kau tahu Arabella? Aku hampir saja mati karena kiriman raksasa bernyawa seribu yang dia kirim. Jika bukan karena burung emas datang menolong. Saat ini aku sudah jadi pupuk dan dimakan oleh cacing!"
Selain Arabella, Gotta juga mengenang. Bagaimana kedua orang itu saling bunuh hingga melibatkan orang orang sekitar. Akan jauh lebih baik jika kedua orang itu bertarung, semua orang menjauh.
"Setelah melihat ini. Aku makin yakin untuk tidak ingin naik ke asrama Hugvindor. Disana sangat berbahaya. Bukankah disini akan jauh lebih baik? Iya, kan?"
Sementara Valeri sudah melupakan obsesi nya untuk tinggal di Hugvindor. Tinggal di Hugvindor hanya akan membuat dia menjadi kudapan.
Valeri kini sadar akan levelnya.
"Aku justru berharap kamu akan masuk ke sana. Jadi kamu bisa jadi bulan bulanan Pangeran Aldric dan Putri Freya. Aku membayangkan kamu akan lari kesana kemari."
Becca tertawa dengan sangat keras saat mengatakan hal itu. Seakan itu adalah sebuah candaan yang memang pantas untuk di tertawakan.
Sementara Becca dan yang lain tengah menonton Hugvindor yang hancur, Aldric dan Freya masih sibuk dengan perkelahian nya.
"Jangan libatkan orang lain bodoh. Kenapa kamu membuat kekacauan disana sani. Apa kamu ingin membuat Gerld jantungan?"
Rasanya Aldric tidak habis fikir. Sejak tadi Freya menghancurkan gedung Hugvindor seperti orang yang kesetanan. Seolah dia tidak bisa menghentikan aksinya.
Aldric hanya tidak mengerti. Untuk apa Freya bersikap searogan itu hanya untuk membuktikan jika dirinya memang lah kuat. Menurut Aldric itu sama sekali tidak keren dan justru malah membuat Freya semakin terlihat menyedihkan.
"Untuk apa memikirkan orang lain? Ini semua terjadi karena kesalahan mu Aldric. Kamu yang membuat semua orang beranggapan kalau aku tidak punya kemampuan sedikitpun. Jadi jangan salahkan aku. Jika aku terpaksa membuat kamu mengetahui sebagai mana kehebatan yang aku punya. Kamu harus tahu Aldric, kalau tidak selamanya kamu yang terhebat!"
Mata Freya berkilat penuh dengan kemarahan. Dia bahkan tidak mampu membendung perasaan benci yang pada saat ini dia rasakan.
Karena Aldric, Freya merasakan perasaan yang sangat kacau. Dia merasa direndahkan dan dihina.
Freya rasa, mungkin Aldric lupa. Meskipun dia lemah, tapi dia adalah putri seorang Retori, yang tidak akan semudah itu untuk di tindas. Akan Freya buktikan menghancurkan Gedung Hugvindor dengan kedua tangan nya sendiri.
Tepat saat Freya akan kembali menghancurkan gedung. Freya justru terhentak saat melihat gedung kembali seperti semula.