Gerld juga tahu kalau keputusan yang dia ambil salah. Meski dia mendukung penuh Freya dalam pemilihan penyihir pada tahun ini. Tidak seharusnya dia menujukkan nya secara terang terangan. Karena lihatlah hasilnya kini. Dia harus rela menjadi bahan bulan bulanan dari Aldric. Pria itu seakan tidak pernah puas membuat hidup Gerld dalam masalah.
Sekarang semua sudah terlanjur. Zetty telah mati dan kredibilitas dia sebagai kepala sekolah Acavalati mulai di pertanyakan. Tak heran jika pada saat ini kepalanya pusing dan darahnya mendidih.
Entah harus bagaimana lagi kedepannya dia harus menatap para murid. Rasanya Gerld sudah tidak lagi punya muka.
Dan semua ini karena Aldric.
"Entahlah... aku tidak ingin memikirkan apa apa dulu saat ini. Kepala ku terlalu pusing. Aldric benar benar membuat semua jadi kacau-"
Duar.
Prang.
Mata Gerld mendelik saat melihat pada saat ini kaca ruangannya retak kemudian hancur tak beraturan setelah sebelumnya ada suara ledakan yang begitu sangat keras. Entah dari mana suara itu berasal. Namun Gerld yakin, sesuatu buruk kembali terjadi.
"Tidak sedang ada gunung meletus kan Nott?"
Kepala Gerld menyelorok ke arah jendela yang sudah tidak berkaca. Dia mencoba untuk mencari tahu apa yang sedang terjadi dengan terus memperhatikan pecahan kaca.
Tidak sedang ada gempa bumi atau pun juga gunung meletus. Anehnya kaca ruangan Gerld pecah.
"Nyo-nyonya... coba lihat ke arah sana."
Nott menunjuk sebuah gedung yang pada saat ini sudah berkabut. Tidak terlihat lagi keindahan gedung itu, yang selama ini dipenuhi dengan tumbuhan yang menggantung indah.
Hugvindor. Asrama paling megah yang selama ini bagai Nirvana, tiba tiba tertutup kabut tebal.
"Apa lagi yang anak anak itu perbuat? Mereka tidak lelah baru keluar dari hutan terlarang? Dasar anak anak nakal!"
Entah siapa yang sedang berperang sihir. Yang jelas pada saat ini kekuatan itu seperti sama besarnya. Hingga Hugvindor benar benar menggelap dan awan hitam tampak menutup di atasnya.
"Nyonya... apakah itu adalah ulah Putri Freya dan Pangeran Aldric lagi? Astaga... kalau aku jadi penghuni Hugvindor. Aku pasti sudah meminta untuk pindah. Hidup disana sangat tidak nyaman!"
Selama ini Hugvindor adalah asrama impian semua orang. Namun setelah ini. Agaknya semua peserta akan menghindari tempat itu. Dari pada harus berurusan dengan Aldric dan Freya. Dua orang itu seakan jadi momok yang sangat menakutkan bagi semua peserta lain.
"Hahaha... kamu fikir siapa lagi biang kerok yang ada disini selain mereka berdua. Aku rasa alasan mereka terus bertengkar adalah ingin membuat aku cepat mati! Baiklah jika itu keinginan mereka, aku tidak akan melarangnya. Biar saja mereka bertarung sampai mati." putus Gerld dengan memegang kepala nya yang berdenyut.
"Mulai sekarang jangan pernah memihak kepada siapa pun. Biarkan anak anak labil itu menyelesaikan masalah mereka sendiri. Aku tidak sudi lagi mengurus mereka."
Gerld sudah putus asa jika harus mengurus Aldric dan Freya secara terus menerus. Keduanya tidak akan pernah akur meski dipaksa bagaimana pun. Jadi Gerld memilih untuk membiarkan kedua orang itu saling jegal hingga ada yang mati.
Selama ini Gerld sudah berusaha untuk membuat dua orang itu jadi akur. Namun percuma saja, semua itu tidak akan pernah ada gunanya. Aldric dan Freya seperti tikus dan kucing.
"Tapi Nyonya saya tidak yakin anda tidak akan ikut campur pada masalah yang satu ini. Anda bisa melihatnya sendiri Nyonya, kalau saat ini.... "
Nott tidak mampu melanjutkan perkataannya saat melihat Hugvindor pada saat ini.
Sama persis dengan Nott, mata Nyonya Gerld membulat sempurna. Setelah ini akan lebih baik jika Gerld mengundurkan diri saja. Otaknya lumpuh. Sudah tidak tahu lagi harus berkata apalagi.
"Aldric... Freya...!"
Sementara Gerld sedang darah tinggi hingga akan terkena stroke. Freya dan Aldric masih asyik berperang sihir. Hingga membuat gedung Hugvindor rubuh.
Entah bagaimana nasib para peserta yang lain. Mungkin malam ini mereka semua akan di tidur di alam terbuka.
***
Nerthus hanya memandang tidak berminat pada banyak sekali berlian yang pada saat ini sudah berjajar di atas meja. Ada berbagai model dan ada berbagai ukuran. Namun tidak sekalipun dia mau mengambil.
Bagi Nerthus, semua itu tidak pernah berarti. Karena yang diinginkan Nerthus adalah Arabella.
"Kenapa hanya diam saja Nerthus? Ini semua adalah milikmu. Putri cantik mu telah kembali memenangkan seleksi kedua. Dia bahkan dipasang kan dengan Pangeran dari Bath. Astaga... aku tidak pernah menyangka kalau klan kita akan melaju sejauh ini. Klan kita menang Nerthus."
Baladia sudah mengulang kisah itu lebih dari seratus kali. Dia terus saja mengagungkan dan memuji Arabella hingga setinggi langit.
Nerthus tahu jika putri nya memang seberbakat itu. Arabella tidak pernah membuat siapa pun kecewa dengan keahliannya menyihir segala sesuatu. Selama ini Arabella memang hebat. Namun Nerthus yang berusaha untuk menutupi itu semua.
Dia takut dan tidak sanggup jika ramalan para sesepuh dulu akan jadi nyata. Mengantarkan Arabella ke Acavalati sama saja mengantarkan Arabella ke neraka.
Suaminya berpesan. Kalau Nerthus boleh mengizinkan Arabella jika memang dia sudah siap untuk segala resiko yang akan terjadi pada Arabella.
"Baladia... apakah Ara akan baik baik saja? Maksud ku... apa dia makan dengan baik di sana? Apa dia disana punya teman? Arabella susah bergaul dengan orang lain."
Nerthus sangat kenal dengan putrinya. Meski pun Arabella adalah seorang gadis yang sangat periang. Namun dia tidak mudah dekat dengan orang asing. Apalagi dengan latar belakang klan rendahan. Nerthus takut kalau nanti Arabella akan dikucilkan.
Hal itu turut membuat Nerthus tidak bernafsu makan. Meski pun hadiah dari Acavalati setiap hari selalu datang. Yang ada di dalam fikiran Nerthus adalah bagaimana nasib dari Arabella.
"Ck... jadi kamu berfikir Arabella disana hidup sengsara? Dengarkan ya Nerthus. Aku sudah bercerita panjang lebar. Hingga mulut ku berbusa. Sudah aku katakan kalau disana Arabella dihormati. Dia punya teman teman yang sayang kepada dirinya. Dan jangan lupa... dia dipasang kan dengan Pangeran dari Bath."
"Memang kau tahu dari mana? Kau kan tidak pernah kesana. Jangan mencoba untuk membual!"
Nerthus sama sekali tidak percaya dengan yang di katakan oleh Baladia. Pria itu lebih banyak bohong dari pada jujur. Tidak heran jika pada saat ini Nerthus ragu.
"Aku membayar kurir yang sering mengantarkan barang. Aku meminta dia menjaga Arabella. Dan dia bilang Arabella berteman dengan Tuan putri Klan Irni, kau tahu Klan Irni yang konon punya gunung emas itu? Astaga... Arabella masuk jajaran para Tuan putri dan Pangeran. Seperti nya sebentar lagi kita akan jadi anggota kerajaan!"