"Kamu puas sudah mempermalukan aku?"
Freya menghadang langkah Aldric penuh dengan kemurkaan. Dia benci dan tidak terima, karena Aldric sekarang semua orang menganggap dirinya rendah. Tidak peduli seberapa kali Freya menahan diri, tapi Aldric seolah tidak pernah puas untuk mempermalukan dirinya.
Entah dendam apa yang Aldric punya. Yang jelas, pria itu seolah sangat bahagia jika melihat Freya hidup menderita.
Bahkan sekalipun Aldric tidak memberitahu semua orang tentang kecurangan yang dia lakukan. Aldric akan tetap memenangkan pertandingan dengan hewan buruannya. Namun sepertinya semua itu tidak berlaku untuk Aldric. Dia jauh lebih suka melihat Freya terjerembab dalam sebuah kenestapaan.
"Belum. Aku baru akan puas setelah kamu hancur Freya. Sama seperti kamu menghancurkan kakak ku. Jadi tunggu saja. Aku akan membuat kamu menyesal di lahir kan sebagai putri Retori!"
Entah apa yang ditanam kan oleh Eric pada sang adik. Namun yang jelas, dendam yang dipunya Eric, mengalir dengan sempurna ke tubuh Aldric.
Atas nama sang kakak, Aldric bersumpah akan membuat semua orang yang telah menjadikan kakaknya hancur menerima balasan. Aldric tidak akan berhenti untuk mengusik hidup Freya. Sampai gadis itu benar benar tidak bersisa.
Nyawa harus dibayar dengan nyawa.
"Sudah berapa kali aku bilang. Bukan aku. Bukan aku. Aku bahkan belum lahir saat kakak mu bermasalah dengan kakak serta ayahku. Lantas kenapa kamu selalu saja mengincar aku? Kalau kamu ingin bersaing dengan ku. Bersainglah dengan adil. Jangan jadi pengecut!"
Freya bahkan tidak tahu apa yang dilakukan kakak pertamanya dengan sang Ayah kepada kakak kandung Aldric. Freya lahir jauh setelah kejadian itu. Tapi bodohnya Aldric justru menyangkutkan dirinya dalam hal itu.
Jika Aldric ingin beradu strategi, Freya tidak akan masalah dan justru akan dengan senang hati menyambut tantangan Aldric. Masalahnya, Aldric kerap berbuat curang.
Jika memang ingin bertanding. Freya ingin semua di lakukan secara adil. Tidak ada yang di untung kan atau pun dirugikan.
"Apa kau bilang? Bertanding secara adil? Hahaha... Freya... jangan merasa paling disakiti. Kamu tahu, satu satunya orang yang tidak pernah bisa jujur itu kamu. Kecurangan yang kamu lakukan bukan hanya tadi, tapi sejak pertama kali seleksi! Kamu pasti tahu kan? Kalau yang menurunkan hujan saat pertama kali seleksi bukanlah kamu? Tapi Ayahmu!"
Aldric menyeringai. Dia senang melihat wajah Freya yang pucat pasi. Seakan gadis itu kehabisan kata kata. Selama ini Freya pasti menyangka kalau dirinya paling hebat dan tidak ada yang tahu kecurangan yang dilakukan sang ayah untuk dapat meloloskan dirinya ke Acavalati padahal kemampuan yang di punya Freya sangat jauh di bawah yang lain.
Freya boleh bangga, merasa saat sistem seleksi dulu dia berhasil menurunkan hujan deras yang membuat seluruh tanaman yang mati hidup kembali. Satu hal yang tidak di ketahui oleh Freya. Kalau semua itu terjadi karena bantuan dari sang Ayah. Jika bukan karena sang Ayah, Freya tidak akan mampu menurunkan hujan itu.
"Kenapa? Kamu kaget? Hahaha... Freya... sebenarnya bersaing dengan mu seperti sebuah penghinaan. Kekuatan kita jauh beda dan semua orang selalu membandingkan kita? Kalau kamu jadi aku. Pasti akan sangat memuakkan!"
Aldric berlalu setelah mengucapkan semua perkataan itu. Dia memang sengaja menjatuhkan mental Aldric sejatuh jatuhnya.
"Jadi menurutmu kita tidak selevel? Begitu?" tanya Freya dengan wajah yang merah padam. Semua ucapan dari Aldric yang barusan seperti menyanyat hatinya.
Aldric seakan berucap kalau dirinya adalah klan paling rendah. Lebih rendah dari pada Klan Arabella yang merupakan kasta terendah di Kwanta.
Rasanya dia ingin marah dan mengutuk Aldric pada saat ini juga.
"Apakah ucapan ku kurang jelas? Perlu aku perjelas lagi? Supaya kamu mengerti?" tanya Aldric tanpa mau membalik kan badan. Dia tahu jika pada saat ini Freya tengah marah.
"Baik. Akan aku tunjukan kepada kamu. Betapa tidak kompeten nya aku!" ujar Freya dengan menjentikkan jari, hingga membuat kubah atap lenyap.
***
"Minumlah dulu Nyonya, anda sudah terlalu banyak berfikir hari ini. Tenanglah Nyonya," ucap Nott yang membantu Gerld duduk di kursi singgasana.
Seluruh tubuh Gerld rasanya lemas. Dia sudah tidak sanggup lagi menegakkan kepala. Semua terlalu membuatnya ingin mati.
"Aku masih bisa mengerti kalau Aldric membunuh ular kesayangan ku. Aku mengerti Nott. Kekuatan Aldric memang besar. Dia lahir dari keluarga Bath yang penuh dengan sihir ilmu hitam. Tidak masalah. Aku sungguh-sungguh merelakan Tytano ku. Tapi Nott... ekor itu, ekor itu adalah ekor beruang jelmaan adikku. Dan Aldric membunuh nya. Aldric menghabisi adikku, Nott!"
Gerld mulai mengerang dan mencengkram erat pinggiran kursi dengan kuku kuku tangannya yang berubah menjadi panjang. Emosi wanita itu sudah tidak tertahan, dan Nott rasa, sebentar lagi Gerld akan berubah menjadi beruang.
Kepala sekolah Acavalati itu memang akan menjadi beruang dilain kesempatan. Dan jika sudah seperti itu, maka dia siap untuk mengacau satu sekolah.
Hatinya tercabik saat melihat adiknya mati dengan begitu saja di tangan anak ingusan seperti Aldric. Dia tidak terima jika Zetty telah mati.
Dulu, bertahun-tahun lamanya saat Gerld dan Zetty masih sama sama murid Acavalati. Mereka juga menjalani seleksi seperti yang lain. Saat itu mereka diharuskan masuk kedalam hutan terlarang dan menangkap hewan buruan. Naas, demi menyelamatkan dirinya dari sihir jahat, Zetty terperangkap di dalam hutan terlarang dan tidak bisa berubah kembali menjadi manusia seutuhnya.
Hal itulah yang pada akhirnya membuat Gerld begitu semangat ingin menjadi kepala sekolah Acavalati. Dia ingin memastikan sendiri tidak akan ada yang menyakiti Zetty. Serta memastikan hutan terlarang bisa terus dialiri ilmu sihir. Hingga Zetty akan tetap selalu bisa jadi penguasa hutan terlarang.
Namun agaknya semua itu harus berakhir sekarang, karena Aldric, Gerld kehilangan Zetty.
"Nyonya... belum tentu juga Zetty mati. Toh itu hanya ekor. Bisa saja Zetty saat ini masih hidup. Iyakan?"
Nott berusaha membesarkan hati Nyonya Gerld dengan mengatakan mungkin saja Aldric hanya berhasil untuk menciderai Zetty, bukan membunuh nya. Semua kemungkinan itu bisa saja terjadi.
"Jadi maksudnya kamu ingin Aldric membawa kepala Zetty ke hadapan ku? Iya?" tanya Nyonya Gerld dengan mata yang melotot.
Ekor yang sudah berlumur darah itu sudah menjadi pernyataan jika Zetty telah mati di tangan Aldric.
Nott menggelengkan kepala lemah. Ikut sedih dengan kematian Zetty.
"Lalu apa yang harus kita lakukan Nyonya? Sedari awal kita memang tidak seharusnya memperlakukan Pangeran Aldric tidak adil!"
Aldric punya kemampuan yang hebat. Bukan. Tapi seluruh keluarga Bath punya kemampuan itu. Dan tidak seharusnya Gerld meremehkan. Sekarang semua sudah terlambat.