"Kau sangat hebat Arabella. Bisa keluar sebagai juara dalam seleksi ketat kali ini. Ck... andai saja aku berpatner dengan Pangeran Aldric. Mungkin saat ini aku akan jadi pemenang."
Gotta merasa kesal karena dia harus berakhir dengan kekalahan setelah berpatner dengan Freya. Hewan buruan mereka dianulir karena dianggap curang. Sedangkan Freya sendiri mengalami banyak sekali pengurangan poin sebagai penghuni Hugvindor. Jika dia tidak memperbaiki diri. Bukan tidak mungkin, Freya akan turun di asrama bawahnya yaitu Verewild.
Berbeda dengan Freya, Arabella justru menjadi pemuncak poin sebagai penghuni Ilvemory, jika Arabella bisa terus mempertahankan itu, maka bukan tidak mungkin dia akan pindah ke asrama Javernic.
"Sebenarnya bukan aku yang hebat. Tapi Pangeran Aldric. Kau tahu? Meski dia terkesan sombong dan acuh. Sebenarnya dia adalah orang yang baik. Dia melindungi aku dari para predator yang ada dihutan. Jika dia tidak ada, mungkin sekarang aku sudah jadi santapan salah satu predator itu."
Awalnya Arabella merasa kesal karena harus berpatner dengan Aldric. Pangeran Bath itu terlihat sangat diktator dan tukang atur. Belum lagi kesombongannya yang sangat tampak terlihat. Nanun setelah melihat sendiri bagaimana Aldric. Arabella fikir, Aldric tidak seburuk itu.
Sikap acuh dan suka meremehkan orang lain yang dimiliki Aldric, pasti karena pria itu terbiasa hidup dalam lingkungan kerajaan. Namun saat tadi jadi patner, Aldric bukan orang yang susah untuk diajak kerjasama.
"Ck... tetap saja. Kamu juga ikut membantu. Aku puas sekali melihat wajah Nyonya Gerld yang pucat pasi saat melihat adiknya dibunuh oleh Pangeran Aldric. Saat ini dia pasti sedang berkabung. Rasakan, salah sendiri dia ingin berbuat curang dengan memenangkan Freya. Itu kan tidak bisa dibenarkan."
Becca juga turut senang karena keberhasilan Arabella mengalahkan Freya. Kini nama teman kamarnya itu melambung tinggi dan diperhitungkan semua peserta, sebagai orang yang layak untuk di waspada.
Sebelumnya semua orang hanya berfikir kalau Freya yang akan keluar jadi juara. Namun siapa sangka, justru Freya tidak punya kemampuan khusus.
Sekarang ini banyak sekali yang mengejek jika Freya adalah anak manja yang hanya menggunakan kekuasaan sang Ayah untuk dapat menang.
"Tapi aku justru merasa bersalah. Jika aku tahu beruang itu tadi adalah adik Nyonya Gerld, aku akan langsung melarang Aldric membunuhnya. Pasti sekarang Nyonya Gerld sangat sedih."
Arabella tidak suka jika dia harus menyakiti perasaan orang lain. Terlebih orang itu adalah Nyonya Gerld sendiri. Meski Nyonya Gerld telah jahat dengan berusaha membunuh dia dan Aldric. Tapi tidak seharusnya Aldric balas dendam dengan membunuh adik Nyonya Gerld.
"Sudahlah tidak usah fikirkan itu. Lagi pula Nyonya Gerld pantas mendapatkan itu. Supaya dia tidak terus menjunjung si Freya. Lain kali, dia juga harus memperhatikan peserta yang lain," sahut Freya dengan menggebu. Rasanya dia gemas dengan Nyonya Gerld. "Tapi Ara... apa kamu melihat bagaimana Pangeran Aldric mengalahkan adik Nyonya Gerld? Aku penasaran, bagaimana hal itu bisa terjadi. Padahal saat tadi di dalam hutan semua kekuatan kita sirna."
Valeri jadi bingung bagaimana mungkin Pangeran Aldric bisa mengalahkan beruang raksasa saat kekuatannya tidak ada. Tidak mungkin kan jika Pangeran dari Batu itu hanya menggunakan tangan kosong, jika iya, maka Aldric benar-benar orang yang sangat hebat.
"Emmm caranya?" ulang Arabella, yang membuat fikiranya kembali pada saat Aldric mengalahkan beruang purba.
Flashback On.
Burung emas berhasil menyambar Aldric dan membawanya terbang tinggi. Bersama dengan Arabella, Aldric menjelajahi langit.
"Kenapa sihirmu pada burung ini tidak hilang?"
Dengan menahan segala rasa sakit yang dia rasa, Aldric mencoba untuk tetap bicara dengan Arabella. Dia tahu ini bukan sesuatu yang biasa. Saat semua orang kehilangan kekuatannya. Sihir Arabella justru abadi. Hal itu tentu menyebabkan kebingungan.
"Aku? Entahlah. Aku juga tidak tahu. Burung ini tiba tiba menghampiri aku begitu saja. Dan untung nya aku bisa segera mengendalikan dia."
Arabella berucap sesantai mungkin, namun Aldric tetap saja menemukan suatu keganjilan. Dia merasa kalau Arabella sedang mencoba untuk menyembunyikan sesuatu.
"Kalau begitu. Bisakah kita kembali pada beruang itu tadi?"
"Apa? Untuk apa Pangeran? Kita sudah selamat dan akan lebih baik jika kita kembali ke Acavalati. Sepertinya semua orang sudah mulai meninggalkan hutan terlarang ini."
"Ada yang harus aku selesaikan dengan beruang itu. Aku akan menyesal jika seumur hidup melewatkan hari ini. Bawalah aku kembali kesana."
Arabella menimbang dengan cukup lama. Dia berusaha untuk memutuskan apa yang terbaik, sampai pada akhirnya dia setuju dan mengantarkan Aldric untuk kembali ke tempat beruang itu berada.
Meski tenaganya sudah hampir habis. Tapi rupanya Aldric tidak mau berhenti untuk berjuang mengalahkan beruang itu.
"Kau datang kembali. Ingin mati di tangan ku?"
Beruang itu kembali ingin mengamuk karena melihat Aldric datang lagi dan menenteng pedang panjang yang mengkilat. Jika selama ini Aldric selalu saja bangga dengan anak panah yang dia miliki. Mungkin pada saat ini Aldric harus menyimpannya lebih dulu. Karena anak panah sihir Bath tidak akan berfungsi untuk sementara waktu.
"Tentu saja aku kembali. Karena aku ingin menghabisi nyawamu!"
Mata Aldric sudah mulai meredup. Mungkin sebentar lagi dia juga akan pingsan. Tapi itu tidak akan pernah menyurutkan semangat Aldric untuk membunuh beruang itu.
"Pangeran Aldric, kamu sepertinya butuh-"
"Saat aku bilang arahkan burung emas ke sisi belakang beruang itu. Maka kamu harus mengarahkan nya. Kamu faham?"
Aldric memberi intruksi pada Arabella dan tidak memberikan kesempatan kepada gadis itu untuk bicara. Setiap kali Arabella akan bicara, maka Aldric langsung memotong dengan cepat hingga tidak ada alasan bagi Arabella selain menurut saja dengan ucapan Aldric.
"Berputar."
Arabella diminta untuk mengelilingi tubuh beruang itu dengan gerakan cepat. Sementara Aldric terus mengarahkan pedang pada setiap bagian tubuh sang beruang. Aldric menyayat setiap bagian yang berhasil dia lalui. Hingga darah putih mulai keluar dari tubuh Zetty itu.
Senyum penuh kepuasan langsung tampil di bibir Aldric. Sementara Arabella masih tidak faham dengan apa yang dilakukan oleh Aldric.
"Dasar sialan kamu Aldric. Berani beraninya kamu melakukan ini kepada ku."
Zetty mengamuk, dia ikut berputar putar hendak mengikuti arah terbang sang burung emas. Sayang, bukannya berhasil untuk menangkap burung emas itu, malah yang ada kepala Zetty jadi berkunang kunang dan membuat keseimbangan dari Zetty terganggu. Tepat saat Zetty akan terjatuh. Aldric memulai lagi intruksinya.
"Sekarang!"
Arabella segera membawa Aldric kebagian belakang tubuh Zetty, dan tidak lama kemudian. Aldric memotong ekor Zetty dalam sekali tebas.
Tidak ada jeritan sama sekali dari mulut Zetty. Yang jelas, Arabella sudah terbang tinggi burung emasnya.
Entah Zetty hidup atau mati. Arabella tidak tahu pasti.