Sebelumnya.
Arabella sibuk mengumpulkan berbagai rimpang rhizoma serta akar akaran yang bisa dia gunakan untuk mengobati Aldric.
Nerthus selalu mengajarkan Arabella meracik semua ramuan itu setiap kali ada orang keracunan di Sigyn. Dan ramuan itu ampuh.
Sebenarnya Arabella sendiri tidak tahu, apakah ramuan yang dia buat untuk Aldric bisa berguna atau tidak. Namun dia tetap saja berusaha. Berharap jika semua akan membaik setelah Aldric minum ramuan itu.
Andai saja Arabella bisa menggunakan kekuatan sihirnya. Pasti dia bisa mengobati Aldric dengan mudah.
"Uhuk... uhuk...!"
Aldric memuntahkan semua isi perut setelah meminum ramuan Arabella. Cairan kental berwarna hitam kemerahan langsung saja keluar. Diiringi dengan hilangnya rasa nyeri dari dalam d**a Aldric.
Pangeran Bath itu tahu. Jika racun itu sepertinya sudah keluar dari dalam tubuhnya.
"Kau... bisa mengeluarkan semua racun itu hanya dengan tumbukan daun daun itu?" tanya Aldric tidak percaya. Dia benar benar takjub. Arabella bukan hanya menguasai sihir yang tinggi tapi juga menguasai ilmu ketabiban.
"Entahlah pangeran. Entah karena ramuan ini atau karena tubuhmu yang sangat bagus bereaksi dengan ramuan pengisap racun ini. Yang pasti, aku rasa semua racun telah hilang. Kamu sudah agak baikan, kan? Apa kita bisa segera kembali ke Acavalati?"
Sudut bibir Aldric berkedut. Setelah hampir bertemu dengan ajal. Aldric rasa ini adalah saat yang kalo tepat untuk memberi Gerld pelajaran.
"Tentu... kita harus segera kembali, aku sudah menyiapkan hadiah istimewa untuk Gerld. Pasti dia suka!"
***
"Tidak...!"
Gerld menangis histeris setelah Aldric yang dia sangka telah mati di dalam hutan bersama dengan Arabella datang dengan keadaan baik baik saja. Bahkan keduanya datang dengan kepercayaan diri penuh, merogoh nyawa Gerld dari dalam sukma setelah menunjukkan apa yang mereka bawa.
"Kenapa Gerld? Kau suka kan dengan apa yang aku bawa?" tanya Aldric tanpa rasa bersalah sedikit pun.
Gerld langsung ambruk seketika. Seluruh ototnya lemas. Seakan dia sudah tidak punya tumpuan. Hasil buruan yang didapat oleh Aldric telah benar benar mengguncang hidupnya.
Sebuah ekor beruang bercorak coklat dan abu yang berlumuran darah. Gerld tidak perlu menanyakan milik siapa itu, karena dia sangat hafal jika ekor itu adalah milik adiknya.
Seharusnya sedari awal, Gerld tidak bermain main dengan Aldric. Pemuda itu akan melakukan segala cara untuk menumbangkan Gerld dan segala keangkuhannya. Dan lihatlah sekarang, orang nomor satu di Acavalati itu harus rela beruang purba yang merupakan jelmaan dari adiknya menanggung semua.
"Ini semua tidak benar kan Pangeran Aldric? Kamu tidak membunuh beruang itu?"
Gerld menjerit dengan sangat keras. Keadaan ini menjadi pusat perhatian semua orang. Kepala sekolah Acavalati bersujud di kaki Aldric dengan tangisan yang menyayat hati.
Semua juga pasti setuju jika pada saat ini Gerld sangat terpuruk dan Aldric sama sekali tidak peduli akan hal itu.
"Ara... kau melihat sendiri kan saat aku tadi memenggal ekornya? Aku tidak sedang mengada ngada, kan?" tanya Aldric sambil menolehkan kepala kepada Arabella yang pada saat ini ada di belakang nya sambil termenung menatap Nyonya Gerid penuh dengan rasa iba.
Arabella rasa, ekor beruang itu membuat Gerld sangat sedih.
"I-iya... pangeran Aldric sendiri yang mengeksekusi kedua hewan buruan itu."
Gadis Sigyn itu tergagap. Dia sama sekali tidak menyangka jika hewan buruannya akan menyakiti Nyonya Gerld. Padahal sebelumnya Nyonya Gerld tidak memberitahu apa apa tentang hewan buruan. Dia hanya bilang, kalau semua murid Acavalati harus pulang dengan binatang purba yang terpenggal kepalanya. Aldric dan Arabella berhasil memenuhi tantangan itu. Jadi Arabella fikir kalau Nyonya Gerld akan senang. Tapi kenyataannya tidak seperti itu.
"Kau dengar sendiri? Yang mengeksekusi binatang itu adalah aku. Jadi... apa kau akan memberi aku dan Arabella hadiah? Karena aku dan Arabella adalah peserta dengan hasil buruan terbaik disini!"
Silahkan saja Gerld akan menangis hingga banjir darah. Itu tidak akan mampu menyentuh sedikit saja hati Aldric. Makin Nyonya Gerld sedih, Aldric makin bahagia.
"Aldric... jangan keterlaluan. Kamu sudah membunuh adik Nyonya Gerld dan sekarang kamu meminta dia memberi kamu gelar kehormatan? Kamu benar benar tidak punya hati!" ujar Freya yang mulai maju ke depan untuk membantu Nyonya Gerld berdiri. Sayang lutut wanita itu terlalu lemas hingga dia tetap tidak bisa bangkit.
"Oh ya? Lebih tidak punya hati mana? Dengan anak manja yang tidak ikut perburuan di dalam hutan terlarang. Sementara para peserta yang lain sedang mati matian melawan predator. Kamu justru asyik bermain ayunan di pinggir hutan, lalu menjebak Gotta untuk memanggil naga terbang milik keluarga nya, kemudian kamu membunuhnya. Freya... Freya, kamu dan Nyonya Gerld sama sama menjijikkan. Kalian mencurangi semua orang. Dan kamu fikir kamu layak menang?"
Aldric sangat membenci Freya dan dia memang berniat untuk mempermalukan putri dari Retori itu. Dia tidak akan pernah membiarkan Freya menang dengan begitu saja.
"Aku- aku..... "
Freya tidak dapat melanjutkan perkataannya karena melihat semua orang menatap dirinya penuh dengan tatapan benci.
"Pangeran... jika anda memang tidak suka dengan cara saya menimpin sekolah ini. Seharusnya Anda bilang dari awal. Supaya semua lebih terang. Bukan seperti ini. Anda justru melampiaskan kepada yang tidak bersalah!"
Gerld tahu kalau dirinya salah. Namun bukan berarti Aldric bisa melenyapkan nyawa jelmaan dari Zetty. Karena selama ini pun, Gerld saja belum pernah bertemu dengan Zetty sejak berpuluh tahun lamanya. Dan sekarang, saat dia sudah bertemu. Justru Zetty sudah tidak bernyawa.
"Apakah jika aku mengatakan keberatan ku. Kamu tidak akan berpihak pada Freya? Aku rasa tidak. Kamu akan lebih condong pada Freya. Dan berusaha untuk menenangkannya."
"Kamu iri padaku Aldric?"
"Untuk apa aku iri pada gadis bodoh seperti mu Freya? Kamu sama sekali tidak punya kemampuan!" hina Aldric secara menohok.
Aldric memang sengaja mengatakan semua di depan peserta yang lain, agar seluruh penghuni Acavalati bisa tahu jika Nyonya Gerld tidak pernah adil dan cenderung berat kepada seseorang.
"Jadi... pemenang sudah di tentukan sejak awal? Lantas kenapa tidak katakan saja? Supaya kami semua berjuang mati matian. Harusnya langsung saja berikan gelar kehormatan kepada Putri Freya. Aku rasa dia sangat ingin itu."
"Mungkin karena dia adalah putri seorang raja maka dia ingin menunjukkan kelasnya kepada semua orang. Sayang... cara yang dia ambil salah!"
"Dari awal dia memang kalah pamor dari Pangeran Aldric. Aku rasa dia mulai putus asa."
Suara suara sumbang mulai terdengar. Semua sedang membicarakan tentang Putri Freya yang dia anggap tidak berkompeten tapi memaksakan diri.