Sudut bibir Aldric terangkat, ia tersenyum miring saat melihat kesombongan yang dilakukan oleh Freya. Memang benar apa kata pepatah. Jika buah jatuh tidak jauh dari pohonnya.
Like father like daugther, seorang anak pasti peniru yang baik orang tuanya. Seperti saat ini. Freya telah mengadopsi kesombongan sang Ayah.
Aldric sudah mendengar soal itu sejak lama. Namun baru kali ini dia berhasil melihat dengan mata kepalanya sendiri.
"Kesalahan fatal!" ucap Aldric cepat, dengan buru buru membidik tepat pada kornea mata Freya. Membuat gasis tetap fokus, namun lama lama tetap goyah.
"Tidak... ini hanya khayalan. Aldric sedang memainkan alam bawah sadarku!" sanggah Freya dengan tetap tenang. Kedua hazel mata tetap memejam meski saat ini dia melihat jika seluruh area telah menjadi lautan lepas. Freya tersesat sendiri dalam sebuah kapal tua yang terbengkalai.
Tidak ada satupun yang dapat Freya lihat. Selain puing puing kapal yang berserakan. Dengan binatang binatang raksasa laut yang mulai mendekat seakan siap untuk mencabik tubuh Freya hingga hancur menjadi berkeping-keping.
Freya tak bergeming meski saat ini binatang purba dengan mulut lebar telah siap melahapnya. Ini tipuan. Dia tidak sedang ada di atas kapal rusak. Dia sedang ada dalam asrama Acavalati.
"Fokus fokus... fokus!"
Keringat membanjiri tubuh. Tapi Freya tetap tak bisa pergi dari tempat itu. Sementara dari kejauhan, Freya melihat Aldric tengah duduk santai sambil mengangkat gelas berisi minuman segar.
"Cukup minta maaf. Dan bilang kau menyesal menantang ku!" suruh Aldric dengan senyum puas.
"Kau fikir aku akan tertipu dengan sihir alam bawah fikiran mu, Pangeran Bath? Kau tidak sebanding!" ucap Freya makin menajamkan mata. Dia tidak akan goyah sedikit pun.
Semua yang dia lihat pada saat ini hanya khayalan. Tipuan Aldric dalam memanipulasi fikiran manusia. Sama seperti kemarin saat sistem seleksi penerimaan. Dimana Pangeran dari Bath itu mendatangkan raksasa dalam otak setiap peserta. Namun semua hanya kamuflase.
"Siapa bilang kali ini aku menggunakan sihir fikiran, Tuan Putri? Aku benar benar mengantarkan kamu ke lautan lepas. Supaya dimakan monster!"
"Pangeran Aldric... dimana kamu menyembunyikan, Princes? Jangan membuat masalah!" Nyonya Gerld datang dengan api kemarahan setelah mendapat laporan dari Nott kalau Hugvindor tidak ubahnya sebuah rawa yang dipenuhi dengan air.
Konon, dua kekuatan besar tengah bertarung. Siapa lagi jika bukan Freya dan Aldric?
Dan masalah terbesarnya, Freya hilang tanpa jejak.
"Hai Gerld. Apa kau ingin menyusul Freya? Aku baru saja mengirimnya liburan bersama paus megantolon! Mereka pasti akrab!" jawab Aldric dengan santai, seakan tidak punya dosa sama sekali. Sedangkan Nyonya Gerld tampak shock.
"Aldric... kau meneleportasiku?" jerit Freya entah dari mana. Tidak ada satu pun yang melihat sang putri, kecuali suara jeritan jeritannya.
"Freya. Lain kali periksakan telingamu ke tabib. Aku sudah katakan, kan sejak tadi? Aku mengirim mu ke lautan lepas. Kau senang berlayar disana sendiri?" jawab Aldric penuh dengan kebahagiaan.
Freya yang mendengar itu langsung saja pucat pasi. Dia tidak menyangka kalau Aldric akan bertindak sejauh ini. Dimana tidak sedikit pun memikirkan nasib sang putri.
"Pangeran Aldric... bawa kembali Putri Freya kemari! jangan membuat masalah!" paksa Nyonya Gerld dengan panik.
Freya adalah satu satunya anak kesayangan Retori. Jika sampai terjadi hal buruk pada gadis itu. Sang Raja bisa menghancurkan Acavalati hingga ke akarnya.
"Sudah kubilang Gerld. Suruh gadis sombong itu minta maaf dulu. Jangan bertindak semaunya. Di istana, dia boleh jadi Tuan Putri. Tapi disini? Siapa yang terhebat, dia yang disegani! Dan tentu saja. Aku jauh lebih hebat dari anak manja itu!" ungkap Aldric penuh dengan kepercayaan diri yang tinggi.
Pilihan ada di tangan Freya. Ingin mati atau ingin selamat? Apalagi hiu liar sudah siap menenggelamkan sang putri ke dasar perut.
"Aldric... terkutuk kau! Lihat saja. Aku akan membunuhmu jika sampai sana!" ancam Freya dengan begitu bengis.
Dia di besarkan dengan keberanian yang tinggi. Retori mengajarinya untuk tidak menyerah pada musuh. Sekalipun nyawa sudah di ujung lidah.
Sekalipun Aldric mengancam dia dengan segala alibi. Freya tak akan gentar.
"Kalau begitu, ucapkan selamat tinggal pada dunia ini, Freya!" sahut Aldric dengan mengedipkan mata. Bersamaan dengan hiu besar menelan Freya ke dalam mulut.
Kejadian itu disaksikan oleh Nyonya Gerld. Yang seketika kepala sekolah Acavalati itu pingsan.
Bencana besar baru saja terjadi.
Freya di telan monster laut.
***
"Aku sudah bilang. Kalau Pangeran Aldric adalah pemenang!"
Victori mengumpulkan seluruh emas yang ada di atas meja kemudian memasukkannya ke dalam saku dan buru buru menyimpan.
"Sial. Aku fikir Putri Freya sangat kuat. Kau tidak ingat saat sistem seleksi kemarin? Dia menghidupkan seluruh tumbuhan mati. Tidak aku sangka panah Pangeran Aldric menumbangkan dia!"
Itu adalah Gotta, dari klan Irni. Tidak di ketahui pasti bagaimana strata posisi klannya di Kwanta. Yang pasti dia datang ke kamar dengan kepingan emas yang menggunung. Entah bualan atau tidak. Dia bilang para Klan Irni memelihara naga emas disetiap rumah.
Dengan semua emas itu, dia mengajak Victori bertaruh.
"Apakah Princes Freya benar benar mati? Maksudku... kita disini untuk belajar, kan? Bukan untuk mati?" tanya Arabella dengan melihat ke Hugvindor.
Semua kejadian Freya di telan hiu, begitu terlihat jelas dimatanya.
"Ara... kau fikir kita disini untuk senang senang? Tidak kawan! Kita disini untuk bertaruh nyawa! Kalau tidak mati sekarang! Mungkin kita akan mati besok!" jawab Becca sambil mengalungkan lengan di bahu Arabella.
Penghuni kamar Arabella yang terakhir adalah Becca. Gadis yang penampilannya nyaris seperti seorang pria itu berasal dari Klan Paperi. Klan yang konon katanya bisa menghilangkan segala sesuatu.
"Hemm... apa yang di katakan Becca, benar Ara. Semua kemewahan yang dikirim ke Klan mu tidak gratis. Kamu harus membayar mahal disini dengan prestasi mu! Jadi... lain kali bisa tidak? Gunakan barang yang lebih mewah untuk taruhan dengan ku? Rimpang? Astaga... belalang kota ini bahkan tidak memakan sampah ini lagi!" protes Victori sambil membolak balikan rumput yang dibawa Arabella.
Gotta terkekeh. Ia mengambil rimpang berwarna coklat tua dan membolak balikkan nya dengan geli. "Kabar tentang Sigyn adalah Klan termiskin rupanya bukan isapan jempol. Ara kau makan ini tiap hari?" tanyanya kemudian.
"Terkadang. Kalau sedang musim. Jika ada!" jawab Arabella dengan masih fokus pada Hugvindor yang pada saat ini tampak mencekam.
Dia takut jika Freya benar benar terluka.
"Apakah tidak akan ada masalah? Jika Princes Freya mati? Bukanya Raja Retori akan marah?" tanya Arabella dengan mulai tidak nyaman. Berulang kali dia meremas tangan.
Arabella tidak pernah kenal dengan Freya sebelumnya, namun melihat gadis itu mati begitu saja jauh di dalam hati merasa sangat sakit. Tangan Arabella merayap, menyentuh permukaan jendela yang tampak halus oleh ukiran, membiarkan semut merah mulai melewatinya. Sebagian menggigit dan di biarkan oleh Arabella.
Pada makhluk kecil saja Arabella sangat sayang, apalagi sesama manusia?
"Ck... untuk apa memikirkan itu? Bukanya itu baik? Karena lawan kuat berkurang satu?" sahut Gotta dengan lantang.
"Aku juga sangat senang dengan kematian, Freya! Dia lawan yang tangguh!" ungkap Becca dengan tersenyum simpul ke arah Hahvindor. Tidak ada yang sedih dengan kepergian Freya.