"Awas... jangan menyentuhnya. Nanti lecet!"
Baladia menjadi orang yang paling sibuk memperingati semua penduduk agar tidak memegang ini dan itu atau pun juga menyentuh barang barang yang baru saja diantarkan oleh suruhan dari Acavalati.
Sebagai orang yang bertanggung jawab membagi semua itu kepada para penduduk secara adil. Baladia tidak ingin ada yang mendahuluinya.
"Nerthus... pilih lah yang paling kamu suka. Kamu akan menggunakan ini untuk upacara penerimaan Princes Arabella. Berdandan lah yang cantik," ucap Baladia dengan menyerahkan beberapa sutra halus kepada ibu dari Arabella itu.
Putri Nerthus telah membanggakan seluruh penduduk desa. Sudah seharusnya jika Nerthus mendapatkan kemuliaan lebih dari pada yang lainnya.
"Baladia... berhenti memanggilnya dengan sebutan Tuan Putri. Arabella hanya gadis nakal yang tidak berarti apa apa. Jangan terlalu mengagungkan dia. Mengenai upacara penerimaan Ara, kau saja yang datang."
Nerthus enggan untuk menyentuh baju itu meski hanya sedikit saja. Dia jauh lebih memilih untuk membuang muka. Masih sama seperti yang sudah sudah. Janda yang ahli meracik rimpang menjadi bahan bahan farmakognosi itu tidak pernah bahagia dengan di terimanya Arabella di Acavalati. Tidak tahu apa alasannya.
"Ck... kenapa kamu tetap keras kepala? Aku sudah bilang kan. Mulai sekarang... Arabella sangat tinggi kedudukannya. Kamu masih meremehkan dia? Katakan padaku yang sebenarnya Nerthus... apa alasan kamu begitu kecewa dengan diterimanya Arabella? Adakah yang kamu sembunyikan? Katakanlah!" pinta Baladia dengan tatapan tidak mengerti.
Mungkin, Nerthus bisa untuk menipu semua orang. Pura pura bahagia dengan masuknya Arabella ke Acavalati. Tapi Baladia bisa melihat dengan jelas bagaimana teman wanitanya itu sangat khawatir.
"Baladia... kamu pasti masih ingat apa yang di katakan Ayah dulu sebelum meninggal, kan? Klan kita dianggap rendah dan tidak berarti apa apa. Tapi sebenarnya itu semua tidak benar. Kita kuat Baladia. Tapi harus menutupi semua kekuatan diri sendiri. Sedang Arabella? Kamu tahu seberapa kekuatan yang dia punya meski sekeras apapun coba dia kendalikan! Leluhur sudah bilang, munculnya kita ke permukaan hanya akan membuat kekacauan!" tutur Nerthus dengan serius.
Pesan turun temurun yang di sampai kan oleh leluhur sangat jelas. Semua di tulis dalam aturan aturan. Jika mereka akan lebih baik menyembunyikan diri dari hiruk pikuk Kwanta. Itu adalah yang terbaik untuk kehidupan semua orang. Namun seperti nya itu semua tidak berlaku beberapa tahun terakhir.
Para penduduk Sigyn mulai berambisi naik ke permukaan. Menonjolkan kemampuan Klan hingga rela memberi pelatihan khusus pada para calon peserta yang akan mengikuti seleksi ke Acavalati.
Sayang, usaha yang telah dia lakukan bertahun-tahun itu nyatanya tidak pernah membuah kan hasil. Hingga membuat semua penduduk nyaris putus asa, karena terus di olok oleh para Klan yang lain.
Sekarang, Arabella datang dan menjawab segala mimpi mereka. Nerthus takut, jika Sigyn lupa diri dan pada akhirnya mendatangkan malapetaka.
"Itu hanya ketakutan mu yang tidak mendasar Nerthus. Aku rasa leluhur hanya ingin kita hidup sederhana dan foya foya. Tapi lihatlah Nerthus... bertahun-tahun kita hanya hidup mengandalkan akar tembikar dan sama sekali tidak pernah makan dengan baik. Bukankah itu artinya kita telah hidup sederhana?" tanya Baladia penuh dengan rasa sakit di hati. "Aku mohon Nerthus, biarkanlah kami semua sedikit menjalani hidup sebagai manusia pada umumnya. Biarkan Arabella berusaha keras membuat hidup kita semua lebih baik. Harapan kami ada pada pundak putri mu, Nerthus."
Tidak banyak yang di harapkan oleh Baladia dan para penduduk yang lain. Mereka hanya ingin Baladia memberikan izin kepada putri semata wayangnya untuk berjuang di Acavalati demi atas nama Klan.
Sigyn dan seluruh penduduk nya sudah merasa bosan hidup dalam keadaan yang terpuruk.
"Aku akan mencobanya," jawab Nerthus pada akhirnya.
Tidak punya pilihan lain Nerthus rasa, dia memang harus mencoba mendukung penuh pada Arabella. Ini semua demi Klan.
"Aku hanya berharap semua akan berjalan baik baik saja," lanjut Nerthus dalam hati, yang merasa kalau sesuatu negatif tengah mengancam semua orang.
***
"Jadi... satu satunya peserta dengan kemampuan di atas rata rata adalah Putra Mahkota dari Bath?"
Retori masih terus memandang lurus kedepan saat tangan kanannya memberikan laporan. Jika kemungkinan besar, Segitiga Redup yang disebut oleh Carvarti adalah pemuda dari Bath yang punya kemampuan sangat luar biasa.
Tidak ada yang bisa menandingi Aldric kemarin, bahkan Freya sekalipun yang sudah Retori siapkan bertahun-tahun.
Jika tidak salah menerka, Koni yakin, segitiga redup itu memang lah Aldric.
"Benar Tuan ku. Pangeran Bath itu bahkan berhasil membuat Nyonya Gerld kelimpungan, tidak mampu untuk mengendalikan aula. Dia benar-benar mengagumkan!" ungkap Koni dengan mendesis.
Jika tidak takut kalau mulutnya akan di robek oleh Retori. Mungkin Koni akan dengan senang hati menunjukkan kemampuan yang di punya Aldric.
"Dia hanya anak ingusan. Tidak mungkin aku kalah dengan nya! Ini terlalu tidak masuk akal!"
Retori adalah orang yang paling punya tingkat kewaspadaan yang sangat tinggi. Tidak akan pernah dia biarkan seseorang mengacau hudupnya. Namun ada satu kelemahan yang dia punya, Retori sangat suka meremehkan orang lain.
"Tapi dia sangat kuat Tuan ku. Dia bukan hanya sanggup membuat setiap orang berdelusi dengan alam bawah sadarnya. Tapi... dia sanggup melemparkan kita pada masa dan tempat yang jauh. Seperti sekarang ini... Pangeran Bath itu mempermainkan Tuan Putri," ucap Koni dengan seringai.
Koni yakin jika pada saat ini Retori pasti tidak akan percaya apa yang tengah terjadi pada putri kesayangan nya itu.
Mungkin dia akan mengacaukan Acavalati jika sampai tahu apa yang terjadi pada Freya.
"Apa maksud mu, Koni?"
"Ampun beribu ampun yang mulia. Tapi Pangeran Aldric... telah melemparkan Tuan Putri ke laut lepas hingga Princes Freya di telan hiu!" jelas Koni penuh dengan kebanggaan.
Selama ini Acavalati hanya berjalan damai. Para pemuda dan juga putri dari Signur dengan mudah menduduki puncak Acavalati. Hingga lagi dan lagi hanya Retori yang akan memimpin Kwanta. d******i Signur terlalu kuat hingga Klan lain tidak pernah bisa mendekati pemerintahan.
Bukankah akan sangat seru. Jika datang lawan yang sebanding, di saat Retori bahkan mengirim putri nya sendiri untuk melawan para penyihir dari Klan yang lain.
Harga diri raja sombong itu pasti akan langsung tercabik jika Freya tersingkir di awal. Apalagi Freya di singkirkan oleh keluarga Bath. Yang merupakan musuh utama Retori.
Koni ingin lihat. Kecurangan apa yang hendak di lakukan oleh pria itu untuk menyelematkan putri manjanya.
"b*****h. Berani sekali mereka melakukan hal itu kepada putri ku. Apa mereka semua sudah bosan hidup?" teriak Koni dengan muka yang merah padam. "Koni... siapkan utusan ke Bath!"
***
"Ayah... Ayah... ada kabar gembira, Ayah!"
Pangeran Eric langsung berlari menuju tempat meditasi ayahnya. Dia tidak sabar untuk memberi tahu sang ayah tentang kejadian yang baru saja dia dengar. Eric pun yakin jika sang ayah akan sangat suka.
"Ayah... turunlah. Dengarkan aku dulu!" paksa Eric dengan membuka topeng yang dia pakai. Lalu setelahnya dia mencoba untuk terbang menghampiri ayahnya, sayang, baru beberapa meter melakukan Eric terpental dan jatuh.
Raja Bath yang juga ayah dari Eric mau tidak mau menurunkan diri dari meditasi yang dia lakukan. Dia melihat wajah putra sulungnya dengan datar.
Eric memang kerap kali mengacau.
"Pakailah topeng mu Eric. Ayah tidak mau para pelayan akan pingsan jika melihat wajah mu!"
Raja Bath bukan tidak menyukai putra nya itu. Hanya saja hampir sepuluh tahun yang lalu. Saat dia mengirim Eric ke Acavalati. Raja Bath harus merelakan diri melihat putra putra pertama nya berwajah menyeramkan setelah kalah dalam ujian terakhir meraih tempat tertinggi Acavalati.
Eric mengalami kutukan menjadi seekor musang. Hingga separuh kekuatannya lenyap. Hingga saat ini Raja Bath masih berusaha keras mengembalikan Eric dengan semua sihir ilmu Hitam. Tapi tidak pernah berhasil. Tak pelak, Raja Bath tetap melakukan meditasi agar Eric kembali seperti semula.
"Ayah... Aldric berhasil membinasakan putri Retori. Ini semua adalah balas dendam yang tepat Ayah. Karena Putra pertama Retori telah membuat aku hidup seperti ini!"
Dendam yang di punya oleh Eric selama bertahun-tahun serasa mencair. Dia merasa bahagia, karena pada akhirnya, adiknya sendiri yang telah berhasil membalas dendamnya.
Freya, adik kandung dari Fredict telah mati di tangan Aldric, adiknya.
"Jangan bodoh, Eric. Ini masih terlalu awal untuk melihat Freya mati. Seleksi penerimaan baru saja di mulai. Lalu bagaimana Freya bisa mati?"
Itu semua terlalu tidak masuk akal. Freya yang begitu kuat mati dengan begitu saja.
"Tapi itu yang terjadi Ayah. Aldric menggunakan sihir teleportasi kita lalu melemparkan Freya ke tengah lautan. Membuat dia tertekan monster laut!" jelas Eric begitu bangga pada pekerjaan yand sudah di lakukan oleh adiknya.
"Ck... kalau Ayah tidak percaya. Keluarlah. Retori mengirim orang untuk menemui Ayah. Aku rasa semua ini ada hubungannya dengan Freya dan Aldric!" pinta Eric dengan begitu senang.
Retori sampai mengirim orang untuk mengurus masalah dengan Aldric. Itu artinya keadaan memang genting.
"Mereka datang ke sini?" tanya Raja Bath dengan tidak percaya.
Aldric membuat musuh kalang kabut sedini ini?
***
Kekagaua memang tampak nya terjadi dimana mana. Dia tidak terhadi hanya di Acavalati tetapi juga di seluruh Kwanta.
Carvarti dapat merasakan jika semua energi berubah menjadi negatif. Dia sudah berusaha keras untuk menetralisir namun sepertinya. Waktu itu sudah tiba.
"Pengacau itu makin menampakkan diri. Itu artinya setelah ini, pertengkaran akan semakin sering terjadi. Sampai segitiga redup belum juga menyadari dirinya. Pengacau itu tidak akan berhenti!" ucap Carvarti dengan begidik ngeri. Dia memeluk tubuhnya sendiri, saat telinganya menangkap aungan yang seakan siap untuk menelan seluruh Kwanta.
Auangan itu terdengar sangat menakutkan, apalagi diikuti dengan tawa gelegar yang terasa membuat seluruh yang mendengar menjadi ikut bergetar.
***
"Dengan begini kita bisa menentukan harus pada siapa kita berpihak. Keluarga Bath. Aku rasa masa kejayaan Retori sudah selesai!" ungkap Gotta dengan senyuman yang lebar.
Gadis cantik itu memberi tanda dengan tangan kalau Signur sudah berakhir di tangan Freya. Dan kini saatnya mereka beralih pada Pangeran Aldric dan keluarga Bath.
"Ayolah... ini terlalu awal untuk menentukan siapa pemenangnya!" sahut Victori dengan terus menghitung koin emas milik nya. "Siapa saja bisa menyalip di akhir kompetisi. Sang kuda hitam bisa jadi menjungkal kan Pangeran Aldric di tikungan!" imbuh Victori lagi dengan serius. Dia seakan tidak puas dengan ucapan dari teman sekamar nya itu.
"Kuda hitam? Apa kau sedang membicarakan dirimu? Ohh ayolah Victori. Kami tahu, kamu bicara begini karena leluhur mu pernah sampai ke final menghadapi Klan Signur meski pada akhir nya kalah kan? Itu keberuntungan dan tidak akan pernah terulang lagi. Jadi tolong sadar diri!" ungkap Becca dengan meremehkan.
"Siapa bilang keberuntungan tidak bisa-"
"Siapa pun bisa jadi pemenang. Termasuk juga Putri Freya yang kalian sangka mati. Semua hal bisa terjadi disini! Bukanya Acavalati adalah tempat keajaiban?" sahut Arabella dengan senyum. Dia menggenggam semut merah yang ada di telapak tangan kemudian meniupnya.
"Kita akan sering melihat keajaiban mulai sekarang!" lanjut Arabella lagi.
***
Freya memejamkan matanya. Dia sudah pasrah jika saat ini adalah waktu untuk dia mati. Toh tidak akan ada yang bisa untuk dia lakukan lagi. Setelah ini hidupnya akan benar benar berakhir dan tidak ada yang bisa menolong.
Mungkin satu satunya yang bisa menolong Freya adalah keajaiban. Sayang, dia tidak pernah percaya dengan keajaiban. Bagi Freya keajaiban hanyalah sesuatu yang tidak logis.
Seseorang hanya bisa selamat jika dia kuat.
"Aldric... aku akan membunuhmu di kehidupan selanjutnya. Aku pastikan kamu tidak akan bisa hidup dengan tenang!" Freya bersumpah dalam hati akan mengejar Aldric sampai ke mana lun. Meskipun harus sampai ke ujung dunia nantinya.
"Haching...."
Tepat saat Freya akan tertelan ikan monster itu. Ia terlempar jauh, setelah bersin yang dialami oleh ikan tersebut. Membuat Freya terombang ambing di lautan lepas.
Sementara itu Hugvindor masih riuh dan juga ricuh setelah adu kekuatan yang di lakukan Aldric Vs Freya. Dengan Pangeran dari Bath itu sebagai pemenangnya.
"Kalian semua lihat? Tuan Putri yang katanya paling berkuasa itu. Tidak lebih dari anai anai yang terbang hilang karena angin. Sama sekali tidak berarti!" ujar Aldric penuh dengan kepercayaan diri yang tinggi.
Kesombongan yang di punya oleh Freya dapat dia bayar secara tunai. Sekarang akankah Freya menyombongkan diri di neraka?
"Anai anai? Anai anai bisa terbang kemana saja yang dia mau Aldric. Selagi ada angin, dia bebas pergi kemana pun yang dia mau. Termasuk kembali ke hadapan mu!" sahut sebuah suara dengan begitu santainya.
Seorang wanita yang baju nya masih basah tengah berjalan ke arah Aldric dengan diantar kan oleh semut raksasa. Bukan, itu adalah kumpulan semut merah kecil yang jumlahnya ribuan, ratusan atau mungkin milyaran yang tengah membentuk koloni hingga tampak seperti raksasa semut.
Dan Freya mengendarai itu dengan begitu anggun nya. Seakan tidak ada ketakutan sama sekali.
"Hai... Aldric! Senang bertemu dengan mu lagi!"
"Ini tidak mungkin!"