Setelah berjuang mencari akun Rey, akhirnya Tuhan membantuku. Aku menemukan kembali Rey di i********:. Tanpa pikir panjang, aku langsung mengirim chat ke dia: "Rey, apa kabar?" Tak lama, Rey membalas, "Baik, mbak. Mbak sendiri gimana?" Betapa berbunga-bunga hatiku saat itu. Ternyata Rey masih mau membalas chat dariku. Kami pun saling kirim pesan di i********: seperti dulu, sebelum aku menghilang.
Suatu hari, aku nekat mengungkapkan perasaanku ke Rey: "Rey, aku mau kamu." Pesan itu dikirim dengan hati yang tak tenang dan pikiran kacau. Apakah Rey akan marah atau malah membenciku? Bagaimana kalau nanti dia menjauhi aku? Aku panik.
Tiba-tiba ada balasan dari Rey: "Mbak... Mbak gak salah? Kenapa harus aku? Banyak yang suka sama mbak." Aku langsung membalas, "Aku gak mau yang lain, aku mau kamu, Rey. Cuma kamu. Aku suka kamu, bukan sebagai adik."
Rey membalas dengan bingung, "Aku gak bisa bahagiain kamu, mbak. Aku juga suka sama kamu, tapi kita tetap jadi adik-kakak online aja, mbak." Aku tak menyerah. Aku terus memaksa Rey untuk menerima aku sebagai kekasihnya, sampai aku memohon agar dia memberi kesempatan untuk mencintaiku.
Rey tidak membalas pesan itu lama, dan aku mulai panik. Tak lama, Rey mengirim pesan, "Kita ngobrol di WA yuk, mbak." Tanpa pikir panjang, aku mengirimkan nomor WA-ku ke Rey. Rey membalas, "Nomor kamu ganti lagi, mbak? Aku chat WA ya."
Aku membuka WA, menunggu chat dari Rey, tapi tidak ada. Aku mulai panik, "Kenapa dia tidak menghubungi? Apa dia sengaja membohongi aku agar aku tidak mengganggunya di i********:?" Tak lama, notifikasi WA masuk dari kontak tak dikenal—ternyata dari Rey. "Hai, mbak. Ini Rey."
Tersenyum lega, aku membalas, "Iya, aku save ya nomor kamu." Lalu aku mengulang lagi pengakuan dan permohonan itu. Rey menjawab, "Baik, mbak. Aku kasih kesempatan. Kita coba jalani hubungan ini pelan-pelan. Tapi aku gak bisa janji kasih waktuku sepenuhnya untuk kamu, mbak. Aku harus urus usahaku dan bagi waktu untuk keluarga dan teman-teman."
Aku menjawab, "Baik, Rey. Aku siap. Aku gak akan menuntut apapun. Aku senang kamu sudah mau menerima aku." "Ya udah, sekarang aku tanya, apa mbak mau jadi pacarku?" Betapa girangnya hari itu. "Ini gak salah," kata aku dalam hati.
Rey kembali mengirim pesan, "Gimana, mbak? Mau gak jadi pacarku?" Aku menjawab, "Iya, aku mau, Rey. Terima kasih sudah memberi aku kesempatan jadi pacar kamu, meski cuma LDR."