Hari itu terasa seperti mimpi. Rey menerima aku, dan kami resmi menjadi pasangan—meski hanya melalui LDR (Long Distance Relationship). Aku masih belum percaya. Setiap notifikasi ponselku k****a ribuan kali, berharap ada pesan baru dari Rey.
Keesokan harinya, Rey mengirim pesan, "Mbak, bisa chat?"
Aku langsung membalas, "Iya, Rey. Ada apa?"
"Aku cuma ingin tahu kamu hari ini gimana," jawabnya.
Aku tersenyum, "Baik. Kamu?"
"Sibuk, tapi bahagia karena bisa ngobrol sama kamu," tulis Rey.
Dadaku berdebar. Aku membalas, "Aku juga 😊."
Pesan-pesan kami mengalir, ringan tapi penuh arti. Rey menceritakan usahanya yang sibuk, aku membagi cerita harianku. Malam itu, kami beralih ke panggilan telepon. Suara Rey yang lembut membuatku nyaman.
"Mbak, aku ingin kita ketemu," kata Rey, suaranya penuh harap.
Aku ragu. "Rey, aku... aku butuh waktu. Aku belum siap untuk bertemu secara langsung. Bisa kita jalani LDR dulu, sampai aku siap?"
Rey terdiam sejenak. "Baik, mbak. Aku tunggu. Setahun, cukup buat kamu?"
Aku tersenyum lega. "Iya, Rey. Setahun kedepan, kita ketemu."
Rey menjawab, "Aku janji, mbak. Aku akan menanti."
Panggilan itu berakhir dengan janji untuk terus saling mendukung. Aku menatap ponsel, tersenyum.
Notifikasi pesan Rey muncul: "Mbak, aku ada yang mau bilang. Tapi aku simpan dulu, sampai kita ketemu. Sabar ya?"
Acu'?: Jantungku berdetak kencang. Apa yang ingin dia katakan? Apakah sesuatu yang baik?