Minggu-minggu pertama LDR kami terasa ringan. Kami saling berbagi cerita, tertawa, dan mendukung satu sama lain. Tapi, semakin lama, keraguan mulai merayap ke hati.
Rey sering membalas pesanku lambat. Kadang butuh berjam-jam, bahkan sehari penuh. Aku mencoba memahami, "Dia sibuk, pasti ada alasan." Tapi pikiranku tak bisa dibendung. "Apa dia bosan? Apa dia tidak serius?"
Suatu malam, Rey membalas chat-ku dengan singkat: "Mbak, aku lagi keluar sama teman-teman. Nanti chat, ya."
Aku membaca pesan itu berulang kali. "Keluar sama teman-teman?" Apakah ada yang salah? Aku langsung membalas, "Oke, gak apa-apa."
Tapi jawabannya tak kunjung datang. Jam menunjukkan tengah malam, aku masih menatap layar, menunggu. Tidurku tak nyenyak, pikiran berputar: "Apa aku terlalu mengekang dia?"
Keesokan harinya, Rey mengirim pesan, "Mbak, maaf kemarin. Aku ketiduran."
Aku memaksa diri tersenyum. "Gak apa, aku paham."
Tapi keraguan itu tak hilang. Aku mulai memeriksa riwayat chat-nya, mencari kesalahan. Rey terlihat berbeda. Lebih dingin, lebih singkat.
Suatu sore, aku mengirim pesan, "Rey, bisa ngobrol? Aku merasa kita kurang komunikasi."
Rey membalas, "Mbak, aku lagi sibuk. Nanti aja, ya."
Aku merasa ditolak. Air mataku menetes. "Apa aku salah? Apa aku terlalu banyak berharap?"
Malam itu, Rey tidak membalas pesan. Tidak ada panggilan. Tidak ada penjelasan.
Acu: Hati ini mulai goyah. Apa Rey akan meninggalkan aku?