Rumah keluarga besar Bapak Usman selalu damai, penghuninya tidak pernah membuat keributan apalagi bertengkar. Setiap pagi selalu dihiasi kehangatan ceria agar semangat diakumulasi dengan baik pada tiap orang yang mau melaksanakan kegiatan, buat yang sekolah, buat yang kuliah, buat yang kerja dan buat yang tinggal beraktivitas di rumah saja.
Semua itu jadi satu kesatuan yang sempurna saat mereka saling melengkapi, memberi kasih sayang melimpah, serta menghindari bentuk salah paham dengan baik dan sempurna.
"OEY, KAOS KAKI GUE MANA?"
Kalau dalam mimpi.
Nyatanya damai hanya halusinasi belaka terutama bagi Nata. Selama seorang beban keluarga bernama Tio Erlangga ada di rumah, maka tidak ditemukan sedikit pun kedamaian meski jenis permasalahan berupa kehilangan satu helai rambut saja.
"Mba Nata! Di mana kaos kaki gue, pasti Mba sengaja 'kan mau cari perhatian pake alibi sembunyiin barang orang segala." Tio muncul di depan pintu sambil melipat tangan di depan d**a.
"Bisa enggak cari bener-bener dulu?" Nata melangkah keluar kamar dan berjalan menuju kamar Tio di sebelah, saat pintu terbuka, rasanya Nata mau ber-astagfirullah di atas gunung menggunakan trompet sangkakala. "Ini kamar apa kandang sapi, hah?" tanyanya marah, lagian baru saja kemarin sore ia membereskan isi kamar sang adik yang selalu menguji kesabaran ini.
"Ya ini 'kan berantakan gara-gara nyari kaos kaki." Dan dengan sok tidak bersalahnya Tio masuk lebih dulu menuju tas yang terletak di atas kasur. "Aneh banget deh Mba, bisa-bisa enggak dapat."
Nata menggelengkan kepala dan berjalan menuju lemari plastik yang usang di sudut kanan belakang kamar itu, hanya dengan sekali membuka salah satu pintunya, Nata secara ajaib berhasil menemukan benda yang dicari-cari oleh Tio sejak tadi. "Cari barang itu pake mata, bukan mulut dan tangan buat hambur-hamburin isi kamar," katanya.
"Tadi dicari enggak ada," sahut Tio membela diri, "Lagian ya Mba, gue tuh lagi frustasi gara-gara PR Kimia."
"Ck, apa kabar gue yang tiap hari ngurus laprak hm?" balas Nata, "Kita semua orang sibuk ya, jangan banding-bandingin beban hidup lu seakan di rumah bukan jadi beban keluarga aja ... DUH!"
Tio mungkin seperti orang yang sedang mencari masalah dengan kakaknya, tapi jujur ia tidak sengaja melempar celana bolanya bernomor tujuh hingga tepat mengenai wajah Nata. "TIOOOO!" Dan saat gadis itu berteriak, Tio sudah ancang-ancang lebih dulu keluar kamar.
"TIOOOO CELANANYA BAU BANGET, YA ALLAH!" Nata mau menangis untuk yang satu ini, saking tidak relanya ia berniat untuk mengejar adik nakalnya itu. "GAK TERIMA POKOKNYA GUE!" teriaknya lagi.
"Kenapa ribut-ribut sih?" Sang ibu yang sibuk di dapur tampak menegur, terutama saat melihat dua anaknya sedang beradu kekuatan untuk beraksi, satu menghindar dan satunya menangkap, Tio bahkan menjulurkan lidah dengan posisi mereka berada di dua sisi yang berbeda.
"Ma, celana Tio bau," adu anak gadisnya.
"Tio enggak sengaja juga, lagian siapa coba yang suruh masuk kamar Tio," adu anak laki-lakinya.
"Elu minta carikan kaos kaki ya tadi!"
"Udah, udah! Ini tadi Abah udah berangkat kerja, tapi belum makan." Ama membuat mereka terdiam, lalu melihat sebuah tempat makan yang terletak di atas meja kayu minimalis —pas-pasan untuk meja makan seadakalanya.
"Mba, kayaknya Abah belum mimum obat maag," ujar Tio.
"Masa?" tanya Nata kaget, soalnya Abah kalau tidak makan pagi maka akan minum obat maag selagi menunggu bekal makan siang dari tempatnya kerja.
"Soalnya gue belum ada beli obatnya kemarin, lupa hehe."
"TIIOOOOOO!"
***
Sehubung Nata masuk di jam siang, maka ia diamanatkan Ama untuk mengantar makanan dan obat ke tempat kerja Abah. Sebenarnya tidak masalah sih, ia tahu di mana letak gedung yang kebetulan searah ke tempatnya kuliah, tapi yang jadi masalah adalah belum pernah satu kali pun ia masuk ke dalam.
Hanya saat melihat dari luar saja, Nata cukup tahu kalau pemiliknya orang tajir. Bahkan Abah yang bekerja sebagai penjaga kebersihan saja dapat gaji dua juta perbulan, kata Ama sih itu gaji yang gede, padahal saat melihat lebih jauh timbul pertanyaan Nata sebagai seorang mahasiswi akutansi yaitu, "Tempat gede masa gaji buat yang bersih-bersih dua juta doang? Pasti nih yang digaji gede orang-orang yang duduk doang di depan laptop, padahal yang lebih capek 'kan si Abah ya."
"Otak dan fisik beda ya," sahut seseorang.
Nata terdiam saat tahu ada yang mendengar ucapannya, ia bahkan sampai tidak berani berbalik hingga orang tersebutlah yang maju mendahuluinya lalu berdiri. "Fisik cuma untuk menjaga tempat ini bersih dan nyaman dipandang, sedangkan otak yang menentukan apa tempat ini bakal tetap terus berdiri atau enggak. Misal runtuh atau bangkrut karena otak yang ceroboh, maka yang bebersih juga gak bisa kerja di sini lagi," katanya lagi saat mereka berhadapan.
Nata tidak berani melihat wajah orang tersebut, tapi jujur hatinya mendorong untuk menyahut. "Bapak lihat itu dari segi materi, sedangkan usaha enggak bisa dihitung dan dibandingkan gitu aja. Kalau nih dibandingkan sama yang kerja di depan laptop, Abah saya jauh lebih capek," ujarnya.
"Tapi orang yang duduk di depan laptop jauh lebih stres dari Bapak kamu, ilmu itu mahal ya, " sahut orang itu lagi.
"Hilih, Bapak yang cuma kerja di profesi itu ya pastilah bakal bilang kayak gitu. Coba kalo Bapak di posisi ...."
"Adinata." Suara Abah dari kejauhan membuat Nata berpaling, tampak sosok tua itu mendekatinya dengan langkah terburu. "Kenapa di sini, Nak?" tanya beliau lagi.
"Ini, Abah tadi lupa minum obat tau. Cepat diminum ya, pokoknya enggak mau tau!" kata Nata.
Sang ayah tampak mengangguk lalu memberi hormat pada pria di dekatnya. "Selamat pagi, Pak Ankara," ujarnya.
"Heh, heh. Abah kenapa nunduk-nunduk gitu, dia ini orang sombong .... "
"Stts! Gak boleh ngomong kayak gitu!" Abah menegur Nata dan mencubit lengan kanannya. "Minta maaf!" ujar beliau lagi.
"Lah, ngapain Nata minta maaf? Enggak ada yang salah deh, dia enggak salah, Nata juga enggak salah," tolak Nata.
"Tetap aja Adinata, kamu harus minta maaf. Beliau yang punya gedung ini!" Ucapan Abah membuat Nata membatu, tapi itu tidak meluluhkan hati yang sekeras benda alam tersebut hingga ia hanya kaget saat menatap mata sang ayah lalu menjadi sinis lagi saat menatap sosok lain di antara mereka. "Cepat minta maaf." Sekali lagi Abah menegurnya.
"Maaf," kata Nata yang membuat Abah geleng-geleng kepala.
"Pak Ankara, saya mewakili anak saya memohon maaf ...."
"Anak Bapak tadi siapa namanya?" Pria yang berdiri dan menyaksikan perdebatan kecil antara anak dan ayah imi justru membicarakan hal lain, lucunya justru membahas nama.
"Adinata," jawab Abah.
"Adinata siapa, Pak?"
"Adinata Saffana."
"OH!" Orang itu berseru. "Kamu yang namanya Adinata Saffana?" Lalu menujuk Nata tepat di depan wajahnya.